
Waktu pun berlalu, kini sudah sebulan setelah darmawisata dan dua kasus yang membuat anggota keluarga Zandra turun tangan. Kondisi Ita pun, sudah lebih baik. Bahkan saaangat baik, hubungan Ita dan Syahid semakin dekat. Dan kabar mengenai mereka berdua pun sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah, tentunya sudah di ketahui semua orang.
Seperti biasa, banyak para siswi yang merasa patah hati tentunya. Pangeran es mereka sudah ada yang memiliki, walau mereka tak berani mendekati Syahid. Tetapi, mereka pun membuat klub penggemar Syahid. Begitu juga dengan para siswa yang menaruh hati pada Ita, mereka tentu saja mundur. Siapa yang berani bersaing dengan sang pewaris.
Sedangkan hubungan Sahin dan Dena, masih sama saja. Di sekolah kini tengah sibuk dengan di adakannya bebagai macam acara, dari di adakannya turnamen, bazzar, sampai ke acara pensi di hari terakhir. Untuk merayakan selesainya ujian kelas XII, dan kini merupakan masa tenang sebelum di umumkannya kelulusan. Sehingga banyaknya jam kosong, karena beberapa guru dan murid ada yang menjadi panitia penyelenggara.
"Menunggu apa? Jangan sampai saat ada pria lain yang mengejarnya, kamu baru merasa kelabakan." tanya Syahid
Seperti biasa kini mereka tengah berada di taman, para ciwi tengah berkumpul di kursi panjang. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, terlihat dari jauh bila Kira yang tengah menjadi korbannya. Sedangkan Syahid dan Sahin baru saja masuk, berhenti saat melihat keempat gadis itu tertawa dengan lepasnya.
Sahin terdiam, ia menatap Dena. Di matanya, Dena terlihat semakin cantik. Ia selalu menutupi perasaannya dengan terus mengajak Dena berdebat, entah kenapa ia sangat senang melihat semua ekspresi Dena, terutama ketika ia sedang kesal.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Sahin menghembuskan nafas dengan kasar, entah kenapa rasanya frustasi sendiri.
"Bee" panggil Ita tersenyum, seraya melambaikan tangannya pada Syahid. Syahid pun tersenyum dan balas melambaikan tangannya, Sahin menggelengkan kepalanya.
"Kenapa dengan ekspresi wajahmu?" tanya Syahid bingung
"Saat gunung es ada pawangnya, sedikit demi sedikit kawahnya mulai menghangat." jawab Sahin terkekeh
"Dan kehangatan ini hanya untuk sang pawang, tidak untuk para rumput liar yang tumbuh di sekitarnya." ucap Syahid tersenyum
"Wohoo.. sejak kapan kamu menjadi sepuitis ini dude? Kata-katamu sungguh bermakna sangat dalam, jangan bilang kalau kamu sudah bucin pada teh Ita" tanya Sahin tertawa lirih
"Sejak duniaku hanya berporos padanya, bila apa yang aku lakukan adalah salah satu ciri-ciri budak cinta. Maka, aku tak keberatan di katakan bucin, karena itu kenyataannya." jawab Syahid tersenyum, matanya terus fokus pada gadis yang kini sudah menempati hatinya dengan penuh.
"Ayolah, kamu pun akan merasakan perbedaan saat kamu ada di sampingnya hanya untuk berdebat dan saat kamu ada di sampingnya karena untuk menjaga senyumnya." lanjut Syahid, seraya menepuk pelan pundak Sahin. Lalu, ia pergi meninggalkan Sahin dan menghampiri bidadari hatinya. Aseeekkk
"Syahid, kamu belum mentraktir kami. Mana PJ?" ucap Dena menodong Syahid, Syahid mengangguk-anggukkan kepalanya
"Ayo, mau kapan?" tanyanya, membuat Dena tersenyum lebar. Namun senyum surut saat ia melihat, Syahid mengecup kilas puncak kepala Ita dan Ita pun tersenyum.
"Cih, mentang-mentang udah jadian. Ga bisa gitu mesra-mesraan nya nanti aja pas udah di rumah, minimal ga ada gue gitu." celetuk Dena
"Lu mah sirik aja Den, biarin aja emang ngapa? Makanya kalo gerah liat mereka, buruan lu nyari cowo sono." ucap Maya
"Emang lo ga hareudang?" tanya Dena
"Kagaklah, udah biasa kita mah. Dimana ada mereka berdua, kita harus ada. Kan nenek bilang ga boleh berdua-duaan, makanya berlima. hahaha" jawab Kira, Dena pun mencebikkan mulutnya
"Oya Den, baru inget aku. Kamu inget cowo yang kapan hari hampir tabrakan ma kamu nggak, yang di kantin?" tanya Ita, seraya berkedip pada Syahid. Syahid mengangguk paham, ia tersenyum dengan cara Ita memancing Sahin. Ya, Syahid sudah menceritakan bagaimana perasaan Sahin pada Dena.
Lebih tepatnya adalah Ita memaksa Syahid untuk menceritakan semuanya. Karena saat itu, Ita tak sengaja mendengar Syahid bergumam 'Suka dalam diam, apa enaknya?'. Sedangkan saat itu, kondisi Sahin tengah berdebat dengan Dena seperti biasanya. Ita pun memojokkan Syahid untuk bercerita, dan akhirnya Syahid mengatakannya saat Ita bilang akan mogok bicara padanya.
"Ternyata pasal wanita selalu menang, itu adalah benar. Untung cinta.." ucap Syahid saat itu, Ita hanya tertawa mendengar ucapan Syahid.
"Laki yang mana?" tanya Dena lupa
"Issshhh.. yang itu loh, yang pas kamu bawa es campur, terus dia bawa mi ayam." jawab Ita
"Anjaaayy... udah serasi aja nih yang di bawanya, mi ayam sama es campur. Gimana orangnya?" celetuk Kira cekikikan
"Ngapa emang teh?" tanya Maya
"Tadi waktu pas masuk gerbang, aku papasan sama dia. Iya kan bee?" Syahid mengangguk
"Nah terus, dia ngajak ketemuan sama kamu di kafenya bunda Kay nanti sore. Kali aja mau nembak kamu, Den." lanjut Ita sembari menaik turunkan alisnya.
"Apa?!/ APA?!" suara Dena tenggelam oleh suara Sahin, bukan hanya Dena yang terkejut. Melainkan empat orang lainnya juga ikut terkejut, karena mereka tak menyangka bila Sahin akan bereaksi berlebihan seperti itu.
"Apa sih lo Hin, ngagetin gue aja." sentak Dena, setelah ia berbalik dan menghadap Sahin.
GLEK
Dena terdiam, saat melihat tatapan Sahin yang seolah ingin menelannya.
"Apa tadi teteh bilang? Ada yang mau mengajak dia ketemuan?" tanya Sahin, Ita mengangguk
"Sore ini?" Ita kembali mengangguk
"Di kafe bunda?"
"Kamu masih normal kan telinganya, Sahin?" tanya Maya kesal, karena Sahin menanyakan hal yang sudah pasti jawabannya.
"GAK BOLEH" bentak Sahin melarang Dena, membuat Dena mengerutkan dahinya heran.
"Maksud lo apa, larang-larang gue ketemuan ma orang?" tanya Dena kesal, ia menatap Sahin dengan tatapan wajah galaknya.
"Pokonya, gue ga izinin lo buat ketemuan sama cowo lain." ucap Sahin tak mau kalah, ia pun menatap Dena dengan galaknya. Syahid dan Ita menahan senyumnya, ini yang mereka tunggu.
"Cih, emangnya lo siapa gue? Bapak gue juga bukan, terserah gue dong mau ketemu ama siapa." jawab Dena, seraya menunjuk dada Sahin dengan jari telunjuknya
"Gue emang bukan bapak lo" ucap Sahin geram
"Nah itu tau, kalo lo bukan bapak gue. Jadi ga usah banyak cobat deh lo, enak aja larang-larang gue. Gue mau ketemuan ma dia teh" ucap Dena, ia pun membalikkan tubuh menghadap Ita dan mengiyakan ajakan pria itu karena emosi.
"DENA" bentak Sahin, seraya menarik lengan Dena sampai gadis itu kembali berhadapan dengannya. Hampir saja Dena menabrak dada Sahin, namun remnya cakramðŸ¤
"APA SIH LO, HIN? Lo udah kaya orang cemburu, sadar ga lo? " tanya Dena balik membentak, seraya menepis tangan Sahin.
"IYA, GUE CEMBURU DENA!! GUE GA SUKA LO KETEMUAN ATAU PUN LIHAT LO DEKET AMA LAKI-LAKI LAIN!! LO CUMA BOLEH ADA DI DEKET GUE, KARENA GUE SUKA SAMA LO, GUE CINTA SAMA LO!!" jawab Sahin dengan lantangnya
"HAH?
...****************...
Aseeeekkkk....
Nah loh Dena...
...Happy Reading all💞💞💞...