Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Masih di Bawah Alam Sadar



"HUwaaaaa.... aaaaa.... kenapa? kenapa aku tidak bisa merasakan hal itu saat ini? Kenapa ayah harus selingkuh dan memilih wanita itu yah?" pecahlah tangisan Aisyah, demi apapun Kira tak bisa menahan rasa sesak di dadanya.


Bayangan itu semua lenyap, kini Aisyah dan Kira berada di tengah taman bunga yang sangat-sangat luas. Berbagai macam bunga ada di sana, tangisan itu sedikit mereda. Namun masih terdengar segukan dari isakan kecil Aisyah, ia melihat ke sekeliling. Dari jauh, mereka melihat ada wanita tua yang sedang duduk di bangku panjang dan menatap ke depan. Terlihat, bila wanita itu tidak sendiri.


Aisyah mengenal siapa wanita yang satunya, perlahan ia mendekati wanita itu, yang tak lain adalah sang ibu. Yang pertama kali menyadari keberadaan dirinya adalah wanita tua itu, rambutnya memang berwarna putih. Tetapi wajahnya, masih terlihat sangat cantik.


Wanita tua itu tersenyum, lalu menatap Kira.


'Watashi no himago wa okidesu / Cicitku sudah besar' ucap wanita tua itu tersenyum pada Kira, Kira terdiam. Ia mengenal wajah itu, sangat mengenalnya.


"Sosobo / nenek buyut" panggil Kira, ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Matanya berkaca-kaca, ia tak menyangka akan di pertemukan dengan nenek buyutnya di sini. Nenek dari sana oma, tanpa terasa air matanya menetes.


'Naze naite iru nodesu ka? / kenapa menangis?' tanya Yamamoto, Kira menggelengkan kepalanya.


"Sosobo-sama ni oaidekiterureshidesu / aku bahagia, bisa bertemu denganmu nenek buyut" jawab Kira


Yamamoto menarik pelan tangan Kira, agar mereka menjauh. Dan memberikan waktu pada Aisyah dan sang ibu. Yamamoto dan Kira berbincang di tempat lain, terlihat Kira yang sangat nyaman dengan nenek buyutnya.


Tinggalkan mereka...


"Bu" panggil Aisyah pelan, Dian yang sedang menatap ke depan langsung menoleh mendengar suara familiar yang memanggil dirinya.


Dian langsung bangun dari duduknya dan tersenyum, ia merentangkan kedua tangannya. Aisyah pun memutari kursi dan berlari menghampiri sang ibu, Aisyah langsung mendekapnya dengan begitu erat.


"Nak, putri ibu. Kamu kembali sayang?" ucap sang ibu, Aisyah terdiam. Ia menumpahkan tangisan dan juga rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini, pelukannya semakin erat. Dian tersenyum, namun air matanya pun ikut mengalir. Ia mengusap sayang rambut dan punggung Aisyah, Aisyah sangat menikmati momen ini. Ia sangat merindukan hal ini, sudah sangat lama sekali ia tidak merasakan pelukan dan usapan dari sang ibu.


Setelah beberapa saat, pelukan mereka pun terlepas. Kini mereka tengah duduk di bangku panjang, Aisyah yang menyandarkan kepalanya ke bahu sang ibu dari samping.


"Bu, maaf kan Aisyah." ucap Aisyah


"Kenapa minta maaf, hmm?" tanya sang ibu balas merangkul bahu Aisyah


"Di sini, harusnya ibu yang meminta maaf nak. Maafkan ibu, karena meninggalkan kamu dengan ayahmu. Sehingga kamu harus berakhir tragis, di tangan ayahmu sendiri." lanjut sang ibu, Aisyah menggelengkan kepalanya.


"Ini bukan salah siapapun bu, ini adalah takdir Aisyah. Berhenti menyalahkan diri sendiri bu, ini bukan salah ibu." ucap Aisyah, ia menegakkan tubuhnya dan merubah posisi duduknya jadi menghadap Dian.


Dian tersenyum, ia mengangkat tangan dan mengusap pipi Aisyah.


"Sudah berapa tahun ibu meninggalkanmu, kamu sudah tumbuh sebesar ini." ucap sang ibu, Aisyah tercekat. Dengan susah payah ia menahan air matanya, agar tak kembali menetes.


"Itu tidak penting, yang penting sekarang. Bangunlah bu, ini bukan tempat untuk ibu." ucap Aisyah


"Apa maksudmu nak, ibu suka di sini. Di sini sangat menenangkan ibu, dan di sini juga ibu bisa bersama denganmu." tanya Dian


"Lalu, siapa yang akan menemani ibu nak. Kamu sudah pergi meninggalkan ibu, ibu sudah tidak punya siapa-siapa." ucap Dian dengan suara bergetar


"Bu, ibu tau... selama aku tinggal dengan ayah, aku memang tidak pernah mendapatkan kasih sayangnya sama sekali. Setiap hari, Aisyah di jadikan pembantu dan juga jarang di beri makan oleh mereka." Dian semakin terluka dan menangis mendengar cerita Aisyah. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri dan menyesal keputusannya, Dian menundukkan kepalanya.


"Bu, Aisyah menceritakan ini bukan untuk membuat ibu menangis san merasa bersalah. Aisyah sudah ikhlas menerima semua perlakuan mereka, ada hal yang harus ibu tau. Di tengah penderitaan itu, ada cahaya dan kehangatan yang Aisyah rasakan." Dian menegakkan kepalanya dan menatap sang putri, Aisyah tersenyum. Kini giliran dia yang mengangkat tangan, Aisyah menghapus air mata yang membasahi pipi ibunya.


"Asal ibu tau, di rumah itu. Ada yang sangat menyayangi Aisyah dan juga menjaga Aisyah." lanjutnya


"Siapa?" tanya Dian


"Dia adalah adik tiri Aisyah bu, ibunya memang jahat. Tapi tidak dengan dirinya, sejak awal Aisyah datang ke rumah itu. Dia menerima Aisyah dan juga senang dengan kedatangan Aisyah. Dia yang selalu menjaga dan merawat Aisyah, bila Aisyah sakit. Dia yang akan melindungi dan juga melawan ayah, bila ayah sudah keterlaluan pada Aisyah. Dia yang selalu ada untuk Aisyah bu, Aisyah sangat menyayanginya." jawab Aisyah tersenyum


"Benarkah?" tanya Dian lagi, Aisyah mengangguk


"Bu, bolehkah Aisyah meminta sesuatu pada ibu?" tanya Aisyah, Dian terdiam. Itu artinya, ia memang tidak bisa terus di sini. Dian pun menganggukkan kepalanya dan menatap mata Aisyah dengan sangat dalam.


"Bu, Aisyah ingin. Ibu bisa menerima Toni, anggaplah ia seperti Aisyah, sayangi ia seperti ibu menyayangi Aisyah. Ayah dan juga tante Susi, kini sudah mendekam di penjara. Mereka sudah mendapatkan hukumannya, kasian Toni. Ia juga sudah tidak mempunyai siapa-siapa, sampai sekarang... Toni masih merasa bersalah dan juga menyesal dengan kepergian Aisyah. Ia masih merasa, bila kepergian Aisyah adalah salahnya. Karena ia yang tidak bisa melindungi Aisyah, dari ayah dan juga ibu kandungnya. Ini bukan salahnya bu, ia juga tak meminta untuk di lahir kan dari rahim tante Susi. Jadi, Aisyah mohon terimalah Toni. Hiduplah dengan bahagia, kalian adalah orang-orang yang sangat Aisyah cintai." pinta Aisyah, Dian terdiam


"Bu, bisakah? Ini adalah permintaan terakhir dari Aisyah." Dian tersenyum dan mengangguk


"Ibu akan mengabulkannya, ibu akan menyayangi dan mencintainya seperti ibu menyayangimu. Ibu akan menjaganya, seperti dia yang selalu menjaga kamu dulu." jawab Dian tulus, Aisyah menghembuskan nafasnya lega.


"Aisyah sangat mencintaimu bu, kembalilah bu. Aisyah akan selalu ada di sini" ucap Aisyah seraya menunjuk dada sang ibu, Dian tersenyum.


"Kembalilah, ini buka tempatmu. Berbahagialah" ucap Yamamoto yang kini berada di belakang mereka, Dian dan Aisyah pun bangun dari duduknya.


"Aisyah kini bisa pergi dengan tenang, terimakasih ibu." Kira berjalan mendekati Dian, mereka tersenyum.


Perlahan tubuh mereka menghilang dan...


Kira yang lebih dulu membuka matanya, ia langsung menatap twin prince dan juga saudari kembarnya. Kira tersenyum. dan di balas oleh mereka.


"Apa kamu mendapatkan hal menyenangkan di sana?" tanya Maya, Kira mengangguk semangat


"Nanti akan aku ceritakan." jawab Kira


"I ibu menangis" ucap Toni, membuat semua orang beralih menatap Dian. Lambat laun, mata Dian pun terbuka. Toni meneteskan air matanya, lega.. rasanya benar-benar lega.


...****************...


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...