
"Girls" panggil Ajeng
Kini mereka tengah berjalan di dalam mall, para gadis itu berjalan di depan. Sedangkan para pria berjalan di belakangnya, tentunya banyak pasang mata yang menatap ke empat belas orang tersebut.
"Apaan? Gals Gels Gals Gels, jangan sok inggris lah." tanya Dena
"Sirik aja lu mah, ngapa? PMS lu?" tanya Ajeng, Dena hanya memutar malas bola matanya. Jangan-jangan iya lagi, mang tanggal berapa sekarang?
"Lu pada inget ga, sama senior cewek yang ada di belakang cewek yang dorong teh Ita?" tanya Ajeng balik
Mereka terdiam, berpikir sejenak.
"Inget gue, posisi duduk gue kan berhadapan ma mereka. Kenapa emang?" tanya Dena penasaran
"Tadi waktu gue di toilet, gue ga sengaja denger. Kalo ternyata... intinya mereka itu merupakan korban. Gue denger salah satunya nangis, dan dia bilang kalo dia lelah dengan semua ini. Dan yang satunya juga bilang, kalo teh Ita sedang dalam bahaya. Gue yakin, kalo cewek yang dorong teh Ita kemaren, pasti merencanakan sesuatu yang jahat." jawab Ajeng
Mereka bertujuh saling tatap, lalu menatap Ita.
"Kenapa?" tanya Ita dengan wajah polosnya
"Teh Ita ga denger, Ajeng bilang kalo teteh dalam bahaya. Teteh ga cemas?" jawab Lia, seraya bertanya
"Nggak, Syahid pasti nggak akan diem aja. Aku yakin kalo sebenernya dia tau dan punya rencana sendiri, dan selama itu tidak membahayakan dirinya atau pun sampai mencelakai orang lain. Aku ga masalah." jawab Ita santai
Benar juga, Syahid ga mungkin tinggal diam.
"Pokonya, kemana pun teh Ita mau pergi. TIDAK BOLEH SENDIRI, aku yakin kalo dia nunggu teteh dan Syahid lengah." ucap Kira
"Benar, aku juga curiga sama pria yang sempat nangkap tubuh cewek itu. Tatapannya pada teh Ita, sungguh menjijikkan. Seolah ia tengah menelanjangi tubuh teteh, aku yakin ia punya minat pada teteh. Hiii..." sambung Maya
DEG
'Apa mungkin itu alasan terbesar Syahid, menjadi sangat posesif seperti ini.' ucap Ita dalam hati
Sedangkan di belakang, di tempat para pria.
"Lu ngerasa ga sih, kalo kaya ada yang ngawasin kita?" tanya Bastian
"Jadi lu ngerasa juga? Sebenernya gue ngerasain hal ini, dari kita keluar kampus bro." jawab Diki
Syahid dan Sahin saling tatap.
"Kasih tau aja bang" ucap Sahin, Syahid mengangguk
"Memang ada yang mengawasi kita, bukan sejak keluar kampus. Namun semenjak kita masih di kampus, mereka terus menunggu aku lengah." ucap Syahid
"Jadi bener ada yang ngawasin kita?" tanya Xelo, Sahin mengangguk
"Mereka? Itu artinya lebih dari 1 orang?" tanya Rio, Syahid mengangguk
"Siapa? Kenapa nunggu kamu lengah? Jangan bilang bila teh Ita yang di jadikan target?" tanya Diki
"Ini pasti ada hubungannya sama yang di kantin itu kan?" tanya Bastian
"Tebakan kalian semua benar, karena itu aku sudah meminta opa ku untuk menempatkan pengawal bayangan untuk mengikuti kita. Lebih tepatnya, untuk menjaga Ita dan mereka." jawab Syahid seraya menunjuk menggerakkan dagunya ke arah depan
"Pengawal bayangan? Beda emang kalo sultan mah, kita mah apa atuh. Yang ada malah kita jadi penculiknya, 'kalo kamu ingin kekasihmu selamat, tebus dia dengan sejumlah uang.'" ucap Xelo, dengan memerankan pemeran penculikan di televisi.
"Buahahaha... cocok kamu Xel, serius ini mah" celetuk Dika
"B*ngke" Xelo mengapit leher Dika menggunakan lengannya
"Ampun ampun... ketek lo asem njirr." protes Dika
"Enak aja lo bilang asem, wangi nih. Gue mah ga mandi seminggu juga wangi." ucap Xelo
"Dih, iya parfum sehari sebotol" celetuk Rio, tawa mereka kembali pecah
"Oya Bas, Ajeng bilang lu mau pendekatan sama Lia." ucap Xelo
'B*ngke emang si Ajeng, ember banget itu mulut.' gumam Bastian dalam hati.
"Iya" jawab Bastian singkat, apalagi yang mesti dia tutup-tutupi. Kelima temannya tertawa, melihat wajah pasrah Bastian.
"Setuju gue" ucap Dika
Akhirnya mereka pun berjalan ke arah salah satu outlet yang menjual manik-manik, melihat para pria belok. Para gadis pun mengikuti mereka, walau dengan wajah bingung. Kecuali Ajeng tentunya, ia sudah meminta tolong pada Xelo sebelumnya.
Kita tinggalkan mereka, dan kita fokus pada Soraya juga Regatha.
"Mau ngapain lo pada nyari gue?" tanya Dania dengan wajah datarnya
"Nia, gue mohon bantuin kita. Gue pengen lepas dari jeratan Helena, apa yang dia lakukan sama lo. Dia juga lakuin hal yang sama pada kita, gue ingin lepas Den. hiks" jawab Regatha menangis dan menundukkan kepalanya. Ia menutup wajahnya, dengan kedua telapak tangannya.
"Gue cape Ni, gue cape banget. Walau kita tau, kita udah pernah salah ambil langkah. Tapi udah lama, kita berhenti kaya gitu Ni. Kita pengen kuliah yang bener, lulus dengan tenang. Kita ga mau ngecewain orang tua kita Ni, mereka berharap besar sama kita." lanjut Soraya yang ikut meneteskan air mata dan menundukkan kepalanya.
Dena yang melihat wajah frustasi kedua temannya, akhirnya luluh. Dia menghembuskan nafasnya pelan dan mengusap pundak salah satu pundak mereka, lalu ia mengambil ponsel.
"Gue coba minta tolong sama seseorang, semoga dia mau nolongin kalian juga. Gue juga di bantu sama dia, buat ngebajak ponsel Helena dan menghapus foto gue yang di jadiin anceman sama dia." ucap Dania, Soraya dan Regatha menghentikan tangisannya.
Mereka mengangkat kepala mereka dan menatap Dania penuh harap, apakah benar yang mereka dengar?
"Ka kamu mau menolong kami Ni?" tanya Soraya
Dania mengangkat jari telunjuk dan menempelkannya ke bibir miliknya, meminta Regatha dan Soraya diam. Mereka berdua pun terdiam dan menutup mulut mereka, dengan salah satu tangan mereka.
'Halo'
"Bro, gimana masalah foto gue?" tanya Dania to the point
'Beres, sekarang lu bisa kuliah dengan aman dan tenang.' 0
"Alhamdulillah, makasih ya. Kalo ga ada lu, gue ga tau minta tolong sama siapa. Nanti gue traktir lu, seblak depan kampus."
'Kampret, bisa beli sendiri itu mah gue.'
"Hahaha... canda, pokonya kalo lo butuh bantuan gue. Bilang aja, InsyaAllah selama gue mampu. Gue bakalan bantu lo, termasuk cari informasi tentang cewe inceran lo."
'Njirrr... jelas banget emang? Boleh tuh, gue nggak belum bisa sampe ke tahap cari informasi data diri. Jadi kudu manual kayanya, hehehe'
"Yoi, jelas banget bro. Gampang itu mah, bisa gue atur. Selama gue ga ada niatan jahat, kayanya gampang buat deketin mereka. Bro... Gue mau minta bantuan lu lagi, bisa kagak?"
'Apaan?'
"Lu bisa bajak ponsel si nek lampir sekali lagi kagak?"
'Buat paan?'
"Soraya ma Regatha, mereka juga pengen lepas dari jeratan si Helena. Mereka pengen kuliah dengan tenang, tanpa ada bayang-bayang anceman ga bermutu si nek lampir. Gimana?" terdengar sepi dari sebrang sana, seolah Reksa tengah berpikir.
Dania sengaja tidak menyebut nama Reksa, karena takut jadi masalah ke depannya. Ia hanya takut, bila Soraya atau Regatha mengatakan siapa yang telah menghapus foto-foto tersebut.
'Ok, gue bantu mereka. Gue juga ga suka cara Helena menekan orang lain, tenang aja. Dalam waktu satu jam, foto dan vidio mereka akan hilang.'
"Alhamdulillah, oke deh kalo gitu. Thanks bro!!" panggilan pun mereka hentikan
"Gimana Ni?" tanya Soraya
"Beres, dia mau bantu kalian." jawab Dania seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas
"Syukurlah" ucap mereka berdua dengan mengusap dada mereka
"Tapi, sekarang kita harus ke mall Ni" ucap Regatha
"Kenapa? Mau belanjain gue?" canda Dania
"Boleh, gue bakalan traktir lu. Karena lu udah nolongin gue, tapi ada yang lebih penting. Helena dan Damian kini ada di sana, mereka punya rencana jahat pada kekasih pewaris tahta yang di incar Helena. Dan sekarang mereka semua, ada di mall." jawab Soraya
"Apa? Ya udah, ayo" Dania segera pergi menuju tempat parkir, ia juga tak lupa mengabari Reksa. Siapa tau ada dewi asmara, sedang berpihak padanya.
...****************...
...Happy Reading allπππ...