
Syahid yang sudah merasa Ita aman, kini ia tidak mengekang Ita seperti sebelumnya. Namun untuk pergi dan pulang, Syahid masih belum mengijinkan Ita sendiri. Ia akan antar jemput, bila ia tidak memiliki jadwal kuliah. Ia akan menunggu atau meminta Ita yang menunggu, apabila salah satu dari mereka pulang terlebih dahulu.
Seperti saat ini, Ita sudah pulang terlebih dahulu. Untung di kelas hukum, ia satu jurusan dengan Lia dan Agatha. Sehingga saat Ita tengah menunggu Syahid, ia tidak sendiri.
"Kalian boleh pulang kok, aku nggak apa-apa sendiri. Aku nggak mau loh, kalo sampe ganggu waktu kalian. Takutnya kalian punya keperluan lain, tapi tertahan karena harus nemenin aku." ucap Ita merasa tak enak
"Nggak ko teh, santai aja kali. Kita mah emang ga ada kegiatan atau pun keperluan. Justru nemenin teh Ita di sini, dapet untung kita. Iya nggak Li?" jawab Agatha dan bertanya pada Lia
"Iya bener" jawab Lia mengangguk
"Untungnya apaan?" tanya Ita mengerutkan dahinya
"Kita bisa ngerjain tugas bareng lah teh, kita jadinya bisa nanya-nanya sama teteh. Coba kalo di rumah, mana ada yang bisa di tanyain? Abang aku yang pengacara, jarang ada di rumah. Sekalinya ada di rumah, malah ngajak War. Apa-apaan?!" jawab Agatha tersenyum lebar dan melakukan tos dengan Lia, Ita tertawa melihat mereka berdua.
"Ya udah, kita mau ngerjain tugas dimana?" tanya Ita
"Tuh, di sana aja teh. Adem, di bawah pohon" jawab Lia seraya menunjuk ke arah kursi taman, yang ada di bawah pohon besar.
"Waaahh.. cocok itu, sebelum sampai ke tujuan. Alangkah baiknya, bila kita membeli cemilan dan minuman terlebih dahulu. Bagaimana? Setuju?" balas Agatha
"Siaaapp... aku setuju." ucap Lia dan Ita barengan, mereka bertiga tertawa sembari melangkahkan kakinya menuju mini mart yang tak jauh dari kampus.
SKIP MINI MART
Setelah mendapatkan apa yang di mau, mereka hendak kembali ke kampus. Namun, Ita tetiba ingin seblak.
"Beli seblak dulu yuk, mumpung sepi." ajak Ita, Lia dan Agatha melihat ke arah kang seblak
"Kuy" jawab mereka, mereka pun berjalan beriringan.
"Oh, ada yang beli ternyata." gumam Ita pelan, karena melihat ada perempuan yang berdiri dekat gerobak.
"Kenapa teh?" tanya Lia
"Hah? Itu... ternyata ada yang... loh, kemana?" Lia dan Agatha saling tatap, karena bingung melihat Ita yang terkejut.
"Teteh kenapa?" tanya Agatha
"Itu... tadi... nggak ada apa-apa, salah liat sih kayanya." jawab Ita, ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merasa merinding.
"Pak, mau tiga porsi" ucap Lia
"Oh iya, boleh neng. Seblak apa aja ini?" jawab bapak kang seblak, seraya bertanya balik pesanan Lia dan yang lainnya.
"Saya pengen seblak pakcoy, tahu putih, tulang, sama siomay. Jangan lupa pake telor ya pak, pedes mantul." pesan Agatha
"Kalo saya samain aja pak, tapi pedesnya sedeng aja." sambung Ita
"Ya udah saya juga pak, pedesnya sedeng." ucap Lia
Si bapak mengangguk dan meminta Ita, Lia dan Agatha untuk duduk di kursi. Mereka duduk seraya membicarakan tugas, yang di berikan dosen mereka tadi.
"Aku belum paham loh teh, sama penjelasan mengenai hubungan hukum adat dan sosiologi hukum itu sendiri" ucap Agatha, ia mengeluarkan binder miliknya.
"Kedua aspek itu saling berhubungan Tha, karena hukum adat merupakan system hukum yang tidak lepas dari perspektif sosiologi hukum (sudut pandang) sebagai fungsi pengendalian social. Kaya contohnya korupsi dalam masalah yang sedang ramai di bicarakan, masalah korupsi e-KTP. Sedangkan korupsi merupakan kejahatan penggelapan uang rakyat bukan? Dan hukum adat di satu daerah, akan langsung menghukum dengan memotong tangan dari si pelaku. Gimana? Paham nggak sampai di sini? " Agatha dan Lia mengangguk, mereka mencatat poin-poin penting dari apa yang mereka tanyakan pada Ita.
Cara Ita menjelaskan dan kesabaran menjawab setiap pertanyaan mereka berdua, memudahkan kinerja otak mereka untuk menangkap semua keterangan dari Ita. Tanya jawab jadi menyenangkan, bagi Lia dan juga Agtha. Saking asyiknya, mereka di kejutkan bapak kang seblak memberitahukan bila pesanan seblaknya telah selesai.
"Eh, maaf pak. Keasyikan, malah lupa kalo pesen seblak" ucap Lia
"Nggak apa-apa neng, bapak seneng dengernya. Seandainya putri bapak di temukan, sepertinya ia juga bisa ikut belajar dengan kalian. Tapi ga nyambung kayanya, soalnya putri bapak ambil jurusan kedokteran. " jawab kang seblak dengan mata berubah sendu
"Ditemukan? Sebelumnya maaf pak, memang putri bapak kemana?" tanya Ita
"Sudah seminggu ini, putri bapak tidak pulang. Tiga hari pertama bapak libur jualan, karena harus mencari dan melaporkan masalah ini ke kantor polisi. Namun nihil, putri bapak seolah hilang di telan bumi. Sudah bapak tanyakan pada temannya yang dekat rumah, temannya yang suka bareng dengannya di kampus. Jawaban mereka sama, tidak tau. Ingin bapak berhenti jualan dan mencari putri bapak, tapi di rumah butuh makan. Kalo bapak nggak jualan, istri dan anak-anak bapak yang lain kelaparan. Bingung bapak" jawab bapak kang seblak, matanya berkaca-kaca. Terlihat gurat lelah dan juga khawatir di wajahnya, ada ketakutan di nada suara si bapak.
"Apa tidak ada petunjuk sama sekali pak? Barangkali ada sesuatu milik putri bapak, yang bisa di jadikan petunjuk. Seperti sebuah buku catatan sehari-hari misalnya, atau ada apa dari milik putri bapak yang cukup mencurigakan. Tidak mungkin putri bapak menghilang begitu saja, tanpa memberi pesan. Apa ada sesuatu hal yang terlihat ganjil, sebelum putri bapak menghilang?" tanya Ita
"Bapak belum cek kamarnya neng, sepertinya bila di cari bakalan nemu. Kalo gerak-gerik yang mencurigakan.... 2 hari sebelum putri bapak menghilang, dia memang jadi lebih banyak diam dan melamun. Setiap bapak tanya, jawabnya hanya lelah." jawab si bapak
'Aku di sini, kamu bisa melihatku bukan?'
DEG
Tubuh Ita langsung terasa kaku, suara itu terdengar sangat jelas. Seolah seseorang tengah berbicara, tepat di samping telinganya.
"Siapa?" tanya Ita berbisik
'Aku Nurma, putri yang sedang dicari bapakku.' jawab sosok itu dengan suara bergetar, Ita masih belum berani menengokan kepalanya ke belakang
"Sejak kapan?" tanya Ita, maksudnya sejak kapan ia menjadi hantu.
'Di hari aku menghilang, saat itulah aku menjadi seperti ini. Di kamarku ada buku diary kecil berwarna biru, ada di dalam salah satu buku mengenai anatomi tubuh. Di situ, kalian bisa tau siapa yang membuat aku jadi seperti ini.'
GLEK
"Teh?"
"Teteh, teh Ita" panggil Agatha seraya menggoyangkan sedikit bahu Ita, sampai Ita tersentak kaget.
"Astaghfirullahaladzim, maaf." jawab Ita, jantungnya benar-benar berdebar bukan main.
Kenapa ia bisa berinteraksi dengan 'mereka'? Semenjak seringnya di perlihatkan firasat, sejak itu juga Ita semakin jelas bisa melihat mereka.
"Mmm.. anu pak, kalo boleh. Sepulang tunangan saya, kita ke rumah bapak dan mencari petunjuk di kamar Nurma." ucap Ita
Mendengar pertanyaan Ita, bapak kang seblak, Lia dan Agatha serentak menatap Ita terkejut.
"Ada apa?" tanya Ita bingung
"Bagaimana kamu bisa tau nama putri bapak? Seingat bapak, bapak belum menyebutkan namanya." tanya bapak kang seblak
"Eh...
...****************...
...Happy Reading all💞💞💞...
Cieeeee.... dikasih double lagi, kiwwwðŸ¤