Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Tertangkap Sebelum Beraksi



"SIAPA KALIAN? AKU ADA DIMANA? LEPAS!!" teriak seorang wanita pada anak buah Zandra


Baik Helena ataupun Damian, kini mereka berada di markas keluarga Zandra. Lebih tepatnya, berada di markas tuan besar Hasimoto. Damian yang tadinya berwajah tampan, kini sudah tidak berbentuk. Wajahnya babak belur, karena di pukuli oleh anak buah Zandra.


"Siapa kami, itu bukan urusanmu. Yang pasti kalian telah salah mencari lawan, nanti tuan kami akan menemui dan memberi kalian pelajaran secara langsung." jawab A


GLEK


"A apa maksud kalian? Me memang kami telah bermasalah dengan siapa?" tanya wanita itu, seolah hilang ingatan.


"Jangan kura-kura dalam perahu kamu, kamu pasti paham siapa yang kami maksud" jawab B


'Tidak mungkin, bagaimana bisa dia tau rencana ku. Hanya kami yang tau, tidak mungkin Damian membocorkan rencana ini. Sekarang Damian sudah tak sadarkan diri, tidak menutup kemungkinan aku pun akan mengalami hal yang sama. hiks... Bagaimana ini? ' ucap Helena dalam hati


"Tidak usah menangis dan juga bingung, apapun rencana kalian. Tuan kami bisa mengetahuinya, tanpa ada yang memberitahu." ucap A


"Asal kalian tau, kami sudah mengawasi gerak-gerik kalian. Dan kami juga berjaga di sekitar mereka, untung kami tidak terlambat." sambung C


Flashback


Setelah memberikan kesempatan pada Bastian untuk pendekatan dengan Lia, mereka pun kembali melangkahkan kakinya keluar. Di saat Lia, tengah fokus dengan pernak-pernik di outlet tersebut.


"Kemana kita sekarang?" tanya Dena, tangannya pun saling bertautan dengan Sahin. Begitu juga Ita dan Syahid, Maya dan Kira memutar malas bola mata mereka. Pasangannya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing


"Apa kabar dengan kami yang jomblo ini?" gerutu Ajeng


"Hareudang Gusti.... aer mana aer" sambung Agatha


Ita dan yang lainnya hanya terkekeh, mendengar teman-temannya protes.


"Bee, aku mau ke toilet dulu ya." ucap Ita


"Aku antar ya" tawar Syahid


"Ck, masa kamu mau ikut ke toilet perempuan sih bee." protes Ita seraya menyipitkan matanya


"Aku tunggu di luar, sayang." jawab Syahid


"Biar kita aja yang nemenin, kalian tunggu di food court itu." ucap Maya seraya menunjuk ke arah outlet food court yang ada di lantai tersebut


"Baiklah, aku titip Ita." jawab Syahid, Maya dan Kira mengangguk paham.


Setelah mereka bertiga pergi, Syahid memberi kode pada pengawalnya. Mereka yang berjumlah 4 orang, mengangguk serentak mengikuti Ita juga twin princess.


"Apa ga papa Hid, kita ninggalin mereka bertiga?" tanya Ajeng cemas


"Tenang saja, ya sudah ayo kita ke sana." jawab Syahid yang paham dengan rasa cemas Ajeng


Tanpa sepengetahuan Ita dan twin princess, ternyata Helena dan Damian juga mengikuti langkah mereka bertiga. Mereka berdua, yang entah b*doh atau ceroboh. Tidak menyadari bila anak buah Zandra, ada di belakang mereka.


Rupanya mereka membuat rencana, tanpa tau bagaimana kehebatan dan seberapa besar kekuasaan Zandra.


"Gue akan masuk ke dalam, gue bakal bikin si kembar itu lengah. Dan saat cewek inceran lu keluar, siap-siap buat bawa itu cewek j*lang menjauh dari tempat ini." ucap Helena pada Damian, Damian mengangguk penuh semangat. Karena di otaknya sudah membayangkan, apa yang akan ia lakukan.


"Kamu tenang saja, itu mudah." jawab Damian


Namun sayang seribu sayang, saat Helena hendak masuk ke dalam kamar mandi. Dia yang kini di buat tidak sadar oleh A, salah satu anak buah Zandra.


"HEI, APA YANG KA...


BUGH


Ucapan Damian terhenti karena tengkuknya di pukul oleh B, mereka berempat langsung membawa kedua orang itu keluar dari mall. Tanpa membuat curiga para pengunjung, mereka pergi bagai bayangan.


Saat anak buah Zandra hendak pergi, C tak lupa mengangguk pada Syahid. Kode bila kedua orang itu, sudah di bereskan. Syahid tersenyum dan mengangguk, ia bisa bernafas lega. Ia akan menyusul bila urusan di mall, sudah selesai. Ia akan memberikan pelajaran pada kedua orang, yang berani berniat jahat pada tunangannya.


.


.


"Loh, yang lain pada kemana Bas?" tanya Lia terkejut, karena teman-temannya yang tidak ada di sekitarnya. Ia langsung menjaga jarak pada Bastian, walau sudah di nyatakan sembuh. Lia masih sulit untuk berdekatan dengan pria, selain dengan keluarganya.


"Mereka.. mereka keluar terlebih dahulu, karena melihatmu yang tengah fokus dan sibuk sendiri. Mereka tidak mau mengganggumu, maka dari itu aku yang menemanimu di sini." jawab Bastian


"Benarkah? Kalau begitu, ayo kita susul mereka. Apa mereka bilang akan kemana?" ajak Lia dan bertanya pada Bastian


"Tidak, mereka tidak mengatakan apapun tadi. Kalau begitu, ayo kita cari mereka." jawab Bastian, seraya mengajak Lia, tanpa curiga Lia mengangguk dan mengikuti Bastian dari belakang.


Bastian sengaja mengajak Lia ke arah berlawanan, ia mengulur waktu seraya mempersiapkan diri.


"Apa kamu yakin, mereka ke arah sini?" tanya Lia, matanya menelisik ke segala arah. Siapa tahu, ia melihat salah satu dari teman-temannya.


"Tidak, ah... maksudku iya, mereka ke arah sini saat keluar tadi." jawab Bastian tergagap


Kini Bastian mensejajarkan langkahnya dengan Lia, walau dengan jarak 1 meter. Saat tengah berjalan, tak sengaja Lia bertabrakan dengan pengunjung lain.


"Ahhh" Lia memejamkan kedua matanya, karena berpikir akan terjatuh. Namun dengan cepat, Bastian menarik tangan Lia. Sehingga kini Lia ada dalam pelukan Bastian, Lia membuka matanya dan


DEG


Entah jantung siapa yang berdebar dengan kencang saat ini. Lia langsung menyadarkan diri, ia melepaskan pelukan Bastian dan kembali berdiri di sebelah Bastian.


"Ma maaf, aku tidak bermaksud memelukmu. Tadi aku reflek menarik tanganmu, kerena takut kamu jatuh dan terluka." ucap Bastian cepat, wajahnya pun memerah


"Tidak apa-apa" jawab Lia singkat, seraya memalingkan wajahnya. Karena menyembunyikan senyuman dan semburat merah di wajahnya.


'Oh tidak, jantungku' ucap mereka berdua dalam hati


"Baiklah, kalo begitu ayo kita lanjutkan niat kita." ajak Bastian, Lia mengangguk


Di sepanjang perjalanan, lambat laun kecanggungan di antara mereka menghilang. Bahkan Lia tak sadar, bila ia mulai merasa nyaman dengan keberadaan Bastian di sampingnya.


Bastian mengajak Lia ke arena permainan, Lia mengangguk dan tersenyum. Di sana mereka memainkan hampir semua permainan, kecuali permainan khusus anak-anak kecil tentunya. Lia menikmati permainan tersebut, selama mereka bermain. Senyuman tak luntur dari wajah Lia, Bastian yang melihatnya. Tentu saja senang bukan main, melihat senyuman Lia sudah bagaikan candu untuknya.


"Hosh hosh hosh... cape banget, udah lama loh aku nggak main ke sini. Terakhir kali saat..." ucapan Lia tidak di teruskan, namun matanya terlihat sendu.


"Jangan di ucapkan, bila seandainya ada ingatan buruk di kepalamu. Cobalah kamu alihkan ke hal-hal yang menyenangkan, jangan terus berada dalam lubang ketakutan." ucap Bastian menatap Lia, Lia mengalihkan tatapannya pada Bastian. Tatapan mereka bertemu beberapa detik, namun Lia lebih dulu memutuskannya.


"Ya, akan aku coba" jawab Lia


"Apakah aku boleh menemanimu menghilangkan bayangan hitam itu? Apakah aku bisa selalu berada di sampingmu?" tanya Bastian


"Hah? Maksudmu?" tanya Lia bingung


"Mungkin bagimu ini terlalu cepat, namun aku sudah lama menaruh perasaan padamu sejak kita masih di kelas 2 SMA. Sebenarnya, ada yang melarang ku untuk tidak langsung mengungkapkannya padamu. Tapi ternyata, aku tidak bisa. Lia, aku menyukaimu. Ijinkan aku selalu berada di sampingmu. Membantumu menghilangkan trauma dan ingatan buruk yang mengganggumu selama ini, bolehkah?"


Lia terdiam, ia menundukkan kepalanya. Bingung hendak menjawab apa?


...****************...


...Happy Reading all💞💞💞...


Akhirnyaaaaaa, udah lama banget ya ga double🤭🤭


Padahal mah gegara, salah naro jam. Tapi, karena si aku lagi seneng pake banget. Aku kasih double hari ini family, semoga syukaaaaa.


Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya🥰🥰