
"Ngapa lo?" Dari tadi gue liat lu diem mulu?" tanya Kira
"Raaaaaaaa......" ucap Dena dengan menatap wajah Kira, dengan tatapan antara kagum, exited, terhura dan sebagainya.
"Apaan sih lu? Gue masih normal ya, lo kalo gila karena di tolak senior lo. Jangan ke gue, emang gue cewe apakah?" semprot Kira
"Yaaa" teriak Dena tak terima, kalaupun nanti sampai di tolak, ga kepikiran juga harus belok. Kaya yang laki di dunia ini cuma satu aja, duda juga bejibun saaaayyy. Yang bujang habis sama yang sesama, duda juga it"s ok. hahahaha
Alice dan anggota lainnya yang bisa mendengar suara hati Dena pun, terkikik geli. Hanya Ita, Maya dan Kira yang tidak tau.
"Lu, kalo ngomong emang ga di filter ya. Emangnya tatapan gue, tatapan pengen macarin lu apa?" gerutu Dena
"Emang bukan?" tanya Kira
"Dihh, ngasal lo. Ogah banget gue, kalo sampe begitu. Amit-amit ya Allah, jauh jauh...." jawab Dena, sembari menepuk kepala dan lututnya bergantian.
Akhirnya pecahlah tawa semua orang, karena perdebatan unfaedah tersebut.
"Tunggu, kok kita udah ada di depan rumah.... rumah siapa nih?" tanya Dena bingung, dengan menatap ke sekitar.
"Ck, ya rumah utama kediaman keluarga Zandra lah. Lu pikir dimana? Gedung DPR?" jawab Maya
"Iyakah? Kapan kita naik mobilnya?" tanya Dena lagi, dengan wajah ling lungnya. Dena pun menggaruk kepalanya, seraya mengingat kapan ia naik mobil.
"PFFT" Alice dan power ranger tak tahan menahan tawa, mereka pun masuk terlebih dahulu. Termasuk Syahid dan Sahin, badan mereka merasa sangat lengket dan ingin segera merebahkan tubuhnya.
Mereka kembali dengan menggunakan teleport, sedangkan mobil yang di bawa oleh Syahid dan yang lain akan di bawa pulang oleh anak buah Rendra.
"Udah udah... bahas nanti lagi, sekarang masuk dulu. Bersiin badan, isya terus istirahat ok!!" titah Ita seraya mendorong pelan mereka bertiga
Dena pun di antar ke kamar tamu, yang tak jauh dari kamar Ita dan twin princess. Begitu Dena masuk ke kamar, ia berdecak kagum saat melihat isi kamar yang ia tempati.
"Ini kamar, lebih luas dari kamar gue. Bokap gue emang pengusaha, tapi kalo di bandingin dengan keluarga Zandra mah. Beuh, bagaikan upil ma globe. Jauuuhhh,,,," ucapnya, ia pun bersiap masuk kamar mandi. Namun ia urungkan, karena ia tak bawa baju ganti.
Ia pun mengirim pesan pada Ita, untuk di bolehkan meminjam baju untuknya dan tak lupa dengan mukena. Setelah mendapatkan balasan, barulah Dena masuk ke kamar mandi.
Setelah beberapa saat, Dena menyudahi mandinya. Ia pun keluar menggunakan handuk kimono, begitu di luar ia terkejut bukan main. Karena mendapati Ita yang tengah duduk di sisi ranjang, dengan keadaan rambut tergerai.
"Astaghfirullah teh, ya Allah." ucap Dena, seraya mengelus dadanya. Ita pun tertawa, melihat ekspresi terkejut Dena.
"Ini baju dan mukenanya, terus ini daleman yang masih baru. Baju kotornya biar teteh bawa ke belakang nanti, biar besok bisa di pake lagi. Kenapa terkejut sampai seperti itu sih Den? Mang muka aku nyeremin banget ya?"" tanya Ita
"Nggak gitu teh, cuma ya siapa juga yang ga kaget. Tadi di kamar sendirian, tiba-tiba ada yang duduk di situ. Mana itu rambut, ga di iket lagi. Tambah lagi, tadi kita kan habis dari tempat angker. Mana tau, kalau ada yang ngikut?" jawab Dena menggerutu, Ita menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Dena.
"Kiblat kemana teh?" tanya Dena, setelah selesai mengganti bajunya.
"Ke sana" tunjuk Ita, Dena mengangguk dan memulai shalatnya.
Ita bangun dari duduknya dan mengambil pakaian kotor Dena, ia keluar kamar dengan pelan.
.
.
"Loh, teh Ita darimana? Kira cariin di kamar ga ada tadi." tanya Kira yang berpapasan dengan Ita
"Dari kamar Dena, habis kasiin baju tidur." jawab Ita
"Terus itu apa?" tanya Maya
"Sarung... ck, baju kotor punya Dena. Mau teteh bawa ke belakang, sekalian teteh mau bikin teh anget." jawab Ita
"Ikut" jawab twin princess
"Ya ayo"
.
.
"Setengah lima, bentar lagi subuh ternyata. Tumben banget, insomnia gue ga kambuh malem ini. Tenang banget ya di rumah ni, mata juga cepet banget meremnya. Masa iya gue ngekos di mari? Aje gile, pemilik perusahaan terbesar nge kosin istananye. " Dena tertawa dengan ucapannya sendiri
Ia lanjut bangun dan segera ke kamar mandi, setelah membersihkan tubuhnya. Dena pun mengambil air wudhu, saat keluar ia mendengar suara ketukan pintu.
"IYAAA" Dena membukakan pintu
"Udah ambil wudhu kan? Yuk, shalat berjamaah." ajak Kira
Dena sempat terdiam sebentar, tapi ia pun langsung mengangguk dan masuk ke kamar untuk mengambil mukena.
'MasyaAllah banget, mau gimana ga makin sukses coba. Selain terkenal dermawan, ternyata mereka semua selalu shalat berjamaah. Terbaik memang....' gumamnya pelan, ia pun mengikuti Kira
Kini, ia pun kembali terkesima. Di belakang mansion ada sebuah bangunan lagi, lebih tepatnya Mushola.
Saat masuk, ia tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Ahhh" Dena cepat-cepat menghapusnya
'MasyaAllah, di sini benar-benar menganggap semua orang sama. Anggota keluarga Zandra benar-benar menghargai dan menghormati sesama, bahkan para pelayan dan penjaga pun ada di sini.' ucapnya dalam hati
"Ayo" ucap Ita tersenyum, ia sudah bisa mengikuti shalat sekarang
"I iya teh" Dena pun masuk ke dalam shaf
Di sini, ia benar-benar di terima dengan sangat baik.
SKIP
"joging kuy" ajak Maya
"Tumben lo" ucap Kira
"Mumpung eling, mau nggak?" jawab Mira
"Kuy lah" jawab Kira
"Ayo" jawab Ita
"Tapi, aku ga ada baju ganti" ucap Dena
"Gue ada, ayo!!" Maya pun menarik pelan tangan Dena
Lagi, Dena merasa sangat insecure dan kagum secara bersamaan. Saat ia masuk ke dalam kamar Maya
"Nih, masih baru ko. Belum gue pake, gue jarang banget olahraga. Mumpung sekarang lagi mau!!" ucap Maya, namun Dena masih terdiam karena melamun.
"Woyy.. Den, ngapa lu?" tanya Maya
"Ehh, i iya May. Makasih" ucap Dena, ia pun menerima baju yang di sodorkan padanya
"Lu kenapa sih? Tumben banget diem, aneh lu." tanya Maya
"Gue.. gue ko jadi ngerasa insecure May. Apa gue pantes temenan ma kalian?" tanya Dena
"Ya elah, kirain apaan? Santai aja ma kita mah, selama lo tulus temenan ma kita. Ga ada asas pemanfaatan, atau niat jahat lainnya. Kita dengan tangan terbuka, nerima lo." jawab Maya, seraya memegang kedua bahu Dena
Dena menatap Maya dan tak lama ia pun menganggukkan kepalanya.
"Makasih ya, kalian udah mau nerima gue. Seenggaknya, gue bisa ngerasain punya temen yang bener-bener nerima gue apa adanya." ucap Dena sendu
"Apa sih lo, ngomongnya kemana aja. Cepetan ganti, keburu panas nanti." ucap Maya, ia pun mengambil baju gantinya.
...****************...
...Happy Reading all๐๐...