
Sepertinya ia harus merencanakan sesuatu, untuk membuat Sahin menyadari perasaannya pada Dena. Sahin yang sibuk dengan logika dan perasaannya, sehingga ia tak mendengar apa yang di rencanakan Syahid.
Mereka berangkat pukul 03.00, dan kini mereka telah tiba di Four Points by Sheraton Surabaya Pakuwon Indah pukul 17.15 WIB. Hotel bintang 4 yang berlokasi di Pakuwon Mall, Jalan Puncak Indah Lontar no.2 Wiyung, Surabaya, Jawa Timur.
Dan masalah kamar, tentu saja Twin prince hanya berdua. Sedangkan Twin princess, bersama Ita dan Dena.
Untuk hari pertama, mereka diminta untuk beristirahat. Makan malam, akan di antar ke kamar masing-masing. Panitia tidak mengijinkan, para muridnya untuk keluar di malam ini.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa selonjoran juga" ucap Kira
"Madi dulu de" titah Ita yang baru selesai dari kamar mandi.
"Iya bentar teh, lurusin dulu pinggang. Serasa mau patah ini tulang, di rest area nya cuma sebentar-sebentar." jawab Kira
"Ya udah gue duluan ya, jangan kelamaan lo ngelurusin pinggang. Bentar lagi adzan Maghrib" ucap Dena
"Iya iya... bentaran doang ko" ucap Maya
Ita menggelengkan kepalanya, ia langsung membuka koper. Dan mengeluarkan pakaiannya, untuk di pindahkan ke dalam lemari. Begitulah Ita, tidak suka menunda pekerjaan.
"Teteh ga cape?" tanya Kira yang memiringkan tubuhnya, menghadap Ita.
"Cape atuh de, cuma teteh ga suka kalo barangnya masih dalem koper. Biar nanti pas butuh sesuatu ga harus acak-acak koper, kalo udah di tata di lemari kan gampang." jawab Ita
Kira pun bangun dari tidurnya, ia turun dari ranjang dan melangkah ke arah koper. Melihat tetehnya sibuk, Kira jadi mengikuti Ita. Ita yang melihatnya tersenyum, sembari sibuk memasukkan pakaiannya.
"Pinternya ade teteh, gitu dong. Belajar bertanggung jawab dengan barang milik pribadi, jadi enak nanti kalo ade mau nyari barang." ucap Ita
"Iya teh" jawab Kira tersenyum
Kira memang yang paling malas dan juga manja, dia antara anggota keluarga yang lain. Jadi, Ita mengajarinya harus dengan pelan dan juga lembut.
Rencana mereka di Surabaya 3 malam, selama itu pula mereka hanya di biarkan berlibur. Menikmati hari-harinya dengan menyenangkan, yang pergi Darmawisata hanyalah anak kelas X dan XI. Karena anak kelas XII, hari ini adalah hari pertama ujian semester satu.
ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Kira sudah siap dengan handuk dan juga baju gantinya. Setelah Dena keluar, kini giliran dia yang masuk.
Dena pun melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan Ita dan Kira, ia memindahkan isi koper ke dalam lemari. Karena sudah selesai, kini ia bersiap menggelarkan sajadah.
"Berjamaah ya teh maghrib nya" ucap Dena
"Iya, nanti kita tunggu Syahid dan Sahin juga." jawab Ita, Dena pun mengangguk
Melihat Ita yang sedang tadarusan, membuat Dena pun mengikutinya. Ia minta di ajari Ita, walau ia sudah bisa. Namun, ia menyadari bila belum benar dalam pelafalan Makhroj nya.
Maya yang ketiduran, terbangun karena sayup-sayup mendengar lantunan ayat suci.
"Alhamdulillah, padahal cuma ketiduran 15 menit. Tapi ko ya, berasa lama banget." ucap Maya
"Ya udah gih ke kamar mandi" ucap Kira yang sudah keluar
"Iya iya cerewet, kalian udah beresin koper?" tanya Maya
"Udah, tinggal kamu yang belum" jawab Ita, Maya mengangguk. Ia mengambil handuk dan baju gantinya, ia berniat membereskan kopernya nanti setelah shalat saja.
.
Adzan berkumandang, Syahid yang kini menjadi imam dan Sahin sudah bersiap di belakang Syahid. Sedangkan ke empat gadis, menjadi makmum di belakang Sahin.
Setelah selesai, Syahid dan Sahin tak langsung kembali ke kamarnya. Mereka memilih diam dan duduk di sofa yang tersedia di kamar tersebut.
"Malam ini, kita beneran di pingit di kamar?" tanya Dena
"Dih, di pingit. Kaya yang mau di nikahin aja lu." celetuk Kira
tok tok
"Buka pintu sono" ucap Maya
"Ck" Dena pun turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu.
"Selamat malam kakak, kami mengantarkan makan malam." ucap salah satu pegawai hotel, dengan troli makanan yang ia bawa.
"Ah iya, masuk aja mba" jawab Dena, ia membuka pintu dengan lebar. Dan mempersilahkan guest room service tersebut masuk, ia menata makanan di atas meja.
Salah satu pegawai, ada yang sesekali melirik Syahid dan Sahin.
'Gila gila, gantengnya kebangetan. Sama aku kira-kira mau nggak ya? Nggak jelek-jelek amat ko aku juga.' ucapnya dalam hati
Syahid dan Sahin yag sedang fokus pada ponselnya masing-masing, langsung mengangkat salah satu alisnya.
'Cih, ulet bang' ucap Sahin
'Bukan ulet lagi dia mah, keliatan banget auranya. Udah di pake banyak orang, udah pro dia mah.' jawab Syahid setelah tadi melirik perempuan itu sekilas
'Kayanya pake susuk bang, kerasa aura yang hitam pekatnya.' sambung Sahin lagi
"mmm" Syahid menganggukkan kepalanya
Mereka berbincang menggunakan telepati, dengan mata yang tetap fokus pada ponsel.
"Maaf kak, kalo kamar yang di depan itu..." ucap pegawai yang sejak tadi sibuk menata
"Di sini mba orangnya, tolong sekalian di tata di meja aja ya mba." potong Ita dengan suaranya yang lembut dan tersenyum ramah
"Oh iya kak, baik." Ia kembali sibuk dengan pekerjaannya
Dena yang sejak tadi, memperhatikan kedua orang itu. Melihat satu pegawai yang hanya berdiam diri, tak membantu. Malah tersenyum, tersipu malu-malu minta di lempar piring. Merasa risih sendiri,,,
"Maaf, emang kerjaan mbak yang satunya cuma berdiri aja gitu? Mandorin temennya kerja sendiri." tanya Dena, matanya menatap sebal pada perempuan itu.
"A em.. Enggak kok kak, saya juga kerja." jawab pegawai itu, sembari sibuk tidak jelas dan malah semakin mendekatkan dirinya dengan Syahid
Syahid yang memang paling BENCI, di dekati orang tidak di kenal langsung berdiri dan menjauh.
"Emang kamu nggak bisa kerja dari sana, kenapa harus pindah ke dekat saya?" bentak Syahid, mengejutkan semua orang yang ada di ruangan tersebut.
Kecuali Sahin dan twin princess, mereka yang sejak tadi melihat pun. Sudah tau, bila buka perempuan baik-baik.
GLEK
"Ma maaf mas" pegawai itu langsung kembali ke tempatnya, sedangkan gadis uyang sejak tadi kerja sendiri menghembuskan nafasnya pelan dan menggelengkan kepalanya.
'Nggak bisa liat yang bening dikit, badannya langsung aja gatel. Heran, udah tau di depannya ini anak-anak sekolah. Masiiihhh juga mau di embat, serem aku ma kelakuan Gayatri. Makin kesini ko ya, malah makin parah.' ucap gadis itu dalam hati
"Mbak, mbak namanya siapa?" tanya Kira pada gadis yang terlihat ayu dan juga manis.
"Eh, saya kak?" tanya gadis yang bekerja sendiri itu, Kira mengangguk dan tersenyum.
"Saya Sulastri kak, panggil saja Asti" jawabnya, ke empat gadis itu pun mengangguk bersamaan.
"Kalau saya Gayatri kak, panggil saja..."
"Maaf, nggak nanya." potong Maya sebal
...****************...
...Happy Reading allπππ...