Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Keseruan Menuju Surabaya



"Cemun apaan?" tanya Ita yang duduk di bangku depan mereka berdua


"Cewek Munafik" Bukan Dena yang menjawab, melainkan Maya


"Wih, udah pinter lu bahasa planet Dena" celetuk Kira


"Bukan pinter, tapi udah mulai ketularan gilanya." ucap Sahin di belakang bangku Maya dan Dena


"Lu yang gila, enak aja ngatain gue gila. Salah lu..." sela Dena sembari menaikkan kakinya ke atas kursi dan menghadap Sahin menggunakan lututnya sebagai pijakan.


"Terus kalo bukan gila, apa namanya?" tanya Sahin denga wajah mengejek, membuat Dena benar-benar kesal di buatnya.


"Gue ga gila ya, tapi gue itu Alumni RUMAH SAKIT JIWA. Puas lo!!!" jawab Dena seraya memelototkan kedua matanya.


"BUahahahaha" tawa Sahin, Kira, Maya dan Ita pun pecah, Syahid hanya tersenyum.


"CK" Dena berdecak kesal, kesal sekesal-kesalnya.


Namun tawa Kira, Maya dan Sahin tentu saja membuat murid di kelas mereka terkesima. Mereka berempat adalah es kiko, wajahnya selalu terlihat dingin.


Tapi sekarang, semenjak ada Dena. Sikap dan sifat mereka perlahan melunak, mau berbicara walau singkat.


"Apa bedanya, sakit lo" tanya Maya yang masih tertawa


"Beda lah, alumni mah berarti gue udah sembuh. kalo Gila berarti baru, ya kan SA HIN?" jawab Dena seraya mendudukkan kembali tubuhnya.


"Yoi... eh, Lu bilang gue gila." ucap Sahin yang baru saja sadar dengan jawabannya, ia pun berdiri dan menarik kerah baju belakang Dena


"Ishh... Sahin, lu mah emosian. Gue yang di bilang gila ma lu aja ga marah, awas lo lama-lama suka ma gue." ucap Dena seraya menepis tangan Sahin, ia pun berdiri dari kursi dan berbalik menghadap Sahin. Dena pun memeletkan lidahnya, karena posisi Sahin yang dekat dengan jendela. Sehingga ruang geraknya, terhalang oleh Syahid.


"Dih, males banget gue suka ma lo." jawab Sahin


"Sama dong, gue juga ga ada minat ma lo." ucap Dena tak mau kalah


NYUT


Entah kenapa, dada Sahin merasa sakit saat Dena mengucapkan hal tersebut. Ia langsung mendudukkan tubuhnya, dengan kasar.


"Dih, PMS kali ya si Sahin. Heran gue, bawaannya emosi mulu kalo liat gue. Pindah depan yuk, tukeran sama teh Ita ma Kira. Lama-lama deket Sahin, bisa-bisa gue beneran di masukin karung." bisik Dena pada Maya, Maya pun mengiyakan permintaan Dena.


Kini mereka sudah bertukar tempat, tentunya membuat Syahid tersenyum lebar. Karena di depannya kini, adalah gadis yang ia sukai.


"Kalian udah bener-bener kaya tom and jerry, ribuuutt mulu kalo ketemu" ucap Ita, ia pun mendudukkan tubuhnya.


Sahin yang tadinya melihat ke arah jendela, langsung megalihkan pandangannya ke arah depan. Ia cukup kesal, karena Dena dan Maya pindah dari situ.


Hayo looohhh Sahin, udah ada rasa kan?


"Sekarang udah ga ada pengganggu, lanjutin cerita lo" ucap Maya


"Cerita apaan lagi?" tanya Dena


"Dih, masih muda udah Amnesia aja lo. Jangan-jangan lo Alzeimer lagi.." ucap Maya


"May, lu kalo ngomong asal nyablak banget. Mau gue kecos itu mulut." ucap Dena, Maya pun terkekeh


"Si Maya udah ketularan Dena kayanya, gue tebak. Matir itu, emak tiri kan?" ucap Kira


"1000 buat lo" ucap Dena


"Pinter lu ya sekarang, May. Gue terharu, didikan gue masuk ma pala lu." lanjut Dena, berpura-pura terharu


"Hahahaha.... emang cocok kalian berdua." Ita kembali tertawa.


"Udah ah, gue mau denger ceritanya si Dena. Teh Ita, harap diam." ucap Maya, ia pun kembali menatap Dena.


"Sebenarnya yang buat gue ga punya temen adalah Salma, cewek itu ngehasut yang lain dan jelek-jelekin gue. Tapi, itu semua dia lakuin di saat gue ga masuk sekolah. Pas gue masuk, anak sekelas tiba-tiba jauhin gue. Tapi ada salah satu temen gue, yang gak kemakan omongan cewek itu. Dan memperingati gue, kalo harus jaga jarak ma tuh cewek. Dia juga bilang, kalo gue di jauhin karena hasutan dia. Tapi, gue yang selalu di cuci otaknya sama emak tiri gue. Jadi gue ga percaya omongannya, dan sekarang gue ngerasain sendiri. Gue bego banget kan?" lanjutnya lagi


Maya terdiam, sepertinya dia dan Dena tak beda jauh. Bedanya, ia yang memilih menghindari orang lain karena satu orang. Yang udah buat dia, ga percaya sama orang-orang lagi. Sedangkan Dena, dia yang di hindari oleh orang lain karena satu orang yang menghasut.


Hubungan antar manusia itu cukup menakutkan sebenarnya, kalo kita ga pandai memilah mana yang bisa di dekati dan mana yang harus di jauhi. Banyak yang baik di depan, tapi bobrok di belakang. Begitu juga sebaliknya, justru yang di depan terlihat urakan, bar-bar, nakal, namun justru lebih tulus di banding yang depannya doang yang mulus.


Jaman sekarang mah.. Ada kita cerita ubi, nyebarnya malah jadi kolak ubi. Iya ga family?


"Nggak ko, kamu ga bego Den. Seperti yang aku bilang sebelumnya, itu artinya kamu TULUS. Sehingga orang lain memanfaatkan ketulusan kamu itu, itulah manusia yang kurang bersyukur dan selalu merasa iri dengan kehidupan orang lain. Sangat senang, bila ada yang hidupnya lebih di bawah dia, lebih menderita dari dia." ucap Ita dari belakang


"Mungkin teteh benar, saking tulusnya. Aku mau aja, di bodohi selama bertahun-tahun oleh mereka berdua." ucap Dena


"Udah ah, kita ini mau have fun. Jangan inget yang sedih-sedih mulu, awali haris dengan senyuman." ucap Kira


"Bener banget tuh, lagian orang-orang itu juga udah pada masuk bui. SENYUUUUM" lanjut Maya, seraya tersenyum lebar


Mereka pun terus berbincang, dengan rencana apa yang akan mereka lakukan di sana. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 14 jam itu, di isi dengan tidur, ngemil, karokean, canda, game.


Double twin hanya ikut tersenyum, melihat ke gokilan teman sekelasnya. Tidak terlalu buruk ternyata, apalagi suasana bis tersebut semakin berawarna dengan keberadaan Dena.


Ita pun ikut menyumbangkan suaranya, karena kalah suit dengan Maya. Ia menyanyikan lagu Harus Bahagia, yang di nyanyikan Yura Yunita.


Mendengar suara merdu Ita, membuat teman 1 bis diam menikmatinya. Terkadang mereka ikut menjadi backsound nya, dan tubuhnya terkadang ikut bergerak.


Syahid tersenyum, melihat Ita yang menyanyi seraya tersenyum. Sepertinya ia benar-benar sudah jatuh pada pesona Ita, padahal usianya lebih muda 1 tahun lebih muda dari Ita.


"Pepet aja, Hid. Daripada nanti ada yang nikung duluan, cinta dalam diam ga akan hasilin apa-apa." ucap Sahin, ia pun menatap saudara kembarnya dengan sinis. Ia tak suka, bila sampai ada yang berani menikung gadisnya.


"lalu bagaimana denganmu? Kamu juga sudah mulai merasakan benih-benih bermekaran pada Dena." Balas Syahid


"What, mana ada?" elak Sahin


"Jangan lupa, kita itu kembar IDENTIK. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan, kamu tadi merasakan hatimu nyeri bukan. Saat Dena mengatakan bahwa ia juga tak tertarik padamu? Itu sudah mengartikan, bahwa kamu mulai menyukainya." ucap Syahid, Sahin mengalihkan pandangannya ke jendela.


Benrakah? Apa mungkin ia menyukai gadis aneh, bar-bar dan cerewet seperti Dena.


Syahid tersenyum, mendengar isi hati adik kembarnya.


Sepertinya ia harus merencanakan sesuatu, untuk membuat Sahin menyadari perasaannya pada Dena. Sahin yang sibuk dengan perasaannya, sehingga ia tak mendengar apa yang di rencanakan Syahid.


...****************...


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...