Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Masih Lia



Firasat ku tidak baik, apa kita bisa ke rumah Lia sekarang?" tanya Kira


Baru saja ia bangun tidur, ke kamar mandi juga belum. Namun tiba-tiba ia masuk ke kamar Syahid dan membukanya dengan tergesa, untung Syahid sudah memakai baju. Karena ia akan melaksanakan kewajibannya, Syahid tengah membentangkan sajadah, saat Kira masuk.


"Bersihkan tubuh mu dahulu, shalat. Lalu kita bicarakan lagi." titah Syahid


Kira mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamarnya, ia melakukan apa yang di perintahkan Syahid. Hatinya terus merasa was was, ia yakin ada yang terjadi pada teman sekelasnya itu.


.


"Berangkat sekarang?" tanya Ita, Kira mengangguk


"Apa kamu sudah mengabari Dira? Kita janjian dimana?" tanya Sahin


"Kita janjian di sekolah saja, rumah Lia tidak terlalu jauh dari sekolah. Kita juga bisa menyimpan kendaraan di parkiran sekolah dan meminta ijin pada pak Sugeng terlebih dahulu, lalu berjalan kaki ke rumah Lia nya." jawab Maya


Mereka setuju, lalu berpamitan untuk berangkat lebih dulu.


"Kalian tidak sarapan?" tanya Yumi


"Tidak oma, kami ada urusan sedikit. Nanti kami sarapan di kantin sekolah." jawab Ita


"Baiklah, jangan sampai lupa dengan sarapan ya. Kira, kamu baik-baik saja nak?" ucap Yumi seraya bertanya, ia merasa ada yang tidak beres pada cucunya yang satu ini.


Kita menatap Yumi cukup lama, lalu mengangguk dan memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Kalau Kira butuh bantuan oma, nanti Kira akan menghubungi oma." jawab Kira, Yumi mengangguk


"Hati-hati, apapun permasalahannya. Jangan gegabah, kita tidak tau apa yang akan kita hadapi." nasehat Yumi


"Baik oma" jawab mereka berenam, lalu bergantian untuk mencium punggung tangan Yumi dan yang lainnya.


Mereka pun segera berangkat, Syahid, Ita, Kira dan Maya naik mobil. Sedangkan Sahin naik motor seperti kemarin, karena pulangnya ia akan mengantar Dena lagi.


Di dalam mobil Kira terlihat sangat cemas, ia menggigiti bibir bawahnya dan merematkan kedua tangannya di atas paha. Ita yang meminta duduk di belakang bersama Kira, menarik Kira ke dalam pelukannya.


"Aku yakin sudah terjadi sesuatu hari ini teh, dada Kira terasa sesak." ucap Kira di dalam pelukan Ita, Kira pun mengeratkan pelukannya. Ita mengusap pelan punggung dan juga kepala Kira.


"Semoga semuanya baik-baik saja." ucap Ita, ia juga bingung harus mengatakan apa


Syahid dan Maya hanya mendengarkannya dari depan, mereka juga jadi ikut merasa was was. Ingat!! Karena firasat Kira, tak pernah meleset.


.


.


"Hai May" sapa Dena, ia membawa 1 box cukup besar. Namun Sahin yang baru saja selesai memarkir dan menaruh helmnya, langsung mengambil box tersebut.


"Makasih yang" ucap Dena tersenyum, Sahin mengangguk dan tersenyum tipis.


'Es balok'


"Kita taruh saja dulu barang ini ke kelas, sekalian mengabari teman lainnya. Bila kita belum bisa membawa barang hari ini, lalu ke ruangan pak Sugeng untuk meminta ijin." ucap Ita, kelima orang itu mengangguk dan berjalan menuju kelas.


Saat mereka masuk, sudah ada beberapa temannya yang sudah datang. Mereka tengah menggeser kursi, untuk ke arah pojok samping kiri semua. Sedangkan pojok samping kanan, mereka kosongkan untuk menaruh barang yang akan mereka jual.


"Assalamu'alaikum" salam mereka berenam


"Wa'alaikumsalam" jawab teman-teman mereka, yang sudah ada di kelas.


"Wahh... maaf ya jadi merepotkan kalian." ucap Ita


"Apa sih teh, gini doang mah gampang. Ko kalian belum bawa barang kalian?" tanya Rio, ketua kelas


"Kalian mau kemana?" tanya Ica, Sekertaris


"Kita mau ke rumah Lia" jawab Maya


"Ah iya benar juga, apa aku boleh ikut?" tanya Rio


Mereka berenam sempat saling pandang, tak lama mengangguk.


"Ok, kalo gitu gue serahin ini sama lo ya Dik. Gue mau ikut teh Ita dan yang lain, semoga Lia baik-baik saja." ucap Rio


"Sip, salam buat dia dari teman sekelasnya." jawab Dika, bendahara kelas


Mereka mengangguk dan pergi keluar dari kelas, kini mereka ke ruang kepala sekolah. Setelah mendapat ijin, mereka pun segera keluar dari sekolah. Di luar gerbang, sudah ada Dira yang menunggu dengan wajah cemasnya.


"Lo kenapa Dir?" tanya Rio


"Kayanya kita kudu ke rumah Lia sekarang, semalam gue di datangin dia. Ga tau mimpi ga tau bukan, yang pasti dia nangis minta maaf ma gue." jawab Dira


Kira langsung menarik tangan Dira, ia langsung melihat apa yang terjadi semalam.


"Sebaiknya kita segera ke sana, semoga masih tertolong. Tunjukkin jalannya Dir!!" ucap Kira dengan wajah memucat, Dira yang tak paham langsung jalan di depan mereka. Dira memang di datangi lewat mimpi oleh Lia, namun itu adalah sebuah kilah-kilah untuknya.


'Apa maksud Kira dengan 'semoga masih tertolong'? Lindungi Lia ya Allah, jangan sampai terjadi hal buruk padanya.' gumam Dira dalam hati, yang di AAmiin kan oleh Syahid dan Sahin dengan suara pelan.


Setelah berjalan 10 menit melewati gang kecil, mereka pun telah tiba di rumah yang cukup besar. Di belakang sana memang ada jalan besar, namun bila ke sekolah memotong jalan lewat gang. Lia memang termasuk keluarga menengah ke atas, namun ia tak pernah menunjukkan hal tersebut. Dira yang sudah biasa keluar masuk ke rumah tersebut, langsung saja mengajak masuk Kira dan yang lainnya.


"Assalamu'alaikum" salam Dira


"Wa'alaikum salam, Neng Dira" jawab bibi yang bekerja di rumah itu


"Bi, om sama Tante mana?" tanya Dira


"Mereka sedang dalam kamar non, saya panggilkan." jawab bibi, ia langsung melangkah pergi.


Kira menatap ke sekeliling, begitu juga dengan yang lainnya.


DEG


Kira membulatkan kedua bola matanya, saat ia menatap ke arah tangga. Di atas, ia melihat Lia tengah menatap sendu padanya. Lebih tepatnya pada Dira, dengan perlahan Kira berjalan ke arah Lia. BUKAN, itu bukan Lia. Tapi, tapi... itu adalah arwah dari Lia. Terlihat samar, namun Kira yakin itu adalah Lia.


Begitu juga dengan Syahid dan yang lain, walau Dira dan Rio bingung. Mereka tetap mengikuti kemana Kira berjalan, sampai berhenti tepat di tangga.


"Dimana kamar Lia?" tanya Kira dengan suara agak tinggi


"Ada apa Ra?" tanya Dira


"CEPAT DIRA" bentak Kira, tanpa sadar telah membentak Dira. Membuat kedua orang tua Lia yang baru saja keluar terkejut, begitu juga dengan abangnya Lia.


Dira pun naik ke atas tangga dan di ikuti Kira juga yang lain.


"Ada apa ini?" tanya bang Axel, Rio menggelengkan kepalanya bingung. Axel tergesa ikut naik, sebenarnya ia ingin marah dengan anak-anak remaja yang ada di rumahnya. Namun ia urungkan saat melihat Dira, itu artinya mereka teman-teman Lia.


Kira terus menatap arwah Lia yang menunduk, seolah ia menyesal dengan apa yang baru saja ia lakukan.


"Apa yang sudah kamu lakukan, HAH?!" tanya Kira dengan bentakan di akhir kalimat, tentu saja hal itu membuat bingung orang-orang di sana. Tentunya, kecuali keluarga Zandra, Ita dan Dena.


Orang Tua Lia yang ada di depan pintu kamarnya, yang ada di sebelah kamar Lia ikut terkejut. Walau di kepalanya bertanya-tanya siapa Kira dan yang lain?


...****************...


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...