
"Gue kira lu ga bakalan lawan itu cewek, taunya hebat juga lo Den." Ucap Maya bangga
"Gue aja ga nyangka, gue bisa kaya gitu. Apalagi lu May, aslinya... gue beneran ga nyangka bisa berubah sedrastis itu. Bukan karena laki-laki yang ia rebut ya, lebih ke sikapnya yang ternyata selama ini sangat bertolak belakang dengan apa yang gue tau. Dari usia 6 tahun loh kita kenal, ternyata gue bodoh ya." Jawab Dena tersenyum miris
"Kamu ga bodoh ko, itu artinya kamu tulus berteman." Ucap Kira
"Terkadang orang itu hanya bertanya 'kenapa kamu berubah?' jarang orang bertanya 'apa yang membuat kamu berubah?' tanpa orang itu sadari, kalo karena sikap dia lah alasan kita berubah." Lanjut Ita
"Setuju" jawab Maya dan Kira serentak, karena mereka merupakan salah satu korban yang berakibat sikapnya berubah.
"Dulu saat SD dan SMP, aku pernah berpikir. Kenapa harus selalu aku yang mendapatkan bagian untuk mengalah? Tanpa mereka tau, kalo aku juga ingin sekali untuk menang. Kenapa harus selalu aku yang mendapat bagian untuk mengerti orang lain? Tanpa mereka tau, kalo aku juga sangat ingin di mengerti. Kenapa harus aku terus yang di suruh sabar sama sifat orang-orang, bahkan aku selalu berusaha untuk selalu ada di saat mereka butuh. Jadi garda terdepan orang-orang, nyatanya aku cuma di jadiin second choice. Katanya kalo kita baik ke orang, orang juga bakalan baik ke kita. Tapi itu semua bulshit, makanya saat SMA aku lebih nyaman sendiri." Jelas Dena panjang lebar
"Tapi.... Setelah bertemu kalian, aku jadi percaya dengan kata-kata 'Berbuat baik pada orang, tidak akan selalu mendapatkan balasan kebaikan dari orang yang sama.' dan aku mendapatkan balasannya dari kalian. Terimakasih sudah mau nerima aku guy's.." Lanjutnya tersenyum
Ita, Maya dan Kira pun ikut tersenyum. Mereka saling berpelukan, untung twin prince sudah masuk lebih dulu.
"Sampai ketemu besok di sekolah ya, hati-hati di jalan." ucap Ita, setelah melerai pelukan mereka
"Oke, sayang kita tidak satu bis. Padahal aku ingin bareng kalian, tapi kita kan beda kelas." ucap Dena, dengan wajah kembali murung. Karena sang ibu sudah menghubunginya terus-menerus, ia jadi harus pulang sekarang. Lagipula, ia belum menyiapkan keperluan yang akan di bawanya besok.
"Gampang itu mah, nanti gue yang urus." ucap Maya, ia pun menepuk dadanya pelan.
"Serius? Aseeekkk... ya udah gue balik ya. Assalamu'alaikum" ucap Dean bahagia
"Wa'alaikumsalam"
Dena pun masuk ke dalam mobil yang di siapkan oleh Yumi, untuk mengantarnya pulang agar selamat sampai tujuan.
"Ya udah yuk masuk. Kenapa?" ajak Ita, namun langkahnya terhenti saat Kira tak mengikutinya.
"Entahlah, aku merasa bila Dena akan menangis hari ini." jawabnya
Ita dan Mira pun terdiam dan saling menatap, lalu mereka pun mengalihkan tatapannya pada Kira.
"Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan gadis itu?" tanya Maya
"Bisa jadi, bagaimana kalo kita susul ke rumahnya?" tanya Ita
"Ayo, tapi... apa teteh tau dimana rumahnya?" tanya Kira
"Hah? Enggak" jawab Ita dengan polosnya
"Yeeee... kirain tau atulah." ucap Maya
"Coba minta ayah hubungi pak Sugeng, kayanya beliau tau deh." ucap Kira
"Telepon ayah, Ra" titah Maya
"Ishhh... ya kamu, aku kan udah kasih ide." jawab Kira
"Allahu Akbar, jadi ga nih nyusulin Dena?" tanya Ita
"Oke oke..." Kira langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Afwa, setelah beberapa saaat panggilan pun di jawab.
"Assalamu'alaikum, ayah"
'Wa'alaikumsalam, kenapa Ra?' tanya Afwa
"Ayah sibuk? Kalo sibuk juga harus bisa ya. Kira maksa yah, tolong hubungi pak Sugeng. Dan mintakan alamat Dena, terus nanti kalo udah dapet kirimin ke Kira. Oke yah?" jawab Kira
'Dih, ada yang minta tolong maksa?'
"Ada, buktinya ini anak ayah yang paling cantik." Maya yang mendengarnya pun langsung mencebikkan mulutnya, Ita menahan tawa.
'Hahaha, baiklah baiklah. Kalau begitu teleponnya ayah tutup ya. Assalamu'alaikum'
"Wa'alaikumsalam" Kira menyudahi panggilan tersebut.
"Sudaahh.. Kenapa muka lo?" tanya Kira pada Maya
"IDI, BIKITINYI INI INIK IYIH YING PILING CINTIK. PRETT AHH" ejek Maya
"Sirik aja, yuk kita jalan. Nanti ayah kirimin alamatnya kalo sudah dapet."
"Mau kemana kalian?" tanya Sahin
"Ke rumah Dena" jawab Ita
"Ngapain? Baru juga pisahan, udah kangen lagi kalian?" tanya nya lagi
"Iya, kenapa? Mau kangen juga?" tanya Kira
"Ck, jangan asal kalo ngomong." jawab Sahin
"Awas lo, jangan terlalu kesel sama orang. Nanti lama-lama malah jadi bucinnya Dena, hahaha" ucap Maya
"Mana ada" Sahin pun pergi meninggalkan mereka bertiga dengan perasaan kesal
"Hahay deuhh, liat aja ntar." ucap Maya lagi, Ita hanya diam dan menghembuskan nafasnya pelan.
Merekapun keluar rumah, karena isi rumah memang sedang kosong. Mereka hanya titip pesan pasa mbak di rumah, lalu mereka naik mobil yang sudah menunggu di depan.
"Ayo mang, kita otewe" ucap Kira
"Siap neng"
.
.
Sedangkan kini Dena baru saja sampai di rumahnya.
"Assa.. lamu.. alaikum" salamnya, yang tadinya semangat langsung melemah. Ia pun menatap malas pada seseorang, yang kini tengah duduk manis di ruang tamu.
'Si pick me, dableg juga nih anak.' ucap Dena dalam hati
"Wa'alaikumsalam, kok baru pulang sayang?" Dena mencium punggung tangan sang ibu
"Di ajak jalan-jalan dulu bu, sama si kembar." jawab Dena
Salma langsung menatap Dena tak suka, saat ia mendengar jawaban Dena.
"Duduk sini nak" ucap sang ibu, seraya menepuk sifa di sebelahnya.
"Kata Salma, tadi pagi kalian ketemu di kafe?" tanya sang ibu
'Bener dugaan gue, si tukang ngadu.' ucapnya lagi dalam hati
"Iya, emang kenapa bu?" tanya Dena
"Salma tadi cerita, katanya semenjak kamu temenan sama mereka. Kamu jadi lupa sama dia dan tadi juga kamu mengatakan tidak mengenalnya, bahkan kamu juga bilang pada Salma. Untuk tidak berteman dengan dia lagi, benar?" tanya ibu Dena, Dena langsung memutar malas bola matanya.
'Selalu seperti ini, ibu lebih membela anak orang di bandingkan anaknya sendiri. Sebenarnya gue anaknya pa bukan sih? ' Dena menghembuskan nafasnya
"Iya bu, apa yang Salma ceritain ke ibu semuaaaa benar. Dan seperti yang sudah-sudah, ibu akan membela dia dan langsung menyalahkan Dena. Tanpa mau mendengar alasan, kenapa Dena melakukan hal tersebut. Iya kan bu?" jawab Dena, ia pun menampilkan senyum sendunya pada sang ibu.
Deg
"Bu bukan gitu sayang, kalian itu kan berteman bukan dalam waktu sebentar. Udah lama loh, masa cuma gara-gara temen baru, kamu melupakan yang lama. Ga baik sayang..." Dena mengangkat wajahnya, demi menahan air matanya.
Setelahnya Dena kembali menegakkan kepalanya dan menatap marah pada Salma, lalu ia beralih menatap kecewa pada sang ibu.
"Tapi ibu kan kenal mereka, mereka loh yang udah selametin Dena dari maut. Terus, waktu Dena di rawat kemaren. Dia kemana? Ada nengokin nggak? Barang sehari aja, jangan sehari. Satu jak aja,ga keliatan batang idungnya. " ucap Dena
"Sebelum Dena menjawab pertanyaan ibu, Dena juga mau bertanya pada ibu." Dena menarik nafasnya dalam, demi mengisi rongga dadanya.
"Sebenarnya anak ibu itu, Dena apa dia? Ibu lebih mempercayainya, membelanya, menyayanginya di banding Dena. Atau, jangan-jangan Dena itu cuma anak pungut?"
PLAK
...****************...
...Happy Reading all๐๐...