
"SI*LAN, BR*NGSEK... AKU TIDAK TERIMA!!! DIA SUDAH MEMPERMALUKAN AKU DI DEPAN BANYAK ORANG, MEREKA PASTI TIDAK AKAN TAKUT LAGI PADAKU!!! AAAAAAARRRRRGGGGHHHTTT..." teriak Helena, ia menghempaskan semua barang yang ada di atas meja. Dadanya terlihat naik turun, yang berarti amarahnya sudah berada di puncak.
Kelima temannya hanya duduk santai di sofa, mereka sudah terbiasa melihat Helena mengamuk seperti ini.
"Lagipula aku kan sudah bilang, jangan pernah berurusan dengan anggota keluarga Zandra. Ck... Kamu bukan hanya mencoleknya, tapi kamu sudah sampai tahap mendorongnya. Kamu lihat bukan kemarahan pria itu, dia bahkan bisa menghancurkan meja hanya dengan sekali pukulan." ucap Reksa dengan wajah dinginnya, di antara mereka berenam. Memang hanya Reksa yang waras, sebenarnya ia tak ingin ikut-ikutan kelompok ini. Tapi wanita yang bernama Helena ini, main tarik dan tak peduli dengan penolakannya.
Bahkan ke kantin pun, bukan maunya. Ia yang tadinya sedang duduk bersantai di bawah pohon, tiba-tiba di tarik oleh Helena. Reksa yang tidak mau ribut, hanya mengikutinya. Tanpa mau peduli dengan apa yang akan mereka lakukan, sampai akhirnya ia tau tujuannya kemana dan mau apa.
Tapi Reksa tersenyum, saat melihat Syahid yang mengamuk tadi. Dan ia juga bersyukur di seret ke kantin, karena ia menemukan gadis yang menarik.
'Siapa namanya ya?' gumam Reksa dalam hati
"Aku tidak peduli, aku akan membuat dia bertekuk lutut padaku. APAPUN CARANYA!!" ucap Helena dengan mengepalkan kedua tangannya di atas meja.
"Berani taruhan, aku berani bertaruh... bila kamu tidak akan bisa menundukkan pria itu. Apalagi ia sudah memiliki pawangnya, di lihat darimana pun....." Reksa melihat Helena dari atas ke bawah, Helena yang di tatap seperti itu tidak suka.
"APA?!" bentak Helena, Reksa mengangkat salah satu sudut bibirnya dan berdiri dari duduknya. Reksa berjalan mendekati Helena, ia melipat kedua tangannya di atas perut dan berdiri di hadapan wanita tersebut.
"Dilihat darimana pun, kamu tidak ada apa-apanya bila di bandingkan dengan tunangan pria itu. SAAAAANGAT JAUUUHH" lanjut Reksa dengan menatap remeh Helena, yang lain hanya diam. Namun, mereka memiliki pemikiran yang sama dengan Reksa.
Terlihat sangat jelas, bila Ita cantik alami. Tanpa ada polesan make up, ia sudah terlihat sangat cantik. Dari sikapnya pun terlihat, bila Ita sangat dewasa dalam menyikapi sesuatu. Dari cara bicaranya, terlihat bila Ita merupakan gadis yang lemah lembut.
Setelah mengatakan itu, Reksa memilih untuk pergi. Benar-benar unfaedah sekali, bergabung dengan sekumpulan anak manja. Saat Reksa sudah ada di dekat pintu, Helena berteriak memanggil namanya.
"REKSAAAA" dengan malas, ia membalikkan tubuhnya.
PRAAANGG
Helena yang tidak terima dengan kata-kata Reksa, ia melempar vas bunga yang tak jauh dari dirinya berdiri. Reksa yang terlambat menyadari, hanya sedikit bergeser. Sehingga pipinya terkena pecahan vas bunga tersebut dan menyebabkan luka gores, sedikit mengeluarkan darah. Reksa masih menatap Helena dengan santai, tak ada raut marah sama sekali.
"Sejak awal, aku tidak mau ada di dalam circle sekumpulan anak-anak mami. Dan ini terakhir kalinya, aku ada di sini. Kamu... JANGAN PERNAH BERANI MENAMPAKKAN WAJAHMU DI DEPANKU!!" ucap Reksa, ia langsung keluar dan membanting pintu
"Sudah... Hentikan Len, aku juga benar-benar lelah dengan sikap arogan mu. Aku lelah di jadikan bonekamu, kini lawan kita bukan orang sembarangan. Aku memilih mundur dan keluar dari sini, aku ingin menjalani kuliahku dengan tenang." ucap Dania, ia pun berdiri hendak keluar.
"BERANI KAMU KELUAR DARI RUANGAN INI, AKAN AKU SEBARKAN FOTO ASUSILA MILIKMU" teriak Helena, Dania menghembuskan nafasnya pelan. Selalu ini yang di pakai oleh Helena, untuk mengancam dan menyetir dirinya. Dia yang di jebak oleh Helena setahun yang lalu, dimana ia yang tidak ingat sampai sekarang. Bagaimana foto dia yang tidak sadarkan diri, sedang terbaring tanpa busana dengan seorang lelaki.
Dania yang terkejut dan takut, ia selalu mengikuti apa mau Helena. Apapun titah Helena, harus ia turuti. Lelah, ia benar-benar ingin menyerah saat itu...
"Lakukanlah, paling aku di DO. Dan orang tuaku akan memindahkan aku ke luar negeri, aku rasa itu lebih baik. Daripada harus menjadi kacungmu, lagipula aku sudah memeriksakan diriku. Aku masih pe ra wan, itu sudah cukup untukku. Setidaknya aku masih mempunyai harta berharga, yang akan aku serahkan pada pria yang akan menjadi suamiku kelak." ucap Dania, tanpa mau berbalik ke belakang. Dania pun melanjutkan langkahnya untuk keluar dari neraka ini.
Yaaa... Dania yang sempat terpuruk dan banyak melamun, di sadari oleh sang kakak. Setelah di desak oleh kakaknya, Dania pun bercerita apa yang menjadi beban di kepalanya, dengan berurai air mata. Kakaknya terkejut bukan main, ia tak menyangka bila adiknya telah di perbudak selama setahun ini. Kakaknya bertanya banyak hal, ada yang berubah apa tidak? Ia merasakan sakit di bagian sensitifnya apa tidak?
Dania yang tidak paham, hanya menjawab dengan gelengan kepala. Saat itu juga kakaknya mengajak Dania ke rumah sakit, untuk memeriksa area sensitifnya. Dan setelah mendengar hasil yang di bacakan oleh dokter, Dania dan sang kakak bernafas lega. Dania masih pe ra wan, dan ia menangis bahagia. Dan itu baru ketahuan 3 hari yang lalu, kini adalah saat yang tepat untuk keluar.
Semakin murkalah Helena, Reksa dan Dania berani membantahnya. Regatha dan Soraya saling pandang, mereka sebenarnya ingin keluar juga dari circle toxic ini. Namun, bodohnya mereka. Setelah Helena menjebak mereka, bukannya mencari tau kebenarannya. Mereka malah ikut terjerumus semakin dalam, ke lembah hitam.
Justru mereka sangat terkejut, saat mereka tidur dalam keadaan sadar dengan seorang pria. Ternyata, mereka masih virgin. Mereka yang mengira, bila mereka sudah tidak perawan. Karena foto yang di kirimkan oleh Helena, justru malah menjebloskan dirinya ke lubang hitam. Sampai akhirnya, mereka menikmati semuanya.
"Kenapa? Kalian juga akan mengikuti mereka?" tanya Helena dengan tatapan mengintimidasi, Regatha dan Soraya serentak menggelengkan kepala mereka.
Sedangkan Damian tidak peduli dengan keributan itu, ia masih membayangkan wajah Ita yang teduh dan menenangkan tersebut. Damian yang memang seorang pemain, sangat menyukai wanita seperti Ita. Sepertinya akan sangat menyenangkan, bila Ita berteriak mend*sah di bawah kungkungannya.
"KELUAR" teriak Helena pada Regatha dan Soraya, mereka pun segera berlalu pergi dari ruangan tersebut. Ruangan dimana tempat mereka berkumpul, ruangan yang ada di gedung lama tak terpakai.
"Dam, puaskan aku" ucap Helena, wanita maniak s*x. Damian yang seorang pemain, tentu saja mengangguk dengan senang hati. Daaannn... mereka pun melakukan apa yang seharusnya tidak di lakukan di ruangan itu, d*sahan demi d*sahan terdengar sangat menjijikkan.
(HUWEEEEKKK... aku yang nulis, aku juga yang jijik)
...****************...
...Happy Reading allππππ...