Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Rumah Hantu Darmo



Kalian ingatkan kemampuan twin prince sejak di dalam perut Alice? Mereka bisa menyembunyikan isi hati mereka dari yang lainnya. Sehingga apa yang sedang di debatkan Syahid dan Sahin, tak akan di ketahui oleh Rendra dan Afwa.


Dan melihat Syahid yang sejak tadi menunduk dan memegang perutnya, tentu saja membuat Rendra dan Afwa khawatir.


"Kamu kenapa bang?" tanya Afwa, Syahid hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tak bisa mengangkat kepala dan juga menjawab pertanyaan Afwa. Karena bila itu terjadi, maka pecahlah tawanya.


Sahin yang melihat abangnya seolah mengolok dirinya, langsung melempar bantal sofa yang ada di belakangnya.


BUGH


"Hahahahaha... ampun ampun, tidak lagi." Semua orang terdiam, melihat Syahid yang bisa tertawa selepas itu.


"Ehem" Syahid langsung merubah kembali ekspresi wajahnya.


"Maaf, ada baiknya kita dengarkan tujuan pak Sugeng datang kemari." ucap Afwa


"Ah, iya. Maafkan cucu saya pak. Ada apa gerangan, bapak sampai datang kemari?" tanya Rendra


"Ah iya, saya juga hampir melupakan tujuan saya datang ke sini. Begini tuan besar dan yang lainnya, siang tadi ada satu kelompok yang kembali ke hotel terlambat. Setiap kelompok itu, terdiri dari 6 orang. Masalahnya adalah, di kelompok terakhir itu hanya kembali 4 orang. Dan mereka saat ini, masih terlihat shock. Sampai sekarang kami tanyai pun, mereka masih diam. Seolah tengah ketakutan dengan sesuatu, jadi kedatangan saya kemari adalah untuk minta tolong pada nak Syahid dan yang lain." jawab pak Sugeng


DEG


Mendengar jawaban tersebut Ita dan Kira daling tatap, Afwa pun langsung mengalihkan tatapannya pada Ita dan Kira.


"Ita, Kira.. kemarilah." panggil Afwa, mereka pun turun dari ranjang dan menghampiri sang ayah dan yang lainnya. Dena dan Maya tentu saja ikut menyusul


"Apa yang sudah kalian lihat?" tanya Afwa pada Kira dan Ita


"Tapi yah? Apa hubungannya sama mimpi Ita?" tanya Ita balik


"Ayah rasa, mimpimu bukan hanya mimpi biasa. Ceritakan saja!" jawab Afwa, Ita sempat terdiam karena mencoba mengingat apa yang sudah ia lihat.


"Saat itu, Ita ada di depan sebuah rumah tua. Entahlah ayah, itu rumah atau bukan? karena bangunannya terlihat tidak selesai. Ita juga tidak tau, kenapa Ita penasaran untuk masuk ke dalam bangunan tersebut. Padahal sudah jelas, bila nampak dari luar saja bangunan itu terlihat sudah lama tidak di tinggali dan juga menyeramkan." Dena sudah mulai merasakan merinding pada tengkuk lehernya, ia reflek mengusap leher belakangnya.


"Saat Ita masuk, di sana pun terlihat semakin menyeramkan. Tetapi, seolah ada yang menarik Ita untuk terus masuk lebih ke dalam lagi. Di sana terlihat ada beberapa ruangan, dan ada satu tempayan sedang yang berisi sesajen di depan salah satu ruangan dan juga tercium bau kemenyan yang cukup menyengat. Saat Ita hendak melangkah mundur, tiba-tiba pintu yang itu terbuka dan terdengar suara teriakan satu... ah tidak dua orang. Mereka berusaha untuk keluar dari ruang itu, namun..." tanpa sadar Ita meremat tangan Kira yang duduk di sebelahnya, hingga ia berteriak kesakitan.


"Ma maaf dek" ucap Ita merasa bersalah, ia langsung melepas genggaman tangan tersebut.


"Apakah sakit?" tanya Ita merasa bersalah, ia langsung mengusap tangan Kira


"Tidak apa-apa teh, lanjutkan ceritanya." jawab Kira


"Ada yang menarik mereka dari dalam ruangan tersebut ayah, tapi Ita tidak melihat jelas apa atau siapa yang menarik mereka." lanjut Kira dengan wajah takut


"Mereka teman sekelas kita, mereka merupakan anak-anak yang.. entahlah, berniat sekolah atau tidak. Karena setiap kali di kelas, mereka tak pernah mendengarkan apa yang di jelaskan guru. Mereka malah terlihat asyik sendiri, dengan obrolannya. Mereka juga aku rasa, tipe anak-anak yang selalu melanggar apa yang sudah di larang." lanjut Kira


"Benarkah? Ada murid seperti itu di kelas kita?" tanya Ita


"Ada, mereka berempat." jawab Kira malas


"Kenapa kamu tidak pernah melaporkannya pada bapak nak?" tanya pak Sugeng


"Saya tidak peduli dengan urusan orang lain, terserah apa yang akan mereka lakukan." jawab Kira enteng


Afwa dan Rendra menghembuskan nafas mereka dengan kasar, bagaimana lagi memberitahukan double twin. Agar mereka lebih peduli dengan orang-orang di sekitarnya.


"Dan kurasa kini mereka sedang mendapatkan akibatnya, dari rasa penasaran mereka." lanjutnya lagi


"Bagaimana kita mencari mereka?" tanya Rendra


"Mbak Asti" jawab Dena dan Maya serentak


"Hubungi Romi." titah Rendra


Afwa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Romi.


'Selamat sore tuan muda, ada yang bisa saya bantu?'


'Baik tuan'


"Terimakasih" walau bingung Romi tetap melakukan apa yang di perintah Afwa


Setelah menunggu selama 10 menit, mereka pun datang.


Tok Tok


Syahid membukakan pintu tersebut, Romi dan Asti pun masuk setelah di persilahkan.


"Maaf tuan, apa saya sudah melakukan kesalahan?" tanya Asti takut


"Tidak ko mbak, ada yang ingin kami tanyakan." jawab Ita tersenyum


"Kemarilah, silahkan duduk" Asti menatap Romi, Romi pun mengangguk. Asti menurut dan melangkah mendekati orang-orang yang kini tengah berkumpul tersebut, ia pun duduk di lantai.


"Hei, apa yang kanu lakukan?" tanya Rendra terkejut


"Duduk" jawan Asti polos


"Maksudnya, kenapa mbak duduk di situ? Sini kak" Ita menepuk tempat kosong di sisi lainnya.


"Mbak, apa di dekat sini ada sebuah bangunan tua yang terbengkalai? Yang angker gitulah pokonya." tanya Maya


Asti terdiam, bukan tidak ada. Hanya saja ia bingung, ada apa mereka menanyakan rumah yang di jauhi masyarakat setempat? Begitu juga dengan Romi


"Jawab saja mbak" ucap Sahin


"Ada nona muda, warga sekitar menyebutnya RUMAH HANTU DARMO" jawab Asti


Mendengarnya saja Dena yang duduk di antara Maya dan Sahin, tanpa sadar bergeser dan merapatkan tubuhnya pada Sahin. Malah Dena pun memeluk lengan Sahin, yang ia kira Maya.


DEG


Tentu saja hal itu, membuat Sahin terkejut dan membuat jantungnya tak aman. Syahid yang melihatnya, langsung memalingkan wajah karena menahan senyum. Sahin melihat reaksi Syahid tersebut dan menyadari bila ini tidak akan mudah.


"Ka mu, minggir" ucap Sahin, Maya yang sadar salah memeluk. Ia terkejut dan langsung menjauh, lalu merapatkan tubuhnya pada Maya.


"Galak ih, padahal aku kan ga sengaja salah peluk.ck" bisiknya pada Maya, membuat yang lainnya ikut menahan tawa.


"Hadeeehhh... lagi serius juga, ada aja lu mah Den." ucap Maya


"Dih, mana gue tau May. Namanya juga orang takut, gue kira yang gue peluk itu lu. Taunya si GALAK dari GOA HANTU." jawab Maya berbisik di akhir kalimat. Tentu saja masih terdengar oleh Sahin, ingin sekali rasanya Sahin menarik dan membungkam mulutnya dengan bibirnya.


Ehhh....


"BUAHAHAHAHA" tawa Syahid pun pecah, tentu saja hal ini membuat Rendra dan Afwa terkejut. Pria yang terkenal paling dingin, bisa tertawa selepas itu.


"Maaf maaf, sialhkan di lanjut." ucap Syahid, kembali memasang wajah kutubnya.


"Dimana tempat itu?" tanya Afwa


"Mmm... Rumah Hantu Darmo terletak di Jalan Puncak Permai II nomor 26, Sukomanungga. Kalau dari sini, kira-kira memerlukan waktu sekitar 11 menit bila menggunakan mobil." jawab Asti


"Kenapa rumah itu di sebut RUMAH HANTU DARMO mbak?" tanya Ita


...****************...


Maaf telat...


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


...