
"Kalau saya Gayatri kak, panggil saja..."
"Maaf, nggak nanya." potong Maya sebal, ia paling tidak suka dengan perempuan model Gayatri. Bukan hanya Maya, namun mereka berenam.
Asti langsung menunduk, ia menggigit bibir bawahnya. Agar tawanya tidak pecah, posisinya yang masih dalam keadaan duduk di atas kedua betisnya ala gadis keraton (Asseeekkk) . Karena saat menyajikan makanan tadi, posisi Asti manruh kedua lututnya di lantai. Itulah yang di ajarkan oleh kedua orangtuanya, ia harus mensejajarkan dirinya dengan meja saat menyajikan makanan.
Karena posisi meja yang memang pendek, membuatnya harus seperti itu. Bukan merendahkan dirinya sendiri, ia hanya melakukan tata krama yang baik.
"Ma maaf" ucap Gayatri menunduk, ia benar-benar kesal dan juga malu. Baru kali ini, ada pria yang tidak terpengaruh dengan susuknya. Ia juga merasa kesal, karena di permalukan oleh anak-anak yang masih bau kencur.
'Lihat saja, akan aku racun kalian.' ucapnya dalam hati, kedua tangannya pun terkepal dengan sangat erat.
Syahid dan Sahin langsung menengadahkan kepalanya dan menatap tajam Gayatri, sehingga membuat Gayatri merasa tak nyaman.
"Berani kamu macam-macam, aku yang akan menghabisi kamu lebih dulu. " ucap Sahin
GLEK
"A apa maksud anda?" tanya Gayatri dengan tergagap, wajahnya pun memucat.
"Mba Asti, apa saya boleh minta no ponsel mba?" tanya Ita, mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia yakin, twin prince sudah mendengar hal yang membuatnya marah.
"Bo boleh kak" jawab Asti, ia ikut tergagap karena terkejut dengan ucapan Sahin dan perasaan terintimidasi.
Sulastri mengeluarkan ponselnya untuk melihat nomer miliknya, karen ia sendiri tidak hapal. Lalu ia menyebutkan nomer nya, satu per satu.
"Ok, saya save ya mba. Nanti kalo kita butuh mba buat jadi tour guide kita, nanti saya hubungi." ucap Ita
"Ta tapi kak, saya kan harus kerja." ucap Sulastri
"Gampang itu mah, nanti biar aku yang urus masalah ijin mba. Pokonya mba, persiapakan diri aja. Buat nganter kita selama 2 hari ini, di mulai dari besok." jawab Maya
Sulastri hanya mengangguk saja.
"Kalau begitu, saya permisi undur diri kak. Selamat malam, selamat menikmati makan malam dan selamat beristirahat." pamit Sulastri, ia pun berjalan melangkah keluar kamar.
Gayatri yang kesal tidak di anggap, menghentakkan kakinya ke lantai dan menyusul Sulastri keluar dari kamar tersebut.
"Ada ya cewe kaya gitu, genitnya terang-terangan sekaleeee." ucap Dena
"Banyaklah, dan salah satunya ya itu tadi." sambung Maya
"Apa yang membuatmu sangat marah Sahin?" tanya Ita
"Pokonya kalian tak ada yang boleh nerima makanan, yang di berikan oleh perempuan itu. JANGAN!!" jawab Sahin memperingatkan
Ita dan yang lainnya pun, memilih diam tak bertanya lagi.
Setelah shalat Isya, mereka lanjut makan malam. Karena merasa sangat lelah, Syahid dan Sahin berpamitan, untuk masuk ke kamarnya.
Hanya hitungan detik, mereka langsung terlelap. Ternyata perjalanan kali ini, membuat mereka benar-benar lelah.
.
.
Kini waktu menunjukkan pukul 12 malam
Di sebuah rumah yang terbuat dari anyaman bambu, dimana lokasiny berada di dalam hutan yang cukuuuup dalam. Sedang terjadi perg*latan menguras tenaga di atas r*njang, antara Gayatri dan d*kun yang memasang susuk padanya.
"Hosh... hosh" terdengar d*ru nafas yang saling bersahutan di salah satu kamar, mereka telah menyelesaikan ritual haramnya
"Pokonya, aku tidak mau tau. Mbah harus buat susuk ku semakin kuat, karena aku menyukai seorang pria. Baru kali ini aku merasa jatuh hati, tidak peduli dengan usianya. Yang penting aku bisa mendapatkan pria itu dan aku juga mau si mbah memberikan sebuah racun yang bisa membunuh manusia, dalam sekejap tanpa ada jejak." ucap Gayatri, setelah ia bisa mengendalikan nafasnya yang terengah-engah.
"Satu kali ritual, hanya untuk satu permintaan. Bila kamu mau keduanya, maka kamu harus melakukan ritual untuk kedua kalinya." jawab dukun itu, dengan menatap t*buh polos Gayatri penuh minat
(Huwek... aku nulis di part ini, ngerasa jijik sendiri)
Pergulatan itu pun kembali terulang, untuk kedua kalinya. eaaa eaa eaa
.
.
"Kemana kita hari ini?" tanya Dena
"Kita kumpul dulu di ballroom, kita akan mendapatkan pengarahan. Mana yang boleh dan yang tidak boleh kita datangi atau kita lakukan, ingat kita berada di daerah asing. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Setiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda, satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lain." jawab Ita, seraya menasehati
"IYA TEEEHH" jawab mereka serempak
"Pintarnya kalian" ucap Ita tersenyum
Pintu pun di ketuk dan tak lama masuk twin prince.
"Sudah siap?" tanya Syahid
"Sudah, ayo kita berangkat." jawab Ita
Mereka berenam pun berjalan membentuk dua barisan, dengan Syahid dan Sahin yang paling depan.
"Setelah aku mencari tahu di gulu-gulu, ada beberapa tempat wisata yang bisa kita datangi." ucap Dena
"Benarkah? Apa saja?" tanya Maya
"Ada mall, namanya Tunjangan Plaza. Pasar Genteng, ada spa juga. Namanya Majapahit Spa, pas banget buat kita yang habis perjalanan jauh. Beli oleh-oleh bisa ke pasar genteng, ada Mesjid Al Akbar, Mesjid Muhammad Cheng Hoo, museum Surabaya, Bioskop XXI, Gedung Balai Pemuda, banyak lagi pokonya mah." jawab Dena semangat
"Waahh... bisa puas dong jalan -jalan kita. Selain main, kita juga bisa dapet beberapa pelajaran. Nanti kita mampir ke museum dan juga mesjid nya ya." ucap Ita antusias
"Ayo" jawab Maya, Kira dan Ita kompak
Syahid dan Sahin hanya diam saja, tanpa ikut berkomentar. Karena bagaimana pun, mereka berdua adalah bodyguard nya kali ini.
.
.
"Baiklah, bapak tidak akan terlalu panjang lebar. Untuk hari ini dan besok, kalian bisa jalan-jalan sepuasnya. Tapi ingat, untuk selalu bersama dengan kelompoknya, tidak boleh saling berpisah atau meninggalkan, dan yang paling pentin PONSEL KALIAN HARUS SELALU STAND BY. PAHAM SEMUA?" ucap pak Sugeng
"PAHAAAMMM" teriak semua murid
"Dan ingat, kita berada di daerah orang lain. Bapak minta, kalian harus bisa menjaga sopan santun selama di sini. Jangan ada yang sembrono, pecicilan ataupun berbicara sompral. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Setiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda, satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lain." lanjut pak Sugeng
'Kok perumpamaan yang di pakai pas Sugeng, sama dengan yang teh Ita kasih?' tanya Kira berbisik
'Ga kreatif nih, si bapaknya.' ucap Dena yang ikut berbisik
'Sssttt... masalah perumpamaan juga, bisa jadi ribut sih kalian.' tegur Maya
Kira dan Dena langsung terdiam, dan mencebikan mulutnya.
'Dasar nyai ronggeng' gerutu Dena pelan
'Jaipong dong? Ntar si Maya, goyang di situ.' sambung Kira
Mereka pun terkikik geli, karena obrolan absurd nya.
...****************...
......Happy Reading
all๐๐......