
Beberapa menit sebelum terdengar suara letusan senjata api.
"Komandan, kamar ini kosong." ucap D, saat Yanto masuk ke dalam di susul Axel.
Tanpa menjawab anak buahnya, Yanto dan Axel mendekati Syahid dan Sahin yang berdiri di depan rak buku. Rak buku yang dimaksud oleh Joko, bila itu adalah sebuah pintu.
"Aku yakin bila ada jalan di balik rak ini" ucap Sahin, pada Yanto. Bila seandainya berhubungan dengan roh jahat, mudah bagi mereka merasakannya.
Yanto mengangguk dan membenarkan ucapan Sahin, ia pun memberitahukan pada mereka berdua. Bahwa rak buku ini adalah sebuah pintu, menuju ruang bawah tanah. Sahin dan Syahid segera mencari tuas, yang bisa di jadikan pembuka rak buku tersebut.
Syahid memegang sebuah pajangan berbentuk tangan terbuka, lalu ia menekuknya ke belakang. Masih tidak bisa, ia mencoba memutarnya dan..
CEKLEK
Terdengar suara kunci terbuka dan rak itu terbuka ke arah luar, semua orang saling tatap dan mengangguk.
"Biar aku dulu yang masuk" ucap A, B, C dan D mengangguk
Mereka bersiap, seraya mengeluarkan senjata api milik mereka masing-masing.
Saat masuk, di sana ada tangga memutar. Mereka turun dengan sangat perlahan, karena takut ketahuan oleh Sanjaya. Samar-samar mereka mendengar suara seseorang berbicara, mereka pun tersu melangkahkan kaki mereka.
'Aku akan membeli gaun pengantin besok, kita akan menikah. Aku sudah memintamu baik-baik untuk menjadi simpananku atau istri keduaku, tapi kamu malah menolaknya. Jadi, jangan salahkan aku berbuat seperti ini.'
'Hahh.... padahal aku ingin sekali menggauli mu, tapi hal itu tidak akan seru bila kamu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Besok setelah kita menikah, kamu pasti akan sadarkan diri kan? Kamu pasti pura-pura tertidur, karena takut aku melakukan sesuatu padamu sebelum kita sah menjadi suami istri bukan?'
Orang-orang yang mendengarnya kembali saling tatap, dan memasang wajah sebal dan kesal.
'Sepertinya, ia memang sudah tidak waras' bisik C
'Itu sudah pasti, mana ada orang waras bicara sendiri.' jawab D ikut berbisik
'Sepertinya ada di kamar ini ndan' ucap A berbisik, Yanto mengangguk.
Saat hendak masuk, mereka mendengar suara gagang pintu di tekan ke bawah. Mereka pun langsung mundur serempak, berjajar dan menempelkan tubuh mereka ke tembok, 4 di sisi kanan dan 5 di sisi kiri pintu.
Sanjaya yang tidak menyadari bila rumahnya telah di masuki orang-orang, keluar dari kamar itu dengan santainya.
CLEK
DEG
Langkah Sanjaya terhenti, saat di pelipis sebelah kanannya ada yang menempel. Yaitu ujung dari senjata api...
GLEK
"ANGKAT TANGAN" teriak B, perlahan Sanjaya mengangkat kedua tangannya
B memberi kode pada A, untuk memborgol tangan Sanjaya. Emang kejadian harus terjadi, borgol di A nyangkut dan susah di ambil. Kesempatan itu di pakai Sanjaya, ia menangkap tangan B yang sedang lengah melihat A. Ia pun memutar tangan B, dan mengambil senjata api yang di pegangnya. Tanpa banyak mengancam, Sanjaya langsung menarik pelatuk dan menembakkan peluru pada B.
DOR
Semua orang terkejut, karena kejadian itu sangat cepat. Namun, mereka semakin terkejut. Karena melihat peluru yang di tembakan oleh Sanjaya , melayang di udara. Yanto segera bergerak dan memukul tengkuk Sanjaya, sehingga membuat Sanjaya langsung tidak sadarkan diri.
PLANG
Terdengar suara peluru yang jatuh ke lantai, setelah Sahin menurunkan tangannya. Syahid dan yang lain bernafas lega, karena tak jadi ada korban nyawa di kasus ini.
"Cepat bawa dia keluar B" titah Yanto, setelah ia memborgol tangan Sanjaya
Yanto segera masuk ke dalam kamar, ia terkejut melihat ada seorang gadis yang sudah tak sadarkan diri. Ia memegang pergelangan tangannya, untuk memeriksa denyut nadinya. Syahid dan Sahin melihat roh Nurma samar, seolah akan menghilang.
"Sebaiknya kita segera membawa Nurma ke rumah sakit paman, sudah tak ada waktu lagi." ucap Syahid
Yanto segera mengangkat tubuh Nurma dan membawanya keluar dari rumah itu segera. Di ikuti yang lainnya, mereka semua berjalan tergesa. Karena mengejar waktu, sudah di pastikan bila Nurma KRITIS saat ini.
Saat di luar, ternyata sudah banyak orang. Warga yang mendengar suara tembakan tersebut segera keluar dari rumah masing-masing dan mencari asal suara.
Para gadis yang ada di mobil Agatha bernafas lega, saat melihat para prianya baik-baik saja. Melihat mereka semua tergesa dan juga melihat Yanto memasukkan gadis ke jok belakang mobil Sahin, tanpa banyak tanya. Agatha langsung menyalakan mesin mobil, ia mengikuti mobil Sahin yang sudah melesat terlebih dahulu.
Setelah kepergian mereka, tentu saja menjadi bahan pembicaraan warga sekitar.
A dan C, segera memasang garis polisi di depan pintu kamar yang di tempati Jaya. Mereka berjaga depan pintu, menunggu rekan lainnya menjemput.
'Ada apa ya?'
'Tadi suara tembakan kan ya?'
'Sepertinya pak Jaya melakukan tindakan kriminal.'
'Bukankah ia seorang polisi?'
'Tadi kamu lihat kan, ada seorang gadis tak sadarkan diri di bawa oleh salah satu polisi?'
'Sepertinya itu korban, kasihan sekali.'
'Pak Sanjaya juga aku lihat tidak sadarkan diri tadi, apa mungkin kena tembak?'
Pertanyaan dan asumsi para warga terdengar simpang siur, namun baik A ataupun C tak ada yang angkat bicara. Begitu juga dengan Usep dan Joko, mereka tidak berani angkat bicara karena takut salah berucap.
.
.
"Bawa pasien ke UGD" teriak seorang dokter pada perawat, saat melihat ada seorang berseragam polisi membawa seorang gadis tak sadarkan diri. Ia yang tadinya hendak pulang, segera mengurungkannya. Ia menaruh tasnya secara asal dan segera mengejar berankar pasien, begitu juga dengan Yanto.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter
"Dia adalah korban penculikan dan penyekapan, sudah selama 7 hari menghilang. Dan saat ditemukan sudah tak sadarkan diri, aku rasa ia mengalami dehidrasi parah." jawab Yanto, dokter tersebut pun mengangguk
"Serahkan pada kami" setelah mengatakan itu, dokter naik ke atas berankar tersebut seraya melakukan pemeriksaan.
Dokter itu meminta stetoskop pada perawat, setelah dapat. Ia segera mendengarkan detak jantungnya, TIDAK ADA. Dokter itu mengalungkan stetoskop tersebut di lehernya, Ia segera melakukan CPR, meletakkan kedua telapak tangan yang ia tumpuk di atas dada Nurma dan menekannya berkali-kali.
Kejadian itu pun menghilang di balik pintu, perawat menahan Yanto dan yang lainnya untuk masuk.
Sedangkan di dalam, masih genting karena detak jantung Nurma yang belum kembali. Dokter segera turun dari ranjang dan memberikan nafas buatan, namun nihil. Dokter itu masih belum mau menyerah, ia masih melakukan CPR dan meminta defribillator. Beberapa perawat langsung memasang kabel pada tubuh Nurma, yang tersambung dengan monitor langsung. Agar bisa memantau tanda-tanda vital,
"DOKTER OKSIGEN PASIEN SEMAKIN MENURUN" teriak seorang pasien
Doker meminta Intubasi Endotrakeal, ia segera memasangnya di mulut pasien. Salah satu perawat membawa defribillator, setelah selesai memasang alat bantu pernafasan. Dokter segera menyalakan defribillator tersebut dan perawat segera mengoleskan gel pada kedua alat yang akan di pasang ke atas dada pasien.
"150 joule"
"CLEAR"
JEDUG
"200 joule"
"CLEAR"
JEDUG
"LAGI, 300 joule"
"CLEAR"
JEDUG
...****************...
...Happy Reading allπππ...