
"Tegang banget lo Den, udah kaya mau di eksekusi aja." ucap Maya
"Beuh... bukan di eksekusi lagi ini mah May, antara hidup dan mati gue. Masa depan gue May" jawab Dena
"Mang apa? Timbang ujian doang, kerjain soalnya. Beres.." ucap Kira
"Kalian yang otaknya di atas rata-rata, gampang banget ya ngemengnya. Apa kabar gue, yang otaknya cuma separo?" ratap Dena
"Dih, otak lo sepro? Lo cemil yang separonya, pas belajar kemaren?" tanya Rio
Kini mereka tengah bersiap akan memulai ujian, dan ujian juga di bagi menjadi 2 kelompok. Agar ada jarak di dalam ruangan, menghindari tindakan curang.
BUGH
"Ga usah ikut nimbrung lo, gue gibeng juga." ucap Dena kesal, seraya memukulnya menggunakan buku yang sedang di baca olehnya.
"Lagian apa sih Den yang lu takutin? Tumben banget lu peduli sama nilai, biasanya juga cuek aja." tanya Maya
"Masalahnya gue di ancem ma bebeb gue." jawab Dena
"Di ancem? Wahhh... dosa lo, pada main ancem-anceman. Emang ancemannya apa?" tanya Ica, Dena menundukkan kepalanya karena bingung mau jawab apa?
Flashback
"Udah buruan kerjain itu soal yang aku kasih" titah Sahin
"Ini tuh susah mas Sahin, dari tadi itu rumus ga masuk-masuk ke otak." jawab Dena
"Bukan ga masuk, kamu yang dari tadi ga merhatiin. Aku jelasin panjang lebar, kamu malah tidur yang." ucap Sahin mulai kesal
"Kan aku udah bilang dari awal mase, kalo pelajaran yang menyangkut dengan hitung-menghitung atau rumus-merumus. Otakku ga bisa, dia seolah menolak dan bila mendengarkan ada yang menjelaskan. Otakku itu merasa, sedang di nina bobokan." jawab Dena
"Astaghfirullah" ucap Sahin, seraya mengusap wajahnya
"Yang, dengerin aku. Kalo sampe nilai ujian kali ini kamu jelek, siap-siap aja. Lulus sekolah, kamu akan aku nikahi." ancam Sahin
"APA?! Nggak ah, nggak mau. Aku juga pengen kuliah, pengen ngerasain warna warni kehidupan di kampus. Pengen nongki bareng si kembar ma teh Ita, pengen ngerasain marah karena liat kamu di deketin cewek kampus, masa lulus sekolah aku diem di rumah nunggu suami pulang kuliah. Sedangkan suaminya, malah asyik di liatin cewek-cewek kampus." cerocos Dena
PKETAK
Sahin pun menyentil dahi Dena, karena itu ngomong ga ada remnya.
"Yang ada di otak kamu itu ternyata, kuliah itu sama aja belajar isinya SAYANG"
"Iya tau, tapikan pasti ada momen dimana ga akan pernah terulang lagi." jawab Dena pelan, Sahin menghembuskan nafasnya pelan
"Pokonya kalo nilai kamu di bawah rata-rata, beres ujian aku akan menikahimu. Kamu tetap bisa kuliah, hanya status mu saja berbeda. Tapi, kalo nilai kamu bisa sampe di rata-rata. Beres ujian, kita hanya akan bertunangan." ucap Sahin tak mau di debat
FLASHBACK OFF
"BUAHAHAHAHA, aseeeekkkk nikah" Ica tertawa, begitu juga dengan yang lainnya
"Emang apa masalahnya sih Den, Sahin loh ini. Ganteng, Tajir, pinter apa lagi yang kurang DENAAAAA. Dahlah nikah aja, lagian masih di bolehin kuliah." celetuk Ajeng
"Iya, malah asyik. Pulang pergi bareng, pas mau tidur sama bangun tidur, wajah pertama yang di liat ayang bebeb. Makan ada yang nemenin, kalo mau... mandi juga bareng. hahahaha" lanjut Maya
"Kalo aku nyuruh kak Zef nikahin kamu, beres ujian emang mau?" tanya Dena pada Maya
"Mau banget lah, yang pake baju ijoooo.... jangan sampai lepas. wkwkwkwk" jawab Maya
"Lagian Den, kalo nikah ma Sahin beres ujian kenapa?" tanya Kira, Dena terdiam.
"Gue... cuma belum siap ninggalin ayah, dia pasti sendiriankan kalo gue udah nikah." jawab Dena pelan
Maya, Kira dan yang lainnya pun diam.
"Kalian sudah siap? Ayo!!" ajak Ita, tadi Ita, Syahid dan Sahin di mintai tolong oleh pak Sugeng. Sehingga, mereka tidak tau pembicaraan ini.
Kelompok pertama, memang ada Ita, Dena dan double twin di dalamnya.
Dena menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan, Maya menepuk punggungnya pelan.
"Kamu pasti bisa, yakinlah" ucapnya pelan, Dena mengangguk
.
.
"Alhmadulillah, hari pertama selesai." ucap Dena
"Gimana? Bisa nggak yang?" tanya Sahin, Dena mengangguk dan tersenyum.
"Bisa, apa yang kamu jelaskan. Hampir semua ada dalam soal, jadi aku bisa deh ngerjainnya. Gumawo oppa" jawab Dena, Maya dan Kira mencebikkan bibirnya.
'Tadi aja tegang, udah kaya mau di sunat.' bisik Kira
'Iya, udah kaya yang mau di jual organ dalamnya aja.' jawab Maya
Dena yang mendengarnya tak peduli, ia mengalengkan tangannya pada Sahin.
"Ayo pulang" ajak Dena, Sahin mengangguk
'Di pikir-pikir bener juga ya, apa kata Maya. Kalo nikah bisa bareng-bareng terus sama mamase, tapi... gue juga nggak mau kalo harus ninggalin ayah sendiri di rumah.' ucap Dena dalam hati, ia pun menghela nafas
"Kenapa? Cape?" tanya Sahin, Dena mengangguk
"Kalian duluan aja ya, aku sama Syahid mau ke toko kue. Lagi pengen ngemil yang manis-manis, ada yang mau titip nggak?" ucap Ita
"Mau dong, aku titip lemon tart ya" ucap Kira
"Cheese cake" Maya
"Strawberry cheese cake" Dena
"Oke, Hin lu naik mobil sama yang lain. Motor biar gue yang bawa" ucap Syahid, Sahin mengangguk. Mereka pun menukar kunci kendaraan mereka.
.
.
Kini Ita dan Syahid sudah ada di toko kue favorit nya, terlihat Ita yang sedang memilih kue untuknya.
"Udah dapet?" tanya Syahid
"Udah" jawab Ita tersenyum dan mengangguk
Ita pun mengatakan keinginannya pada pramuniaga, ia pun tak lupa memesan pesanan yang lainnya. Dan Ita juga tak lupa, kue yang di sukai keluarga besar Zandra.
Mereka pun duduk menunggu di salah satu meja, dekat jendela.
Syahid yang sibu dengan tab nya, karena ada beberapa email yang harus ia periksa. Sedangkan Ita yang sibuk melihat lalu lalang pejala kaki di balik jendela.
Ita yang merasa bosan, mulai mengantuk. Ia merebahkan kepalanya, di atas lengan yang ia taruh di atas meja. Syahid yang fokus, tidak menyadari bila Ita tertidur.
Di dalam mimpi Ita
Kini, ia sedang ada di sebuah rumah yang... cukup besar.
"Dimana ini?" gumamnya
"Bukannya aku sedang di toko kue?" Ita melihat ke sekeliling
Di rumah itu, mungkin tepatnya di ruang tamu. Terdapat beberapa pajangan antik dan juga ada beberapa foto yang terpasang di dinding, serta di atas lemari kecil yang memanjang juga terpasang foto dalm pigura kecil-kecil.
Di dalam foto, terlihat ada gambar keluarga yang harmonis dan juga bahagia. Suami istri dan ketiga putrinya, si istri yang duduk di atas kursi sembari memangku seorang batita lali-laki.
"Lucu sekali anak ini, mereka juga cantik. Sebenarnya aku ada di rumah siapa?" Ita mencoba naik tangga
Di dinding sepanjang tangga, terpasang juga foto-foto para penghuni rumah tersebut. MUNGKIN, tapi aku rasa iya. Ita naik dengan perlahan, seraya menatap foto-foto tersebut.
"Tapi, aku seperti tidak asing dengan pria ini." ucapnya, saat melihat pria yang mungkin menjadi kepala keluarga tersebut.
DOORRR
...****************...
Udah 100 part aja niiihhhh....
jangan lupa senggolan nya family๐ฅฐ
...Happy Reading all๐๐๐๐...