Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Sebuah Kisah



DEG


Kira dan Ita membulatkan kedua matanya, mereka langsung menatap wajah si penabrak.


GLEK


"LEPAS" ucap Syahid dingin, Kira dan Ita pun tersadar. Mereka langsung melepaskan tangannya, saat Kira sudah berdiri.


"Sekali lagi maafkan aku" ucap penabrak yang ternyata seorang pria, maka dari itu Syahid dan Axel tak terima tangan para kekasihnya di pegang olehnya. Syahid tau, bila pria itu tidak ada niat buruk. Karena kejadian tadi murni tidak sengaja, namun Syahid tetap saja tidak terima ada yang menyentuh sang tunangan.


"Apa yang terjadi? Apa teman-temanmu masih belum kembali?" tanya Ita penasaran


DEG


"A apa? Ba bagaimana kalian..." tanya si penabrak, dia memang terlihat seperti orang linglung. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, namun pria itu keluar rumah karena merasa tidak aman berada di rumah.


"Kita cari tempat duduk terlebih dahulu, tidak enak bila berbicara dengan posisi seperti ini." ucap Axel yang mulai paham ada apa


Mereka berlima pun, kini tengah duduk di bangku yang agak memojok di belakang.


"Ceritakan" ucap Syahid


Pria itu terlihat bingung, apa ia harus menceritakan kejadian yang menurutnya di luar nalar ini? Tapi ia sepertinya ia melupakan sesuatu, ahh... bagaimana mereka bisa tau apa yang tengah melanda dirinya. Seolah sudah saling mengenal, tapi ia saja tidak tau siapa mereka.


"Kenalkan, aku Axel. Dia tunangan ku Kira, ini adik sepupu tunanganku Syahid dan tunangannya Ita. Tidak perlu heran, mungkin mereka tau apa yang kamu alami. Jadi ceritakan saja" ucap Axel yang paham dengan kebingungan pria tersebut


"A aku.. aku Rahmat." jawabnya takut


"Aku tidak tau harus bercerita kemana lagi, aku merasa akan gila karena hal ini. Aku tidak tau, bagaimana kalian bisa tau apa yang sedang menggangguku, tapi aku yakin kalian bukan orang-orang biasa." lanjutnya dengan menatap Axel dan Syahid


"Jadi, di kampusku sedang ramai cerita mengenai Rumah sakit Bandung Medical Center.


Pada tahun 2000, gedung Rumah Sakit Sartika Asih diteruskan oleh Bandung Medical Centre (BMC). BMC sempat direnovasi, namun terhenti setelah sang pemilik meninggal dunia dan tidak ada kejelasan mengenai kelanjutan proyek tersebut. Akibatnya, BMC terbengkalai dan mendatangkan kisah-kisah tak sedap mengenai keberadaan makhluk astral.


Isu-isu mistis pun ramai bermunculan. Menurut pengakuan penjaga BMC, ia kerap kali melihat sosok-sosok makhluk tak kasat mata di area gedung. Tak heran jika BMC pernah dijadikan tempat uji nyali salah satu acara stasiun televisi swasta. Sejak saat itu, BMC diburu para pencinta horor atau mereka yang sekedar berkunjung hanya karena penasaran dengan tempat menyeramkan itu." Rahmat menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan


"Aku merupakan salah satu pencinta horor, tidak percaya bila hanya mendengar ceritanya saja, sampai akhirnya merasa penasaran dan ingin membuktikannya sendiri. Menceritakan rasa penasaranku kepada dua sahabatku, Yusuf dan Angga mereka sepakat untuk ikut denganku membuktikan bahwa tempat tersebut hanyalah gedung tua biasa tanpa ada hal-hal horor. Kami bertiga sepakat akan pergi ke rumah sakit tua tersebut malam hari. Sesampainya di dekat bangunan tersebut, aku dan kedua temanku berjanji akan keluar dari gedung itu pada pukul 19:00. Hal tersebut karena melihat kondisi langit sedikit mendung, agar tidak terjebak hujan dalam gedung tersebut."


Flashback


Kejadian 2 hari sebelumnya...


"Haalaaaahhh, omong kosong, mana katanya banyak setan dari tadi gue nggak lihat apa-apa tuh," ucap Yusuf sompral, sambil berjalan santai menelusuri bangsal.


"Hahaha, iya, dari tadi gue juga cuma ketemu tikus berlarian sana sini, itu kali yang dibilang seram ya?" ucapku merespons Ridwan.


Karena tidak menemukan apapun yang kami cari, akhirnya kami memutuskan keluar dari gedung tua tersebut lebih cepat dari perjanjian kami sebelumnya. Mendadak, terdengar suara petir kencang hingga menggetarkan jendela rumah sakit. Mendengar hal tersebut kami bertiga lari keluar untuk melihat apakah hujan di luar benar-benar deras. Kami bertiga terjebak hujan di rumah sakit tua tersebut, tanpa berniat sama sekali untuk menerobos hujan, kami berteduh sambil duduk di lobby rumah sakit itu.


Hujan deras tidak berhenti hingga langit benar-benar gelap. Kami bertiga sudah kehabisan kata untuk berbicara, rumah sakit yang begitu gelap dan lembap juga membuat kami tak lagi merasa nyaman berlama-lama di dalam.


Untuk membunuh rasa bosan, sesekali aku mendengar Yusuf bersenandung dengan lagu favoritnya. Namun, lama-lama senandung tersebut cukup keras di telingaku, suaranya seakan terdengar makin keras karena bergema di ruangan yang kosong.


"Berisik woi, gue diemin lama-lama lu ngelunjak makin keras aja senandungnya," ucapku, sambil memukul tangan Ridwan.


"Dih apaan sih lu? orang dari tadi gue diem aja main PUBG," balas Ridwan.


'Hah? Lalu, siapa yang sejak tadi bersiul?'


Sambil kembali memeluk lututku, aku melihat ke arah Angga yang dari tadi tidak berhenti menatapku dengan tatapan kosong. Tatapan Angga sedikit membuat aku takut, karena sesekali lobby dengan cahaya kilat bercahaya dan kembali gelap. Tiba-tiba Angga menunjuk sesuatu, yang aku tahu itu mengarah kepada diriku tapi bukan aku.


Mendadak seluruh bulu kudukku berdiri dengan cepat. Walau begitu aku penasaran apa yang ingin Angga tunjukan kepadaku. Saat aku menghadap ke belakang, aku melihat seorang pria dengan pakaian perawat lengkap dengan wajah hancur berdiri di belakangku. Yusuf yang melihat aku terkejut, ikut menghadap ke belakang. Dia terdiam, entah harus berbuat apa. Tubuh kami, seolah terpaku di sana.


Mulut pria itu sudah tidak ada, seperti ditarik paksa hingga sobek. Melihat hal tersebut aku menarik tangan Angga yang tidak berhenti menunjuk makhluk tersebut dan juga Yusuf berlari keluar rumah sakit. Jantungku berdetak dengan sangat kencang. Tak kusangka akhirnya membuktikan sendiri bahwa rumah sakit tersebut begitu menyeramkan.


Namun sayang, saat kami melangkahkan kaki keluar. Bukannya keluar dari rumah sakit, kami malah semakin masuk ke dalam. Angga yang masih dalam kondisi seperti tengah hilang kewarasan, terus aku tarik. Ia hanya ikut berlari, kemanapun aku tarik dia. Kita masuk ke salah satu ruangan, untuk bersembunyi. Tubuh kami pun luruh ke lantai, sampai terduduk.


"Kita sebenarnya mau kemana Mat? Kenapa semakin kita ingin keluar dari tempat ini, malah semakin masuk ke dalam?" tanya Yusuf berbisik ketakutan, jangankan dia. Aku pun demikian, sebenarnya tubuhku benar-benar bergetar hebat saking takutnya. Tapi, aku harus tetap berlari, agar cepat keluar dari tempat ini.


"Gue juga ga tau Suf, gimana ini si Angga?" jawabku ikut berbisik, kami langsung terdiam. Karena mendengar ada suara medekat, suara langkah terseret.


DEG DEG DEG


Sumpah demi apapun, aku benar-benar takut saat ini....


...****************...


Ini cerita kisah nyata yang di alami sama seseorang, tapi seperti biasa aku gabung dengan cerita ku sendiri. Tanpa merusak cerita sebenarnya, hiperbola sedikit sih.


Jangan marah-marah... 🀣🀣


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...