Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Part 41



"Saya juga mendengar adanya Pekerjaan Haram yang di lakukan salah satu pegawai di sini, walau memang tidak di lakukan di hotel ini. Namun, hal tersebut tetap bisa mencoreng nama baik hotel ini. Maka dari itu, saya selaku pemilik dari hotel ini. Memecat pegawai tersebut, nona Gayatri... maaf, saya tidak bisa terus melanjutkan kontrak kerja anda di hotel ini. Dengan sangat berat hati, saya memutuskan kerjasama antara anda dan juga hotel kami." ucap Rendra, bukan ia tidak menghargai Gayatri. Karena harus memecat di hadapan semua orang, namun hal ini pun ternyata sudah di ketahui mereka semua dan tentunya membuat resah.


Dengan memecat Gayatri di hadapan semua orang, ia berharap bisa menghilangkan keresahan di benak semua orang.


DEG


Tubuh Gayatri langsung terasa lemah, bagai tak memiliki tulang. Sedangkan yang lainnya bersorak dan kembali bertepuk tangan, mereka benar-benar merasa puas dengan keputusan ini. Gayatri memang sangat meresahkan, bahkan hotel mereka pernah terjadi keributan dengan datangnya istri dari salah satu pelanggan bisnis Pr*stitusi Gayatri. Dan bahkan istri dari orang tersebut salah sasaran, ia menyeret, menjambak, dan menampar orang yang salah.


Karena kejadian tersebut, sempat menjadi ramai. Pegawai wanita yang menjadi korban, memilih keluar karena rasa malu. Karena yang melihat bukan hanya pegawai, namun juga para pengunjung lain. Sedangkan dari pihak Gayatri, tidak ada niat untuk menjelaskan. Malah Gayatri merasa senang dengan kesalah pahaman tersebut, Raka pun malah membiarkan hal tersebut dan menutupi kejadian ini pada pemilik hotel.


Hal ini juga, menjadi salah satu alasan Rendra dan Afwa agar mereka bisa memecat Gayatri


dengan tidak hormat.


"Saya tidak terima, kalian memecatku dengan tuduhan tanpa bukti." protes Gayatri


"Tetapi rekaman CCTv membuktikan semuanya, anda tidak bisa mengelak lagi nona Gayatri. Bahkan aduan dari banyaknya orang, membuat kami harus berusaha mengembalikan rekaman yang sempat hilang. Maka dari itu, silahkan anda keluar dari hotel kami." jawab Afwa dengan tatapan datar


GLEK


'Si*l, bukankah Raka bilang bila ia sudah membereskan rekaman tersebut.' umpat Gayatri dalam hati


"Mengembalikan rekaman yang sudah hilang, itu adalah hal mudah bagi kami." lanjut Rendra


'Aku tidak terima, akan aku balas semua perlakuan kalian yang sudah mempermalukan aku.' ucap Gayatri


dalam hati


Dengan amarah yang membludak, Gayatri bangkit dari kuburnya, ehh...duduknya.


Ia langsung keluar dari ballroom dengan aura gelap yang mengelilinginya, tentu saja hal tersebut terlihat oleh Rendra dan Afwa.


'Malam ini kita benar-benar harus bekerja keras.' ucap Rendra


'Ayah benar' jawab Afwa, seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar


"Baiklah, saya ucapkan terimakasih banyak untuk pengabdian yang sudah kalian berikan di hotel ini. Semoga kalian betah, juga kerasan bergabung di sini. Kalau begitu, rembugan ini kita sudahi sampai di sini. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap Rendra menutup pertemuan ini.


Para pegawai menjawab dengan serentak, Rendra dan Afwa pamit terlebih dahulu. Satu per satu, orang-orang dalam ballroom pun keluar dengan perasaan yang sangat puas dan bahagia.


'*Tak sia-sia aku memilih bertahan untuk bekerja disni.'


'Kamu benar, tadinya besok aku akan menyerahkan surat resign. Namun, aku urungkan saat tau, bila Raka sudah di depak dari sini.' balas pegawai yang hari ini libur, ia tidak melihat kejadian Raka di usir.


'Seandainya tak ada kejadian tadi pagi, hal ini juga pasti takkan pernah terjadi.


'Benar benar, ternyata cucu dari pemilik hotel ini merupakan salah satu murid dari sekolah yang menginap di sini.'


'Takdir Allah memang tidak ada yang bisa menebak*.'


Dan masih banyak lagi perbincangan dan pujian yang para pegawai hotel ucapkan.


Sedangkan di waktu yang sama, di kamar yang berisi 4 murid yang pulang dalam keadaan ketakutan.


Pak Sugeng, Syahid, Sahin, Kira, Maya, Ita dan tentunya si riweh Dena. Sudah ada di sana dan memperhatikan mereka berempat, yang kini terlihat menatap kosong ke depan.


"Seperti inilah kondisi mereka nak, tak ada yang bisa kami mintai keterangan." ucap pak Sugeng


Kira dan Maya pun melangkah maju, mendekati mereka yang sedang duduk menekukan lututnya di lantai. Masing-masing dari mereka memegang 2 anak, di kanan dan kirinya.


Maya dan Kira menutup mata mereka dan mengeluarkan tenaga dalam mereka, guna mentransfer nya pada keempat anak tersebut. Lambat laun, tatapan mereka mulai terisi.


Kini mereka telah sadar dan memperhatikan ke sekeliling, mereka bingung karena banyaknya orang yang kini ada di kamar mereka.


Tunggu, bukankah tadi mereka berada di sebuah bangunan tua?


"Kalian tidak mengindahkan ucapan pak Sugeng, bukankah kalian di minta untuk bisa menjaga perilaku di tempat ini? Kenapa kalian melanggarnya? Kenapa kalian datangi rumah itu?" ucap Kira menjawab kebingungan keempatnya


"Ka kami, ma maafkan kami. Kami sadar, bila kami salah. Tapi, kami mohon selamatkan Ambar dan Tesa. Ada yang menarik mereka ke dalam kamar itu, sosok itu bilang bila ia membutuhkan teman. hiks" jawab Mika


"Ceritakan nak.. " ucap pak Sugeng


"Tadi pagi, saat kami membubarkan diri dari ballroom dan mulai berjalan tiap kelompok. Ambar mengatakan, bila didekat sini ada satu rumah yang di jauhi warga sekitar. Karena kami yang penasaran, kami pun dengan berani ke rumah yang di maksud. Sesampainya di sana, kami pun masuk berenam. Tesa... dia yang terus menolak dan mengajak kami untuk kembali, tetapi kami tidak menghiraukan ucapannya. Padahal Tesa sudah berkali-kali mengingatkan kami, bila tempat ini tidak baik. Aku pun menarik paksa tangan Tesa, yang sejak awal ia kekeh diam di depan pintu. Di sana, kami berkeliling sampai dimana kami menemukan satu ruangan. Yang mana, di depan pintunya tersimpan satu buah tempayan yang berisi lengkap dengan isian seseorang menaruh sesajen." Cerita Mika sembari terisak, terlihat bila ia sangat menyesal, tak menuruti ucapan Tesa


"Sebenarnya, saat melihat itu. Aku pun sudah merasakan hal berbeda, suasananya mendadak terasa lain. Terasa lebih gelap dan juga mencekam, namun Ambar... Dia malah dengan angkuhnya mengatakan 'Lah, setan aja butuh makan. Hari gini, masih ada aja yang percaya ma ginian.' Ia dengan beraninya menggeser tempayan tersebut dan hendak masuk ke dalam ruangan tersebut. Padahal Tesa sudah mengingat kan Ambar, untuk jangan bicara sompral. Tesa juga menarik tangan Ambar, saat Ambar memaksa masuk." lanjut Kania


"Sampai dimana, pintu yang sejak tadi gagangnya di pegang oleh Ambar. Tiba-tiba terbuka dengan sendirinya dan.. dan entah ada apa di dalam sana. Namun, ada bayangan hitam yang memiliki mata merah memelototkan kedua bola matanya pada kami. Lalu, ia menarik paksa Ambar dan Tesa yang sedang memegangi tangan Ambar pun ikut terseret masuk. hiks hiks... " sambung Lara


...****************...


Hadeehh... ada aja yang bandel ya di setiap sekolah.


......Happy Reading


all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž......