
Pak Sugeng dan yang lain mengangguk setuju, kini mereka bertiga berjalan ke rumah Dodi. Terlihat dari jauh, bila pintu tersebut di bukakan oleh anak tiri Dodi.
"Itu adik tiri mu?" tanya Maya, Aisyah mengangguk dan menatap nanar pada anak tersebut. Walau ia membenci ibu tirinya, tetapi tidak pada adik tirinya.
Karena walau ibu tirinya begitu jahat padanya, tetapi tidak dengan adik tirinya. Saat adiknya di belikan motor, adik tirinya menolak habis-habisan karena tau uang yang di pakai adalah uang milik Aisyah. Adik tirinya juga, selalu diam-diam memberikan makanan dan uang jajan miliknya pada Aisyah.
Sampai sekarang pun, ia tidak tau bila Aisyah telah tiada. Ia mempercayai kedua orang tuanya yang mengatakan bila Aisyah kabur, adik tirinya malah bersyukur bila memang benar seperti itu. Daripada di rumah, namun di perlakukan seperti pembantu.
Adik tirinya jugalah, yang suka merawat Aisyah. Bila Aisyah jatuh sakit, itu pun harus diam-diam. Karena bila tidak, yang akan mendapatkan hukuman adalah Aisyah.
.
.
"Bagaimana pak, apa ada info mengenai putri saya?" tanya Dodi dengan memasang wajah khawatir yang di buat-buat, Elisa yang melihatnya benar-benar tidak bisa menahan. Ingin sekali ia menghajar psikopat di hadapannya ini, tak ada raut wajah bersalah sama sekali.
Hanya sekali tendang, Elisa yakin bila pria ini tidak akan bisa berkutik. Jangan salah, Elisa merupakan guru Taekwondo. Mudah baginya, untuk membuat Dodi masuk ICU.
Pak Sugeng menyentuh lengan Elisa, agar bisa mengendalikan emosinya. Elisa memalingkan wajahnya, ia tak bisa bila harus masuk dalam drama ini. Toni, adik tiri Aisyah merasa janggal dengan reaksi Elisa. Namun, ia juga tidak bisa menanyakan alasannya.
"Ada salah satu siswa kami yang melihat Aisyah di seret pulang oleh kalian, saat ia akan menaiki mobil." jawab pak Sugeng tenang
DEG
Wajah kedua manusia itu, langsung pucat.
"I itu tidak mungkin pak, tidak mungkin kami melakukan itu pada Aisyah." ucap Susi tergagap, Toni langsung menoleh pada sang ibu. Kenapa bicaranya tergagap?
"Dan ada siswa lain juga yang melihat, bila Aisyah di kejar-kejar oleh pria berbaju hitam. Ia pun menyelamatkannya dari para pria itu, Aisyah mengatakan bila ia di jual ke seorang rentenir oleh ayah dan juga ibu tirinya." lanjut Sunandar dengan suara bergetar, karena menahan emosinya.
JEDEEERRRR
Toni yang mendengarnya terkejut bukan main, tubuhnya benar-benar meremang mendengar ucapan Sunandar. Bahkan matanya langsung berkaca-kaca, karena saking merindingnya.
"Itu tidak benar kan bu, yah? Kalian tidak sampai hati melakukan hal itu pada kak Aisyah kan?" tanya Toni dengan nada bergetar
DEG
Susi lupa, bila ada putranya di sini. Ia menggelengkan kepalanya
"Tidak sayang, itu tidak benar. Mana mungkin ibu melakukan hal itu, pada kakakmu." elak sang ibu, Toni menggelengkan kepalanya tidak percaya. Entah kenapa, ia malah lebih percaya dengan ucapan guru-guru di hadapannya.
"Aku lebih percaya pada guru kakak Aisyah, karena perlakuan kalian pada kak Aisyah benar-benar jahat. BU, KENAPA IBU MELAKUKANNYA BU? AYAH, BUKANKAH KAK AISYAH ITU PUTRI KANDUNGMU? KENAPA KAMU BISA MELAKUKAN HAL INI PADANYA, KENAPA HAH?!" Toni sepertinya telah tidak tahan lagi, dengan semua kelakuan ayah tiri dan ibu kandungnya.
"Sayang, itu semua tidak benar. Percaya sama ibu." ucap Susi, yang terus mencoba meyakinkan Toni.
"AAAAAGHHHHT... Toni gak percaya sama ibu, katakan." Susi menggelengkan kepalanya
"KATAKAN DI MANA KAK AISYAH!!!!" teriak Toni lagi, ia pun menepis tangan sang ibu yang menyentuh tangannya. Toni menatap penuh amarah dan juga benci pada dua orang dewasa di hadapannya. Air matanya pun menetes pada akhirnya, Dodi dan Susi terdiam. Mereka bingung, hendak menjawab apa?
Saat terjadi keheningan di ruangan itu, datanglah Yanto dan anak buahnya. Di susul double twin, Ita dan Dena.
DEG
BRUGH
Toni jatuh terduduk di lantai, tubuhnya lemas bagai tak bertulang. Wanita yang selama ini menemaninya, dari semenjak ia kecil. Apa tadi polisi bilang? Mayat seorang gadis? Itu bukan Aisyah kan. Toni menggelengkan kepalanya, ia tak mau percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Tidak, itu tidak benar. Kami tidak menyembunyikan Aisyah" ucap Susi kelepasan karena panik, ia menyebutkan nama korban.
"Mohon kerjasama nya" Yanto pun memerintahkan anak buahnya masuk dan menggeledah rumah tersebut.
Tak lama, wanita yang di duga ibu kandung dari Aisyah pun datang. Karena sejak 5 hari yang lalu, Dodi menghubunginya dan mengatakan bila Aisyah melarikan diri.
"Kenapa ada polisi? Apa putriku sudah di temukan pak?" tanya nya
'IBU' panggil Aisyah dengan tatapan penuh kerinduan
Elisa bangun dari duduknya, ia menghampiri ibunya Aisyah.
"Maaf, apa ibu adalah ibu kandung dari ananda Aisyah?" tanya Elisa dengan wajah sendu
"Ya, saya ibunya Aisyah. Saya baru saja tiba dari Dubai, Dodi mengabari saya bila Aisyah sudah melarikan diri dari rumah. Apa ia sudah di temukan? Maaf, anda siapa?" jawab Dian, ibunya Aisyah. Ia pun balik bertanya, pada Elisa.
"Ah, saya adalah wali kelas Aisyah bu." jawab Elisa
"Ya Allah, maafkan putri saya bu. Apa Aisyah juga nakal di sekolah bu? Maafkan Aisyah bila memang seperti itu, mungkin karena jauh dari saya. Sehingga ia melakukan pemberontakan. Agar saya segera pulang dan menemaninya." ucap Dian, yang membuat orang-orang di sana mengerutkan dahinya heran.
'B*jingan kamu Dodi, kamu sudah mengarang cerita yang tidak benar pada ibu.' Aisyah kini benar-benar marah, apa salah dia sebenarnya? Ia sangat membenci ayahnya, bukan salah diakan?
"Maksud ibu bagaimana? Aisyah adalah anak yang baik dan juga pintar, dia juga merupakan siswi penurut dan salah satu siswi yang mendapatkan beasiswa dari sekolah." jawab Elisa, kini Dian lah yang kebingungan.
Kenapa berita yang ia dapatkan berbeda, dengan apa yang di adukan oleh mantan suaminya.
"Ta tapi bu, mantan suami saya bilang. Aisyah adalah murid ternakal di sekolahnya dan selalu membuat onar dan juga membuat masalah di sekolah. Mendapatkan beasiswa?" Dian langsung berbalik dan menatap Dodi dan Susi yang salah tingkah
Habis sudah, nasib mereka benar-benar tamat sekarang.
"Jadi, uang yang kalian minta selama ini. Kalian pakai apa?" tanya Dian, ia menatap ke sekeliling rumah
"Jangan bilang, uang itu kalian pakai untuk memperbaiki rumah ini dan juga untuk kesenangan kalian sendiri?." tebak Dian, ia kembali menatap Dodi dan Susi
Dodi dan Susi benar-benar terpojok, rasanya mereka ingin melarikan diri dari sana.
"DODI!! SUSI!! JAWAB BR*NGSEK!!" namun mereka berdua tetap diam, seribu bahasa.
"Kenapa? Kenapa kalian membohongi aku? Kalian pikir, aku kerja banting tulang ke sana untuk memenuhi kebutuhan kalian?" tanya Dian tak percaya
...****************...
...Happy Reading allπππ...