
"Maaf membuat kalian menunggu lama." ucap Asti, kini ia sudah berganti pakaian bebas. Terlihat bila dirinya berlari,dari tempatnya bersiap untuk memulai kerja.
Yang tadinya ia sudah akan bersiap bekerja, namun Romi datang dan memerintahkan bila pekerjaannya untuk beberapa hari ini adalah menjadi tour guide cucu pemilik hotel ini.
Asti sempat diam karena bingung, ia memang di tawari jadi tour guide. Namun, ia rasa bukan cucu dai pemilik hotel ini. Romi pun menjelaskan semuanya, Asti langsung terkejut dengan apa yang di dengarnya. Jadi, mereka adalah pewaris tahta? Asti sempat sedikit oleng, namun di tahan oleh Romi.
"Perbuatan baik apa yang sudah saya lakukan pak? Sampai saya bisa mendapatkan keberuntungan sebesar ini." tanya Asti dengan perasaan campur aduk.
"Kenapa harus dia? Saya juga bisa, justru saya lebih mumpuni kalo harus menjadi tour guide." sela Gayatri, ia juga terkejut dan senang. Ternyata targetnya bukan kaleng-kaleng, pemilik hotel gitu loh.
Romi yang tau sepak terjang Gayatri, hanya memandang j*jik padanya. Alhamdulillah, Romi merupakan anak yang soleh. Sehingga ia tidak terjebak dengan susuk yang di miliki Gayatri, selain itu... Romi juga mempunyai pegangan tasbih seperti yang selalu di bawa Saga. Buyutnya merupakan sesepuh taat pada agamanya, sehingga Romi selalu di berikan nasihat-nasihat yang akan menuntunnya ke jalan kebaikan.
Namun, sampai saat ini Romi tidak tahu menahu mengenai apa yang diberikan buyutnya. Serta apa yang di gunakan oleh Gayatri, yang ia tahu adalah bila Gayatri bukan perempuan baik-baik.
"Kalau kamu yang jadi tour guide, aku takutnya bukan keliling kota. Yang ada, malah akan tersesat ke dalam kamar. Hiii... lihat lenganku, merinding seperti ini. Saking gelapnya auramu Ati, tubuhku pun menolak di dekati kamu." jawab Romi bergidik bukan main
"Ck.. namaku Gayatri, bukan Ati. Tubuhmu saja yang bodoh, tidak tau mana yang cantik dan tidak." ucap Gayatri dengan sombongnya
"Jangan terlalu angkuh Ati, nanti kamu bisa-bisa seperti Raka dan Renata. Tadi pagi mereka di pecat dengan tidak hormat, kini sekutumu sudah tak bekerja di sini lagi. Dan aku berharap, kamu juga menyusul mereka. Daripada di sini, malah membuat resah. " ucap Romi dan berlanjut dalam hati.
Deg
"A apa? Me mereka di pecat?" tanya Gayatri tergagap
"Sulastri, sebaiknya kamu cepat ganti baju lagi. Jangan dengarkan omongan dia, yang tuan dan nona muda mau itu kamu." titah Romi
"Baik pak, kalau begitu saya pamit." ucap Sulastri
"Oya, usahakan sebelum Ashar kamu sudah kembali. Karena tuan besar, kakek sekaligus pemilik hotel ini akan tiba dan mengadakan rapat besar-besaran. Ia akan melihat dan merombak ulang struktur pekerjaan di sini, jadi siap-siap saja untuk orang-orang yang tidak memenuhi kualitas." ucap Romi sembari menatap Gayatri
Bukannya takut, Gayatri malah mengangkat salah satu ujung bibirnya.
'Cih, tidak mendapatkan cucunya. Kakeknya pun jadi, sama-sama kaya. Aku pasti bisa menguasai dia dan juga menjadi nyonya dari kekayaannya, haha.' ucap Gayatri senang
Romi dan Sulastri yang melihatnya, malah bergidik ngeri.
'Dia pasti sudah gila dan sekarang sedang merencanakan sesuatu.' bisik Sulastri
'Biarkan saja, biarkan ia mengkhayal tinggi. Agar saat jatuh, ia merasakan sakit yang teramat sangat.' jawab Romi ikut berbisik, Sulastri mengiyakan ucapan Romi.
.
.
Kembali ke masa kini
"Tidak apa-apa mbak, ayo kita langsung berangkat saja. Waktu kita tidak banyak" ucap Ita
Mereka pun berjalan ke arah mobil, mobil yang cukup besar dan sudah di sediakan oleh Romi. Sulastri duduk di depan, bersama supir. Di bangku kedua, ada Maya, Ita dan Dena. Sedangkan di barisan belakang ada Kira, Syahid dan Sahin.
"Kita mau kemana dulu?" tanya Maya, Sulastri membalikan sedikit tubuhnya ke belakang.
"Bagaimana kalau kita ke yang dekat dulu saja, sebelumnya maaf. Tetapi, tadi saya sudah di peringatkan untuk kembali sebelum Ashar." jawab Asti
"Iya juga, boleh deh mbak." jawab Kira
"Kita ke Museum Surabaya, bagaimana?" tanya Sulastri
"BOLEH" jawab Ita semangat, Sulastri tersenyum
"Baiklah, pak le kita ke gedung Siola" ucap Sulastri pada sang sopir
"Inggih, mba Asti"
"Bagaimana, masih sakit?" tanya Ita khawatir, ia membalikan tubuhnya ke belakang dan mengulurkan tangannya pada pipi Kira,
"Sudah tidak teh, tuh lihat, udah ga papa ko." jawab Kira seraya menepuk-nepuk kedua pipinya
"Beneran kan? Namparnya tadi keras banget dia, teteh udah greget pengen mukul itu orang pake sapu tadi." ucap Ita kesal
"Bener teteh ku sayang, udah ga papa ko. Teteh kan tau, gimana kemampuan kami. Luka segini mah ga sakit, lebih sakit di sini." jawab Kira, seraya menunjuk ke arah dadanya.
Ita langsung berkaca-kaca matanya, ia paham dengan apa yang di rasakan Kira. Pasti sakit hati banget, mana di tamparnya depan orang banyak lagi.
"Malah nangis, udah ga papa teh. Cup ah, jangan cengeng" ucap Syahid, ia pun menghapus air mata yang mengalir di pipi Ita
DEG
Wajah Ita langsung memanas dan berubah merah, sesaat mata mereka saling bertatapan.
Kira dan Sahin saling tatap, sedangkan Dena dan Maya juga saling pandang. Mereka berempat menahan senyuman mereka.
"Uhuk uhuk.. air dong, mbak Asti ada air kemasan ga? Aku lupa bawa di tas." ucap Dena, sehingga ambyar lah momen sweet di mobil tersebut. Syahid pun refleks menjauhkan tangannya dari pipi Ita, dan Ita membenarkan posisi duduknya.
"Ada nona, biasanya di taruh di kantung jok." jawab supir
"Ah iya ada, aduh ga keliatan pak le tadi. Matanya kelilipan soalnya, sama yang manis." celetuk Dena
Membuat Kira, Maya dan Sahin menahan tawa mereka. Sedangakn Ita dan Syahid memalingkan wajah mereka, ke arah jendela karena sudah memerah menahan malu.
'Cieeee... Gercep nih bang, pepet terus.' ucap Sahin, Syahid langsung menoleh dan menatap tajam pada Sahin. Namun yang di tatapnya malah terkekeh, ia merasa lucu melihat abangnya salah tingkah.
Setelah 36 menit, akhirnya mereka pun tiba di museum yang di maksud. Ita yang sudah merasa gerah, segera keluar dari dalam mobil. Gerah karena merasa malu dan juga entah kenapa jantungnya berdebar cepat tadi, saat Syahid memegang pipinya. Bukannya mereka sudah biasa seperti ini? Tapi kenapa saat ini terasa lain?
Di susul Dena dan Maya, lalu 3 orang yang duduk paling belakang.
"Alhamdulillah sampe juga dengan selamat." ucap Kira
"Lah, ngapa ngomong begitu lu Ra?" tanya Dena
"Iya, soalnya kan tadi dalem mobil agak gimana gitu." jawab Kira yang kembali mengingatkan kejadian yang ingin di lupakan oleh Ita, Ita memutar malas bola matanya. Sepertinya akan terus jadi pembahasan mereka, untuk beberapa hari ke depan.
"Ayo masuk" ajak Sulastri, setelah ia membeli tiket masuk.
"Nanti rincian pengeluarannya di catat ya mbak, biar nanti kami ganti." ucap Sahin
"Tapi tuan muda ini...."
"Tak ada penolakan" ucap Maya
"Ah baiklah, terimakasih" ucap Sulastri
"Museum Surabaya-Gedung Siola yang awalnya adalah pusat perbelanjaan terlengkap di Surabaya, bangkrut karena krisis moneter di tahun 1998. Atas prakarsa dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini, beliau menghidupkan kembali gedung Siola dengan menjadikannya museum dan pusat layanan masyarakat pada tahun 2015." Sulastri menjelaskan
"Waahh.. mbak tau banyak ya mengenai museum ini?" tanya Dena
(Anggap aja siang, oce!!)
"Tidak juga, saya hanya sangat suka untuk datang ke sini. Setiap libur kerja, bila di rumah tak ada kegiatan. Saya lebih memilih untuk datang ke sini, sehingga saya hapal dengan seluk beluk museum ini." jawab Sulastri, mereka pun mengangguk paham.
...****************...
...Happy Reading all๐๐...