Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Keterkejutan Dian



"Kenapa? Kenapa kalian membohongi aku? Kalian pikir, aku kerja banting tulang ke sana untuk memenuhi kebutuhan kalian?" tanya Dian tak percaya


"KENAPA KALIAN TEGA HAH? MANA PUTRIKU, KALIAN JUGA PASTI BER BOHONG KAN BILANG BILA PUTRIKU TELAH KABUR DARI RUMAH? JAWAB B*JINGAN!!!" teriak Dian, ia menarik kerah baju yang di gunakan Susi.


Dodi yang merasa bila dirinya telah terpojok, ia memundurkan langkahnya dan berlari mengambil pisau yang ada di meja. Saat ia maju dan hendak menusuk Dian, Elisa menghadang dan menendang tangan Dodi. Hingga pisau itu pun terlempar ke sembarang arah, Dodi terkejut karena melihat tatapan Elisa.


"SUDAH SEJAK TADI AKU BERSABAR, LELAKI B*ADAB" teriak Elisa, ia melakukan gerakan memutar dan


BUGH


Akhirnya hal yang di tunggu-tunggu oleh Elisa pun terjadi, ia bisa melampiaskan amarahnya. Dengan menendang kepala Dodi, dan langsung membuat Dodi tak sadarkan diri.


"WUHUU, akhirnya. HAHAHA" Elisa menepuk kedua telapak tangannya, seolah sedang membersihkannya dari debu yang menempel.


Pak Sugeng dan yang lain terbengong, lalu menggelengkan kepala mereka. Sadisssss..


"KOMANDAN, DI RUANGAN INI TERCIUM BAU BANGKAI YANG SANGAT MENYENGAT" teriak anak buah Yanto, Yanto, Sugeng dan Sunandar melangkah mendekati mereka. Syahid dan Sahin mengambil alih Dodi. Elisa pun memilih menjaga Susi, takut ia melarikan diri. Susi hanya bisa menunduk pasrah, sedangkan Dian terdiam tak mengerti. Ada apa sebenarnya?


Toni di bantu bangun oleh Ita, Dena dan twin princess agar pindah ke atas sofa.


Begitu pintu gudang di buka dengan lebar...


HUWEK


Sugeng dan Sunandar berlari untuk memuntahkan isi perutnya, bagaimana bisa tidak ketahuan bila ada mayat di rumah ini? Bisa tidak tercium, padahal sejak tadi mereka duduk di ruang tamu? Toni sempat bertanya dulu, namun jawabannya adalah ada bangkai tikus di gudang.


Elisa dan yang ada di ruang tamu juga, merasakan mual luar biasa karena saking baunya.


Saat anak buah Yanto mengeluarkan koper yang kemungkinan besar ada jenazah Aisyah, Toni bangun dan melangkah dengan pelan.


"KAK AISYAH" teriaknya histeris


DEG


Dian terdiam, ia sedang mencerna dengan apa yang terjadi di depannya. Setelah beberapa menit, barulah ia sadar.


"Aisyah? Apa maksudmu di dalam koper itu ada putri ibu?" tanya Dian dengan suara bergetar, Dian menggelengkan kepalanya pelan.


"Iya bu" bukan Toni yang menjawab, melainkan Maya.


"Ti tidak mungkin, itu tidak mungkin. Mana mungkin putri ibu ada di dalam koper, kecuali kalo ia sudah tidak..." ucapannya terputus saat melihat yang lain menundukkan kepalanya. Tubuh Dian terasa lemas, tubuhnya pun terhuyung ke belakang namun tertahan oleh Ita.


BRUGH


Tubuh Dian pun jatuh dengan posisi duduk, Dia menggelengkan kepalanya kembali.


"Tidak, Aisyah. Kamu ga pergi ninggalin ibu kan nak, sayang. AISYAH, ITU BUKAN KAMU KAN NAK? AISYAAAAAAAHHH, bangun nak. Ibu ada di sini sayang, ibu sudah pulang nak." Dian maju pelan mendekati koper dengan tubuh merangkak, tak peduli dengan bau yang begitu menyengat.


Dian membuka koper itu, kedua bola matanya membulat melihat keadaan jenazah yang ada di depan matanya. Wajah hancur tak berbentuk, namun Dian tetap bisa mengenalinya. Yanto sudah menghubungi ambulance dan juga bagian otopsi.


"TIDAAAAAKKK, AISYAH. SAYANG... TIDAK.... TIDAAAAKKKK. BANGUN SAYANG, IBU PULANG NAK" teriak histeris Dian, ia menangis dengan sangat kencang.


Dan Dian pun pingsan pada akhirnya, ini terlalu berat baginya. Putrinya, putri kesayangannya telah tiada dengan cara yang sadis. Apa benar putrinya harus meregang nyawa di tangan ayah nya sendiri? Bila tau akan berakhir seperti ini, ia takkan pergi meninggalkan putrinya untuk menjadi TKW. Ia akan memilih mencari pekerjaan, dengan cara tidak harus meninggalkan putrinya dan menitipkan Aisyah pada mantan suaminya.


"Bawa korban ke Ambulance, serahkan pada bagian otopsi. Dan sebaiknya bawa ibu korban ke rumah sakit, sepertinya ia juga menerima tekanan luar biasa." titah Yanto pada anak buahnya yang baru saja datang, ia menatap nanar pada Dian


"Dan kalian, bawa tersangka ke dalam mobil. Aku pastikan mereka akan mendekam di balik jeruji, seumur hidup mereka." lanjutnya pada anak buah yang sejak awal ikut dengan Yanto, mereka berdua juga sama geramnya dengan Yanto.


Di siksa, di jadikan pembantu, di rampas haknya, dan di b*nuh... bila seandainya boleh, mereka ingin sekali langsung temb*k mati pelaku saat ini juga.


Toni, ia pun terdiam sejak tadi. Pandangannya terlihat kosong ke depan, kakaknya telah tiada. Jadi ucapan dua orang yang selama ini bersamanya, adalah kebohongan.


Aisyah... dari sejak awal Toni mengamuk, ibunya datang dan sampai saat ini. Tak berhenti menangis, rasanya benar-benar sakit. Hatinya sangat sakit, melihat adik tirinya dan juga ibunya seperti ini.


Begitu juga dengan twin princess, Ita, Dena dan Elisa. Mereka juga sama-sama meneteskan air mata mereka, Elisa bahkan belum puas membalas b*jingan itu.


"Aku masih ingin menghajarnya" ucap Elisa, ia melangkahkan kakinya mendekati polisi yang sedang membopong Dodi. Tanpa aba-aba..


BUGH


Elisa menonjok wajah Dodi, sampai salah satu sudut bibirnya mengeluarkan darah. Ia pun berbalik, dan menatap Susi dengan penuh amarah.


PLAK


PLAK


"Aku hanya membalas mu dengan sebagian kecil hukuman yang akan kalian terima, semoga di dalam sana. Kalian akan baik-baik saja, karena biasanya orang yang memiliki kasus seperti kalian. Akan di bully habis-habisan di orang-orang yang membenci kasus mu, mengh*bisi nyawa putri kandungnya sendiri." ucap Elisa, seraya menunjuk wajah Susi


DEG


Belum apa-apa, Susi merasakan takut bukan main. Tubuhnya mulai merasakan menggigil sampai ke ujung kakinya.


"Tidak, lepaskan saya pak. Yang memb*nuh hanya Dodi, aku tidak ikut-ikutan." pinta Susi ketakutan


"Jelaskan di kantor polisi, membiarkan dan ikut menyembunyikan kasus juga tersangka. Anda juga akan mendapatkan hukuman yang setimpal, apalagi menurut pengakuan putramu. Bila korban di siksa hampir setiap hari dan jarang di beri makan, seandainya boleh. Saya pun akan langsung menghukum anda dan dia, sekarang juga." ucap Yanto, Susi menggelengkan kepalanya.


Anggota kepolisian, memaksa Susi untuk menundukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil.


"Tolong bantu paman, untuk menjaga ibu dari korban. Paman yakin, untuk saat ini ia tidak boleh di tinggalkan sendiri. Takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Karena paman sendiri, bila seandainya posisi paman ada pada dirinya.


"Baik paman, biar kami yang menjaga ibu Dian di rumah sakit. Tolong tindak lanjuti kasus ini, berikan mereka hukuman seberat-beratnya." jawab Maya, kedua tangannya mengepal. Melihat bu Elisa tadi menghajar kedua orang itu, ia juga sangat ingin ikut menghajar mereka.


"Siap, paman pasti akan memberikan hukuman yang setimpal untuk mereka. Apalagi mereka juga mendapatkan hukuman berlapis, sehingga hukuman mereka tidaklah sebentar." ucap Yanto, ia berpamitan dan pergi meninggalkan keenam anak itu.


...****************...


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


...