Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Lucky 2



"Bu, apa benar dengan apa yang kami dengar tadi?" tanya Dena


"Yang mana?" tanya ibu Bastian


"Lucky" jawab Syahid singkat, ibu Bastian menghembuskan nafasnya pelan dan ia pun mengangguk.


"Innalillahi wa innlillahi rajiun" ucap Ita dan yang lainnya


"Itu kapan bu?" tanya Ita dengan suara seraknya


"Beberapa jam yang lalu, sekitar 3 jam yang lalu." jawab ibu Bastian lemah


"Lalu, bagaimana pihak keluarga Lucky?" tanya Kira


"Sebenarnya, Lucky adalah anak dari adik ibu. Kedua orang tuanya telah tiada, saat Lucky masih berusia 3 tahun. Dan mulai saat itu, Lucky ibu asuh dan ibu angkat jadi adik Bastian. Sejak itu, mereka sudah seperti anak kembar, kemana-mana mereka selalu bersama. dan saat kejadian, Bastian yang ingin keluar mengajak Lucky. Padahal saat itu, ibu sudah melarang Bastian. Karena saat itu, sudah mulai turun hujan." Ibunya Bastian menghembuskan nafasnya pelan


"Namun, entah ada apa. Bastian kekeh ingin pergi, padahal biasanya bila ibu melarang. Bastian akan menurut, tak pernah ia memaksakan kehendak. Tetapi, hari itu... mungkin ini yang di namakan dengan takdir Tuhan, bagaimana pun kita melarang atau menghindar. Bila Allah sudah berkehendak, maka itu pasti akan terjadi." lanjutnya


Syahid dan yang lainnya terdiam, Ita pun ikut merenungi ucapan ibunya Bastian. Ya... sejauh apapun kita menghindar, sejauh apapun kita bersembunyi, bila sudah waktunya malaikat Izrail menjemput kita, maka KUN FAYAKUN.


Syahid yang melihat Ita melamun, memegang tangan Ita. Ita pun tersadar dan langsung menatap Syahid, Ita tersenyum.


'Tidak apa-apa' ucapnya pelan, seraya menarik nafas dalam


Pantas wajah Bastian dan Lucky mirip...


"Apa Lucky tau, bila ia bukan anak ibu?" tanya Sahin, seraya menatap Lucky yang kini tatapannya berubah sendu.


"Tidak, ibu menutupinya sampai saat ini. Ibu tidak mau membuatnya terluka, hanya karena tau bila dia bukanlah anak ibu. Ibu menyayanginya, seperti ibu menyayangi Bastian. Bahkan terkadang Bastian suka iri, bila melihat ibu lebih perhatian pada Lucky." jawab ibu Bastian tertawa kecil, namun matanya terlihat berkaca-kaca. Terpancar kesedihan di matanya, rasa kehilangan.


"Sekarang, Lucky bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya. Semoga dia bahagia di sana" Ibu Bastian meneteskan air mata pada akhirnya.


"Maaf, ibu hanya bahagia" ucap ibu Bastian bohong, namun Syahid dan Sahin mendengar suara hatinya yang bertolak belakang.


Tentu saja, ibu mana yang tidak akan merasakan sakitnya kehilangan. Walau bukan ia yang melahirkan, namun ia yang sudah membesarkan Lucky sedari balita. Lucky yang mendengar kebenaran tersebut, menangis sesenggukan. Antara menangis kaget dan juga bahagia.


Kaget, karena ternyata ia bukanlah anak kandung dari wanita yang selama ini ia panggil ibu. Bahagia, karena ia di besarkan oleh wanita yang tidak membedakan kasih sayang yang di berikannya.


"Bu, ada yang ingin bertemu ibu dan juga Bastian." ucap Maya, Ibu Bastian mengerutkan dahinya


"Dimana paman?" tanya Sahin mengalihkan pembicaraan


"Ayahnya Bastian dapat panggilan dari kantor polisi tadi, polisi mengatakan bila mereka sudah menangkap pelaku penusukan tersebut." jawab ibunya Bastian, seraya mengalihkan tatapannya ke jendela.


Terlihat butiran-butiran gerimis, membasahi jendela tersebut. Seolah langit pun ikut menangisi kepergian Lucky dna menangisi dirinya yang belum ikhlas melepas putranya. Kenapa hal ini harus terjadi pada kedua putranya?


'Sin, apa kamu sudah merindukan putramu? Sehingga kamu datang menjemputnya, pantas saja Bastian bermimpi seperti itu. Ternyata itu adalah pertanda yang kamu berikan, untuk kami. Tapi, kenapa harus sekarang? Padahal aku tau, bila ini sudah kehendak Tuhan. Tetapi, rasanya berat melepas Lucky.' ucap ibu Bastian dalam hati


Syahid dan Sahin saling tatap, tapi ia penasaran dengan apa yang di lihat Bastian.


"Bu, apa ibu percaya dengan kemampuan melihat makhluk halus?" tanya Sahin, Ibu Bastian kembali mengalihkan tatapannya pada Sahin dan mengangguk


"Apa ibu bisa menceritakan apa yang di alami Bastian, sebelum kepergian Lucky?" tanya Syahid, ibu Bastian kembali terkejut


"Dari mana kalian tau?" tanyanya


"Kami bisa mendengarkan apa yang ibu katakan di dalam hati." jawab Sahin, ibu Bastian membulatkan kedua matanya


"Benarkah, jadi kalian?" Syahid dan Sahin menganggukkan kepala mereka


"Saat dimana Bastian baru saja bangun kemarin, ia menceritakan mimpi dalam tidur panjangnya. Bastian bilang ia di datangi oleh seorang wanita, yang wajahnya mirip denganku. Sudah ku pastikan, bila itu adalah Sinta adikku. Sinta mengatakan, segera sediakan banyak makanan untuk menyambut banyak tamu. Sebentar lagi akan ada banyak tamu berdatangan, untuk melihat Lucky. hiks"


"Awalnya ibu tidak paham dengan maksud Sinta, tetapi setelah dokter tadi menyatakan bila Lucky telah tiada. Ibu kini paham, bila sebentar lagi akan ada banyak tamu yang datang melayat jenazah Lucky." Tangisan ibu BAstian pun akhirnya pecah, tangisan yang sejak tadi ia tahan. Akhirnya tak bisa ia bendung lagi, sesak di dadanya harus di keluarkan.


Bastian yang mendengar suara sang ibu menangis pun terbangun, yang pertama kali ia lihat adalah punggung sang ibu yang terlihat bergetar karena menangis, saat Bastian kembali mengingat. Ia pun ikut terisak, rasanya ia belum percaya bila adiknya telah tiada.


Kembali terlintas bayangan-bayangan saat mereka selalu bersama, bermain bersama, mereka yang selalu ribut karena hal kecil. Tetapi pertengkaran mereka tak pernah lama, karena bila tidak Bastian, maka Lucky yang akan mengalah. Bahkan beberapa barang, harus di belikan sama. Mereka juga pernah berebut perhatian sang ibu, dan selalu Lucky yang memenangkan hal tersebut, tapi ia tak pernah merasa iri. Karena ia adalah seorang kakak, kakak harus selalu mengalah pada adiknya.


Jauh rindu, dekat selalu ribut dan bertengkar. Jangankan mereka, bahkan kita juga mungkin seperti itu.


Syahid dan Sahin ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Bastian, mereka tak tau bila mereka berdua bersaudara. Maya, Kira, Ita dan juga Dena, masih belum percaya. Bila Lucky yang mereka kenal pecicilan, kini telah pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.


Ibu Bastian yang mendengar isakan sang putra, membalikkan tubuhnya. Ia bangun dan langsung memeluk putranya, Bastian pun membalas pelukan tersebut.


"Ikhlaskan adikmu sayang, ia sudah tenang di sana." ucap sang ibu


"Bu, Bastian... ada yang ingin bertemu dengan kalian, ia ingin bertemu untuk terakhir kalinya dan berpamitan pada kalian." ucap Kira


Bastian dan sang ibu, melerai pelukan mereka. Mereka berdua pun menatap Kira, dan menghapus air mata mereka.


"Lucky ada di sini" ucap Syahid


DEG


"B benarkah? putraku ada di sini?" tanya ibu Bastian senang


"Kalian bicara apa?" tanya Bastian belum paham, karena hanya dia yang belum tahu kelebihan double twin.


"Apa kalian mau menemuinya?" tanya Maya, sang ibu mengangguk


"Apa yang kalian katakan, LUCKY SUDAH TIADA" teriak Bastian, nafasnya terlihat naik turun. Jujur, ia tak bisa menerima kenyataan ini. Sangat berat rasanya...


"Ya, tapi arwahnya ada di sini. Ia belum tenang, karena kalian yang belum meng ikhlaskan kepergiannya." jawab Syahid


Bastian pun terdiam...


...****************...


......Happy Reading


allπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž......