Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Firasat?



"Astaghfirullah, panas" ucap mereka, tetapi mereka tetap mengangkat tubuh Ita. Bisa saja hanya satu orang yang mengangkat, namun kondisi Ita yang sangat panas. Membuat mereka harus mengangkat ujung kaki dan juga di bagian ketiak, begitu tubuh Ita di masukkan ke dalam air es. Asap keluar dari tubuhnya, seperti api yang di siram oleh air.


"Astaghfirullah" ucap mereka semua terkejut


Namun, lambat laun tubuh Ita terlihat lebih baik. Ia pun kini menggigil kedinginan, ia memaksakan diri membuka matanya. Saat membuka mata, di sampingnya samar-samar Ita melihat ada Yumi.


"Bunda... bunda dingin" ucap Ita lirih, tubuhnya benar-benar merasa sangat lemah. Yumi bernafas lega, baru kali ini ia melihat hal yang seperti ini. Yumi meminta Afwa segera mengangkat Ita dan mendudukkannya di kloset, setelahnya menyuruh kedua pria itu untuk keluar. Yumi memerintahkan Kira, untuk mengambil handuk baru dan baju ganti untuk Ita.


"Sayang, kamu kuatkan duduk disini sebentar" tanya Yumi, Ita hanya mengangguk untuk menjawabnya.


Perlahan Yumi membuka semua pakaian Ita, Kira pun masuk. Setelah mengeringkan tubuh Ita, Yumi memakaikan kembali baju kering.Tubuh Ita benar-benar merasa sangat kemas, terlihat dadanya yang naik turun. Bernafas pun rasanya sangat lelah, Ita menyandarkan tubuhnya pada perut Yumi yang kini tenga berdiri di dekatnya.


"Bunda, badan Ita rasanya sanga lemas dan juga sakit. Ita ingin berbaring bunda" ucapnya lemah, Yumi mengangguk


"Iya, kita akan kembali ke kamar. Tapi, kita keringkan dahulu rambutmu." jawab Yumi


"Maya, bisa tolong oma ambilkan hairdryer?" Maya mengangguk dan keluar kamar mandi, ia mengambil yang di minta Yumi dari meja rias Ita.


"Kira tolong, buatkan minuman hangat untuk tetehmu. Buatkan wedang jahe" Kira langsung keluar dan berjalan menuju dapur


"Ada apa bun?" tanya Kay yang baru saja menyelesaikan shalat malam, di susul Rendra karena di panggil oleh Yumi.


"Hubby, tolong pindahkan Ita ke atas ranjang" Rendra segera mengangkat tubuh Ita dan keluar dari kamar mandi.


"Bunda juga tidak tau, ini kali pertama bunda melihatnya." jawab Yumi, seraya menatap Kay


"Kenapa demam Ita tidak sembuh-sembuh bun? Apa mungkin kejadian ini berhubungan dengan sakitnya Ita?" tanya Kay


"Demamnya sekarang sudah turun, kita lihat besok. Semoga ada petunjuk, sehingga kita bisa tau penyebab sakitnya Ita. Untuk sekarang, Ita belum bisa kita tanyai." jawab Yumi


"Kalian kembalilah tidur, biar oma dan bunda yang jaga teteh kalian." titah Kay, setelah Ita kembali memejamkan matanya. Wedang jahe yang di bawa Kira tadi, langsung tandas di minum Ita.


"Tapi, kami tidak mengantuk bunda." jawab Maya


"Kami akan melaksanakan shalat malam, tapi setelahnya kami akan kembali ke sini." ucap Kira seraya menarik tangan Maya, untuk keluar dari kamar Ita.


Yumi duduk di samping Ita, kini tubuh Ita benar-benar sudah normal kembali. Ia terus menggenggam tangan Ita, mencoba melihat kembali yang tadi terjadi. Namun, itu semua tidak lagi terulang. Apa yang sempat ia lihat tadi, lenyap begitu saja.


"Semoga demam Ita selama 3 hari ini, bukanlah pertanda buruk." harap Yumi cemas


"Aamiin" jawab Kay


FLASHBACK OFF


"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Syahid marah


"Maaf, kami melupakannya. Kejadian semalam benar-benar membuat kami takut, demam teh Ita yang luar biasa tinggi." jawab Kira


"Saat kami berangkat tadi, teh Ita masih tertidur pulas. Jadi, kami pikir semua baik-baik saja. Sama seperti hari-hari sebelumnya, oma Yumi akan menanyai teteh hari ini." lanjut Maya


Syahid menghembuskan nafasnya kasar, ia mengusap wajahnya kesal. Kenapa di saat kekasihnya benar-benar membutuhkannya, ia malah ada di luar.


"Ada oma, jangan terlalu khawatir." ucap Sahin mencoba menenangkan abangnya


"Hanya saja, kami berpikir bila kejadian demam semalam berbarengan dengan kejadian kebakaran yang di ceritakan tadi. Teh Ita demam selama 3 hari ini dan semua itu tak ada penyebabnya sama sekali. Aku... aku berpikir bila teh Ita berhubungan dengan kejadian itu." ucap Kira


"Maksudmu sebuah firasat atau petunjuk? Seperti itu?" tanya Dena yang langsung menangkap maksud Kira, Kira mengangguk cepat.


"Apa ada kemampuan seperti itu?" tanya Sahin, Maya dan Kira mengangkat kedua bahunya.


"Mungkin tubuh teh Ita belum bisa menyesuaikan semua itu, sehingga ia ikut merasakan apa yang di rasakan para korban dan belum bisa mengendalikan hal tersebut." jawab Kira, Syahid mengangguk.


Tapi, kenapa harus Ita?


.


.


"Bagaimana kondisimu sayang?" tanya Yumi


"Oma" Ita yang tadinya berbaring, merubah posisinya menjadi duduk. Yumi duduk di samping Ita


"Sudah lebih baik oma, hanya saja tubuh Ita terasa sangat sakit semua. Seperti sudah di pukuli oleh massa, karena ketauan mencuri ayam." jawab Ita bergurau, Yumi pun terkekeh.


"Tadi, oma melihat berita di televisi. Apa mungkin ada hubungannya dengan sakit mu?" tanya Yumi, Ita mengerutkan dahinya bingung


"Memang berita apa bunda?" tanyanya


"Kebakaran"


DEG


"Kebakaran?" Yumi mengangguk, Ita menundukkan kepalanya dengan mata yang bergerak gelisah.


"Apa mungkin? Oma, apa kebakarannya di sebuah rusun?" tanya Ita dengan hati resah, Yumi langsung menatap Ita dengan tatapan terkejut.


"Bagaimana kamu tau?" tubuh Yumi tiba-tiba meremang


"Oma, selama 3 hari ini Ita selalu melihat mimpi yang sama." jawab Ita dengan meneteskan air matanya


"Dan yang membuat Ita sangat takut dengan mimpi itu adalah... karena di dalam mimpi itu ada kejadian mengerikan, sebelum terjadinya kebakaran."


"Apa?" desak Yumi


"Ita melihat adanya insiden penusukan, hal itu terjadi karena mereka melihat pelaku yang membakar rusun tersebut. Terjadi sedikit baku hantam, namun mereka kalah pada akhirnya. Karena pelaku ternyata membawa pisau, ia menusukkan pisau itu pada mereka." jawab Ita semakin menjadi tangisannya.


"Apa kamu melihat siapa yang menjadi korban penusukan itu?" tanya Yumi was was, Ita menatap Yumi dan mengangguk.


"Mereka.. mereka adalah teman sekelas Ita oma, Lucky dan Bastian." jawab Ita histeris


DEG


Yumi langsung menarik tubuh Ita ke dalam pelukannya, ternyata benar. Sakit Ita adalah sebuah firasat, apa yang Ita ceritakan semua tepat. Hanya saja di berita belum di temukan pelakunya, kedua teman Ita kini ada di rumah sakit.


"Oma, apa yang Ita lihat hanya sebuah mimpikan? Teman-teman Ita baik-baik saja kan?" tanya Ita dengan sesenggukan, Yumi tidak menjawab. Ia hanya semakin mengeratkan pelukannya, seraya mengusap punggung Ita. Yumi juga menyalurkan tenaga dalamnya, untuk membuat Ita kembali tidur. Lambat laun, Ita mersa lelah dan ia tertidur pulas.


Yumi menghembuskan nafas lega, Ita sudah lebih tenang. Yumi membenarkan posisi tidur Ita, ia menyelimuti tubuh Ita sampai bagian dadanya. Yumi yang masih duduk di samping Ita, menatap kasian padanya. Ita pasti shock, ia harus melihat kejadian sesungguhnya.


...****************...


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...