
Kelas di jam pertama Ita telah selesai, kini ia dan Dena masih di dalam kelas membereskan peralatan belajarnya.
"Udah jam 9, calon laki teteh pasti ada hubungi" ucap Dena, Ita yang baru ngeh pun langsung mengeluarkan ponselnya. Dan apa yang di katakan Dena benar, ada 2 panggilan tak terjawab dari Syahid. Saat Ita akan memanggil ulang, namun Syahid sudah ada di depan pintu. Bukan hanya dia, namun ada Sahin dan twin princess.
"Maaf bee, baru buka ponsel." ucap Ita terkekeh, saat Syahid sudah ada di dekatnya. Syahid hanya menggelengkan kepalanya, ia paham karena baru saja bubar kelas.
"Sayang, aku lapar" ucap Dena pada Sahin, seraya mengalengkan tangannya pada lengan sang tunangan.
"Mau makan dimana? Masih ada 1 jam lagi, sebelum kelasku di mulai." tanya Sahin balik, ia pun mengambil tas yang di pegang Dena dan menyampirkannya di bahunya sendiri. Tak lupa Sahin merapihkan anak rambut Dena, yang menghalangi wajahnya.
"Kantin aja, lagi pengen mi ayam aku Den." bukan Dena yang menjawab, melainkan Kira
"Boleh, aku juga lagi pengen baso tahu." jawab Dena
Seperti yang di lakukan Sahin, Syahid juga mengambil tas Ita dan menggenggam tangan Ita dengan lembut. Mereka pun berjalan keluar kelas, saat di luar mereka berpapasan dengan Ajeng dan yang lainnya.
"Mau pada kemana?" tanya Ajeng
"Kantin, lapar gue" jawab Dena
"Ikut dong, gue juga baru beres jam pertama. Lanjut ntar jam 11." ucap Ajeng
"Ya hayu, Ica ma Rio mana?" tanya Maya
"Mereka ada kelas jam 9, makanya baru pada masuk mereka. Sama Dika dan Xelo juga, mereka berempat kan satu jurusan" jawab Bastian, seraya ikut melangkah
"O iya ya, Lia ma Agatha satu jurusan kan sama teh Ita. Kalian ada kelas jam 11" ucap Maya, Lia dan Agatha mengangguk serempak. Ya mereka berdua mengambil jurusan ilmu hukum, sama dengan Ita.
Agatha menjemput Lia, karena ia tau Ita sudah di kampus. Di rumah pun ia merasa jenuh, kedua orang tuanya
sibuk dengan pekerjaan.
Bastian dan Ajeng mengambil jurusan Teknik Informatika, sedangkan Ica, Rio, Dika dan Xelo jurusan Arsitektur. Double twin mengambil jurusan yang bisa meneruskan perusahaan milik keluarganya.
Syahid merasa bersyukur, karena di jurusan Ita yang satunya ada Lia dan Agatha.
Mereka pun sampai di kantin, seperti biasa mereka akan menjadi pusat perhatian. Entahlah, setiap berada di sekitar double twin, Ajeng dan yang melain merasa aura positif. Mereka berdelapan duduk di satu meja, seperti kemarin. Meja yang di hancurkan oleh Syahid, sudah tergantikan dengan yang baru.
"Makan apa? Biar gue yang pesen" ucap Ajeng, ia hanya menaruh tas di kursi tempatnya duduk. Satu per satu menyebutkan pesanannya, Ajeng langsung menuju ke penjual kantin. Ia hanya menyampaikan pesanan, nanti makanan tersebut akan di antar ke meja.
Ajeng yang melihat ada minuman boba kesukaannya di salah satu kulkas di sana, tersenyum dan hendak mengambil minuman tersebut. Saat akan membuka kulkas transparan tersebut, tangannya bersentuhan dengan seseorang.
"Eh, sori sori.. duluan aja." ucap Ajeng, tanpa mau melihat wajah si pria. Setelah beberapa menit tak ada pergerakan, Ajeng pun akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap pria itu.
"Lo.... lo salah satu senior yang bikin onar kemarin kan? Cih" Ajeng langsung memasang wajah jutek, ia membuka kulkas dan mengambil yang ia inginkan. Setelah mengambil minuman boba tersebut, Ajeng berbalik dan hendak kembali ke mejanya.
"Tunggu" ucap si pria itu, yang tak lain adalah Reksa
"Apa lo, jangan mentang-mentang lo senior bisa merintah-merintah gue." ucap Ajeng ketus, pria itu malah tersenyum mendengar Ajeng berbicara ketus padanya.
"Dih, stress lo" ucap Ajeng, seraya kembali melangkahkan kakinya
"Gue Reksa, gue bukan salah satu kelompok itu. Hanya kebetulan terjebak di dalam lingkaran setan itu." ucap Reksa, menghentikan langkah Ajeng. Ajeng kembali berbalik, dan menatap wajah Reksa. Seolah tengah mencari kebohongan di dalam matanya, namun nihil. Ajeng tak melihat adanya kebohongan sama sekali di sana.
"Oh, ok" jawab Ajeng kembali berbalik dan meninggalkan Reksa, yang sedang berdiri menatap kepergian Ajeng
"Cuma di jawab oh, ok doang!!! Ternyata ada juga yang ga tertarik ma gue, menarik." ucap Reksa tersenyum tipis
"Ngapain lo ngejogrog di mari, ngalangin gue mau ambil minuman sih. Awas!!" ucap Dania
"Sori, oh iya... gue denger lo udah keluar dari lingkaran setan itu?" tanya Reksa, Dania hanya menjawabnya dengan anggukan karena mulutnya penuh dengan minuman.
"Lo ga takut?" tanya Reksa
"Paling juga di DO gue, tinggal pindah sekolah aja sih kalo sampe si nenek lampir itu berani macem-macem." jawab Dania santai
"Serius, minta imbalan apa lo? Tumben banget lo mau bantu orang?" tanya Dania
"Ikhlas gue mah, dari kemarin juga gue pengen bantuin lo. Cuma karena liat lo nggak ada pergerakan penolakan sama sekali, jadi gue pikir lo juga nyaman aja di perlakuin kaya babu ma dia." jawab Reksa berkata jujur
"Alhamdulillah, kalo boleh bantuin dong Rek. Jujur gue ga mau pindah dari kampus ini, gue ga bisa jauh dari kakak gue." ucap Dania memohon
"Boleh, pokonya lu fokus kuliah aja. Tau beres aja semuanya." ucap Reksa, Dania mengangguk tersenyum
"Thanks Rek" Reksa mengangguk dan pergi meninggalkan Dania
"Lagi bolong tuh freezer, kayanya gegara cewek yang tadi ngobrol ma dia deh. Mood nya langsung bagus, bagus deh kalo gitu. Seenggaknya sekarang gue aman kuliah, semoga lulus tanpa ada hambatan sama sekali." harap Dania
.
.
"Ko cuma bawa satu sih Jeng?" protes Dena
"Lah, gua mana tau kalo lu mau juga. Ambil sono, mumpung masih ada 2 lagi." jawab Ajeng, Sahin langsung bangun dan hendak mengambilkan minuman yang di inginkan oleh Dena.
"Aku 1" ucap Kira, Sahin mengangguk
"Silahkan" dua orang lelaki membawa pesanan mereka dan menatanya di atas meja.
"Makasih kak" ucap mereka serentak, kedua pria itu mengangguk dan pergi.
"Jangan terlalu banyak sambelnya yang" tegur Syahid, saat Ita akan memasukkan sendok ketiga sambel pada baksonya.
"Oke" Syahid tersenyum, karena Ita yang penurut.
"Baso tahu lu, kayanya enak Den" ucap Kira, Dena yang sedang lahap mengunyah pun mengangguk.
"Nyicip ya" Dena mengangguk dan mendorong piringnya, agar lebih dekat dengan Kira. Dengan senang hati, Kira mengambil sedikit baso tahu tersebut dan menyuapnya.
"Hmm... enak woy, ntar pulangnya gue mau deh buat di bawa pulang." ucap Kira, ia mengembalikan piring Dena dan memakan mi ayam miliknya.
"Pesen dari sekarang Ra, ntar lu balik udah kehabisan ma yang lain." ucap Maya
"Iya, ntar beres makan." jawab Kira
"Makasih yang" ucap Dena, saat Sahin sudah kembali dengan membawa yang di inginkannya.
"Makasih ganteng" ucap Kira, ia tersenyum menerima minuman boba tersebut.
Di sudut ruangan, ternyata ada yang menatap kebersamaan itu dengan tatapan benci dan penuh amarah.
"Gue bakalan bales perbuatan kalian kemarin, dan gue juga bakalan bikin cewek itu jauh dari Syahid." ucap Helena dengan menggenggam erat garpu yang ia pegang, penuh dengan api kemarahan.
"Lebih baik, jangan berurusan dengan mereka deh Len. Kalo jabatan bokap lo mau tetap aman, dan lu juga bisa kuliah sampe lulus dengan nyaman." ucap Soraya dan di angguki Regatha
"Cih, kenapa gue harus takut? Kalian kalo takut, cukup diam dan perhatikan." ucap sinis Helena
"Kita kerjasama, gue mau cewek itu." ucap Damian dengan senyuman liciknya, mereka berdua pun bertos ria
Mereka rupanya, benar-benar tidak tau siapa yang akan mereka lawan. Dan mereka juga tidak tau, bila Syahid mengetahui niat busuk mereka.
'TAKKAN KUBIARKAN!!! JUSTRU KALIAN YANG AKAN HANCUR TERLEBIH DAHULU, SEBELUM MENYENTUH TUNANGANKU!' ucap Syahid dalam hati, ia mengepalkan salah satu tangannya di bawah meja. Sahin yang mendengarnya, hanya menghembuskan nafas pelan. Dia akan membantu Syahid tentunya, berani macam-macam dengan anggota keluarganya.
...****************...
...Happy Reading all๐๐๐...
Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya๐ฅฐ๐ฅฐ