Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
DOR



"Biar aku saja" sela Sahin, ia akan dengan mudah membuka sebuah pintu yang terkunci. Sepertinya Yanto melupakan kemampuan tersebut, Yanto pun menganggukkan kepalanya pada D, saat pria itu meminta persetujuan dari Yanto.


Sahin dan D berjalan pelan, di sekitarnya terlihat cukup sepi. Ada beberapa orang yang memang masih di luar, untuk sekedar nongkrong atau mencari makan malam. Mereka bertanya-tanya dan penasaran, dengan apa yang sedang dilakukan orang-orang yang tidak sedikit tersebut.


'Maaf ada apa ini ya? Kenapa ada beberapa polisi?' tanya salah satu warga berbisik pada Axel, Axel menoleh dan menatap pada pria yang mungkin seumuran dengannya.


Sebelum menjawab, Axel memanggil Yanto. Yanto yang paham, ia segera berjalan mendekati mereka. Melihat kedatangan Yanto, pria yang bertanya mendadak pucat. Ia takut bila sudah melakukan kesalahan, karena berani bertanya.


"Selamat malam" ucap Yanto


"Se selamat malam pak, ma maaf saya hanya bertanya saja pak." jawab pria itu tergagap, berhadapan langsung dengan polisi, membuatnya cukup ketakutan.


"Jangan terlalu tegang, saya ingin bertanya beberapa pertanyaan mengenai pria yang menempati kamar itu." ucap Yanto, ia pun menunjuk ke salah satu kamar yang di masuki Sanjaya tadi.


Sementara Sahin sudah berhasil membuka pintu tersebut, D mengangguk dan memanggil temannya untuk masuk memakai kode. Mereka pun masuk, di ikuti oleh Sahin, Syahid dan Zef. Dengan perlahan mereka masuk, di dalam sana terlihat sangat sepi. Ruangan yang tidak terlalu banyak barang, mereka berpencar mencari keberadaan Sanjaya dengan jalan yang sangat pelan.


Axel memilih di luar, menemani para wanita. Kembali keluar, percakapan Yanto dan juga salah satu warga.


"Yang baru saja di masuki orang-orang pak?" tanya pria itu lagi, seraya memperhatikan kamar yang di tunjuk Yanto.


"Ya, apa kamu tau siapa pria itu? Oya, saya Yanto." tanya Yanto seraya memperkenalkan dirinya


"Saya Usep pak, kalo kamar itu mah di tempatin sama anak pemilik kontrakan itu pak. Namanya Sanjaya atau di panggil Jaya, kalo orang sini manggilnya pak Jay. Ada apa ya pak?" jawab Usep


"Apa kamu pernah melihat hal mencurigakan padanya? Misalkan pernah tidak ia membawa sesuatu atau seseorang ke dalam kamar tersebut?" tanya Yanto


Usep terdiam, ia mengingat-ingat ke belakang.


"Kayanya beberapa hari yang lalu, atau seminggu yang lalu kalo nggak salah pak. Saya dan anak-anak yang nongkrong di sini, lihat kang Jaya bawa koper besar banget. Badan saya juga bisa masuk, tapi kami tidak berpikir untuk mencurigai. Karena emang pak Jaya kan baru pindah 2 hari sebelumnya, jadi kami pikir mungkin itu hanya barang yang di cicil olehnya." jawab Usep


Yanto dan yang lainnya menyimak dan mengangguk serentak.


"Apa jangan-jangan... jangan bilang kalo isi koper itu sebenarnya manusia pak?" terka Usep dengan membulatkan kedua bola matanya


"Kenapa anda bisa berpikiran seperti itu?" tanya Yanto mengerutkan dahinya


Usep terdiam sebentar, ia nampak tengah berpikir. Apa ia harus mengungkapkan apa yang di pikirkannya?


"Katakan saja" ucap Kira, yang seolah tau apa yang ada di pikirkan Usep.


"Anu... apa saya boleh mengatakannya?" tanya Usep pelan, seraya menatap Yanto.


"Katakan saja" jawab Yanto mengangguk


"Mm... saya sebenarnya bingung dengan pak Jaya. Setau saya dari cerita emak sama bapak, pak Jaya itu seorang residivis. Tapi kok, bisa pake seragam polisi? Apa penjahat bisa jadi polisi pak?" tanya Usep, Yanto terdiam. Ia bingung hendak menjawab apa, author sendiri tidak tau jawabannya. Huft...


Usep hanya menggaruk belakang kepalanya, yang tidak gatal. Ia teringat sesuatu, saat melihat Joko lewat.


"Gaya kamu euy, nongkrongnya sama polisi sekarang mah. Pak" ucap Joko, seraya menundukkan sedikit kepalanya pada Yanto.


"Kebetulan kamu lewat, aku jadi inget sesuatu." ucap Usep, tanpa menjawab ucapan Joko


"Apa?" tanya Joko


"Gini pak, sebelum pak Jaya pindah. Dia sempat merenovasi kamar tersebut, saya tidak tau apa yang di renovasi. Tapi Joko salah satu tukangnya, siapa tau ada sesuatu di dalam sana." ucap Usep menjelaskan, ia agak keki pada Joko. Karena selain Usep tidak di ajak saat proyek, Usep juga penasaran dengan apa yang di renovasi?


Soalnya yang ia lihat, tidak ada perubahan sama sekali. Bukan tidak sopan, ia pernah sekali mengintip lewat jendela. Tapi... ruangan tersebut tetep sama, saat ia tanyakan pada Joko. Joko tidak menjawabnya, seolah menyembunyikan sesuatu.


"Benar begitu?" tanya Yanto, Joko menelan ludahnya susah payah. Joko menundukkan kepalanya, ia bingung harus mengatakannya atau tidak?


"Saya bertanya sekali lagi pada anda, jangan menunggu kesabaran saya sampai habis. Dan membawa anda ke kantor, untuk saya interogasi." ucap Yanto mengancam Joko, Joko yang ketakutan pun akhirnya membuka mulut.


"Pak Jaya memang tidak merenovasi kamar itu pak. Namun pak Jaya, meminta saya dan rekan. Membuat sebuah pintu samar, tepatnya rak buku yang di buat pintu menuju ruang bawah tanah. Di ruang bawah tanah itu juga, di buat sebuah ruangan yang persis sama seperti di kamar tersebut. Di sana di isi kasur dan di pasang televisi, tapi saya bersumpah pak. Saya tidak tau untuk apa ruangan itu, hanya saja saya dan rekan diminta untuk diam. Tidak boleh membocorkan hal ini pada siapapun, karena itu aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu Sep." jawab Joko, Yanto dan Axel saling tatap.


"Kalian masuk mobil, jangan di buka apapun yang terjadi." titah Axel


"Ada apa bang?" tanya Lia dan Kira


"Kami akan menyusul ke dalam, paman takut bila Sanjaya melarikan diri dan berbuat jahat pada kalian." sambung Yanto, tanpa banyak tanya lagi. Ita segera menyuruh semua wanita masuk ke dalam mobil, ia paham maksud Yanto dan Axel. Ada kemungkinan, pelaku akan menjadikan mereka sandra atau semacamnya.


"Sebaiknya kalian berdua sembunyi di balik mobil, saya titip mereka semua." titah Yanto pada Usep dan Joko, walau tak tau apapun. Mereka berdua menurut dan berjalan ke arah sisi lain mobil, untuk bersembunyi. Yanto dan Axel menyusul yang lainnya, masuk ke dalam kamar tersebut.


'Kayanya akan ada adegan menegangkan' bisik Joko


'Aku udah curiga, kalo pak Jaya melakukan tindak kriminal.... lagi.' jawab Usep, membuat Joko langsung menoleh padanya. Seolah bertanya arti kata LAGI


'Kenapa? Kamu ga tau kalo pak Jaya seorang residivis?' tanya Usep, Joko terkejut dan menggelengkan kepalanya.


'Aku cuma tau, kalo pak Jaya seorang aparat negara.' jawab Joko dengan tatapan tak percayanya


DOR


Pembicaraan mereka langsung terhenti, saat mendengar suara letusan senjata api.


DEG


Para gadis merasa cemas dan takut bukan main, para prianya ada di dalam sana. Begitu juga dengan Usep dan Bayu, mereka mengintip dari samping.


...****************...


Mo double, ga punya tabungan๐Ÿ˜ฎโ€๐Ÿ’จ


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...