
"150 joule"
"CLEAR"
JEDUG
"200 joule"
"CLEAR"
JEDUG
"LAGI, 300 joule"
"CLEAR"
JEDUG
"Dokter, detak jantung pasien kembali" ucap salah satu perawat yang mengawasi monitor, semua orang di dalam sana langsung bernafas lega.
Perawat langsung merapihkan semuanya, dokter segera memeriksa Nurma dengan seksama. Karena Yanto mengatakan bila pasien adalah korban penyekapan, maka ia pun memeriksa secara keseluruhan.
.
.
Sedangkan di luar, Yanto sudah kembali ke kantor. Di depan IGD, kini ada Syahid dan yang lainnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tak ada yang mau pulang. Mereka semua memilih menunggu, kemajuan kondisi Nurma.
"Kalau kalian mengantuk, kalian bisa tidur di lantai atas" ucap Sahin pada yang lainnya
"Tidak usah, kami juga ingin tau gimana kondisi Nurma." jawab Agatha, ia lebih memilih untuk duduk bersandar di kursi depan UGD. Bersama Lia saling bersandar, baru kali ini mereka merasakan lelah luar biasa seperti ini. Padahal mereka tidak melakukan kegiatan yang menggunakan tenaga, tapi kenapa bisa selelah ini?
Setelah hampir 2 jam lamanya, dokter selesai memeriksa.
ceklek
Pintu UGD terbuka, Ita dan yang lain langsung bangun dan mendekatinya.
"Apa kalian keluarga pasien?" tanya dokter
"Kami kerabatnya dok, bagaimana dengan Nurma?" jawab Ita, seraya balik bertanya
"Pasien kritis, kami harus membawanya ke ICU. Kondisinya benar-benar mengkhawatirkan, sempat mengalami henti jantung. Dan kemungkinan salah satu organnya, ada yang terluka. Kami melihat ada lebam di area perut bagian kanan, kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Bila melihat memarnya, pasien mendapatkan kekerasan seperti terkena benda tumpul. Entah di tendang atau di pukul sesuatu, dan bila dilihat dari letak memarnya. Saya rasa antara lambung dan ginjal yang terluka, semoga kekhawatiran saya tidak benar. Pasien juga membutuhkan bantuan oksigen, dan beberapa alat bantu yang tersambung dengan monitor." jawab dokter dengan wajah lelahnya
tes
Tangisan para gadis tak bisa di tahankan lagi, apa mereka terlambat?
"Se sebelumnya maaf dok, apa saya bisa bertanya yang lebih pribadi?" tanya Ita, dokter yang paham maksud Ita langsung menjelaskannya.
"Kami sudah memeriksanya, dan tak ada jejak pelecehan padanya." Ita bernafas lega, setidaknya b*jingan itu tidak sampai merenggut paksa mahkota Nurma.
"Apa aku bisa menengoknya saat ia sudah di pindahkan ke ICU?" tanya Kira, ia penasaran dengan apa yang terjadi pada Nurma.
"Untuk dua hari ke depan, maaf. Biarkan kami melakukan observasi terlebih dahulu." jawab sang dokter, Kira mengangguk paham.
"Kalau begitu saya pamit, kami akan memindahkan pasien." Ita dan yang lain menganggu
"Ya Allah, apa yang sudah di lakukan oleh pria jahat itu?" tanya Ita menangis, Syahid menarik Ita ke dalam pelukannya.
"Tenanglah, kita serahkan semuanya pada dokter." ucap Syahid menenangkan Ita
"Apa kita harus mengabari keluarganya?" tanya Maya dengan suara bergetar, Zef pun merangkulnya dari samping.
"Kita lihat kondisi pak Mun, bila memungkinkan kita bisa memberitahukannya. Bila tidak, kita cukup beritahu Bumi saja." jawab Sahin
Mereka mengangguk
"Sudah pukul 3, sebaiknya kita istirahat di ruangan atas. Apa besok ada mata kuliah?" tanya Syahid pada Ita
"Ada, jam 1 siang tapi." jawab Ita, begitu juga dengan Agatha dan Lia. Karena mereka yang satu jurusan
"Kami ada pagi jam 8, kita bisa jaga bergantian." ucap Kira
"Kamu Den?" tanya Maya
"Nggak ada" Dena menggelengkan kepalanya
"Baiklah, waktu istirahat kita tidak banyak." ucap Zef, mereka pun berjalan beriringan untuk ke ruangan khusus keluarga Zandra.
.
.
"Cape banget aku loh" ucap Agatha seraya meregangkan tubuhnya, benar-benar seperti habis di gebukin warga.
"Mandi dulu, adzan sudah berkumandang." ucap Ita
"Iya kak" jawab kelima gadis tersebut, mereka pun gantian membersihkan diri.
.
"Aku ingin di pijat rasanya" ucap Lia
Kini mereka sudah berkumpul di depan ruang ICU, mereka akan melakukan sarapan di ruangan sebelahnya. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi, Syahid sudah memesankan makanan sesuai yang mereka inginkan. Kecuali Axel dan Zef, mereka sudah kembali pulang setelah shalat subuh. Karena harus pergi ke perusahaan, banyak pekerjaan yang tertunda.
"Nanti sore ke rumahku saja, nanti aku panggil ahlinya ke rumah." ucap Kira
"Hah? Benarkah? Aseeekkk" tanya Agatha semangat, Kira mengangguk.
Sarapan yang di tunggu pun telah tiba, mereka sarapan dengan tenang.
"Sebaiknya kita lihat kondisi pak Mun sekarang, sebentar lagi kami akan berangkat kuliah." ucap Sahin, setelah sarapan mereka pun segera ke ruangan pak Mun di rawat.
tok tok
"Assalamu'alaikum" salam Syahid dan yang lainnya
"Wa'alaikum salam" jawab pak Mun dan bu Nirmala
"Oalah... nak ganteng sama neng cantik, mari masuk." ucap bu Nirmala tersenyum sumringah
"Pak.. bu.." mereka pun segera menyalami pak Mun dan sang istri.
"Bagaimana kondisi bapak sekarang?" tanya Ita
"Alhamdulillah nak Ita, bapak sudah lebih baik sekarang. Sore ini, bapak sudah boleh pulang." jawab pak Mun tersenyum
"Alhamdulillah" ucap Ita dan yang lain serentak
Syahid dan Sahin mendengar isi hati pak Mun, yang masih berharap bila berita mengenai putrinya yang telah tiada. Tidaklah benar, hatinya yakin bila Nurma masih hidup.
"Pak" panggil Syahid pelan
Pak Mun yang menunduk, segera mengangkat kepalanya dan menatap wajah Syahid.
"Mengenai putri bapak, Nurma...."
"Ada apa? bagaimana? Apa kalian sudah menemukan jenazahnya?" tanya pak Mun, yang mengejutkan bu Nirmala
"Jenazah? Ibu tidak salah dengarkan yah? maksud ayah, Nurma..." air mata Nirmala mengalir deras
"Bu, istighfar. Kami ingin menyampaikan sesuatu, tapi ibu nya berhenti menangis dulu." ucap Ita lembut, sembari menggenggam tangan bu Nirmala. Nirmala mengontrol nafasnya, ia pun berusaha untuk tidak menangis. Namun, mendengar jenazah. Air matanya tak bisa mengalir, ibu mana yang tidak sedih dan sakit mendengar kabar seperti ini.
"Pak, bu. Kami ada satu kabar baik dan kabar buruk, yang akan di sampaikan." ucap Ita
"Kabar baiknya, kami sudah menemukan Nurma dalam keadaan masih bernyawa." ucap Sahin, wajah pak Mun dan Bu Nirmala langsung berbinar bahagia.
"Dan kabar buruknya, Nurma kini kritis dan ada di ruang ICU." lanjut Syahid
DEG
"A apa? K-kritis?" tanya Nirmala tergagap
Syahid dan yang lainnya mengangguk pelan, Nirmala beristighfar dan mengusap dadanya pelan.
"A-apa bapak bisa menemuinya?" tanya pak Mun
"Tidak bisa untuk hari ini, karena pihak rumah sakit hendak memeriksa kondisi Nurma secara lanjutan." jawab Kira, pak Mun mengangguk paham.
Di bilang lega, ya lega karena putrinya ternyata masih hidup. Di bilang sedih dan sesak, ya memang begitu karena orang tua mana yang bisa bahagia. Di saat dirinya, mendengar kabar anaknya kritis.
Ita, Dena, Lia dan Agatha mencoba menenangkan bu Nirmala. Mereka memang berniat untuk menemani kedua paruh baya tersebut dan menunggu kabar mengenai Nurma. Sedangkan double twin, pamit untuk ke kampus karena ada kuliah pagi.
...****************...
...Happy Reading allπππ
...