
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Rendra pada Syahid dan Sahin, kedua cucunya kini tengah duduk menghadap dirinya.
Kini mereka berada di kantor milik Rendra, bukan hanya mereka bertiga. Melainkan sudah ada Aby dan Alice juga. Alice di hubungi oleh Aby sang suami, bila kedua putranya memiliki hal penting yang di bicarakan. Alice yang sudah menebak ini akan terjadi, langsung melakukan teleportasi untuk segera sampai di kantor sang ayah.
Kenapa menebak? kalian tentu tau, salah satu kemampuan twin prince semenjak masih dalam kandungan adalah bisa menyembunyikan suara hatinya. Sehingga, tak ada satu pun yang bisa mendengar apa saja yang mereka ucapkan di dalam hatinya.
Tetapi, bukan hanya Alice yang bisa menebak apa yang ada dalam pikiran kedua pria tampan tersebut. Apalagi, kemarin malam baru saja di adakan lamaran untuk twin princess.
"Kami ingin melamar pasangan kami secepatnya." jawab mereka bersama secara serentak, dengan wajah seriusnya.
Sesuai tebakan, mereka tidak terkejut sama sekali. Alice bahkan tertawa kecil, sehingga membuat kedua putranya menatap ia bingung.
"Apa yang bubu tertawakan?" tanya Sahin
"Karena kami sudah menebak apa yang kalian inginkan" Alice menghembuskan nafasnya pelan, lalu mengalihkan tatapannya pada Rendra dan sang suami. Mereka berdua menganggukkan kepalanya, Alice kembali menatap kedua putranya.
"Dan asal kalian tau, lusa kita akan mengadakan acara liburan ke villa. Dan kita juga sudah mengundang ayah Dena dan tentunya, ibu serta bibinya Ita juga akan ikut. Kami memang berniat untuk melamar wanita kalian di sana, setidaknya selama kalian tunangan, kalian sudah memiliki ikatan dengan pasangan masing-masing." lanjut Aby
DEG
Mendengar hal itu, tentu saja membuat senyuman di wajah twin prince merekah selebar-lebarnya. Alice yang melihatnya, hanya mencebik sebal.
"Ada lagi yang ingin kalian utarakan?" tanya Rendra, dengan tegas mereka berdua menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih yayah, bubu, opa. Kami mencintai kalian." saking senangnya, hal yang tidak pernah di lakukan twin prince. Dilakukan oleh mereka berdua, yaitu mencium pipi ketiga orang tersebut. Sebelum mereka berpamitan, untuk pergi ke tempat yang sudah mereka janjikan pada kedua kekasihnya.
Tentu saja hal itu, membuat ketiga orang yang ada di ruangan tersebut terkejut. Namun, setelah Syahid dan Sahin pergi, mereka bertiga pun tersenyum.
"Ya ampun, aku serasa bermimpi kedua anak ku bsia semanis itu." ucap Alice seraya memegang salah satu pipinya yang dicium kedua putranya, Rendra dan Aby hanya mengangguk dan tersenyum.
.
.
"Jadi, onty sekarang sudah mau menikah?" tanya Aby kecil
"haish... masih lama, kamu anak kecil kepo banget sih" jawab Kira kesal
"Emang kamu tau apa artinya menikah?" tanya Maya
"Tentu saja, menikah adalah..... seperti ayah dan bunda, opa dan oma, obu dan obu. Mereka akan selalu bersama, di dalam satu rumah. Benar kan? Lalu beranak pinang, menghasilkan anak tampan seperti aku. " jawab Aby dengan menatap remeh Maya dan Kira
"Cih, main sana. ganggu aja kamu bocil" usir Kira, karena kini Aby ada di dalam kamar Kira, sedangkan Maya tengah berbaring di ranjang saudari kembarnya tersebut. Karena Ita yang pergi akan menemui Syahid, kebetulan mereka sedang malas kemana-mana. Jadi, memilih untuk tidak ikut.
"Tapi aku sedang ingin menganggu kalian berdua." jawab Aby dengan santainya
Maya dan Kira memutar malas bola matanya, bagaimana bisa mereka mempunyai keponakan seperti Aby.
.
.
Seperti apa yang sudah di lakukan 2 hari yang lalu, kini keluarga Zandra tengah berhadapan dengan ayah Dena, ibu Ita, bibinya Ita dan jangan lupakan bila Ita memilki kakak laki-laki. Yup... Joni kakak laki-laki Iren dan Ita, diminta untuk pulang dari Tegal. Karena bagaimana pun ia harus, menjadi perwakila dari pihak Ita.
Waktu pernikahan Iren juga ada sebenernya, cuma karena waktu itu yang nikah langsung 5. Jadi aku ga ceritain dia, wkwkwkwk
Yang pasti, Joni sudah menikah dengan salah satu santriwati di pesantren Abi Ahmad. Namun, sampai saat ini, Joni dan pasangannya, belum mendapatkan momongan.
"Ehem, seperti yang sudah pernah saya utarakan sebelumnya. Niat kita berkumpul di sini adalah karena aku mewakili kedua cucuku, untuk melamar anak perempuan yang ada di keluarga kalian. Pak Teja dan nak Joni, maaf bila mungkin ini terkesan mendadak. Namun, di keluarga Zandra tidak pernah mengulur waktu. Apalagi masalah pasangan hidup untuk anggota keluarga kami, dan mengenai hal ini. Kalian pasti sudah tau bukan?" Teja dan Joni hanya mengangguk, mereka menunggu kelanjutan yang akan di ucapkan oleh Rendra.
"Dengan kerendahan hati, saya opa dari kedua cucu saya Syahid dan Sahin. Meminta nak Ita dan juga nak Dena, untuk menjadi pasangan hidup kedua cucuku."
"Saya selaku ayah dari Dena, hanya bisa memberikan restu. Karena alangkah baiknya, niat baik tidak di tunda-tunda. Dan jawabannya saya serahkan pada putriku." jawab Teja, ia pun menoleh dan menatap sang putri yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya. Dena yang cerewet, tiba-tiba menghilang. Kini berubah menjadi Dena yang pendiam.
"Begitu juga dengan saya, saya tau. Saya bukanlah kakak yang baik untuk kedua adik saya, tetapi saya selalu berharap dan mendo'akan bila kedua adik saya mendapatkan pria baik dan bertanggung jawab. Dan itu semua, ada dalam diri Za dan Syahid. Saya benar-benar tidak menyangka bila kedua adik saya, bisa dipersunting oleh anggota keluarga Zandra. Bermimpi pun saya tak berani, namun Allah mempunyai rencananya sendiri. Seperti tuan Teja, saya selaku kakak. Hanya bisa memberi restu dan jawabannya, tentu saja saya serahkan pada adik saya, Ita." jawab Joni, ia juga menoleh dan menatap Ita yang sejak tadi meremat kedua tangannya. Karena perasaan gugup yang luar biasa, padahal ia sudah biasa berada di sekitar anggota keluarga Zandra. Namun saat ini, benar-benar sangat berbeda.
Dena dan Ita yang merasa dirinya di tatap, memberanikan diri untuk mengangkat kepala mereka.
DEG
Jantung mereka berdegup dengan kencang, karena kini semua mata menatap pada mereka.
"A aku... " Dena benar-benar merasa tegang bukan main, sampai ia pun tergagap dalam berbicara.
GLEK
"Bismillah, Ita menerimanya opa" ucap Ita lembut
"Bismillah, Dena juga menerimanya opa." susul Dena
"Alhamdulillah" jawab mereka semua, terlihat raut lega di wajah Syahid, Sahin, Ita dan juga Dena.
"Langsung nikah?" ceplos Dena bertanya, membuta semua orang terkejut. Dena yang sadar dengan apa yang di ucapkan, langsung menutup mulut dan kembali menundukkan kepalanya karena malu. Pecahlah tawa orang-orang di sana, Teja benar-benar malu dengan apa yang di ucapkan putrinya.
Sahin? Jangan di tanya, wajah kini memerah karena tak percaya bila sang kekasih akan menanyakan hal tersebut.
...****************...
...Happy Reading all๐๐๐...
......Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya๐ฅฐ๐ฅฐ......