Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
OTeWe Surabaya



"Keputusanku sudah bulat... Murni Setiawati, aku Teja Kertarjasa mentalak engkau dan aku haramkan dirimu menyentuh tubuhku." ucap Teja TEGAS, sangat terlihat tak ada kebimbangan sama sekali di wajahnya.


JEDEEERRR


"Tidak mas, tidak!!! Aku tidak mau cerai mas." teriak Murni, Salma hanya terduduk diam. Sejak awal Dena datang, ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Dan kini, ia harus di kejutkan dengan berita perceraian ibunya. Itu artinya, ia akan kembali sengsara.


Salma menggelengkan kepalanya, ia menolak kenyataan itu.


"Nggak, aku nggak mau hidup miskin lagi. Ini semua gara-gara si Dena, gue harus habisin dia." Salma yang melihat ada pisau buah di atas meja, langsung ia ambil. Dan ia arahkan pada Dena.


Namun, gerakan itu tehenti. Tangan Salma sudah mengangkat hendak menusukkan pisau itu pada Dena, namun Maya menghentikan tangannya Salma dengan kekuatannya. Sehingga kini tangan Salma, tetap diam di atas. Salma yang masih di kuasai amarahnya, masih terus berusaha menggerakkan tangannya.


Ita menarik Dena untuk menjauh dari Salma, Teja yang melihat putrinya hendak di sakiti. Dengan sangat sadar, ia menampar Salma. Sampai ia tersadar dan pisau yang ia pegang pun terjatuh.


"Berani sekali kamu hendak mencelakai putriku, aku pastikan kamu akan mendekam di penjara bersama ibumu. Ibumu atas tuduhan penipuan dan pemerasan, memperkaya diri demi dirimu. Sedangkan kamu akan di penjara, dengan tuduhan berniat menghabisi putriku." ucap Teja, seraya menatap tajam pada Salma


"Tidak om, tidak... saya tidak mau masuk penjara. TIDAAAAAKKK... bu, aku ga mau masuk penjara bu." ucap Salma


Murni hanya bisa terdiam, karena apa yang hendak di lakukan putrinya. Di saksikan banyak orang, dan bukti pun masih ada di sana.


"BU, KATAKAN SESUATU BU. SALMA NGGAK MAU MASUK PENJARA!!" teriak Salma histeris, membayangkannya saja ia sudah merasa ngeri.


Salma pun menangis, Teja menghubungi polisi.


"Cewek gila, ko ada ya... orang kaya gitu, sifatnya itu loh. NGERI" celetuk Maya


"Pasti antara kalian kan, yang mengentikan pergerakan dia tadi."ucap Dena dengan tatapan menuntut jawaban


Kira dan Maya hanya mengangkat kedua bahunya, Ita tersenyum.


"Siapapun, aku ucapkan terimakasih." lanjut Dena tersenyum


Maya dan Kira tersenyum dan mengangguk, mereka tetap berdiri jauh dari posisi Salma. Karena takut, bila ia akan nekat melakukan sesuatu pada Dena.


Mereka berempat malah sibuk bebicara mengenai hari esok, yang akan berangkat ke Surabaya. Sedangkan Teja dan Afwa, berbicara mengenai masa lalunya dengan Murni. Sembari sesekali melihat Murni dan Salma, yang kini Salma tengah menangis di pelukan sang ibu. Sampai tak lama kemudian, datanglah polisi. Mereka pun langsung membawa kedua wanita beda usia tersebut, Salma kembali berteriak histeris.


Cukup terjadi kesulitan, saat membawa Salma. Karena ia terus memberontak, sehingga polisi memukul tengkuknya hingga tak sadarkan diri.


"Ia sedang menuai hasil dari HUKUM TABUR TUAI, karena hidup itu timbal balik." ucap Ita


"Teteh benar, makanya terulah berbuta baik. Karena kamu akan menuai kebaikan tersebut, jangan berhenti berbuat baik. Hanya karena tidak di hargai, justru kebaikan itu yang menuntunmu kelak di akhirat." ucap Kira


"Ya udah ijin ke bokap lo, kalo lo mau berangkat darmawisata barengan ma kita. Sekarang lo nginep di rumah gue aja." titah Maya, Dena langsung menatap Maya


"Ayo, malah liatain gue. Udah mulai belok lo?" lanjut Maya lagi


"Kurang asem emang lo" Dena berjalan menghampiri Teja dan Afwa, tak lupa ia mencium punggung tangan Afwa


"Yah, Dena minta ijin nginep lagi di rumah si kembar ya. Biar sekalian berangkat bareng besok ke sekolah, boleh kan yah?" tanya Dena


"Apa tidak akan merepotkan? Bukankah kemarin kamu juga sudah tidur di sana?" tanya balik sang ayah


"Boleh, tidak merepotkan ko tuan." jawab Afwa, seraya menatap Teja


"Yess.. makasih ya om. Yah?" Dena menatap ayahnya, dengan tatapan memohon.


"Iya iya, pergilah. Ingat, di daerah orang jangan pecicilan kamu. Dan jangan membuat susah keluarga Zandra!!!" ucap Teja memperingatkan


"Siap laksanakan kapten, muach" Dena mencium pipi sang ayah tanpa merasa malu, di depan Afwa


"Maaf tuan, putriku memang sangat manja padaku." ucap Teja merasa tak enak


"Tak apa, anak perempuan memang lebih dekat dengan sang ayah. Karena kita merupakan cinta pertama, bagi mereka. Perlakukan putrimu dengan baik, apalagi ia sudah mengalami kesulitan dan perasaan di sisihkan selama bertahun-tahun." jawab Afwa


"Anda benar tuan, saya juga ucapkan banyak-banyak terimakasih. Karena putriku di terima dengan sangat baik, di kediaman tuan muda." ucap Teja


"Ayolah, kita akan menajdi rekan kerja. Berhenti mengatakan tuan, usiaku hanya beberapa tahun di atas mu. Panggil saja saya abang, bolehkan Teja. Lagipula, putri kita berteman dekat." pinta Afwa


"Boleh, sangat boleh bang. Kebetulan saya hanya anak tunggal, sehingga tidak mempunyai sanak saudara. Setelah kedua orangtua ku meninggal dunia, dan sekarang aku mempunyai seorang abang. Terimakasih" jawab Teja


"Bukan hanya aku abangmu, masih ada yang lainnya. Kamu sekarang akan mendapatkan keluarga baru, yang lengkap." ucap Afwa. Teja merasa sangat terharu mendengarnya, keluarga besar yang begitudi hormatinya. Mau menganggap dirinya keluarga, menerima dia dan putrinya dengan sangat hangat.


.


.


"Gila gila, emang beda ya kalo urusannya udah sama keluarga Zandra. Dengan mudahnya, gue bisa satu bis dengan kalian." cerocos Dena


Kini ia sedang duduk bersama Maya, karena ia kalah suit dengan Kira. Sehingga yang duduk dengan Ita, adalah Kira. Syahid tentu saja dengan Sahin, memang ada yang berani untuk duduk dengannya? Wkwkwk


Kenapa ga naik pesawat? Bukannya naik bis malah jadi lebih lama sampe?


Gimana sekolahnya welah, hihi


Ita dan double twin hanya menggelengkan kepalanya, mendengar ucapan Dena.


"Oya, Den. Masalah emak tiri lo gimana?" tanya Maya, membuat Dena mengernyitkan dahinya


"Emang harus gimana? Ya kan kalian udah tau, kalo dia masuk bui kemaren." jawab Dena santai


"Ya bukan gitu, lo ga ada rasa gimana gitu. Soalnya kan lu baru tau kemaren, kalo dia emak tiri lo. Ga ada perasaan yang apa gimana gitulah pokonya." ucap Maya, membuat Dena terkikik geli.


"Ga ada yang spesial May, selama aku dalam pengasuhannya. Gue ga pernah ngerasain kasih sayang, yang benar-benar tulus dari dia. Dia emang ga pernah main kasar, tapi dia buat mental gue bener-bener down karena menyuruhku untuk terus bermain dengan putrinya. Padahal gue udah ngerasa, kalo itu emak-emak lebih sayang sama cemun itu. Tapi, ya gitulah..." jawab Dena miris


"Cemunn apaan?"


...****************...


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...