
"Abang juga tau yang, bukannya penerimaan murid baru. Pasti banyaklah, murid laki-laki yang suka sama kamu hmm?" Maya memutar malas bola matanya
"Yang suka mah, dari dulu juga udah banyak bang." ucap Syahid
"Tapi, abang tenang aja. Hati adek cuma buat abang seorang."
HUEK
Mereka kompak melakukan hal tersebut mendengar kalimat yang di lontarkan Maya, membagongkan memang.
"Psssttt... psstt.. psstt.."
"Apa sih lo May? sat set sat set... " protes Dena
"Yah, percuma gue jelasin ke juga Den. Ra, lu liat kagak" jawab Maya, lalu ia bertanya pada Kira
"Liat apaan?" tanya Kira bingung
"Oh iya lupa, kamu kan membelakanginya. Syahid, kamu liat kan?" Syahid mengangguk, Kira yang duduk berhadapan dengan Maya pun menoleh ke belakang. Begitu juga Axel, Sahin dan Dena
"Kayanya dia seangkatan ma kita, kalo dari seragamnya sih. Seragam sekolah kita kan?" ucap Kira
"Kalian liat apaan sih?" tanya Dena, Ita hanya diam. Itu sudah pasti bukan manusia, karena Dena tidak bisa melihatnya.
Kini mereka tengah berkumpul di taman tengah kota, dan cukup jauh dari mereka. Ada satu sosok tengah berdiri, menatap mereka. Seolah ingin meminta tolong, namun enggan karena takut.
"Samperin nggak?" tanya Maya
"Samperin gih" ucap Syahid
Ita dan Maya pun bangun dari duduknya dan melangkahkan kakinya, untuk mendekati sosok tersebut. Maya memegang tangan Ita, sampai lambat laun Ita dapat melihat sosok yang di maksud.
"Aisyah... kamu Aisyah kan?" tanya Ita terkejut
Sangat sangat terkejut, gadis yang pernah ia selamatkan dari kejaran orang-orang berbaju hitam. Kini ada di hadapannya, tapi... sudah dalam sosok lain.
Sosok itu mengangguk pelan, lalu menundukkan kepalanya.
"Apa yang terjadi, Syah?" tanya Ita menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya
"Syah, ja jangan bilang bila ini adalah ulah ibu tiri dan ayahmu." ucap Ita dengan suara bergetar, sosok itu diam. Namun tak lama, ia menganggukkan kembali kepalanya.
Ita langsung memegang dadanya, air matanya pun luruh.
"Teh? Teteh mengenalnya?" tanya Maya, ia menahan tubuh Ita karena nyaris terjatuh.
"Ya" jawab Ita lirih
"Sayang, ada apa?" tanya Syahid khawatir, Ita menengadah menatap Syahid lalu menggelengkan kepalanya karena belum bisa mengatakan apa-apa. Syahid menarik Ita ke dalam pelukannya
"Ada apa ini? Siapa yang kalian lihat?" tanya Dena penasaran, begitu juga dengan Zef dan Axel
Sahin memegang tangan Dena, Kira memegang tangan Axel dan Maya memegang tangan Zefran. Saat mereka sudah bisa melihat ada siapa di hadapan mereka, tentu saja hal itu membuatnya terkejut.
"Bukannya kamu Aisyah? Teman sekelas ku dulukan?" tanya Dena, apa ini? Aisyah... hantu?
.
Kini mereka sudah duduk berkumpul di salah satu tempat di taman tersebut, mereka memilih duduk melingkar dengan menggunakan karpet tipis.
"Aisyah, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa..." ucapan Ita terhenti, karena bingung harus berucap apa.
'Ta... dan juga kalian, aku tau ini.. mmm mungkin kalian menganggap tidak tai diri, tapi aku membutuhkan bantuan kalian. Pergilah ke rumahku, ah... tidak. Ke rumah ayah ku, temukan sebuah buku kecil yang aku sembunyikan di bawah barang-barang yang ada di gudang, karena itu tempat tidurku. Aku mohon, di sana ada nomor ibuku yang sekarang bekerja menjadi TKW di Dubai. Tolong hubungi ibuku dan minta agar tubuhku di makamkan secara layak. Mereka menyembunyikan tubuhku di dalam koper dan menumpuknya dengan barang-barang yang ada di gudang.' ucap Aisyah menahan tangisannya
"Ceritakan, bila kamu ingin kami menolong mu. Ceritakan apa yang sudah terjadi padamu, sampai kamu menjadi seperti ini." ucap Maya
"Teh, bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya Kira, Ita menatap Aisyah.
"Saat itu, mungkin 1 minggu yang lalu. Saat aku pulang dari toko buku, aku sengaja berjalan kaki untuk ke halte. Saat itu, Syahid harus ke sekolah karena di panggil oleh pak Sugeng bersama Sahin. Sedangkan kalian tengah pergi bersama bang Axel dan kak Zef, jadi aku memutuskan untuk pulang dengan naik bis. Tetapi, sekitar 20 atau 30 meter lagi akan sampai ke halte. Aku melihat Aisyah sedang di kejar oleh beberapa orang pria yang menggunakan jas hitam keluar dari gang, mereka tampak seperti bodyguard atau entahlah. Aku tanpa pikir panjang, menarik tangan Aisyah dan langsung naik bis yang sudah ada di halte dan meminta bis tersebut untuk segera menjalankan bis nya."
"Saat aku lihat ke belakang, mereka telah tidak ada. Tapi, aku berpikir mereka pasti akan kembali mengejar kami. Maka, saat itu aku memutuskan untuk segera turun dari bis. Dan bersembunyi di salah satu gang pinggir jalan, dekat mesjid. Dan benar saja, ada beberapa mobil hitam yang melesat dengan cepat mengejar bis tersebut. Aku pun mengajak Aisyah untuk masuk ke dalam mesjid" ucap Ita bercerita
"Jadi, itu alasan saat itu kamu telat sampai rumah?" tanya Syahid, Ita mengangguk
"Ya, saat itu ponsel aku sengaja mode silent. Sehingga aku tidak mendengar bila kamu menghubungiku, dan saat itu juga aku sedang mendengarkan cerita Aisyah. Yang ternyata, ia di jual oleh ayah dan ibu tirinya pada seorang rentenir karena terlilit hutang. Aisyah bisa lolos saat itu, karena ia memukul rentenir itu menggunakan asbak yang ada di atas meja yang ada di kamar itu. Rentenir itu terluka di kepala dan langsung tak sadarkan diri, aku memberikan Aisyah uang agar bisa pulang ke rumah ibunya di Kebumen. Lalu, apa yang terjadi Syah?" jawab Ita dan ia pun bertanya pada Aisyah
'Saat itu, setelah kamu berpamitan untuk pulang. Aku juga berniat untuk segera pulang ke Kebumen, tetapi saat aku akan naik mobil yang sudah kamu pesankan. Ada yang menarik tanganku dan menyeret ku, lalu ia pun membekap ku. Sampai aku tak sadarkan diri, dan tubuhku di bawa oleh orang tersebut. Terdengar samar-samar ada suara teriakan minta tolong, yang bisa aku tebak bila itu adalah supir mobil tersebut. Tetapi, aku tak bisa mendengarnya lagi.'
Flashback
'Begitu aku tersadar, ternyata aku sedang berbaring di kasurku sendiri. Di sana sudah ada ayah dan ibu tiriku, mereka menatapku dengan tatapan tajam.'
"Dasar ber*ngsek, gara-gara kamu melarikan diri. Aku harus kena bogeman dari anak buah juragan Jodi, aku tidak mau tau. Kamu harus kembali ke hotel itu, dan pertanggung jawabkan luka yang sudah kamu berikan pada juragan Jodi." teriak Dodi ayah kandung Aisyah, Aisyah yang baru saja sadarkan diri langsung menggelengkan kepala karena takut.
"Nggak pak, Aisyah ga mau balik ke sana. Kenapa bapak tega jual Aisyah pak, bukannya ibu selalu kirim uang untuk Aisyah tiap bulan. Dan uang itu juga di pake oleh kalian, kalian tidak pernah memberikannya pada Aisyah." tolak Aisyah
PLAK
...****************...
...Happy Reading allπππ
...