
"Bagaimana dok?" tanya Syahid cemas
Ita sudah di bawa ke kamar dan sudah berganti pakaian tentunya, suhu tubuhnya sudah tidak sepanas tadi.
"Kondisi nona muda, sudah lebih baik. Demamnya juga sudah turun, saya sudah menyuntikan obat penurun panas dan akan di pasang infus. Biarkan dia istirahat, nampaknya ia sudah melihat hal yang benar-benar membuat dirinya tertekan." jawab sang dokter
Syahid bisa bernafas sedikit lega, ia menatap Ita yang sedang di pasang infus oleh dokter.
"Saya pamit, nanti saya akan mengirim perawat untuk melepaskan infusan tersebut." Syahid mengangguk dan mengantar dokter keluar
"Bagaimana kondisi Ita, Hid?" tanya Alice
"Ita baik-baik saja bub, dokter meminta kita untuk membiarkan Ita beristirahat." jawab Syahid
Anggota keluarga pun dapat bernafas lega, Kira bangun dari duduknya dan mendekati sang oma.
"Oma, apa Kira boleh melihat apa yang teh Ita lihat?" tanyanya
"Jangan dulu, kita tunggu sampai Ita sadar dan menceritakan apa yang ia lihat. Bila kamu melihatnya, oma hanya takut kamu pun akan down." jawab Yumi menggelengkan kepalanya
Kira mengangguk paham
.
.
"Ti dak... ja ja ngaaann, hiks" Syahid yang tengah tertidur di sofa, menunggui Ita pun terbangun karena mendengar igauan Ita.
Syahid pun segera bangun dan melangkah cepat mendekati Ita, ia segera duduk di sebelah Ita.
"Sayang, hei... bangun sayang." ucap Syahid seraya mengusap keringat yang ada di kening Ita, infusan sudah di lepas beberapa jam yanga lalu.
"TIDAAAAKKK" Ita membuka mata dan langsung duduk, nafasnya kembali tidak beraturan.
"Sayang" panggil Syahid, Ita menoleh dan meneteskan air matanya.
"Kita harus menolong mereka bee" ucap Ita seraya memeluk Syahid, Syahid membalas pelukan tersebut. Tubuh Ita bergetar antara takut dan juga menangis.
"Ya, kita akan menolongnya. Asal kamu sembuh dan menceritakan apa yang sudah kamu lihat pada kami." ucap Yumi yang baru masuk, ia yang baru kembali dari ruang kerja sang suami. Terkejut, mendengar teriakan Ita.
"Oma" ucap mereka berdua
"Sayang, bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Yumi ikut duduk di samping Ita, ia menyentuh kening Ita dengan punggung tangannya.
"Sudah tidak panas, Alhamdulillah" ucapnya
"Apa Ita kembali seperti waktu itu oma?" tanya Ita, Yumi mengangguk
"Maaf, Ita pasti sudah merepotkan kalian."
"Sstt... tak ada yang direpotkan, sayang." ucap Yumi
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Yumi lagi
"Sudah lebih baik bunda, hanya saja bayang-bayang pemb*nuhan sekeluarga itu terus menghantui oma." jawab Ita
"Hal itu tidak akan terjadi, seandainya kamu kuat menceritakan semua kejadiannya." Ita terdiam dan mengangguk
"Baiklah, sekarang istirahat terlebih dahulu. Kita akan melanjutkan pembicaraan ini besok" Ita mengangguk, Syahid membantu Ita merebahkan tubuhnya dan menyelimuti tubuh Ita.
"Aku akan menemani mu dan tidur di sofa." ucap Syahid
"Pintunya jangan di tutup, Hid" Syahid mengangguk
.
.
Hari ini adalah hari ujian kedua, karena kondisi Ita yang sudah baik-baik saja. Semuanya sepakat akan membicarakan, apa yang Ita lihat sepulang sekolah.
Kemarin ia tidak berani bertanya, karena semua orang sedang panik dan khawatir. Ita yang mendengar pertanyaan Dena, menoleh dan tersenyum.
"Alhamdulillah, udah baik kok" jawabnya seraya mengangkat tangan Dena, lalu di dekatkan ke keningnya. Dena menghembuskan nafas lega, karena suhu Ita sudah tak sepanas kemarin.
Dena tidak sepanas apa Ita kemarin dan juga tidak melihat, bagaimana tubuh Ita mengeluarkan asap saat di masukkan ke dalam kumpulan es.
Terdengar bel masuk, mereka memulai ujian mereka semua.
.
"Alhamdulillah, ujian hari kedua sudah terlewati dengan baik" ucap Rio
"Bener Yo, gue ngerasa ada di tengah-tengah bara api tadi. Matematika mas bro, untung ada yang sabar ngajarin sebelumnya. Jadi ga bego-bego amat gue tadi, makasih ayang" ucap Dena seraya mengalengkan tangannya pada lengan Sahin.
PLAK
"Shhh... sakit ih Maya" protes Dena, seraya mengusap punggung tangannya dan memanyunkan bibirnya.
"Kebiasaan, di bilangin kalo mesra-mesraan jangan di depan kita-kita yang pasangannya lagi ga ada." ucap Maya
"Masih mending lo, pasangannya lagi ga ada. Lah kita, JOMBLO" sambung Ica
"Ayang, mereka galak " adu Dena
"Salah siapa?" tanya Sahin
"Ck" Dena berdecak kesal, Sahin mengusap sayang kepala sang kekasih.
"Ya udah, kita pamit duluan ya." ucap Syahid
"Oh iya, hati-hati ya kalian" jawab Rio dan yang lainnya
Ita dan Syahid naik motor, Sahin membonceng Dena. Zef yang menjemput Maya, Axel bersama Maya.
Setelah hampir satu jam, mereka sampai di kediaman keluarga Zandra. Setelah membersihkan tubuh, mereka pun makan siang. Yang makan siang, hanya mereka berdelapan. Karena yang lainnya sudah lebih dulu dan menunggu mereka di ruang keluarga.
.
"Apa kamu siap untuk bercerita sayang?" tanya Alice, seraya menggenggam tangan calon menantunya. Ita menoleh pada Alice, lalu menganggukkan kepalanya. Siap tidak siap, ia tetap harus bicara. Bila ingin keluarga tersebut selamat dan di waktu yang sedikit ini, Ita harus bisa mengingat siapa mereka.
"Saat itu, Ita juga ga tau tiba-tiba ada di sebuah rumah yang cukup besar. Di sana juga terpampang banyak foto keluarga bahagia, Sepasang suami istri dan keempat anak-anaknya. Tiga putri dan satu putra, awalnya rumah itu dalam keadaan sepi bagai tak berpenghuni. Namun, tak lama dari itu terdengar suara tembakan dari lantai dua."
DEG
Semua orang yang mendengarnya, sudah bisa menebak kemana arah cerita ini. Ita mencoba menenangkan debaran jantungnya, Alice kembali menggenggam tangannya. Menyalurkan sedikit kekuatan pada Ita, agar ia di berikan ketenangan.
"Dengan memberanikan diri, Ita pun naik ke atas mendekati sumber suara. Di sana ada beberapa kamar dan.... " Ita menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya dengan terasa berat
"Dan di lantai dari kamar pertama, kedua dan ketiga... ada darah berceceran." Ita meremat tangan Alice dan memejamkan kedua matanya, mengontrol nafasnya
"Bila tidak sanggup, jangan di teruskan sayang" ucap Yumi, Ita menggelengkan kepalanya
"Tidak oma, kita harus menyelamatkan mereka." tolak Ita
Syahid khawatir melihat Ita, yang terlihat tersengal dalam bernafas.
"Di kamar pertama, Ita melihat istri dari pemilik rumah sudah tak bernyawa dengan luka tembak di punggungnya." para wanita terkesiap mendengarnya, sampai mereka menahan nafas
"Di kamar kedua pun, lagi-lagi pemandangan yang sama. Anak kedua dari pasangan suami istri itu juga, sudah tak bernyawa di meja belajarnya. Dan di kamar ketiga.... Ita, Ita melihatnya sendiri, bila putri ketiga di tembak dan anak bungsunya juga hendak di tembak. HIks... setelah itu, Ita tak tau lagi." Pecahlah tangisan Ita, Alice langsung menarik Ita ke dalam pelukannya.
Anggota keluarga terdiam, mendengar cerita mengerikan itu. Sungguh sangat membuat mereka, tidak bisa berbicara apapun.
Mereka semua membiarkan Ita, meluapkan tangisannya. Pantas saja tubuh Ita kembali demam, karena ia menyaksikan kejadian mengerikan.
...****************...
...Happy Reading allπππ...