Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Masih di Hari Insiden



Tanpa sepengetahuan pria itu, ternyata di bawah sudah ada bodyguard Zandra. Rendra sengaja tidak melibatkan polisi, karena ia ingin tau bagaimana cara Aldo menyelesaikan masalah ini.


...----------------...


Pria itu tidak langsung turun ke bawah, ia kembali ke kamar utama. Dimana tempat Aldo dan Salma tidur, entah setan apa yang sudah merasukinya. Pria itu memiliki niat untuk menggauli tubuh Salma, istri dari keponakannya sendiri. Tidak peduli, bila tubuh Salma sudah tak bernyawa.


"Bagaimana mungkin keponakanku bisa mendapatkan gadis secantik kamu Sal, seharusnya kamu menikah denganku. Berada di bawah tubuhku, pasti lebih memuaskan daripada di bawah Aldo si berandalan itu. Sebelum aku pergi, aku ingin sekali saja merasakan berada di atas tubuhmu." oceh pria itu


DEG


Aldo yang mendengarnya, benar-benar merasa marah dan juga jijik. Jadi selama ini, pamannya memiliki obsesi pada istrinya, selain pada harta miliknya. Rahang Aldo mengetat, begitu juga kedua tangannya yang mengepal erat. Sampai urat-uratnya, terlihat jelas timbul dari kulit.


"B*ADAB, KAU ADALAH PRIA PALING MUNAFIK DAN BR*NGSEK YANG PERNAH AKU KENAL SEUMUR HIDUPKU. JANUAR" ucap Aldo dengan penuh penekanan karena amarah yang membludak, ia pun bangun dari duduknya berniat untuk melabrak dan menghajar pamannya yang selama ini berpura-pura baik padanya dan juga keluarganya.


"Mau kemana kamu Do?" tanya Rendra


"Aku ingin menghabisinya, aku ingin dia mati di tanganku paman" jawab Aldo dengan suara bergetar, karena menahan amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun nya.


"Bersabarlah, kita akan membawa ia ke markas. Di sana, kamu bisa bebas memberikan hukuman pada pamanmu." ucap Afwi, Aldo menoleh dan Afwi mengangguk seraya memejamkan matanya. Aldo kembali duduk dan mengatur nafasnya, tapi amarahnya tidak bisa hilang sebelum ia memberikan pelajaran pada sang paman.


.


"Ayo kita bersenang-senang terlebih dahulu, sebelum kamu pergi ke alam baka." ucap Januar sang paman, sembari membalikan tubuh boneka yang ia sangka Salma.


Tapi, sayang seribu sayang. Januar marah bukan main, saat ia tau apa yang telah ia tembak bukanlah Salma, melainkan boneka.


"APA-APAAN INI? S*ALAN!!!" umpat Januar


"Apa Aldo sudah tau rencanaku? Tidak mungkin, apa mungkin anak s*alan itu yang sudah membocorkan rahasia dan rencanaku? Kurang ajar, dasar anak setan, anak tidak tau di untung. Sudah aku besarkan, malah menusukku dari belakang. Akan aku habisi kamu anak br*ngsek, aku tidak akan membiarkan ini terjadi." Januar segera mengambil senjata yang ia bawa, dan hendak pergi melarikan diri.


Namun, saat ia sudah menginjak 3 anak tangga terakhir. Langkahnya terhenti, saat ia menyadari bila di rumah itu bukan hanya ada dia seorang.


"Si siapa kalian?" tanya Januar tergagap, ia pun mencoba melangkah mundur.


Anak buah Zandra hanya tersenyum menyeringai, mereka juga sangat ingin menghabisi pria yang kini ada di hadapan mereka. Apa pria di hadapannya ini adalah seorang psikopat, bisa dengan santai membunuh orang-orang tidak berdosa dengan wajah tenang. Walaupun itu hanya boneka, namun bila seandainya calon menantu keluarga Zandra tidak di berikan penglihatan mengenai hal ini. Sudah di pastikan, keluarga Brahmana akan mati sia-sia di tangan psikopat ini.


"Kamu sudah tidak bisa melarikan diri lagi, rumah ini sudah di kepung." ucap A


"ALDO S*ALAN" teriak Januar, ia mengeluarkan senjata apinya hendak menembak pada orang-orang yang ada di hadapannya.


DOR


"AAARRGGGHHHT" teriakan Januar menggema di rumah tersebut, B sudah menembak tangannya terlebih dahulu.


"Bawa dia ke markas" titah A pada bawahannya, dengan sigap dua anak buahnya maju dan menggelandang Januar yang kini tengah kesakitan sembari memegang pergelangan tangannya. Karena punggung tangannya terasa panas dan nyeri secara bersamaan, darah pun berceceran di tangga dan juga di lantai sampai keluar.


"LEP PAS, LEPASKAN AKU" ucap Januar dengan suara beratnya, karena menahan rasa yang teramat sangat sakit. Ingin ia memberontak, namun tenaganya seolah terserap oleh peluru yang bersarang di punggung tangannya.


Dengan tanpa belas kasih, kedua anak buah A menyeret tubuh Januar dan memasukkannya ke dalam mobil secara kasar.


"Misi selesai" ucap A, seraya memegang benda yang menempel di telinga kirinya (earpiece)


.


.


"Ayo kita ke markas, kamu akan dengan puas memberikan pelajaran padanya." ajak Afwi


Namun, itu semua terhenti semenjak ia merasakan jatuh cinta pada sang istri. Aldo berubah total, ia yang jauh dari Tuhannya. Kini lebih mendekatkan dirinya pada Sang Pencipta, dan itu semua tak lepas dari peran sang istri.


Oleh karena itu, Salma merupakan menantu kesayangan. Kedua orang tua Aldo, sangat menyukai dan menyayangi Salma. Wanita yang bisa membawa Aldo ke arah yang lebih baik dan berubah menjadi pria bertanggung jawab, bahkan Aldo juga meninggalkan kehidupannya yang penuh dengan jejak hitam.


Apa keluarga Zandra tau?


Tentu saja, mana mungkin mereka tidak tau bagaimana latar belakang Aldo. Saat menyelidiki mengenai paman Aldo, otomatis mereka juga akan tau masa lalu Aldo. Dan itu tidak masalah, bukankan TAUBATNYA SEORANG PENDOSA LEBIH ALLAH CINTAI, DARIPADA TASBIHNYA SEORANG YANG SOMBONG.


Bukan keluarga Zandra mengkalim bila diri mereka lebih baik, tentu tidak mungkin. Justru mereka sampai saat ini masih merasa termasuk dalam golongan orang-orang yang penuh akan dosa, namun mereka juga berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang bisa merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik, mereka sangat menyukainya.


"Ayo, aku sudah tidak sabar" jawab Aldo dengan menggebu-gebu


"Tapi ingat, jangan sampai kamu menghilangkan nyawanya." ucap Rendra mengingatkan


"Ahahaha... walaupun aku sangat ingin melakukannya, tapi itu tidak akan sampai terjadi paman. Tapiiii.... bila sampai masuk ICU, tidak masalah bukan?" Rendra, Afwa dan Afwi hanya menggelengkan kepalanya. Melihat Aldo yang berapi-api seperti Kyubi yang dimiliki Naruto, hahahaha


.


.


"Bosan, aku bosan ma" ucap Meita, putri ketiganya. Ia berguling-guling di atas karpet yang ada di ruang tamu, Salma yang melihatnya benar-benar di buat pusing. Mario yang melihatnya, malah mengikuti aksi tersebut dan tertawa riang.


"Sabar sayang, kita menunggu kabar dari keluarga Zandra. Karena kita tidak bisa sembarangan keluar dari sini, demi keselamatan kita." jawab Salma


"Memang sebenarnya ada apa, kenapa kita di kurung di apartemen ini? Sudah seperti di dalam sangkar emas saja, mewah namun terkekang." ucap Meita lagi, dengan tubuh telentang


PLAK


Meriam memukul lengan kanan Meita gemas, ia yang sedang membaca benar-benar gatal mendengar gerutuan sang adik. Sedangkan Meisa sedang anteng menemani adik bungsunya yang berguling dan sedang aktif-aktifnya, di ruangan yang sama. Ia baru saja selesai mengerjakan soal ujian dan guru yang mengawasinya juga sudah kembali ke sekolah.


"Bersabarlah, memang kamu mau kemana hah? Baru juga satu hari diam di dalam rumah, sudah mereog seperti barongsai." ucap Meriam kesal


"Mama... aku di pukul." adu Meita, Meriam yang mendengarnya hanya mencebikkan bibirnya dan tak peduli. Ia memilih kembali membaca buku yang ia pegang, sepertinya itu lebih ber faedah untuk kehidupannya.


Salma menghembuskan nafasnya, selalu seperti ini.


"Bantu mama membuat kue yuk, kita buat yang banyak untuk keluarga Zandra." ajak Salma, Meita langsung beranjak dari baringannya.


"Ayo ma" ia pun melangkahkan kakinya lebih dulu ke dapur, Salma dan kedua putrinya yang lain tertawa kecil.


"Kamu mau ikut?" tanya Salma pada Meriam


"Tidak, panggil saja kalau mama butuh bala bantuan." jawab Meriam tersenyum


"Meisa?"


"Tidak ma, Meisa menemani adik saja." jawab anak sulungnya itu


Salma mengangguk dan menyusul putri ketiganya itu ke dapur.


...****************...


......Happy Reading


allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž......