
"Kami ucapkan banyak-banyak terima kasih pada keluarga besar Zandra, tanpa pertolongan kalian. Mungkin aku sudah kehilangan keluargaku, aku sungguh-sungguh berterima kasih." ucap Aldo tulus, demi apapun ia benar-benar sangat beruntung. Bisa di pertemukan dengan keluarga yang luar biasa baik, entah bagaimana cara mereka membalasnya.
Karena bukan materi yang di bantu, melainkan menyelamatkan nyawa. Bukan hanya 1 nyawa yang diselamatkan, namun 4 nyawa. Bila menurut cerita Ita, saat itu Meisa sedang tidak ada di rumah. Aldo berhutang nyawa seumur hidupnya, seandainya keluarga Zandra membutuhkan bantuannya. Apapun itu, ia akan menjadi garda terdepan.
"Tidak perlu sungkan, selama kami bisa membantu. Pasti akan kami bantu, siapapun itu." jawab Yumi
Setelah acara mengucapkan terima kasih, Aldo dan keluarganya berpamitan untuk kembali pulang ke kediamannya. Ada sedikit drama, karena Anin melarang Mario untuk pulang.
"Malio jangan pulang, di sini aja sama Anin. Yayah, dopsia Malio yah. Bilal jadi adik Anin, tadi siang Anin minta adek sama enda nggak di kasih." ucap Anin menengadahkan kepalanya menatap sang ayah, membuat Sherina membulatkan kedua bola matanya.
"Adopsi Anin, bukan dopsia" tegur Kirana membenarkan ucapan Anin
"Iya, itu." jawab Anin dengan mata berkaca-kaca
"Sayang, nggak bisa sembarang adopsi anak orang. Mario kan masih punya orang tua dan orang tuanya Mario juga keluarga mampu, jadi kita tidak bisa mengadopsinya." ucap Al seraya menggendong Anin
"Tapi, Anin mau adik ayah." rengek Anin, seraya melingkarkan tangannya ke leher Al.
"Iya, nanti bunda beli di sh*pee ya." ucap Sherina asal
"Ada enda, di sana? Besok beli ya, enda." tanya Anin
"Nah loh, asal jeplak aja kalo ngomong." celetuk Iren cekikikan, di kata sh*pee tempat jual beli anak. Gulung tikar kalo sampe kejadian π€£π€£
"Ishh..." Sherina pun memilih diam, tak mau mengeluarkan suara lagi.
"Nanti kita minta sama Allah ya, Anin juga terus berdo'a. Rayu Allah nya, lewat shalat Anin. Insya Allah, kalo Anin jadi anak baik. Allah kabulin do'a Anin, yang meminta adik." ucap Rendra, seraya mengambil alih Anin dari gendongan Al.
Anin pun akhirnya mengangguk, walau dengan tetesan air mata. Dengan berat hati, keluarga Aldo berpamitan pulang karena tidak tega melihat Anin menangis.
"Anin aja yang di tuker tambah obu, biar ga pusing di rumah denger suara cemprengnya." ucap Aby
"Huwaaaaa..... Anin ga mau di tukel tambah, jual aja Aby" teriak Anin menangis
"ABYYYYYY" teriak yang lain, namun yang di panggil nya sudah lari masuk kamar sambil tertawa.
.
"Alhamdulillah, selesai juga ujiannya. hu hu hu... akhirnya untuk sementara waktu aku akan terbebas dari kumpulan huruf dan angka." ucap Dena riang, ia pun merebahkan kepalanya di atas meja. Karena kini mereka tengah berkumpul di kantin, tentunya dengan semua teman sekelasnya.
"Kalian akan lanjut kuliah dimana?" tanya Bastian
"Kampus dekat sekolah ini" jawab Sahin dan Maya
"Apa aku bisa masuk ke sana ya? Aku sudah nyaman berdada di sekitar kalian." tanya Ica
"Bisa, aku yakin bisa. Nilai kalian tidak seburuk itu, sampai harus gagal masuk ke sana." ucap Ita membesarkan hati temannya
"Kamu akan ambil jurusan apa teh?" tanya Rio
"Inginnya sih psikiater" jawab Ita
"Lalu?" tanya Syahid
"Tapi aku juga ingin masuk jurusan hukum." jawab Ita
"Loh, kan di kampus pilihan kita bisa program double degree. Kenapa tidak mencobanya?" ucap Syahid
"Apa aku mampu?" tanya Ita
"Bisa, pasti bisa" jawab Kira, bagaimana tidak bisa. Semua buku sudah di kuasai oleh Ita, hanya tinggal turun di lapangan. Karena teori, sudah ada di luar kepalanya.
Ita mengangguk, mendapatkan dukungan dari calon suaminya menambah semangat untuknya. Kalau begitu ia akan mengambil jurusan kedokteran berbarengan dengan jurusan hukum, semoga ia bisa menyelesaikan masa kuliah ini kurang dari 4 tahun. Dan lanjut mengambil pendidikan spesialis kejiwaan.
"Cocok sih kalo teh Ita ambil kedua jurusan itu, dapet banget feel nya." ucap Bastian dan di setujui yang lain
"Kamu sendiri apa Den?" tanya Ica
"Kalo boleh, aku mah cuma pengen jadi ibu rumah tangga aja. Aku udah ga mau belajar lagi, otakku sudah kelelahan." jawab Dena sekenanya, yang langsung mendapat sentilan dari Sahin
"Ingat, seorang ibu adalah madrasah pertama anak-anaknya. Jadi, kamu pun harus memiliki ilmu sebanyak-banyaknya." ucap Sahin
"Kan udah ada bapaknya yang pinter, emaknya mah cukup ngelahirin sama ngurus aja." ucap Dena, seraya mengusap dahinya dan memanyunkan bibirnya.
"Tapikan...
"Stop, Den... lu siap nikah muda?" tanya Rio
"Siap, nanti habis kelulusan kan mau nikah." jawab Dena dengan polosnya
"HAH?!" semua temannya terkejut
"Bukannya cuma mau lamaran doang? Bukannya lu nolak nikah langsung ya kemaren? Udah kaya orang stress lu kemaren, gegara ga mau di ajak nikah" tanya Ajeng
"Di pikir-pikir, apa yang lo bilang bener juga. Ntar gue mau nyari jodoh dulu tapi buat ayah, biar nanti kalo gue nikah ada yang nemenin doski." jawab Dena enteng
"Alesan lu Den, bilang aja lu ga mau kuliah." celetuk Maya
"Tuh tau" jawab Dena dengan polosnya, setelah sadar apa yang dia katakan. Dena langsung menutup mulutnya, tambah lagi melihat pelototan dari Sahin.
"Iya iya, kuliah" ucap Dena pada akhirnya
'Suer tekewer kewer, gue udah ga mau belajar, hiks. Moga aja bener, nanti langsung di nikah. Terus hamil, jadi kan diem di rumah tuh.' ucap Dena dalam hati
"Banyak ibu hamil yang masih meneruskan kuliah dan cuti di saat dekat masa lahiran." ucap Ica, yang seolah tau apa yang sedang di pikirkan oleh Dena.
"Kalo kalian apa double twin?"
"Kami harus menjadi penerus, pastinya yang berhubungan dengan perusahaan." jawab Kira, mereka mengangguk paham
"Mumpung masih siang, nonton yuk. Sahin traktir" celetuk Dena, Sahin yang sedang asyik meminum jusnya langsung tersedak. Dena langsung menegakkan tubuhnya dan menepuk pelan punggung Sahin, sedangkan Sahin menepuk dadanya sendiri.
"Ck... kalo di traktir mah, siapa yang nolak. Kuy lah" ucap Ajeng semangat.
"Hayu beib" ajak Dena tanpa rasa bersalahnya, twin princess, Ita dan Syahid hanya menunduk menahan tawanya.
Sahin pun akhirnya pasrah, tak apalah. Anggap saja ini sebagai hadiah untuk teman-teman sekelasnya, karena sudah berusaha keras dan juga mau menjadi teman mereka dengan tulus. Tanpa ada niat memanfaatkan mereka
"Ayo"
"ASEEEEEKKKKK, GASKEUN" teriak teman-teman sekelasnya, sehingga menghebohkan suasana kantin.
"Aku traktir kalian makan" ucap Syahid, Ita tersenyum. Dan hal itu membuat teman sekelas, semakin girang tak terkira.
Mereka semua langsung bangun dari duduknya dan segera keluar dari kantin, hendak mengambil tas mereka di kelas.
'Beruntung sekali yang menjadi teman sekelas double twin'
'Kamu benar'
'Itu karena mereka semua, benar-benar tulus berteman dengan penerus Zandra tersebut. Tidak seperti kalian, yang hatinya ingin memanfaatkan.' celetuk seseorang, seraya keluar dari kantin
'Cih, munafik banget. Mang siapa coba yang tidak memanfaatkan kedekatan dengan keluarga Zandra?'
'Banyak, teman sekelas mereka contohnya.'
'Ishhh' si dengki pun berlalu pergi
'Dih, keliatan banget pengen gabung sama kelas double twin'
.
.
"Mau nonton apa kita?" tanya Ica
"Bebas, kesukaan kita pasti beda bukan? Berpencar saja, yang penting nanti setelah nonton kita bertemu di kafe depan mall." jawab Syahid
"Ya sudah, aku bayar lebih dulu ke kasir pembelian tiket. Kalian tinggal pilih, film apa yang ingin kalian tonton" ucap Sahin
Sorak sorai memenuhi loby
...****************...
...Happy Reading allππππ...