Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Rencana Liburan



Beberapa bulan kemudian, kasus Nurma terselesaikan. Nurma pun sudah memulai kuliahnya lagi, ia sadar dari komanya setelah tak sadarkan diri selama sebulan. Berkali-kali, Nurma dan keluarga terus berterimakasih pada double twin dan yang lain. Pak Mun kembali berjualan di depan kampus, seperti biasanya.


Kini mereka sudah melalui ujian semester 2, tak terasa sudah 2 semester mereka lalui.


"Mau kemana kita?" tanya Dika


"Kemana apanya?" tanya Rio


"Liburan semester lah, gimana sih lu?" jawab Dika


"Hai, boleh bergabung?" tanya Reksa yang baru datang


Ita dan para gadis lainnya langsung meluangkan tempat di sebelah Ajeng, membuat Ajeng menatap kesal pada teman-temannya. Bukan kesal tidak suka pada Reksa, namun kesal karena jantungnya tidak aman bila di dekat Reksa.


Dania, Regatha dan Soraya terkekeh, yups... sudah beberapa bulan ini. Mereka menjadi dekat, Syahid dan Sahin yang tau ketulusan mereka. Membiarkan mereka untuk bergabung, dan Reksa dengan terang-terangan mendekati Ajeng. Setelah Dania memberitahukan padanya, bila Ajeng seorang jomblo dan tidak pernah dekat dengan pria manapun.


"Sedang membahas apa kalian?" tanya Soraya membuka pembicaraan


"Rencana berlibur kak, tapi belum tau mau kemana?" jawab Maya


"Libur kita lumayan lama loh, ga nyangka gue kalo libur kuliah akhir semester genap bisa selama ini." celetuk Xelo, mereka pun terkekeh. Memang berbeda dengan semester genap, saat mereka masih di SMA.


"Kalau mau, ke kota kelahiranku saja di Bandung, aku memiliki villa di daerah Dago." saran Reksa, double twin dan yang lain saling tatap.


"Boleh tuh, kita ke Bandung. Adem pasti di sana, villa nya luas? Cukup ga buat nampung kita?" tanya Maya


"Aku rasa cukup, karena villa nya memiliki 3 lantai dan beberapa kamar. Satu kamar bisa di tempati beberapa orang, memang berapa orang yang akan ikut?" jawab Reksa balik bertanya


"Kita semua pastinya, tambah tunangan Maya dan Kira. Terus kak Reksa dan teman-teman kakak." jawab Ita


"Berarti 20 orang ya, aku rasa cukup. Coba sekarang data, ada berapa cowok dan berapa cewek?" Dena segera mengeluarkan bukunya dan mendata dan menghitung


"11 orang cewek, 9 cowok" jawab Dena


"Villa memiliki 7 kamar, 3 di lantai 1 dan 4 di lantai 2. Karena lantai 3, hanya tempat berkumpul dan nongkrong kalo kita mau melihat pemandangan kota Bandung. Dapur, ruang tamu di lantai 1. Ruang keluarga ada di lantai 2, berarti pembagian kamar bisa 3 orang per kamar. Ada 2 orang yang menempati satu kamar buat cewek, gimana? Kalo kalian mau, aku akan meminta penjaga villa untuk membersihkan villa tersebut dan mengisi bahan makanan." ucap Reksa


"Gue sih yess" ucap Rio


"Gue juga oke" ucap Dika


"Gimana bee?" tanya Ita, Syahid mengangguk setuju. Ita pun tersenyum senang, akhirnya mereka sepakat untuk menghabiskan liburan di villa selama 2 minggu. Dan mereka juga akan berangkat 3 hari lagi, tentunya para ciwi yang heboh untuk mempersiapkan apa yang akan di bawa oleh mereka.


"Kita ke mall yuk besok" ajak Dena


"Gaskeun wak, kita cuss dari jam 10 . Kita habiskan waktu untuk keliling mall, siapa yang jaga lilin?" ucap Ajeng seraya bertanya dengan wajah tengilnya, sepertinya ia lupa siapa di sampingnya. Reksa tersenyum melihat tingkah dan ucapan gadis incarannya, sedangkan yang lain menahan senyum mereka.


"Jaga lilin, lu kata mau ngepet. Tapi, kalo lu yang jadi celengnya ga papa sih Jeng. Gue aja yang jaga lilin, pas lilin goyang. Gue ikut goyang, sambil setel lagu goyang dumang." jawab Agatha menaik turunkan alisnya


"Si anjirrr... gue keburu di gebugin warga kalo lu ikut goyang, duit belum dapet. Yang ada babak belur badan gue, nggak ah... lu aja yang keliling, gue jaga lilin." ucap Ajeng


Mereka pun tertawa, ada-ada aja memang.


"Boleh dong kak, makin banyak malah makin rame. Jadi pas si Ajeng ntar udah mau di gebugin, kita bisa bawa si Ajeng lari." ucap Ica yang masih nyambung dengan pembahasan tadi, kembali tawa mereka pecah.


Ajeng memanyunkan bibirnya, salah umpan dia.


"Jeng, kamu ada waktu nggak? Aku ingin berbicara sesuatu sama kamu?" tanya Reksa to the point, di depan teman-temannya.


"Anjiiirrr.... pepeeeeet terrooosss baaaaang." Dika tertawa


"Sikat Jeng, mumpung mata kak Reksa masih kelilipan sama pelet lo." Rio, mereka kembali tertawa. Apalagi Dania, Soraya dan Regatha, mereka sejak tadi memegang perut mereka mendengar pembahasan unfaedah ini. Benar-benar, berkumpul dengan mereka. Bisa membuatnya awet muda secara alami, karena terlalu banyak tertawa.


Seumur hidup mereka, belum pernah mereka bisa tertawa selepas ini. Walau terlahir dari keluarga kaya, tidak menjadi jaminan untuk bisa bahagia.


"Bac*t lu Yo, mau gue catok apa gue jait?" Ajeng kesal, namun saat tangannya yang ada di bawah meja ada yang memegang. Ia mendadak kaku, tubuhnya terasa tidak bisa bergerak. Dengan susah payah, ia mencoba menelan salivanya.


'Apa-apaan ini cok, jantung gue ga aman. Badan gue langsung nge freez gini, kak Reksa ga denger debaran drum gue kan ya? Ya Allah, yakin banget ini mah, di dada gue udah ngadain konser qasidahan.' ucap Ajeng dalam hati, Syahid dan Sahin menahan tawa mereka saat melihat reaksi dan mendengar suara hati Ajeng.


"Gimana? Bisa nggak?" tanya Reksa mendesak Ajeng, dengan gerakan kaku. Ajeng menoleh pada Reksa dan mengangguk pelan.


"Lu kenapa Jeng? Udah kaya robot gedeg, kaku bener badan lo." celetuk Xelo, semakin memerahlah wajah Ajeng


"Udah ih, jangan di goda terus Ajeng nya. Kalian kalo ada yang mau di bicarain, sana aja. Kita tunggu kalian di sini, sekalian pesen makan." ucap Ita


Reksa tersenyum dan mengangguk, ia bangun dan menarik tangan Ajeng pelan.


"Anjaaayyy... gandeng bang, awas lepas. Ntar malah ketauan sama penjaga kebun binatang, umpetin si Ajeng." teriak Dika, tawa kembali pecah, Ajeng berbalik. Ia mengambil kotak tisu di atas meja dan melemparnya pada Dika dan mengenai keningnya.


PLETAK


"AAASS**" teriak Dika seraya mengusap keningnya yang sakit, meja mereka semakin ramai. Banyak mahasiswa/mahasiswi yang merasa iri dengan kedekatan itu, tambah lagi dengan bergabungnya Reksa dkk.


"Ya ampun Dik, suaranya merdu banget itu loh." ucap Soraya


"Ck, merdu... merdu... kakak pikir kepala aku Gamelan apa?" gerutu Dika, Soraya cekikikan.


Sumpah demi apapun, ia benar-benar tak habis pikir dengan mereka. Bagaimana bisa, mulut mereka senyablak ini? Tapi otak mereka, juga tidak bisa di sepelekan. Random banget emang🤣🤣


Reksa membawa Ajeng ke taman yang tidak jauh dari kantin, mereka kini duduk saling bersisian. Tangan Ajeng sudah basah karena berkeringat, saking gugupnya.


"Jeng...


...****************...


Ga Ada double ya, ga ada tabungan sama sekali😁😁


Tapi, jangan sampe ga di senggol 🤭


...Happy Reading all💞💞💞...