
Kini double twin dan Ita, tengah di perjalanan ke Rumah Sakit. Mereka berangkat menggunakan 1 mobil Toyota Alphard, Ita yang duduk di samping pengemudi yaitu Syahid. Sedang asyik menatap ke arah luar jendela, ia melihat lalu lalang kendaraan dan juga orang-orang yang sedang berjalan di trotoar.
"Teh, apa teteh sudah lebih baik?" tanya Kira yang duduk bersama Maya dan Rama di kursi tengah, Sahin memilih duduk di kursi belakang, karena ingin memejamkan matanya sebentar.
"Hmm... Alhamdulillah, walau sulit beradaptasi. Tapi, aku harap dengan kemampuan yang Allah beri ini. Kita bisa menolong atau meminimalisir, orang-orang yang akan terkena bencana atau apapun nanti." jawab Ita menoleh ke belakang
"Aamiin" jawab mereka
"Kakak tantik, apa kita matih lama tampena?" tanya Rama yang anteng duduk sembari makan ciki di antara Maya dan Kira, Ita tersenyum dan kini bukan hanya menoleh. Namun, sedikit memutar tubuhnya ke belakang.
"Masih 1 harian lagi, gimana dong? Cape nggak?" jawab Ita seraya bertanya
"Inda tape, tapi satu halian itu lamatah?" tanya Rama lagi, Maya dan Kira tertawa. Syahid tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ternyata kekasihnya iseng juga.
"Sebentar lagi ko sayang, waduh ko celemongan gitu makan cikinya. Kakak ambil tisu dulu..." Ita pun kembali menghadap ke depan, hendak mengambil tisu basah. Kebetulan baru saja lampu lalu lintas berganti merah, saat Ita hendak mengambil tisu.
"Kok, kak Ita di panggil kakak cantik tapi kak Kira nggak?" protes Kira
"Kakak duga tantik, tantik temuana" jawab Rama, Kira dan Maya tertawa. Tapi, tawa mereka terhenti saat melihat Ita.
DEG
DEG
Ita terkejut karena di samping mobil, ada seseorang yang menggunakan motor. Ita terdiam mematung, dengan tangan yang masih terangkat. Syahid dan yang lainnya kebingungan melihat Ita, karena tatapan Ita terus tertuju ke samping. Ya, Ita hapal dengan punggung tangan yang kini sedang memegang stang motor tersebut.
Tubuh Ita kini bergetar, saat melihat si pengendara melepas helm. Hendak membenahi rambut dan mengelap keringatnya.
"Sayang, ada apa?" tanya Syahid cemas, ia lalu memegang tangan Ita dan menurunkannya. Ita terkejut dan tersadar, ia menatap mata Syahid dengan tatapan berkaca-kaca.
"Hei, kenapa hmm?" tanya Syahid
"Bee, dia..." Ita mengalihkan tatapanya dan menunjuk ke arah jendela mobil, sehingga Syahid dan double princess menatap ke arah yang di tunjuk Ita.
"Dia... dia adalah pelaku pembakaran rusun itu, bee" lanjut Ita dengan nafas tak beraturan, dan suara yang bergetar.
Serentak Syahid, Maya dan Kira menegakkan tubuh karena terkejut. Mereka pun menatap dengan sangat fokus pada wajah si pelaku.
"Apa kamu yakin teh?" tanya Maya, Ita mengangguk. Syahid menarik tubuh Ita ke dalam pelukannya, terasa bila Ita ketakutan.
"Lihat dan hapalkan plat nomornya May" titah Syahid
"Apa ga kita kejar aja." jawab Kira
"Bukan tidak mau, tapi kondisi Ita seperti ini." ucap Syahid, Ita menggelengkan kepalanya.
"Kita ikuti bee, kita nggak tau kapan bisa bertemu dengannya lagi." ucap Ita seraya melepas pelukannya
"Kamu yakin?" Ita menganggukkan kepalanya
"Baiklah" Syahid menjalankan mobilnya dan mengikuti motor tersebut.
"Beri jarak Hid, agar dia tidak curiga bila sedang kita ikuti." ucap Maya
"Kemana dia? Bukankah ini arah ke pinggiran kota?" tanya Kira saat melihat kiri kanan jalan. Tak lama Sahin terbangun, ia pun merenggangkan tubuhnya.
"Tadi teh Ita melihat pelaku pembakaran rusun Hin, kini kita sedang mengikutinya." jawab Kira, Sahin langsung mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Yang mana?" tanya nya
"Itu, motor sport hitam di depan itu." jawab Maya
"Serius ini?" tanya Sahin
"Menurutmu?" tanya balik Syahid, seraya menggerakkan dagunya kepada Ita.
Sahin melihat Ita dari kaca spion depan, terlihat pucat dan juga takut.
"Lalu apa yang akan kita lakukan? Menangkapnya pun kita tak bisa, karena kita tidak memiliki bukti." tanya Sahin
"Kita cukup tau tempat tinggalnya saja lebih dulu atau kemana dia sekarang, masalah bukti itu bisa kita cari atau kita buat. Semoga Lucky dan Bastian sudah siuman, agar mereka bisa memberikan kesaksian." jawan Syahid, Sahin mengangguk paham.
"Hei, dia masuk gang kecil. Mobil kita tidak akan bisa masuk." ucap Kira
"Biar aku yang turun" ucap Sahin, seraya turun dari mobil
"Ikut" Maya pun turun dari mobil
Kira tidak bisa ikut, walau sangat ingin. Karena harus menjaga Rama, yang kini tertidur di pangkuannya. Sedangakn Syahid tak bisa meninggalkan Ita, karena Ita masih terlihat ketakutan.
"Sayang, semua akan baik-baik saja. Kita pasti bisa menangkap, dan mengadilinya. Bila tidak bisa secara hukum negara, maka cukup anak buah obu Hasimoto yang menghukum mereka." ucap Syahid, lanjutnya dalam hati.
"Bee, aku... aku mendengar jerit kesakitan para korban. Mereka berteriak meminta tolong, hiks. Tapi dia.... dia malah tersenyum, terlihat bila ia sangat menikmati hal itu. Dia terlihat menyukai, jeritan itu. hiks... Dia dia berkata 'Berteriaklah, aku menyukainya. Aku baikkan, aku membantu kalian keluar dari kesusahan ini' hiks... Kenapa dia bisa sejahat itu bee? Di sana sangat banyak anak-anak kecil, bahkan tangisan bayi yang baru beberapa bulan dan juga beberapa lansia." ucap Ita, ia pun menutup kedua telinganya dan menangis dengan suara tertahan. Seolah teriakan itu, ada di sampingnya.
DEG
Kira dan Syahid yang mendengarnya terkejut, Syahid langsung menarik Ita ke dalam pelukannya. Ita memegang erat pakaian bagian depan Syahid, ia pun menenggelamkan wajahnya pada dada Syahid. Kira mengepalkan kedua tangannya, nafasnya terlihat tak beraturan karena menahan amarah.
Kira memalingkan wajahnya menghadap jendela, saat Syahid menatap dirinya dari kaca spion. Syahid bisa mendengar isi hati Kira yang ingin memb*nuh pelaku itu dengan tangannya sendiri.
"Jangan kotori tanganmu, hanya untuk membalas kejahatannya." ucap Syahid dengan suara tegas
"Cih" Kira berdecih, ia juga tau hal itu. Ia hanya ingin, bukan akan. Seandainya memb*nuh bukanlah dosa besar, sudah di pastikan banyak sekali orang-orang yang ingin ia habisi.
ceklek
Pintu mobil terbuka, masuklah Sahin dan juga Maya.
"Bagaimana?" tanya Kira dengan suara dingin, tanpa menoleh. Karena wajahnya kini terlihat sangat merah, menahan amarah. Maya dan Sahin saling tatap, lalu melihat ke kaca spion untuk meminta jawaban pada Syahid. Syahid hanya menggelengkan kepalanya, namun Sahin mendengar jangan bertanya untuk saat ini.
"Sepertinya itu memang rumahnya, dia terlihat baik. Hubungannya dengan tetangga sekitar juga, terlihat sangat baik." jawab Sahin
"Tak ada yang bisa kita curigai sama sekali, bila hanya melihat luar rumahnya saja. Semua tampak biasa saja, bahkan banyak tanaman di teras rumahnya" sambung Maya
...****************...
...Happy Reading allπππ
...