Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Berkumpul kembali



"Bagaimana perasaanmu saat ini?' tanya Afwa, Aldo yang sedang mengancingkan kemeja di lengannya pun menatap Afwa dan tersenyum.


"Well... sudah lebih baik" jawab Aldo


Setelah membuat Januar babak belur tadi, Rendra menyuruh Aldo membersihkan tubuhnya di ruangan yang memang khusus di sediakan di sana. Bahkan kini Aldo menggunakan kemeja milik Afwi, karena baju mereka seukuran.


"Aku ingin bertemu dengan istri dan keempat anakku, aku merindukan mereka." lanjut Aldo


Rendra, Afwa dan Afwi mengangguk.


"Kondisi sudah aman, kalian sudah bisa kembali ke kediaman kalian." jawab Afwi


Mereka pun bergegas keluar dari markas dan hendak bertemu dengan kekasih hati mereka masing-masing, apalagi Rendra. Yumi tadi menghubunginya, bila ia sudah ada di kantornya. Afwa dan Afwi akan kembali ke kantor tentunya, karena masih banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan.


.


.


"Tata Anin, danan ate itu. utan utan di titu" ucap Mario yang menegur Anin, karena Anin yang salah memasangkan rakitan mobil


Anin yang memang tidak mengerti dengan mainan rakit merakit, hanya bisa menghembuskan nafasnya.


"Lalu kakak halus pasang yang mana? Kenapa di sini tidak ada boneka? Anin tidak mengerti main ini." tanya Anin, seraya mengeluh


Sedangkan orang-orang yang ada di sana terkikik geli, melihat wajah Anin yang frustasi. Bukan Aby tidak mau menemani Mario, tapi Mario yang hanya ingin bermain dengan Anin. Sehingga Aby memilih main lego sendiri, terkadang Meriam ikut memasang satu atau dua buah lego.


Salma, Sherina dan Meita masih berada di dapur membuat kue.


"Yang ini dek, yang kamu pasang itu untuk rakitan pesawat." Aby memberikan yang seharusnya pada Anin


"Nah.. tu" ucap Mario setuju


"Malio main sama kakak Aby aja ya, kakak Anin nantuk." ucap Anin, sejak tadi Anin memang menguap.


Waktu memang menunjukkan pukul 2 siang lebih sedikit, dan itu lebih dari jadwal Anin tidur siang.


"Tata natuk? Yu.. bobo, yu" Mario bangun dari duduknya dan menarik tangan Anin untuk ke kamar. Namun Anin menolak, ia memilih merebahkan tubuhnya di atas karpet.


"Anin mengantuk sayang, kakak buatkan susu ya." ucap Meisa


"Iya kak, Anin menantuk. Hoaamm" Nampaknya mata Anin benar-benar tidak bisa di ajak kerjasama


"Dek, kakak Anin mau bobo di sini katanya, adek mau bikin susu juga nggak?" Mario mengangguk antusias, ia pun ikut berbaring di sebelah Anin.


Anin yang melihat Mario berbaring di sebelahnya, mem puk puk pantat Mario pelan. Anin yang matanya benar-benar sudah mengantuk, hampir saja tertidur. Sampai Meisa datang dan memberikan susunya, Anin dan Mario segera meminumnya sampai habis. Anin kini minum susunya sudah tidak pakai dot ya...


Setelah meminum susu, mereka kembali berbaring. Meisa ikut duduk di sebelah Mario dan mem puk puk pantat sang adik, hanya itungan detik mereka sudah terlelap.


"Menggemaskan sekali kalian." ucap Meisa tersenyum


"Menggemaskan apanya? Yang ada telingaku berdengung, setiap kali mendengar suara cemprengnya." gumam Aby, yang masih terdengar oleh Meriam.


"Nanti kalau sudah besar, pasti kamu akan merasakan rindu pada suara cemprengnya." ucap Meriam tertawa


"Mana mungkin" jawab Aby


"Tidak percaya, tunggu saja nanti. Kamu akan merindukan momen-momen, dimana kamu tidak akan bisa mengulangnya lagi." ucap Meriam yang kembali fokus pada bukunya, Aby hanya menjawabnya dengan mencebikkan bibirnya


'Mana mungkin aku merindukan si cempreng' ucapnya dalam hati


Terdengar suara bel, Meisa yang tengah menonton langsung bangun dari duduknya.


"PAPA" teriak Meisa yang langsung memeluk tubuh sang papa


"Papa juga rindu, dimana mama dan adikmu?" Meisa melerai pelukannya dan menarik tangan sang papa agar masuk ke dalam.


Meriam yang sedang fokus, melihat ada yang berjalan mendekat dari ekor matanya pun menurunkan bukunya.


"PAPA" teriaknya, untung Mario dan Anin tidak terganggu sama sekali. Namun, Meita yang mendengar kakaknya berteriak menyebut papa. Ia meletakkan cookies yang sedang ia pindahkan ke dalam toples, lalu melepaskan apronnya dan berlari ke arah pria yang ia rindukan.


"PAPA" Meita memeluk sang papa dari sisi yang lain, karena sisi lainnya ada Meriam.


"Kalian merindukan papa ternyata, papa kira kalian lupa pada papa." goda Aldo


"Ck, mana mungkin kami melupakan papa. Papa kemana saja? Kami di kurung di sini." jawab Meita


"Husss... yang bener kita sedang di lindungi, bukannya berterima kasih." tegur Meisa


"Iya maaf" ucap Meita memanyunkan bibirnya


"Sayang, kamu sudah pulang?" Salma berjalan mendekati sang suami dan langsung memeluknya, Aldo sangat bahagia melihat keluarganya sehat tanpa ada luka apapun. Tanpa terasa air matanya menetes, ia tak bisa membayangkan bila seandainya keluarga Zandra tidak menolongnya.


Mungkin senyuman dari orang-orang tercintanya, yang kini ada bersamanya. Tidak akan pernah ia lihat lagi, untuk selamanya.


Salma yang melihat sang suami meneteskan air matanya, mengerti dengan apa yang di rasakan. Ia juga tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi pada suaminya. Bila seandainya benar, dia dan anak-anaknya telah tiada.


"Kenapa papa menangis?" tanya Meisa dengan suara bergetar, Aldo tersenyum dan menghapus air matanya.


"Tidak apa-apa, papa hanya bahagia. Kita bisa berkumpul lagi seperti ini, papa mencintai kalian semua." jawab Aldo


Sherina yang menyaksikan keharmonisan keluarga tersebut dari jauh, tersenyum penuh haru. Kemampuan Ita sungguh luar biasa, ia bisa menyelamatkan 1 keluarga dari kematian dan kehancuran.


"Papa sudah makan?" tanya Salma, Aldo menggelengkan kepalanya. Ia memang lebih fokus pada Januar, sehingga ia tak merasakan bila cacing di perutnya memberontak minta di isi.


"Kalau begitu mama siapkan dulu makan untuk papa, papa tunggulah di ruang makan. Oh ya, di sini ada cucu menantu tuan besar dan juga kedua anaknya." Salma pun menarik Aldo ke dapur dan memperkenalkan Sherina pada suaminya. Mereka berkenalan, Aldo merasa tersanjung karena mereka mau mengunjungi keluarganya.


Sherina tentu saja merasa malu, ia hanya menuruti keinginan kedua anaknya yang ingin bertemu dengan Mario. Lagipula, ia juga menyukai bocah aktif tersebut.


Sherina memilih untuk bergabung dengan empat anak Aldo dan Salma, memberikan ruang untuk pasangan suami istri tersebut.


"Anin tertidur dari kapan?" tanya Sherina pada Meisa


"Setelah selesai meminum susunya kak" jawab Meisa


"Maafkan kakak ya, malah jadi merepotkan mu untuk mengasuhnya." ucap Sherina


"Anin sama sekali tidak merepotkan kok kak, justru ia yang di buat repot oleh Mario." ucap Meisa tersenyum


"Anin cantik, Meisa tidak ada bosan-bosannya melihat wajah Anin." lanjutnya, Sherina tersenyum


"Semua keturunan Zandra tidak ada yang zonk, kau tau itu?" celetuk Sherina, Meisa tertawa. Namun ia menyetujui ucapan Sherina, keturunan Zandra memang tidak ada yang gagal. Termasuk twin prince, sayang mereka sudah ada pawangnya.


"Termasuk Aby, iyakan bun" celetuk Aby seraya tangannya yang fokus melanjutkan merakit mainan Mario


"Tentu saja, Aby tampan. Seandainya kamu seusia kakak, mungkin kakak sudah mengejar-ngejarmu." jawab Meisa yang langsung membuat Aby besar kepala, Aby menegakkan tubuhnya dan menyugar rambutnya ke belakang.


Sherina dan yang lain tertawa, melihat ke narsisan Aby. Menyebalkan, tapi memang tampan. Gimana dong?


...****************...


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...


Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ