Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Pak Mun tak Sadarkan Diri



"Tenang? Anda bilang tenang pada saya? Bagaimana saya bisa tenang, saya sedang kehilangan putri saya dan rekan anda malah merendahkan putri saya? Bila anda ada di posisi saya, apa anda bisa tenang?" jawab pak Mun yang belum bisa mengendalikan amarahnya


Petugas itu langsung menatap petugas yang adu mulut dengan pak Mun, ia memang tidak suka dengannya. Karena pekerjaannya memang tidak ada yang beres, hanya karena orang dalam. Jadi... apa mau di kata


Akhirnya pak Mun di urus oleh anggota petugas yang menenangkannya, tapi mau bagaimana pun ia memohon. Prosedur pencarian orang hilang tetap harus menunggu 2x24 jam. Pak Mun benar-benar tak habis pikir, bagaimana bila dalam waktu 2 hari itu. Terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, pada putrinya. Pak Mun menyandarkan punggung ke sandaran kursi, ia merasa sangat lelah dan ingin menangis. Petugas polisi yang kini duduk di hadapannya, paham dengan apa yang di rasakan pak Mun.


"Kalau begitu, saya pamit pak. Terima kasih atas waktunya" ucap pak Mun pasrah


Saat ia hendak keluar kantor polisi, anggota polisi yang pertama menangani dia. Menatap dan tersenyum mengejek pada pak Mun, rasa marah yang sudah turun harus kembali naik. Pak Mun berjalan, menghampiri orang itu dan berhenti tepat di depan meja.


"Demi Tuhan, saya benar-benar sakit hati dengan apa yang sudah anda ucapkan dan juga perilaku anda. Saya mendo'akan, semoga apa yang menimpa saya dan juga putri saya, akan terjadi padamu kelak. Bahkan lebbbih, dari apa yang saya rasakan." setelah mengatakan itu, pak Mun keluar dari kantor polisi.


FLASHBACK OFF


"Saya... saya tidak tau sejak kapan tepatnya, saya kini bisa melihat dan bahkan berkomunikasi dengan para roh halus." ucap Ita pelan, ia menundukkan kepalanya. Karena tak tega, melihat wajah keriput yang sangat lelah dan juga sedih di hadapannya.


"Jadi... kamu... jadi kamu mau bilang, kalau roh putri bapak saat ini ada di sini?" tanya pak Mun dengan nada suara yang berat dan juga terasa sesak untuk mengatakannya, Ita terdiam. Tak lama, ia pun menganggukkan kepalanya pelan.


JEDDEERR


GUBRAK


"PAK MUUNN" teriak mereka bertiga, Ita sudah menangis sesenggukkan. Ia merasa bersalah, bila tau akan seperti ini. Ia lebih memilih diam, tapi ia juga tidak tega bila harus membiarkan pak Mun terus-terusan mencari sang putri. Sedangkan putrinya kini sudah menjadi hantu gentayangan, dan rohnya juga memintanya untuk pergi ke kamarnya.


"TOLOOONG" teriak Agatha


"Ada apa ini? Sayang, kamu kenapa?" tanya Syahid yang baru saja tiba, ia yang baru keluar dari kelas. Tak melihat Ita di tempat biasa, ia pun mencari Ita ke kantin. Namun ia tak menemukannya, saat keluar kampus. Ia mendengar suara teriakan minta tolong, dengan tergesa ia berjalan menghampiri. Yang ternyata Ita ada di sana, dengan kedua pipinya yang sudah basah.


Maya, Kira dan Sahin pun menyusul di belakang. Mereka sempat berhenti, saat melihat ada sosok lain di sana.


"Kenapa sama mang seblak?" tanya Maya


"Kita bawa dulu ke rumah sakit, denyut nadinya melemah." ucap Syahid


"Aku ambil mobil dahulu" Sahin bergegas kembali ke kampus, untuk mengambil mobil


"Ya Allah Gusti, pak Mun. Kenapa pak Mun neng?" tanya penjaga keamanan kampus yang baru kembali dari toilet, tentu saja ia mengenal dekat dengan pak Mun. Selain rumahnya berdekatan, ia juga yang memintakan ijin pada pihak kampus, agar pak Mun di ijinkan berjualan di depan kampus.


"Maaf pak, bantu saya bawa bapak ini ke mobil. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit, penjelasannya bisa nanti. Dan tolong bapak ijin ke pihak kampus, agar bisa ikut ke rumah sakit." pinta Syahid dengan sopan


"Oh iya iya, ayo bapak bantu." jawab pak Sarif, seraya meletakkan kedua tangannya di bawah tubuh pak Mun.


"Biar gue aja yang bilang sama pihak kampus Hid" ucap Maya, Syahid mengangguk


Maya segera bergegas ke ruangan dekan, untuk memintakan ijin pak Sarif. Setelah mendapatkan jawaban, Maya pun kembali ke depan.


Tubuh pak Mun yang memang kurus, memudahkan mereka berdua mengangkat tubuhnya ke mobil.


"Udah teh, jangan nangis lagi. Kita susul aja mereka, yuk ikut mobil aku." ucap Agatha, ia benar-benar tidak tega melihat Ita yang menangis sampai sesenggukkan seperti itu. Ita tak bisa menjawab, karena merasa sesak. Ita hanya mengangguk, Maya dan Kira memapah Ita. Ingin bertanya, tapi mereka urungkan karena melihat kondisi Ita.


"Sayang kamu ikut dulu dengan Agatha ya, aku dan Sahin akan membawa beliau ke rumah sakit terlebih dahulu." Ita mengangguk


"Hei, jangan menangis lagi. Lihat matamu sudah bengkak, nanti kamu sesak lagi. Segera susul ya" Syahid mensejajarkan wajahnya dengan Ita, ia pun menghapus air mata yang membasahi pipinya. Lagi-lagi, Ita hanya menjawabnya dengan mengangguk.


Syahid mengusap kepala Ita dan masuk ke dalam mobil, Sahin segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Tentu saja adegan itu membuat yang melihatnya meleleh dan baper, sampai ada yang menepuk-nepuk dadanya saking tidak kuat melihat adegan romantis tersebut.


'Ya Allah, sesek woyy.'


'Terus, lu mau ngapain sekarang?'


'Gue mau ke kantin, minta kopi tanpa gula'


Tawa mereka pun pecah..


'Si Syahid ma teh Ita masih sempet-sempetnya romatisan, ya Allah Gusti.' bisik Agatha mengusap dadanya pelan


'Hahahha.. sabar, cepetan cari gebetan Tha' jawab Lia ikut berbisik


'Lu kata nyari laki, kaya beli jagung di pinggir jalan. 10 rebu dapet 3, iyalah tau yang udah dapet pasangan mah.'


BLUSH


"Apaan sih Tha, udah hayu ah." ucap Lia mendahului langkahnya


"Anjiirr...blushing si eta." Agatha tertawa, membuat Ita, Kira dan Maya bingung.


"Apa sih?" tanya Kira


"Udah hayulah, susul dulu ke rumah sakit. Nanti gue ceritain di mobil" jawab Agatha


.


"Cerita lo" ucap Maya


"Et dah, baru juga masuk ini bajigur." jawab Agatha, ia dan yang lain memasang sabuk pengaman. Setelah siap. Agatha pun menjalankan mobilnya.


"Jadi si Lia kira kita nggak tau, kalo dia lagi deket sama Bastian" ucap Agatha memulai pembicaraan


Semakin blushing lah Lia, ia kira tak ada yang tau.


"Elah Li, udah tau kita mah. Kita juga liat pas lu pegangan tangan sama si Bastian di mall, kapan hari itu." ucap Maya


Tawa mereka pecah, saat melihat wajah Lia semakin matang. Ita yang tadinya menangis pun ikut tertawa, walau tidak selepass yang lain.


"BTW.... tadi yang pingsan kang seblak, kenapa teteh yang nangis?" tanya Kira


Agatha pun menceritakan apa yang terjadi tadi, terus alasan pak Mun tak sadarkan diri.


"Udah sih kak, jangan sedih. Mau nanti ataupun sekarang di kasih taunya, kejadian ini pasti terjadi juga. Mungkin pak Mun terkejut dengan apa yang ia dengar, tambah lagi tidak terima dengan kepergian putrinya. Terus sekarang, jenazah putrinya juga belum di temukan." ucap Kira menenangkan Ita


Ita pun mengatakan bila gadis itu bernama Nurma, ia meminta untuk dirinya ke rumah dan mencari buku diary nya di kamar. Ita menjelaskan semuanya, semua yang di katakan oleh Nurma.


"Kalau begitu kita nanti ke rumahnya aja, sekalian minta anter sama security yang tadi ikut nganter ke rumah sakit. Kayanya beliau tau dimana rumah pak Mun, kita juga kabari keluarganya kalau pak Mun masuk rumah sakit dan minta ijin buat masuk ke dalam kamarnya." saran Lia


"Oleh uga, setuju aku." jawab Maya


"Ya udah, sekarang kita ke rumah sakit dulu aja." ucap Ita


...****************...


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...


Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ