
"Ada apa ini ma? Kenapa Rudi bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya sang ayah yang baru saja tiba
"Itu... ibu juga ga tau yah, tiba-tiba Axel datang dengan wajah marahnya. Begitu melihat Rudi, ia langsung lari dan memukulinya. Ibu yakin, Rudi pasti sudah membuat kesalahan fatal. Sehingga membuat Axel bisa semarah itu, padahal kita tau bila Axel adalah anak yang tenang. Apa yang sudah Rudi perbuat yah? Ibu khawatir bila keluarganya melaporkan Rudi ke kantor polisi." jawab Romlah, ia sama sekali tak menyalahkan Axel, ia sangat tau bagaimana sifat Axel.
Mereka hidup bertetangga sudah bertahun-tahun, sehingga tentu saja tau bagaimana watak dan juga sifat dari Axel, anak dari tetangganya.
Putranya dan juga Axel berteman semenjak mereka masih di taman kanak-kanak, Axel merupakan anak yang paling tenang di antara teman-temannya yang lain. Rasanya, Romlah tak pernah sekalipun melihat Axel semarah tadi. Axel benar-benar menakutkan tadi dan ia juga belum pernah melihat Axel menangis seperti itu, Romlah tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Tadi Axel berteriak, menyebut adiknya yah. Apa mungkin Rudi sudah melakukan hal di luar batas pada Lia?" tanya Romlah panik
"Ayah tidak tau bu, ingin menanyakan hal ini pada keluarga Chris. Rasanya ayah merasa malu, jangan-jangan apa yang ibu katakan benar." jawab Budi
"Rudi bagaimana?" tanya Budi
"Dia masih ada di dalam yah, masih di periksa dokter." jawab Romlah, banyak yang ia khawatirkan. Mengenai kondisi putranya dan juga alasan Axel semarah itu.
Apa yang di rasakan Romlah, itu juga di rasakan oleh Budi. Keluarga Chris, merupakan keluarga yang sangat baik. Sehingga menurun pada anak-anaknya, baik Axel maupun Lia. Mereka mempunyai attitude yang sangat patut di contoh, padahal mereka termasuk keluarga terpandang di daerahnya. Namun, tak sekalipun bersikap sombong atau merendahkan orang lain.
.
"Bang, istighfar bang. Sebaiknya kita segera ke rumah sakit. Ayah abang tadi tak sadarkan diri, kasian tante." ucap Sahin, mereka masih ada di kamar Rudi.
DEG
"A ayah, baiklah, ayo kita ke rumah sakit." ucap Axel yang langsung panik
Mereka pun keluar dan naik kendaraan mereka masing-masing, Axel sudah terlebih dahulu melajukan mobilnya. Saat Sahin hendak menjalankan motor, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Assalamu'alaikum yah" ternyata yang menghubunginya adalah Abi sang ayah.
'Wa'alaikum salam, dek. Tadi ada yang menghubungi ayah, dia bilang bila dia diminta untuk menghubungi ayah karena motornya di bawa olehmu.' jawab Abi
"Itu benar ayah, aku tadi meminjam motornya karena harus mengejar seseorang. Dia mengatakan apa? Apa ia meminta uang untuk ganti motornya?" ucap Sahin
'Tidak, ia bilang akan menunggumu sampai kembali ke rumah sakit. Tadinya ingin menghubungimu, tapi ia tak memiliki nomer mu. Karena kartu yang kamu berikan kartu nama ayah, kamu tidak bawa kartu nama sendiri?' jawab Abi
" Tidak bawa... Baiklah yah, Sahin akan kembali ke rumah sakit." ucap Sahin
'Tunggu, kenapa kamu bisa ada di rumah sakit. Apa yang terjadi? Saudara dan saudarimu baik-baik saja kan?' tanya Abi
"Alhamdulillah kami semua baik ayah, hanya ada masalah dengan teman sekelas kami. Sahin meminta nomer yang menghubungi ayah, biar Sahin nanti yang menghubunginya." jawab Sahin
'Syukurlah kalo yang lain baik-baik saja dan semoga masalah temanmu segera teratasi dengan baik. Nanti ayah akan mengirimkan nomer orang itu, kalau begitu ayah kembali bekerja. Assalamu'alaikum'
"Wa'alaikumsalam yah, jangan terlalu sibuk."
'Ya'
Panggilan pun selesai, Sahin memakai helm dan segera berlalu pergi.
.
.
"Bagaimana kondisi ayah, bu?" tanya Axel dengan nafas tersengal, karena berlari.
"Ayah sedang istirahat, dokter bilang ayahmu mengalami peningkatan denyut jantung dan tekanan darah secara signifikan. Ada sesuatu yang membuatnya terkejut dan juga tekanan pada jantungnya, apa sebenarnya yang sudah terjadi bang? Apa yang sudah terjadi pada adikmu, sampai penyakit jantung ayahmu kembali kambuh? Apa itu sesuatu hal yang fatal, sampai adikmu pun berniat mengh*bisi nyawanya 2 kali? Katakan pada ibu bang, apa yang sudah di alami adikmu?" jawab Ami, dengan memberikan pertanyaan beruntun pada Axel.
Axel menuntun sang ibu, untuk duduk di kursi yang tersedia di sana.
"Bagaimana kabar Lia?" tanya Axel
"Lia sudah di pindahkan ke ruangan lain bang, tapi belum ada yang boleh menjenguknya. Lia belum sadarkan diri, Lia... dia di bawa ke ruang ICU." jawab Dira sendu
Axel menghembuskan nafasnya kasar, benar apa kata Sahin. Bila sampai tadi ia memukuli Rudi samapi t*was, sudah pasti kondisi keluarganya akan hancur. Ayahnya yang ikut tumbang, Lia yang belum sadarkan diri, dan bila benar di tambah dengan dirinya yang harus masuk penjara. Entah apa yang akan terjadi pada sang ibu..
"Bu, abang akan menceritakan apa yang terjadi pada Lia. Tapi, Axel mohon ibu untuk tenang. Karena tadi, Axel sudah menghajar orang yang sudah membuat Lia seperti ini. Ibu bisa tenang kan? Cukup Lia dan ayah yang tak sadarkan diri, jangan sampai ibu juga mengalami hal yang sama. Axel membutuhkan ibu, Axel membutuhkan penguat bu." pinta Axel, Ami mengangguk
Sebelum berbicara, Axel menatap Syahid dan yang lain. Saat menatap Kira, Axel merasa jantungnya tiba-tiba berdebar. Kira yang merasa di perhatikan pun, langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain.
'Cih' Syahid berdecih dan menatap Axel kesal
"Lia mengalami pel*cehan bu" ucap Axel
DEG
Bukan hanya Ami, Dira dan Rio juga terkejut bukan main.
"Pe pel*cehan?"Ami menutup kedua matanya, mencoba menetralisir keterkejutannya.
"Bu?" tanya Axel khawatir, ia menarik tubuh ibunya ke dalam pelukan.
"Apa... hiks, apa adikmu telah kehilangan.."
"Tidak bu, Alhamdulillah Lia masih bisa menjaganya. Ia melakukan perlawanan di detik-detik terakhir, saat b*jingan itu hendak melakukannya." potong Axel, terdengar helaan lega dari Ami. Namun, ia juga tetap tidak tenang. Karena kondisi putrinya sekarang, sangat memprihatinkan.
Ternyata ia benar-benar harus membawa Lia ke psikiater, traumanya akan sangat mengganggu keseharian Lia.
"Siapa b*jingan itu bang, siapa yang sudah membuat putri ibu jadi seperti ini?" tanya Ami
Berat rasanya mengatakan nama pelaku, namun bagaimana juga ibunya harus tetap tau.
"Rudi" jawab Axel singkat
Ami langsung melepas pelukan tersebut, ia menatap tajam pada Axel.
"Rudi anak Romlah dan Budi? Rudi tetangga kita? Rudi teman main mu?" tanya Ami memastikan, Axel hanya menjawabnya dengan anggukan.
Tes
Air matanya kembali terjun bebas, bagaimana bisa. Anak lelaki yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri, melakukan hal tidak sen*noh pada putrinya.
"Dimana dia?" tanya Ami geram
"Dia ada di rumah sakit ini, dia dilarikan ke UGD bu. Axel sudah memukulinya tadi, sampai tak sadarkan diri." jawab Axel menenangkan sang ibu
"Laporkan dia bang, laporkan ke kantor polisi. Ibu tidak ridho, kalo dia hanya masuk rumah sakit. Sedangkan adikmu akan mengalami trauma seumur hidupnya, trauma itu tidak akan pernah hilang sampai kapan pun." ucap Ami
"Iya bu, iya. Nanti abang akan melaporkannya pada pihak berwajib, sekarang tenangkan dulu diri ibu. Axel tidak mau, ibu juga ikut drop." ucap Axel, Ami menganggukkan kepalanya.
...****************...
...Happy Reading all๐๐...