Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Syahid dan Ita..oke, Sahin dan Dena?



"Apa yang sekarang kamu rasakan?" tanya Yumi, Ita mengalihkan tatapannya pada Yumi.


Ita memegang dadanya, terasa berdebar begitu cepat. Tapi ia juga merasa nyaman dan bahagia, di waktu bersamaan.


"Ita, jantung Ita berdebar dengan cepat oma. Tapi, Ita juga merasa sangat senang mendengar pernyataan Syahid. Entah, seperti ada perasaan lega, tapi tidak tau lega karena apa?" jawab Ita


"Apa yang kamu rasakan saat bersama Syahid?" tanya Yumi


Ita kembali menatap Yumi, lalu mengalihkan tatapannya pada Syahid.


"Ita merasa nyaman dan aman, saat berada di samping Syahid. Tapi, Ita pikir ini hanyalah perasaan karena terbiasa berada di dekat Syahid bukan oma?" jawab Ita, Yumi tersenyum.


"Apa perasaan itu, kamu rasakan juga pada Sahin?" Yumi kembali bertanya, Ita terdiam dan tak lama menggelengkan kepalanya.


"Itu artinya, kamu juga menyukai Syahid. Hanya saja, kamu tidak menyadari hal itu. Karena tertutup status kakak dan adik, sayang." ucap Yumi mengusap sayang rambut Ita.


DEG


"Apa itu benar oma?" tanya Ita, Yumi mengangguk


"Apa itu boleh, Ita hanya anak..." ucapannya terpotong


"Kamu adalah gadis yang sempurna di mataku, tak ada alasan lain lagi yang membuatku tidak memilihku. Jadi, apakah kamu menerima perasaanku?" tanya Syahid memotong ucapan Ita.


"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu rasakan? Aku hanya gadis biasa, masih banyak gadis di luaran sana yang lebih pantas untukmu." tanya Ita dengan suara tercekat, terasa sakit saat ia mengatakan hal itu.


"Tidak ada, tak ada gadis yang terlihat olehku. Di mataku, hanya ada kamu. Dan aku, hanya mau kamu." jawab Syahid tegas, Yumi dan Rendra kembali tersenyum mendengar jawaban tegas Syahid.


'Zandra sejati' gumam Rendra dalam hati


"Bagaimana sayang? Kami semua merestuinya, justru kami memang berharap bila kamu menjadi pasangan salah satu di antara Syahid atau Sahin." tanya Yumi


"Opa kira, Sahin yang menyukaimu." goda Rendra, Syahid pun langsung menatap tajam sang opa. Bukannya marah, Rendra malah tertawa melihat reaksi sang cucu.


"Tapi, apa ibu dan teh Iren tau mengenai hal ini?" tanya Ita


"Aku akan bicara dengan mereka, setelah kita pulang dari sini." jawab Syahid


Ita menunduk, ada senyuman tipis di bibirnya.


'Bismillah, semoga keputusanku benar.' Ita kembali mengangkat kepalanya dan menatap Syahid tersenyum


"Ya, aku menerima Syahid, oma." jawab Ita malu


"YESSS" Syahid bersorak bahagia, Ita terkekeh melihat kelakuan Syahid yang baru.


"Alhamdulillah" tegur Yumi


"Iya, Alhamdulillah oma" ralat Syahid tersenyum lebar, hatinya merasa penuh dengan bunga bermekaran.


"Ya sudah, ayo kita segera bebenah untuk kembali ke hotel. Kamu bisa berjalan sayang?" titah Yumi, seraya bertanya.


"Bisa oma, pelan-pelan." jawab Ita mengangguk


"Perlu aku gendong?" tanya Syahid dengan wajah polosnya


Ita langsung melirik tajam.


"Ti tidak, maksudku apa mau aku ambilkan kursi roda?" ucap Syahid sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Calon bucin" bisik Yumi pada Rendra


"Bukankah semua pria di keluarga kita, semuanya bucin pada wanitanya." jawab Rendra ikut berbisik, Yumi menyikut pelan perut Rendra.


"Biar oma yang bantu Ita berganti baju, kamu dan opa segera mengurus administrasi dan mengambil obat untuk Ita. Jangan lupakan, ambil kursi roda. " titah Yumi


Rendra dan Syahid mengangguk dan menurut, mereka keluar dari ruangan Ita. Yumi membantu Ita mengganti pakaiannya, yang kini menggunakan baju khusus pasien.


"Terimakasih sayang, sudah mau menerima gunung es untuk menjadi pasanganmu." ucap Yumi


"Ita yang berterimakasih oma, karena oma dan yang lain mau menerima Ita menjadi bagian dari keluarga Zandra. Menjadi seorang adik ipar dan di terima di rumah besar saja, Ita sudah sangat bersyukur. Apalagi sekarang, Ita diterima sebagai pasangan dari salah satu cucu oma." jawab Ita tersenyum tulus, Yumi langsung memeluk Ita dengan pelan karena takut mengenai punggung Ita


Hatinya benar-benar bahagia bukan main, dadanya terasa sangat penuh.


.


.


Sedangkan di hotel


Maya dan Kira merengek ingin menyusul Ita ke rumah sakit, Dena yang sedang merasakan sakit di perutnya merasa kesal.


"Kak Ita siang juga pulang, kalian tunggu saja. Bukankah tadi bubu Alice sudah mengatakannya, kenapa kalian masih merengek. Mau aku belikan lollypop dan balon, agar kalian anteng?" ucap Dena pada akhirnya


Maya dan Kira langsung menatap kesal pada Dena, tapi mereka tak kuasa untuk memarahi Dena. karena melihat Dena yang kesakitan, seraya memegang perutnya.


Maya pun berjalan mendekati Dena, Dena beringsut mundur.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dena, saat Maya menyingkap baju Dena, sampai perutnya sedikit terlihat. Sahin langsung mengalihkan tatapannya ke jendela, ia menggerutu kesal pada saudarinya itu.


"Aku akan memperk*samu" jawab Maya iseng, Dena membulatkan kedua matanya karena terkejut.


"BUBU" teriak Dena meminta tolong pada Alice, sedangkan Alice sudah tidak bisa menahan tawanya.


"Berisik, kamu kira aku cewek apaan. Masih banyak pria di bumi ini, kenapa juga harus belok." ucap Maya, membuat Dena sedikit tenang.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dena


"Sudah diam saja" jawab Maya, ia meletakkan telapak tangannya pada perut Dena. Lambat laun, rasa sakit di perut Dena berangsur hilang.


"Waahhh... tanganmu luar biasa May, udah kaya kompresor. Eh, kompresan." celetuk Dena, Maya menyudahi kegiatannya dan menoyor pelan kening Dena.


"Kompresor... Proyektor." ucap Maya


"Dih, emangnya aku mau nyari logam apa?" tanya Dena, yang gesrek nya sudah kembali


"Itu Detektor" ucap Kira, membuat Dena mengerutkan dahinya dan melipat kedua tangannya di depan perut.


"Kenapa?" tanya Kira


"Bukannya detektor itu yang peran utamanya selalu bilang I'LL BE BACK" sembari meniru suara Arnold Schwarzenegger


Pecahlah tawa Alice, ia benar-benar tidak menyangka bila teman anak-anaknya ada yang sama gesrek nya dengan teman satu gengnya.


"Kenapa bubu tertawa? Apa ucapanku ada yang salah?" tanya Dena


"Tidak, tidak ada yang salah." jawab Alice mencoba menghentikan tawanya


"Otak lo yang bermasalah" celetuk Sahin


"Wahhh.. lu sehari ga ribut ma gue kemaren, rindu banget kayanya ya. Dasar es batu nanggung.." ucap Dena kesal


"Siapa yang lo maksud es batu nanggung, gue?" tanya Sahin tak terima


"Iya, lo. Lo itu es batu nanggung, kelakuan es lo itu setengah-setengah. Kadang cerewetnya minta ampun, kalo udah nyari perkara ma gue. Udah kaya emak-emak kena tilang lo, nyerepet mulu kalo ngomong ma gue. Tapi kadang diem aja kaya orang bisu, kayanya sekali buka mulut di rapel ya ngomongnya." jawab Dena


"Apa lo bilang? Gue kaya emak-emak kena tilang? Gue bukan emak-emak yang kena tilang." ucap Sahin


"Terus kalo bukan apa, hah?!" bentak Dena


"Gue petasan yang nyerepet kalo udah nyala, apalagi kalo udah ada di deket lo. Karena lo api, yang nyalain petasan itu." jawab Sahin, Alice merasa terkejut dengan apa yang ia lihat di hadapannya. Putranya bisa berdebat dan meladeni orang lain? Putranya juga bisa bicara panjang lebar? Tak lama ia pun tersenyum, ia yakin putranya ada rasa pada gadis yang kini ada di hadapannya.


Sedangkan Maya dan Kira, hanya memutar malas bola matanya. Mereka merasa jengah, setiap kali melihat Sahin dan Dena adu mulut.


"Apa ini selalu terjadi?" tanya Alice pada mereka berdua


"Setiap kali mereka bertemu bu, baru hari kemarin kami merasa tenang. Karena mereka berdua tak cek cok, sekarang malah balik lagi. Harusnya Maya, ga sembuhin tuh rasa sakit di perutnya. Biar anteng, tuh anak." jawab Maya kesal, Alice pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


...****************...


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...