Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Hari ke Tiga di Bandung



Tak terasa sudah 3 hari mereka berdiam diri di villa, karena semua yang di inginkan sudah tersedia. Mereka semua tak berangkat kemana pun, apalagi di tambah dengan cuaca yang tidak menentu. Terkadang panas, namun tak sepanas di ibu kota. Bisa tiba-tiba turun hujan deras, malah sangat dingin suhunya.


Twin princess, Ita dan Dena juga memilih membeli baju secara online.


Di rumah mang Ceper, yang jaraknya cukup jauh. Naik motor membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit, dan kalo berjalan bisa menghabiskan 40-50 menit.


"Mang, emang di villa a Reksa ada yang nempatin ya mang? Ria kemaren liat lewat sana, ada beberapa anak perempuan di depan villa. A Reksa liburan ke sini apa ada yang sewa mang?" tanya Ria, keponakan mang Ceper


Mang Ceper mengerutkan dahinya, untuk apa keponakannya ada di sana. Ah bukan, darimana keponakannya sampai harus melewati villa? Karena di sekitaran villa majikannya, rasanya tak ada yang harus di singgahi. Di sana hanya berjajar pulau-pulau, ehh... maksudnya berjajar villa-villa.


Salma sang istri dan Arumi sang putri hanya diam, mereka tidak mau ikut berbicara. Lelah rasanya Salma menasehati Ria, semakin kesini ia merasa kesal dengan keponakan sang suami tersebut. Sedangkan Arumi sang putri, memang masa bodoh dengan keluarga majikan sang ayah. Bukan tidak peduli, karena sering mendengar cerita sang ayah mengenai kelakuan Ria. Arumi merasa malu, bila harus ikut campur dengan pekerjaan sang ayah. Takutnya, ia juga akan di anggap memalukan seperti sepupunya itu.


Apalagi sekolahnya sekarang, di biayai secara penuh oleh sang majikan. Arumi tidak boleh mengecewakan orang yang sudah baik pada keluarganya, makanya ia makin fokus untuk belajar. Kini ia berusia 18 tahun dan duduk di bangku kelas 2 SMA.


"Memangnya kamu teh habis darimana? Naha bisa lewat villa?" tanya mang Ceper, Ria langsung kelabakan mendapatkan pertanyaan sang paman.


"Ria... cuma jalan-jalan aja mang." jawab Ria tergagap, mang Ceper menyipitkan kedua matanya menatap Ria.


"Semoga alesan kamu bener, kalo sampe ada yang kamu sembunyiin dari mamang. Mamang moal asa-asa balikin kamu ka lembur." ucap mang Ceper


GLEK


Susah payah Ria menelan ludahnya, selama ini mang nya tidak tau kalo ternyata Ria berpacaran dengan Asep yang kerja di salah satu villa di jajaran villa milik Reksa. Dan Ria sering ke sana, kalau villa yang di jaga Asep libur. Malah hubungan mereka sudah sangat jauh, karena mereka sering melakukan hubungan suami istri tiap kali bertemu. Naudzubillahimindzalik


Ria yang takut di interogasi, memilih untuk pergi meninggalkan keluarga pamannya.


"Naha teu di pulangkeun wae sih bah, geus lieur ambu mah. Beuki kadieu, asa beuki balangsak budak teh kalakuanna. Ambu hariwang, mun si Ria bobogohan jeung si Asep. Ambu pernah mergokan keur duaan di pos satpam, ngaku na mah ngan babaturan. Tapi maeunya babaturan, diukna kuatka rapet." ucap Salma, yang benar-benar sudah gemas dengan kelakuan Ria


(Kenapa ga dipulangin aja sih bah, udah pusing ambu. Makin kesini, ko makin rusak anak itu kelakuannya. Ambu khawatir, kalo Ria pacaran sama Asep. Ambu pernah mergokin lagi berduaan di pos satpam, ngakunya cuma temen. Tapi masa temen, duduknya dempetan.)


Mang Ceper hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan, ia juga pernah melihat Ria tengah jalan berdua dengan Asep. Asep yang di kenal playboy cap kapak, sering bergonta ganti pasangan. Usia Asep juga sudah 26 tahun, dan usia Ria masih 19 tahun. Apa iya harus mengembalikannya ke kampung halaman saja?


"Bu, tolong ke villa a Raksa. Anterin sayuran sama daging ini ke sana, kaki abah asa linu di pake jalan." pinta mang Ceper dengan suara pelan, karena khawatir Ria mendengarnya.


"Tapi ambu kagok lagi masak bah" jawab Salma, mang Ceper dan sang istri serempak menatap Arumi. Arumi yang tengah mengerjakan tugas, merasa tengah di perhatikan. Ia pun menoleh dan bingung dengan tatapan kedua orangtuanya.


"Ada apa?" tanyanya


"Abah boleh minta tolong? Tolong anter ini ke villa majikan abah, kaki abah sakit dipake jalan. Kamu bisa pake motor abah, kalo jalan takutnya lama." pinta sang ayah dengan suara pelan, setelah berpikir cukup lama, Arumi mengangguk. Cuma nganterin doang kan?


Berbeda dengan Arumi, yang berpikir ingin sekolah setinggi mungkin. Karena ia ingin menaikkan harkat martabat kedua orang tuanya, ia berharap bisa menjadi orang sukses dan membahagiakan kedua orang tuanya.


"Ini aja bah?" tanya Arumi seraya mengambil 2 kantung kresek


"Iya neng, itu aja. Kunci ada ngegantung di deket pintu, ati-ati ya neng. Jalannya licin, apalagi habis hujan. Udah mau maghrib, kalau keburu adzan diam dulu di sana sebentar. Langsung pulang, kalo udah." jawab mang Ceper, Arumi mengangguk. Ia mencium punggung tangan kanan abah-ambunya dan berpamitan.


Untung tidak berpapasan dengan Ria, sepertinya Ria masih di dalma kamar. Kalau berpapasan, pasti ia memaksa untuk mengantarkannya.


.


.


"Mang Ceper belum ke sini?" tanya Reksa


"Belum" jawab Ajeng sembari melihat waktu di ponselnya


"Jeng, apa belum ada perasaan apa-apa sama kakak?" tanya Reksa, Ajeng terdiam. Kini mereka berdua tengah duduk di ayunan yang di pasang oleh mang Ceper


Sebenarnya, ia juga menyukai Reksa. hanya saja ia takut Reksa akan menjauhinya, bila seandainya tau bagaimana keadaan keluarganya. Dan... ia juga takut, bila Reksa akan sama dengan sang ayah.


"Aku... aku bingung kak, aku takut merasakan sakit untuk kesekian kalinya." jawab Ajeng


"Maksudmu?" tanya Reksa, Ajeng akhirnya menceritakan bagaimana kondisi keluarganya yang berantakan. Ia tak mau mejalani hubungan, namun setelah tau. Reksa malah menjauhi dan membuatnya kembali tersakiti. Ia mengikuti saran Ita, untuk menceritakan apa yang menjadi keraguannya menerima Reksa. Bila seandainya Reksa menerima, berarti ia tulus mencintai Ajeng. Bila tidak, bukankah sebaiknya tau lebih awal dan di jauhi sebelum memulai hubungan.


"Begitulah kak, aku tidak mau membuat kakak malu dengan keadaan keluargaku. Dan aku juga tidak mau merasakan sakit, saat mendapatkan penolakan dari keluarga kaka." ucap Ajeng di akhir cerita, ia tersenyum miris.


"Aku tidak peduli dengan keadaan keluargamu, aku juga sudah menceritakan pada keluargaku mengenai aku yang tengah menyukai seorang gadis. Aku hanya tinggal dengan kakek dan nenekku, karena kedua orang tuaku sudah tiada. Dan mereka berdua bilang, aku harus memperjuangkan kamu tak peduli bagaimana latar belakangmu. Aku benar-benar mencintaimu Jeng" jawab Reksa, Ajeng langsung menoleh dan menatap Reksa. Tak terasa air mata Ajeng menetes, apa boleh ia menerima pria di sampingnya?


"Bagaimana? Apa kamu mau menerimaku?" tanya Reksa seraya menghapus air mata Ajeng, Ajeng menunduk dan mengangguk pada akhirnya. Reksa tersenyum, bahagia... itu yang di rasakannya.


...****************...


Maaf kan, belum ada yang tegang-tegangan ya guys...


harap bersabar...


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...