
(Ralat, yang pergi ke rumah Raka kayanya 8 orang dehπ)
"I itu... itu yang gue lihat kemarin, guys" ucap Ica dengan suara tercekat
GLEK
tok tok
"ALLAHU AKBAR"
"ASTAGHFIRULLAH"
"SETAN"
"JURIG"
Teriak mereka berempat secara serempak, saking terkejutnya karena mendengar jendela mobil di ketuk oleh Dena.
"Astaghfirullah, ya Allah Den" ucap Rio seraya menurunkan kaca mobilnya.
Ya, mobil yang di kendarai Sahin memang baru saja sampai.
"Kalian kenapa sih? Gue baru datang, udah kalian takuti kaya gitu. Mang muka gue nyeremin apa?" gerutu Dena
"Bukan... Nggak gitu Den, tadi..." ucapan Ica terhenti saat ia kembali melihat sosok yang di jendela Raka, ternyata sudah tidak ada.
"Kalian kenapa?" tanya Kira, ia merasakan ada aura yang berbeda pada rumah yang ada di hadapannya.
Dika, Miko, Rio dan Ica pun turun dari mobil, mereka bergegas memepetkan tubuh mereka pada Maya, Kira dan Sahin.
"Apa kalian tadi melihatnya?" tanya Maya, mereka berempat mengangguk cepat
"Apa yang di katakan oleh Ica benar, tadi ada sosok yang dia bilang di sana. Berdiri, seolah tengah mengawasi kita. Merinding banget gue, sista." jawab Dika, seraya menatap kembali ke jendela kamar Raka.
"Ternyata memang ada yang tidak beres, kita harus segera masuk. Bila benar apa yang di katakan oleh oma Yumi dan cerita dari Dika, berarti waktu untuk Raka hanya sampai besok atau malam ini." ucap Sahin
"A APA?!" teriak Dena dan yang lainnya
"Kalau begitu, kita harus segera menolong Raka, Hin." ucap Dika cemas, Sahin pun mengangguk. Sahin, Maya san Kira berjalan cepat menuju rumah Raka.
Saat beberapa langkah lagi mereka akan sampai depan pintu, terdengar kegaduhan di dalam rumah tersebut.
BRUAK
PRAANG
KYAAAAA
"RAKAAA, APA YANG TERJADI?"
"TURUN RAKAAA"
"KENAPA BISA SEPERTI INI"
"KAKAK LAKA"
"Sepertinya ia sudah mulai bergerak" ucap Maya seraya mempercepat langkahnya, Sahin dan Kira pun segera menyusul.
"Ba bagaiman ini? Aku ingin masuk, tapi takut" ucap Miko takut, tubuhnya bergetar.
"Ahhh... banyak b*cot lu, buruan takutnya mereka juga butuh tenaga kita." ucap Rio, ia langsung menarik tangan Miko. Dena, Ica dan Dika akhirnya ikut berlari menyusul Maya dan yang lain.
Sahin membuka paksa pintu rumah tersebut, saat ia dan yang lainnya masuk. Mereka di kejutkan dengan penampakan yang cukup mengerikan di depan sana.
Kini Raka tengah merangkak di langit-langit rumah, dengan posisi kepala yang berputar 180Β°. Sehingga membuat wajahnya kini menghadap pada mereka, ada senyuman menyeringai. Seolah bibirnya tertarik sampai ke telinga, bola matanya pun berubah hitam semua. Suara tawanya mengerikan
'Kik kik kik kik'
"Astaghfirullah" ucap Dena seraya menutup mulutnya, menggunakan telapak tangannya. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka diam mematung tak bisa berkata apapun. Ini adalah kejadian mengerikan, yang mereka lihat untuk pertama kalinya.
"Ba bagaimana bisa?" Ica dengan wajah ketakutan
"Itu leher Raka, apa ga papa?" tanya Rio, ia merasa linu pada lehernya sendiri
"Demi apapun, itu sangat mengerikan" hampir saja Miko tak sadarkan diri, namun langsung di pukul lengannya oleh Dika.
"Jangan pingsan lu, lagi genting ini. Heran gue, ko lu sepenakut ini sih Mik." tegur Dika kesal
"Aku akan menurunkan dia, apa kalian bisa membantuku untuk menahan tubuh Raka saat ia sudah di bawah?" tanya Sahin
Keluarga Raka terkejut dengan kedatangan Sahin dan yang lainnya, tapi mereka tidak bisa bertanya saat merasakan ada aura berbeda pada tubuh Sahin, Maya dan Kira.
"Tante, sebelumnya maaf bila kami lancang sudah masuk tanpa ijin. Namun, kita harus segera menghentikan ini, sebelum nyawa Raka yang menjadi taruhannya." ucap Kira
DEG
"A apa? Kenapa? " tanya tante Raka
"Kenapa dengan putra ibu?" tanya sang ibu
"Kami akan menjelaskannya nanti, setelah kita bisa menangkap tubuh Raka dan mengeluarkan sosok yang merasukinya." jawab Maya
"Jadi, apapun yang terjadi, apapun yang di katakan olehnya nanti. Jangan sampai terpengaruh, karena percayalah. Itu bukan Raka." ucap Sahin menyambung ucapan Maya.
"Apa itu tidak membahayakan putra ayah?" tanya sang ayah
"Insya Allah tidak, justru kalo kita membiarkan hal ini. Maka Raka dalam bahaya, waktu kita tidak banyak." jawab Sahin
"Baiklah, tolong bantu anak ayah" ucapnya
Sahin, Maya dan Kira mengangguk.
"Kami butuh bantuan om" ucap Maya
"Ingat, jangan sampai terperdaya olehnya. Termasuk dengan kalian juga" ucap Kira lagi, ayah Raka, Rio dan Dika mengangguk.
"Sebelumnya kita harus membuat perisai, agar sosok itu tidak melarikan diri. Apalagi bila keluar membawa tubuh Raka bersamanya, akan sulit untuk kita mengejarnya." saran Maya
Sahin dan Kira mengangguk, mereka meminta yang lain untuk mundur terlebih dahulu. Mereka bertiga lalu menutup mata dan mengeluarkan sinar pada tubuhnya, bagi yang baru melihatnya. Tentu saja hal itu sangat menakjubkan, karena hal ini belum tentu akan mereka lihat untuk kedua kalinya.
Maya, Kira dan Sahin membuka mata dan merentangkan tangannya ke depan, mereka membuat perisai di sekeliling Raka.
'B*JINGAN, APA YANG KALIAN LAKUKAN?'
"Keluar dari tubuhnya secar baik-baik, sebelum kami berlaku kasar." ucap Sahin
'HAHAHAHA... ENAK SAJA, ANAK INI SUDAH JADI TARGET UNTUK DI JADIKAN TUMBAL SELANJUTNYA. TIDAK AKAN AKU LEPASKAN DENGAN MUDAH'
DEG
"Tu tumbal?" ibu Raka tergagap, mendengar hal tersebut
"Apa kamu yakin? Tidak mau keluar dari tubuhnya?"
'AKU AKAN MEMBAWANYA, BILA MEMANG AKU HARUS PERGI DARI SINI.'
"Cih, atas dasar apa dia harus ikut denganmu? Dia tak ada hubungan apapun dengan sekutumu, bukankah seharusnya kamu membawa salah satu anggota keluarga pengikutmu? Bukankah begitu peraturan nya, kalian akan meminta salah satu keturunan atau anggota keluarga yang menyembahmu wahai IBLIS."
'HAHAHA... ITU SEMUA TIDAK BERLAKU UNTUKKU, YANG PENTING AKU BUTUH TUMBAL AGAR AKU BISA MENGHILANGKAN DAHAGA YANG AKU RASAKAN. TAK PEDULI SIAPA YANG MENJADI KORBANKU!! DAN ANAK INILAH YANG TERPILIH, KARENA IA YANG TELAH MENEMUKAN DAN MEMABWA UMPAN TERSEBUT.'
Sahin mengangguk paham sekarang, jadi Raka sudah membawa pulang hal yang tidak seharusnya ia bawa pulang.
"Baiklah, jadi kamu memilih untuk musnah di tanganku. Kalian bersiaplah"
Sahin mengulurkan tangannya ke depan, ada sebuah cahaya yang keluar dari telapak tangannya dan cahaya itu membentuk rantai dan bergerak menuju dan melilit tubuh Raka. Sahin langsung menarik rantai tersebut, sehingga membuat tubuh Raka jatuh terjerembab ke bawah.
Maya dan Kira melakukan hal yang sama, mereka berdua pun mengeluarkan rantai dari telapak tangannya dan ikut melilitkan rantai tersebut pada tangan dan kaki Raka.
BUGH
'AAAAARRRRGGGGHHHT... B*NGSAT KALIAN, LEPASKAN!!!' teriak sosok itu, namun masih ada dalam tubuh Raka.
Ingat, Dena dan yang lain tidak bisa melihat rantai tersebut.
"SEKARANG" teriak Sahin, Rio, Dika dan ayahnya Raka langsung berlari dan menahan tubuh Raka.
Sedangkan Miko, masih diam di tempat karena takut.
"MIKO"
...****************...
Karena kalian penasaran, aku kasih double. Tapi ini tabungan buat besok.
Jadiiiiiiii..... aku ga tau up atau nggak nih besok. Do'ain si Ilham bertamu ke rumahku, fams ππ
...Happy Reading allπππ...