Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Firasat ABU-ABU



"Loh, bukannya kamu Bumi. Salah satu murid yang menerima beasiswa itu kan?" ucap Ita


"Iya teh, mimpi apa saya semalam. Bisa kedatangan alumni kebanggan SMA XXX" jawab Bumi tersenyum


Bu Sur dan Bu Rita cukup terkejut, karena ternyata Bumi mengenal tamunya.


"Kamu kenal Bum?" tanya bu Sur


"Kenal atuh bi, mereka ini alumni dari sekolah Bumi. Sekaligus cucu dari pemilik sekolah tempat Bumi belajar, mereka juga terkenal dengan kepintarannya. Saya aja mengidolakan a Syahid sama a Sahin, udah kaya mimpi bi lihat mereka ada di sini." Semakin terkejut mereka, ternyata anak-anak muda ini adalah pewaris keluarga Zandra.


Syahid dan yang lainnya hanya tersenyum


"Aduh, maaf ya. Tadi kami mengira kalian yang mau demo kompor" ucap bu Sur tidak enak


"Apa? demo kompor? Wahh... bisa-bisanya si bibi, masa muka ganteng sama cantik di kira sales kompor." ucap Bumi tak percaya, Dena, Agatha, Lia dan twin princess tertawa geli.


"Ya namanya juga ga tau Bum, datangnya di jam orang-orang kemarin yang janji mau demo hari ini." jawab bu Rita


Antara ingin menangis dan tertawa, para anak muda itu mendengar jawaban tersebut.


"Maaf ya, cuma ada teh" ucap Nirmala yang baru keluar dari dapur


"Aduh, maaf bu. Jadi merepotkan" ucap Axel tidak enak


"Tidak apa-apa ko, hanya saja alakadarnya ya nak. Karena ibu tidak tau, bila akan kedatangan tamu hari ini." jawab Nirmala


"Bu, mereka senior Bumi si sekolah. Tapi sudah jadi alumni" ucap Bumi


"MasyaAllah, aduh ibu benar-benar minta maaf ya nak."


"Iya bu, tidak apa-apa. Kedatangan kami kemari, karena ingin memberitahukan sesuatu pada ibu dan Bumi." ucap Ita


"Ada apa ya teh?" tanya Bumi mulai merasa tidak enak, begitu juga dengan Nirmala.


"Anu bu, Bumi... kami mau memberitahukan, kalau pak Mun tadi siang dilarikan ke rumah sakit." jawab Ita


"APA?! teriak Nirmala dan Bumi bersamaan


"Kenapa kalian baru bilang, bagaimana kondisi bapak? Apa bapak harus di rawat? Sekarang dengan siapa di rumah sakit? kenapa bapak bisa masuk rumah sakit?" tanya Nirmala beruntun karena panik


"Nirmala, hei... NIRMALA" panggil bu Diah dengan membentak pada akhirnya, karena Nirmala yang panik


"pak Mun sudah stabil, namun masih harus dapat perawatan beberapa hari. Karena itu, kami datang ke sini untuk memberitahukan ibu." jawab Syahid


"Nir, istighfar. Jangan panik, sekarang ke kamar.. beresin baju buat salin bang Mun, terus kita ke sana." ucap bu Diah lembut


"Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah... iya, kalo gitu saya masuk ke kamar dulu. Bumi, nanti ibu ke rumah sakit. Ibu titip adekmu ya, sebentar lagi kayanya pulang. Tadi ijinnya mau kerja kelompok di rumah temannya" Nirmala segera masuk ke dalam kamarnya


"Nanti ibu ke sana naik apa?" tanya Bumi setelah ia menyusul sang ibu


"Nanti biar bibi, minta tolong sama mang Karman buat anterin ibumu." jawab Diah yang ikut masuk, untuk membantu membereskan baju. Diah masih terikat saudara dengan pak Mun, dia adalah anak dari adik ayahnya pak Mun.


"Ibu yakin, Bumi tidak usah ikut?" tanya Bumi lagi


"Yakin, ada bibi yang ikut nak." jawab Nirmala, seraya memasukkan baju ke dalam ransel.


Setelah selesai, mereka pun keluar dari kamar dan kembali ke ruang tamu.


"Aku panggil dulu Karman ya"


"Anu bu, di depan sudah ada supir saya menunggu. Nanti ibu biar di antar saja ke rumah sakit sama beliau, kami masih ada perlu dengan Bumi." ucap Syahid, Nirmala dan Diah terdiam dan saling tatap.


"Apa itu tidak merepotkan nak?" tanya Nirmala


"Tidak sama sekali bu, mari saya antar ke depan." jawab Maya tersenyum


"Euleuh Gusti, ni sae kieu ieu mobil." celetuk Leli, Maya tersenyum


"Kalo ibu-ibu mau ikut ke rumah sakit, sekalian bu. Biar nemenin bu Nirmala juga di sana" ucap Maya


"Pengen, tapi udah sore. Si bapak bentar lagi pulang, takut ngereog kalo pulang tapi ibunya ga ada di rumah. Titip salam buat pak Mun ya Nir, semoga lekas sembuh dan segera pulang." jawab bu Sur, Nirmala mengangguk dan meng aamiin kan do'a tersebut. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, seperti mimpi rasanya bisa masuk ke dalam mobil bagus.


"Kalo ngereog mah, tinggal di kasih goyang ngebor weh atuh bu Sur." ucap bu Leli


"Ei si eta mah, sok sieun jadi sumur baru. Gimana kalo di kamar ternyata malah banjir" ucap Bu Sur


Maya hanya menggelengkan kepalanya, mendengar percakapan absurd ibu-ibu. Ia melangkah mendekati sang supir, lalu mengetuk jendelanya pelan.


"Mang, tolong anter bu Nirmala sama bu Diah ke rumah sakit ya. Terus antar sampe ke ruangan, pak Mun ada di kamar 1 lantai 2." ucap Maya minta tolong


"Siap neng, kalo gitu mang Diman berangkat ya. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam, hati-hati mang." jawab Maya dan kedua ibu di belakangnya.


"Ya udah atuh neng, kami juga pamit ya. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam"


Maya kembali masuk dan ikut berkumpul dengan yang lainnya.


"Jadi, apa yang ingin aa sama teteh sampaikan?" bukan Bumi tidak sopan, hanya saja ia sudah tau kemampuan seniornya ini. Dan semoga firasatnya tidak benar..


"Kami minta ijin untuk masuk ke kamar kakakmu" jawab Ita


"Apa yang kamu pikirkan benar, kakakmu...." ucap Sahin


"Kakakmu sedang tidak baik-baik saja." potong Ita, semoga firasatnya benar. Walau masih abu-abu, tapi Ita yakin Nurma masih hidup walau entahlah...


JEDEEERRR


Tubuh Bumi pun langsung lemas, bagai tak bertulang. Kakak kesayangannya telah..., apa mungkin bapak... Syahid dan Sahin menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang Bumi pikirkan.


"Innalillahi wa innalillahi raji'un... teh Nur, ya Allah" tangis Bumi pun pecah, Syahid merangkul Bumi dari samping.


"Assalamu'alaikum" salam Rima yang baru saja pulang


"A Bumi, kenapa aa nangis a?" tanya Rima dengan suara bergetar, Rima memang paling sensitif. Gadis itu paling tidak bsia melihat orang menangis, ia pasti akan ikut menangis.


Bumi mencoba mengatur nafas dan menghentikan tangisannya, ia pun mneghapus air matanya.


"Aa terkejut, bapak masuk rumah sakit." jawab Bumi dengan suara parau


"Apa a, bapak masuk rumah sakit? Terus, ibu mana sekarang?" tanya Rima terkejut


"Ibu nyusul bapak ke rumah sakit, ibu jagain bapak di sana. Kamu sama aa di rumah, udah shalat?" Rima menggelengkan kepalanya


"Sekarang mandi, lanjut shalat. Aa ada perlu sama temen-temen aa, kamu belum nyapa mereka dek" titah Bumi mencoba tenang, agar adiknya tidak ikut panik. Rima pun menyalami satu per satu, terakhir Ita yang langsung memeluk Rima dengan sayang.


Setelah Rima masuk kamar, Bumi mengajak Syahid dan yang lain masuk ke kamar Nurma.


"Silahkan a, teh. Semoga kalian bisa mendapatkan petunjuk di kamar ini, agar.... agar teh Nurma segera di temukan." ucap Bumi tercekat, Axel dan Zef menepuk pelan pundak Bumi. Mereka salut dengan Bumi, yang bisa mengendalikan dirinya di hadapan sang adik.


...****************...


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...


Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ