Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Mendatangi Kediaman Dodi



"Pak, kita langsung saja. Aisyah sebenarnya sudah tiada." jawab Syahid, pak Sugeng dan yang lainnya terkejut mendengar ucapan Syahid


"APA?!" teriak mereka bertiga


"Nak Syahid, darimana kamu mengetahuinya?" tanya pak Sunandar, pak Sugeng tentu saja tidak mempertanyakannya. Karena ia sudah tau kelebihan yang di miliki oleh mereka.


"Apa dia yang mengatakannya pada kalian?" tanya pak Sugeng, membuat pak Sunandar dan bu Elisa mengerutkan dahinya bingung


'DIA?'


"Ya, baru saja kemarin kami bertemu dan membicarakannya. Niatnya sepulang sekolah hari ini, kami akan ke rumah ayahnya. Untuk menemukan jenazah Aisyah, yang di sembunyikan oleh mereka di gudang." jawab Maya


"A apa, menemukan jenazah?" tanya Elisa terkejut


"Ba bagaimana kalian bisa tau, jangan asal menebak. Jatuhnya nanti, kalian bisa di tuduh memfitnah." ucap pak Sunandar


"Apa kalian percaya adanya roh halus?" tanya pak Sugeng pada Sunandar dan Elisa


"Saya percaya pak, tapi apa hubungannya dengan ini?" tanya Elisa


"Tunggu, apa mungkin kalian di berikan kelebihan untuk bisa melihat 'mereka'?" tanya pak Sunandar


Double twin mengangguk, bu Elisa memundurkan langkahnya karena terkejut. Matanya langsung menelisik ke sekitar, tiba-tiba ia merasa merinding pada tubuhnya. Ia pun memeluk tubuhnya sendiri,dan mengusap kedua lengannya.


"Jadi, maksud kalian. Kalian sudah berbicara dengan arwah Aisyah?" tanya Elisa


Maya dan Kira mengangguk, Elisa langsung menarik nafas dalam dan memegang dadanya. Dia memang tau mengenai indigo, namun ia hanya melihatnya melalui layar kaca. Tapi sekarang... ia bertemu langsung dengan orang yang memiliki kemampuan tersebut.


"Tapi, apa alasan kita ke sana? Tidak mungkin kita datang ke sana dan langsung menanyakannya kan? Sudah pasti mereka akan mengelak dan akan memutar balikan fakta, apalagi kita tidak memiliki bukti." tanya pak Sunandar, mereka semua terdiam.


Benar juga, apa alasan mereka? Masa tiba-tiba langsung masuk ke gudang, kan tidak mungkin. Ita dan yang lain berpikir cukup keras.


"Paman Yanto" ucap Sahin dan Kira kompak, mereka pun tersenyum


"Jadi, maksud mereka datang ke sekolah ini adalah untuk membuat alibi. Agar seolah-olah mereka kehilangan dan tidak di jadikan tersangka penyebab hilangnya Aisyah?" tanya pak Sunandar, double twin, Ita dan Dena mengangguk bersamaan.


"Waahh... aku kira hanya di cerita-cerita saja yang seperti itu, ternyata aku juga bisa menyaksikannya langsung. Benar-benar bi*dab, aku tak habsi pikir. Bagaimana mungkin ada seorang ayah yang tega menghabisi putri kandungnya, dan malah lebih menyayangi anak tirinya." ucap Elisa


"Alasannya sangat sederhana, karena sang ayah sangat ingin memiliki anak lelaki. Sehingga ia tak bisa menerima Aisyah, dan tanpa hati menjual putri kandungnya demi membahagiakan anak tirinya." ucap Ita


"Astaghfirullah, memang apa bedanya anak laki-laki dan perempuan. Jaman sekarang sudah bukan memikirkan gender, karena anak perempuan pun banyak yang hidup sukses. Tega menghabisi darah dagingnya sendiri, Naudzubillah himindzalik." pak Sunandar mengusap dadanya yang terasa sesak, padahal Aisyah merupakan siswi berprestasi. Tapi, ia tak beruntung karena mendapatkan seorang ayah yang teramat jahat.


"Memang ibu kandungnya kemana?" tanya Elisa


"Ibu kandungnya, kini masih bekerja di Dubai sebagai TKW." jawab pak Sugeng, ia tau dari data yang ada padanya.


"Karena itu Aisyah meminta kita kesana untuk mencari nomer yang bisa menghubungi ibunya, dan meminta sang ibu untuk segera pulang ke Indonesia. Dan nomer tersebut, di sembunyikan oleh Aisyah di tumpukan barang-barang tempat ia mengistirahatkan tubuhnya." ucap Maya


"Maksudmu? Barang-barang?" tanya Sunandar


"Tempat istirahat? Kamar maksudnya?" lanjut Elisa


"Gudang yang di jadikan kamar untuk tidur Aisyah, ia harus rela tidur beralaskan karpet tipis dan juga bantal yang tak layak pakai." jawab Kira


"Astaghfirullah, jahat sekali mereka." ucap Elisa, kembali ia mengusap dadanya.


"Sebaiknya kita segera ke sana pak, jangan di tunda lagi. Apalagi ini sudah satu minggu, setelah kematian Aisyah" pinta Elisa memohon, sebagai wali kelas. Ia bertanggung jawab dengan kondisi para muridnya.


"Baiklah, nak Syahid. Apa bisa hubungi pak Yanto sekarang?" tanya Pak Sugeng, Syahid mengangguk dan bangun dari duduknya. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Yanto, ia berjalan untuk memberi jarak.


"Ya, mereka memang tidak memberikannya pada Aisyah. Karena uang itu di gunakan untuk anak lelakinya, bahkan Aisyah juga di jadikan pembantu di kediaman mereka." jawab Ita


"Parahnya lagi, Aisyah juga di jual oleh ayah kandungnya pada seorang rentenir karena ayahnya tidak bisa membayar hutang-hutangnya. Itulah alasan kematian Aisyah, karena ia menolak dan mencoba melawan." lanjut Kira


Elisa mengepalkan kedua tangannya, ia benar-benar tak sabar untuk menghajar pria itu dan juga wanita yang menjadi istrinya saat ini. Begitu juga dengan Sunandar dan pak Sugeng, dada mereka terlihat naik turun karena menahan amarahnya.


'Ya Allah, kehidupan seperti apa yang di jalani Aisyah?' Elisa


'Ayahnya hanya memberikan luka dan neraka untuknya.' Sunandar


'Bagaimana perasaan ibunya, yang rela banting tulang demi putrinya. Namun, sang putri malah di jadikan babu dan tewas di tangan ayah kandungnya sendiri.' pak Sugeng


"Paman Yanto akan langsung ke TKP, sebaiknya kita juga segera menyusul." ucap Syahid yang baru saja selesai berbicara.


"Ayo, jangan menundanya lagi. Aku benar-benar tidak sabar, untuk memberikan pelajaran pada kedua iblis itu." jawab Elisa


Mereka ber sembilan pun segera keluar dari ruangan KEPALA SEKOLAH, Kira dan Maya menghubungi Axel dan juga Zefran. Mereka berdua memilih ikut dengan mobil yang di kendarai oleh Syahid dan Ita, Axel dan Zefran berniat menyusul setelah urusan mereka selesai. Sahin naik motor dengan Dena, dan para guru menggunakan mobil milik pak Sugeng.


.


.


"Benar di sini alamatnya?" tanya Sahin yang menghentikan motornya di samping mobil Syahid.


"Ya, ini sesuai dengan yang di katakan oleh Aisyah" jawab Ita


"Panggil Aisyah coba." titah Syahid


Kira menutup matanya dan memanggil Aisyah.


'Ya, ini rumahnya.' ucap Aisyah langsung


"APA! kamu yakin? Ini rumah ini, bagus loh. Dan kamu di tempatkan di gudang?" tanya Dena terkejut


Ya, rumah di hadapan mereka memang terlihat bagus. Walau hanya 1 lantai, tapi ini terlihat sangat bagus dan mmm... terlihat cukup mewah. Aisyah mengangkat salah satu ujung bibirnya.


'Rumah yang mereka renovasi, dengan menggunakan uang kiriman dari ibuku. Meminta dengan alasan untukku, namun aku tak pernah mendapatkan sepeser pun uang tersebut.' ucap Aisyah dengan menatap benci pada bangunan yang ada di hadapannya kini


"Apa kita akan langsung masuk?" tanya pak Sunandar


"Kita tunggu paman kami dulu pak, bila kita masuk. Takutnya mereka akan menolak dan mengusir kita" jawab Sahin, Sunandar mengangguk setuju.


Setelah menunggu sekitar 15 menit, Yanto pun tiba dengan 2 anak buahnya.


"Bagaimana?" tanya Yanto


"Sepertinya mereka ada di dalam, paman. Jadi, kita ke sana barengan langsung atau gimana?" tanya Syahid


"Saran paman, sebaiknya pak Sugeng dan guru yang lain terlebih dulu untuk ke sana. Katakan bila ada saksi yang melihat mereka menyeret dan mengurung korban." ucap Yanto


Pak Sugeng dan yang lain mengangguk setuju, kini mereka bertiga berjalan ke rumah Dodi. Terlihat dari jauh, bila pintu tersebut di bukakan oleh anak tiri Dodi.


...****************...


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...