
"Sebenarnya anak ibu itu, Dena apa dia? Ibu lebih mempercayainya, membelanya, menyayanginya di banding Dena. Atau, jangan-jangan Dena itu cuma anak pungut?"
PLAK
tes
Air mata Dena langsung mengalir, tanpa seijinnya. Ibunya langsung tertegun dengan apa yang sudah ia lakukan pada sang putri, putrinya saat ini.
Selama ini, ia selalu berusaha untuk tidak melakukan kekerasan fisik.
Sedangkan Salma tersenyum, melihat Dena di tampar oleh ibunya dan hal itu terlihat oleh Dena.
"Lihat? Dia tersenyum melihat ibu menamparku." ucap Dena, tatapannya pun terus menatap Salma. Ia merubah ekpresi wajahnya, saat ibu Salma menatapnya.
Salma langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Hahaha... orang munafik memang seperti itu, ia akan sangat pandai menyembunyikan wajahnya yang lain." ucap Dena tersenyum smirk
"DENA" bentak sang ibu
"Kenapa?" tanya Dena dengan tatapan mata penuh luka
"Kenapa ibu selalu membelanya? Kenapa ibu lebih percaya dia, di bandingkan aku yang katanya aku adalah anak kandung ibu? Kenapa bu, kenapa ibu seperti ini? Dengan ibu begini, semakin meyakinkan aku. Bila aku bukanlah anak kandungmu, bu." Kini air mata Dena sudah mengalir dengan derasnya
"ti tidak nak, kamu anak ibu. Anak satu-satunya ibu, sayang." Mendengar hal itu, bukannya senang. Dena malah merasa merinding, pada tubuhnya. 'SAYANG?' cihh
"Apa ibu pernah mendengarkan jawaban Dena, atas semua pertanyaan yang ibu lontarkan? Nggak bu, dari semenjak Sekolah Dasar dan sampai saat ini. Ibu tidak pernah mendengarkannya, karena ibu lebih mempercayai ucapannya di banding aku." Dena berucap dengan terbata, terdengar suaranya bergetar
"Dena, ibu..."
"Cukup bu, sekarang giliran ibu yang mendengarkan Dena. Selama ini Dena selalu bersabar dan mengalah, tapi sekarang... Setelah menerima tamparan dari ibu, hanya demi dia. Terserah, ibu akan percaya atau tidak dengan ucapanku. Jujur, Dena sudah hilang respect dan rasa hormat pada ibu, maaf beribu maaf yang Dena ucapkan pada ibu." potong Dena, ia menggelengkan kepalanya denga sangat pelan, karena terasa hilang tenaga.
"Sejak Sekolah Dasar, aku selalu mengalah untuknya. Sebenarnya, aku tidak tau kenapa ibu selalu memintaku untuk mengalah. Aku sampai memberikan apapun yang ia inginkan, tidak peduli aku sangat menyukai barang tersebut. Aku juga harus diam dan bersabar, di saat ia memperlakukan aku seperti babunya. Menyuruh ku ini dan itu, dengar... aku masih bersabar. Jangan lupakan, aku selalu di jadikan kambing hitam di settiiiap masalah yang sudah ia lakukan. Aku pun harus merelakan tugas-tugasku untuknya, bahkan aku juga harus mengerjakan tugasnya. Apa ibu peduli? Ohh.. jawabannya tentu tidak. Bila aku mengadukan hal ini pada ibu, ibu selalu bilang... 'Sabar ya nak, kamu harus selalu mengalah untuknya. Bagaimana pun hanya dia yang mau berteman denganmu', aku yang bodoh dan tolol pun mengiyakan dan menurutinya. Bila di pikir lagi.... Hubungan ini, benar-benar sangat TOXIC. Aku merasa, bila aku hanyalah boneka kalian berdua. Aku tidak merasakan, bila kamu benar-benar tulus menyayangiku. Walaupun ibu kemarin menangis saat aku sakit, aku hanya merasa bila tangisan ibu hanya karena ADA AYAH. Jangan bilang, bila ibu adalah ibu tiriku dan dia adalah anak kandungmu?" Ucap Dena panjang lebar, ia benar-benar mengeluarkan semua uneg-unegnya selama ini.
DEG
"Dan sayangnya itu semua benar, nak." terdengar suara barinton dari luar, suara sang ayah. Di susul Afwa dan ketiga putrinya, yang berpapasan saat di depan gapura masuk komplek.
GLEK
Kini, wajah Murni dan Salma langsung berubah pucat.
HABIS SUDAH
Kebetulan, saat Kira menghubungi Afwa tadi. Teja, ayah dari Dena sedang mengajukan kerjasama dan tengah berada di dalam ruangan Afwa. Saat hendak menandatangani kerjasama, saat itu juga Afwa menerima panggilan Kira. Sehingga, Afwa langsung menanyakan padanya langsung dan memberitahukan bila kemungkinan ada yang sedang tidak beres pada putrinya.
Mendengar hal itu, Teja memilih menunda tandatangan kerjasama tersebut. Ia pun meminta ijin, untuk undur diri lebih dulu. Namun, Afwa memutuskan untuk ikut ke rumah Teja.
Afwa sangat suka dengan orang-orang yang lebih mementingakan keluarganya, di bandingkan urusan pekerjaannya. Karena, yang selalu ia tanamkan pada kehidupannya adalah... Bila bisa bertanggung jawab pada keluarga, maka ia pun akan bertanggung jawab pada pekerjaannya.
Back to Laptop
"Ayah" panggil Dena dengan wajah yang sudah basah, Dena terkejut saat melihat ada siapa di belakang sang ayah.
"Teteh, twin princess? Kalian di sini?" tanya Dena, ia segera menghapus air matanya. Ita, Maya dan Kira tersenyum. Mereka segera menghampiri Dena dan langsung memeluknya.
"It's ok, semua akan baik-baik saja." bisik Ita
"Aku tidak tau, bila kamu mendapatkan perlakuan begitu buruk darinya." lanjut Kira, Dena langsung melerai pelukannya dna menatap mereka bingung.
"Kami sudah mendengar semuanya, SEMUANYA!!" ucap Maya, ia pun kembali mengulang kata terakhir dengan penuh penekanan. Tak lupa mata judesnya, menatap tajam pada Salma dan Murni.
GLEK
"Mayang.. mayang.. sepertinya aku tidak akan pernah tau sampai kapan pun, mengenai bagaimana sikapmu pdaa putriku, sampai aku mendengar dengan telingaku sendiri. Terlihat sangat menyayangi dan juga mencintai putriku, di saat adanya aku. Namun, saat di belakangku. Kamu tak ada bedanya dengan seorang ibu tiri yang ada di dalam dongeng, hanya saja caramu terlihat sangat elegan. Tanpa ada siksaan fisik, namun merusak mental putri kandungku sedikit demi sedikit. Kamu menikah denganku, mengatkan bila kamu di tinggal suami yang juga membwa putrimu pergi. Saat bertemu kembali dengan putrimu, aku sudah katakan padamu. Perkenalkan mereka sebagai kakak adik, namun kamu ternyata lebih memilih memperkenalkan sebagai teman putriku sejak kecil." Murni hanya bisa terdiam mematung, pikirannya benar-benar blank saat ini. Ia tak menyangka bila suaminya akan pulang secepat ini, sedangkan Dena terlihat kebingungan sendiri.
"Selama ini aku tidak curiga sama sekali, aku pikir kamu mengenalkan mereka sebagai adik kakak. Karena melihat kedekatan mereka, aku mengira Dena sudah tau bila Salma adalah saudarinya. Namun apa yang aku lihat, ternyata sangat bertolak belakang dengan hal yang sebenarnya. Kamu menekan putriku, dan memanjakan putrimu. Sepertinya kamu pantas mendapatkan PIALA CITRA, sangat pandai ber Acting. Aku pun benar-benar tak menyangka, bila putrimu yang terlihat baik ternyata hanya cangkang semata. Demi menutupi keburukannya, putrimu menutupinya dengan wajah lugunya. Benar-benar buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, dan peribahasa itu benar-benar cocok untu kalian. Kamu memanjakan putrimu dengan uangku, namun kamu menyiksa putriku melalui putrimu." lanjutnya
"Mas.. aku aku tidak bermak..." Murni mencoba memegang tangan Teja, namun langsung ia tepis.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu, dan jangan pernah membela diri dengan mulut busukmu itu." potong Teja, ia benar-benar sangat menyayangkan semua ini.
"Aku sudah membiarkan putriku berada dalam tekanan putrimu selama bertahun-tahun, hebat.. kamu benar-benar hebat Murni." Teja bertepuk tangan, Murni semakin serba salah.
"Mendengar bagaimana perlakuanmu pada putriku yang sebenarnya, aku pun memutuskan untuk menceraikanmu." Murni yang mendengarnya langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ti tidak mas, aku aku tidak mau cerai. Aku janji akan berubah, aku akan benar-benar menyayangi putrimu. Bila perlu aku akan meminta mantan suamiku, untuk membawa kembali Salma jauh dari kehidupan kita."
"Keputusanku sudah bulat... Murni Setiawati, aku Teja Kertarjasa mentalak engkau dan aku haramkan dirimu menyentuh tubuhku." ucap Teja TEGAS, sangat terlihat tak ada kebimbangan sama sekali di wajahnya.
JEDEEERRR
...****************...
Aku teh asa banyak misahin sepasang suami istri, iya ga sih?? π€£π€£
...Happy Reading allπππ...