Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Rumah Hantu Darmo 2



Pak Sugeng yang baru saja tiba di kamar Maya dan yang lainnya, terkejut karena kondisi kamar yang berantakan bukan main. Niatnya ingin menanyakan masalah anak-anak yang terkurung di rumah hantu darmo, namun kini ia bingung harus kemana.


Saat ia hendak melangkahkan kakinya ke kamar di mana tempat Rendra dan Afwa beristirahat, ia berhenti karena terkejut saat di hadapannya hadir Sahin yang tengah memapah Syahid. Ia semakin terkejut, saat melihat tubuh Ita dan Dena melayang dalam keadaan tak sadarkan diri.


Pak Sugeng yang kaget, hampir saja tubuhnya oleng ke belakang. Namun, Sahin langsung menarik tangan pak Sugeng dan menyadarkannya menggunakan tangan yang satunya.


"PAK" panggil Sahin dengan suara agak tinggi, pak Sugeng langsung kembali tegak dan menggelengkan kepalanya agar tetap sadar.


Ia hampir lupa, bila Sahin dan keluarganya bukanlah keluarga biasa.


"Ma maaf nak Sahin, mari saya bantu membawa nak Syahid." pak Sugeng pun membantu Sahin memapah Syahid, dan saat itu juga Romi keluar dari ruangan sebelah. Tempat dimana yang lainnya berkumpul, seperti halnya pak Sugeng. Romi juga terkejut, saat melihat tubuh Ita dan Dena melayang. Karena mereka berdua, tak bisa melihat sosok aa dan dede.


"Apa yang lain ada di sini?" tanya Sahin menyadarkan Romi


"A i-iya tuan muda, silahkan." jawab Romi, ia membukakan pintunya lebar-lebar.


Disana semua orang panik melihat kondisi Syahid, Ita dan Dena yang tak sadarkan diri.


"Ya Allah, apa yang terjadi a?" tanya Afwa


'Ceritanya panjang, intinya kita harus segera melakukan penyegelan tenaga dalam Syahid. Sekarang belum waktunya untuk dia menggunakan kekuatan itu, karena dia belum bisa mengendalikannya.' jawab aa


Afwa dan Afwi segera menggendong Ita dan Dena, lalu memindahkannya ke atas ranjang. Di Sana, Maya dan Kira kembali menangis dan mereka pun merebahkan tubuhnya di sisi kiri dan kanan Ita. Mereka berdua memeluk tubuh Ita, dengan tubuh yang berguncang karena menangis.


Ruangan tersebut memiliki twin bed, sehingga Dena berada di ranjang yang sebelahnya. Walau Maya dan Kira sudah tahu ranjang itu kecil, mereka tidak peduli karena mereka ingin berada di dekat Ita.


"Hiks.. teh Ita pasti kesakitan oma, punggung nya terbentur meja saat melindungi tubuh Maya." ucap Kira terisak, Maya semakin merasa bersalah dan kembali menangis. Yumi pun langsung mendekat ke arah ranjang, di ikuti Alice.


"Coba Maya dan Kira bangun dulu ya, oma mau lihat kondisi punggung teh Ita." pinta Yumi, Kira dan Maya pun menurut. Mereka bangun dan turun dari ranjang, Yumi meminta para pria untuk membalikkan tubuh mereka atau keluar dari kamar ini.


Begitu Yumi menyingkap baju belakang Ita, Alice dan juga Yumi terkejut. Begitu juga dengan Maya dan Kira, mereka berdua semakin histeris menangisnya. Punggung Ita terlihat lebam berwarna biru ke unguan dan juga ada luka panjang, karena terkena kaca yang melapisi meja.


Yumi menurunkan baju Ita kembali, lalu meminta Sahin untuk membawa twin princess ke kamar istirahat milik Rendra. Maya dan Kira menolak, mereka kekeh ingin berada di samping Ita.


"Kalau kalian mau di sini, hentikan tangisan kalian. Oma dan bubu akan mencoba mengurangi rasa sakit teh Ita, bisa?" ucap Alice lembut, Maya dan Kira mengangguk dan menahan tangisannya.


Para pria memilih untuk keluar ruangan tersebut, kecuali Syahid yang sedang berbaring tak sadarkan diri di sofa kamar tersebut.


Pak Sugeng terlihat gelisah, namun ia bingung bagaimana cara menyampaikan kegelisahannya.


"Katakanlah pak" ucap Afwi yang sejak tadi melihat pak Sugeng gelisah


"Apa ini masalah rumah hantu darmo?" tanya Afwa, pak Sugeng mengangguk. Sahin merasa bersalah, karena melupakan masalah pertama.


Ia kembali menceritakan apa yang di ceritakan oleh Mika dan yang lain, dimana kedua siswinya ada yang terkurung di salah satu rumah yang di hindari oleh para warga karena rasa PENASARAN nya. Afwa dan Afwi pun mengangguk, lalu mereka menatap Al, Ar dan Za.


"Apa kalian bisa membantu mengeluarkan mereka?" tanya Afwa


Mereka bertiga menghembuskan nafas dan mengangguk, kenapa masalah bisa di waktu yang bersamaan?


"Kalau begitu, sebaiknya kalian bertiga segera ke rumah itu. Sebelum jiwa kedua anak itu, benar-benar hilang." ucap Afwi


"Dimana rumah itu?" tanya Al


Romi pun bersedia mengantarkan penerus Zandra tersebut, mereka sengaja menggunakan kendaraan bermotor. Agar segera tiba, ke tempat tujuan. Bukan tak bisa menggunakan teleport, masalahnya mereka tidak tau ada dimana rumah yang di maksud.


Dengan meminjam motor para pegawai hotel, mereka pun berangkat menggunakan 3 motor.


Setelah beberapa menit, mereka pun telah tiba di depan rumah hantu darmo. Bangunan besar yang sudah rusak di beberapa bagian, mereka berlima memarkirkan motornya di samping. Kini berdiri berjajar, menghadap rumah tersebut. Siang saja sudah terlihat angker dan menakutkan, apalagi sekarang malam hari. Romi merasakan berdiri pada bulu kuduknya, begitu juga dengan pak Sugeng.



"Aura gelap di sini cukup kuat." ucap Al


"Abang benar, bukan hanya satu. Sepertinya makhluk lain pun ikut menempati rumah ini, sehingga mereka merasa enggan untuk pergi dari sini." sambung Za


"Apalagi ada yang dengan sengaja memberikan makan mereka, dengan sesajen." ucap Ar menyetujui ucapan kedua saudaranya


"Kapan anak perempuan yang suka datang kemari, anak yang di maksud oleh warga?" tanya Al pada Romi


"Setiap malam jum'at kliwon tuan muda." jawab Romi


"Lalu, malam ini malam apa?" tanya Za


"Hari ini malam Kamis Wage dan besok baru malam jum'at kliwon" jawab Romi


"Kalau menunggu besok, sudah di pastikan jiwa 2 murid tersebut telah binasa. Kita harus bergerak sekarang, ayo Ar, Za." ucap Al


DEG


Jantung pak Sugeng berdetak cepat, ia takut. Takut kedua siswinya tidak bisa di tolong, lalu apa yang harus ia katakan pada orang tua mereka.


"Do'akan yang baik saja pak, kami akan berusaha mengeluarkan mereka dari rumah ini." ucap Ar yang mendengar apa yang di pikirkan pak Sugeng.


Pak Sugeng menatap ketiga pria tampan tersebut dan tak lama ia menganggukkan kepalanya.


Al, Ar dan Za mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam, sedangkan Romi dan pak Sugeng di minta untuk tetap di luar.


"Ya Allah lindungilah ketiga tuan muda dan ijinkan kelima nya untuk keluar dengan selamat, sehat tanpa kurang apapun." ucap pak Sugeng berdoa


"Aamiin" ucap Romi


.


.


"Bagaimana? Apa kalian merasakannya?" tanya Al


"Ya, tidak hanya satu. Namun, memang ada satu aura yang sangat gelap terasa dari ruang itu." jawab Ar, ia menggerakkan dagunya untuk menunjuk ruangan yang di maksud.


"Baiklah, kita bersiap dengan kemungkinan terberat yang akan menghadang kita ke depannya." ucap Al


Mereka menutup mata, dan mengeluarkan sinar di telapak tangan mereka masing-masing. Selain untuk pencahayaan, itu juga berguna untuk melindungi mereka apabila ada serangan tiba-tiba.


"AYO"


...****************...


Hayoooo.... jangan marah-marah ya😚😚


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...