Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Part 117



"Bee, udah dong marahnya. Ita kan ga kenapa-kenapa" ucap Ita menenangkan sang tunangan, yang ternyata masih dalam mode singa..


Syahid benar-benar tidak terima, tunangannya di perlakukan seperti tadi. Hampir saja ia mengeluarkan kekuatannya, untuk mencelakai wanita dan pria itu. Bila seandainya Ita, tidak segera menenangkan dirinya tadi.


"Aku masih kesal, berani sekali wanita itu mendorongmu. Aku selalu menjagamu, selalu melindungimu. Tapi dia siapa? Berani-beraninya... berani sekali pria itu berpikir untuk menjadikan Ita, salah satu dari wanitanya. BR*NGSEK" jawab Syahid yang masih di landa kemarahan.


Ita tersenyum, ia merasakan haru yang luar biasa. Ingin sekali rasanya memasukkan Syahid ke dalam kotak kaca, dan menyimpannya di dalam kamar. Agar tidak ada perempuan yang melihat dan mengincar calon suaminya ini, tapi mau bagaimana lagi. Resiko punya tunangan gantengnya kebangetan, mana tajir lagi.


Sedangkan yang lainnya hanya diam dan saling tatap, mendengarkan Syahid berbicara.


"Yang, pengen seblak. Syahid mah, lagi enak-enak makan malah ambyar kabbeehhh." celetuk Dena, mencairkan suasana


"Masih sempet-sempetnya mikirin seblak" Ajeng


"Lagi adegan romance juga" Ica


"Ya itu, bagian Dena datang berubah komedi" Aghata


"Ck, orang pengen seblak juga." gerutu Dena


"Ya udah ayo, di sebrang kampus aku liat ada roda seblak. Kali aja enak, soalnya yang antri banyak. Dari jaman SMA pengen ke sana, tapi ga kesampean mulu." ucap Ita


"Kenapa?" tanya Syahid


"Ya kamu ajaknya ke kafe mulu, mau ajak ke sana takut nggak mau." jawab Ita


"Ya emang kenapa nggak mau? Kenapa nggak bilang kalo mau itu? Kan kamu tau, aku tidak bisa mendengar isi hatimu. " tanya Syahid lagi


"Takut ga boleh, kamu kan banyak larangan." jawab Ita cemberut, Syahid tersenyum melihat Ita merajuk.


"Kenapa harus ga boleh, justru kita harus sering-sering jajan di penjual kaki lima. Selama bersih dan higenis, kenapa nggak? Ayo!!" ucap Syahid seraya mengusap sayang kepala Ita yang tersenyum.


Mereka pun akhirnya berjalan keluar area kampus, dan sesuai dengan yang di katakan oleh Ita. Roda seblak tersebut memang sangat ramai oleh pembeli, Ita dan Dena saling tatap dan menurunkan bahunya malas.


"Kebagian ga ya?" tanya Dena


"Nggak tau Den, rame gitu" jawab Agatha


"Kita nunggu di mana? Terus siapa yang mau tulis pesanannya?" tanya Ica


"Biar gue aja" jawab Ajeng, ia pun melangkah ke arah roda.


"Pak, boleh minta kertas sama pinjem pulpennya?" tanya Ajeng pada sang penjual


"Boleh neng, ini. Sama tulis atas nama siapa ya neng, biar gampang manggilnya." jawab si bapak yang usianya mungkin sekitar 50 tahun ke atas, sembari menyerahkan buku kecil, menu dan pulpen pada Ajeng


"Siap pak" setelah menerimanya, Ajeng kembali mendekati teman-temannya. Mereka yang memilih duduk di depan kampus, untung di sana tersedia bangku panjang. Yang cukup untuk duduk para perempuan, sedangkan para lelaki memilih berjongkok dan entah sedang membahas apa.


"Mau seblak apa? Biar gue catet!!" ucap Ajeng


Satu per satu temannya menyebutkan pesanannya, seraya melihat ke arah menu.


"Pedesnya ko ga disebutin sih"


"Extra dong, palagi lagi panas-panas gini." jawab Agatha, di angguki Kira, Ica dan Maya.


"Kalo gue jangan pedes ya, nggak doyan gue" ucap Dena


"Lu pada gimana?" tanya Ajeng pada teman lelakinya


"Sedeng aja udah" jawab Rio


"Sama nih semua?" pertanyaan itu pun, hanya di jawab anggukan oleh mereka


"Ok, gue tulis atas nama Dora ya. HAHAHAHA" Ajeng melangkah kembali mendekati kang seblak dan memberikan kertas pesanannya


"Gesrek emang" celetuk Bastian


"Jangan gitu Boots, walau bagaimana pun kalian selalu bersama dan berjalan beriringan. Mau kemana kita?" celetuk Dena


"KANG SEEEBLAAKK" jawab Maya, Kira, Agatha da Ica serempak. Mereka pun tertawa, karena kompak dengan jawabannya menggunakan nada di film Dora.


"Wahh... ngajak war nih, calon bini Sahin." ucap Bastian tak terima, sedangkan yang lainnya sudah tertawa geli mendengar perdebatan itu.


.


.


Waktu pun berlalu, kegiatan penerimaan MABA telah selesai. Mereka mulai sibuk dengan kelas mereka masing-masing, begitu juga dengan Ita dan Dena yang sekarang ada kelas pagi pukul 07.00. Sedangkan double twin, masuk pukul 10.00. Namun semenjak kejadian di kantin, Syahid tidak tenang meninggalkan Ita sendiri. Ia rela mengantar dan menunggu Ita, sampai dirinya masuk jam kelasnya.


"Bee, apa ini tidak berlebihan. Lihat, semua orang menatap kita. Aku kan ada Dena, memang apa kamu dengar dari senior itu? Sampai kamu se posesif ini, hmm?" Syahid tak menjawab, ia hanya melirik pada Ita


"Ck, kalo orang ngomong ya di jawab. Bukan cuma di lirik, dikata aku bisa tau kali ya" gerutu Ita


"Tapi aku juga tidak bisa mendengar apa yang ada dalam hatimu, jadi katakan semua yang membebani kamu atau yang mengganggu kamu. Jangan ada yang di tutup-tutupi, aku tidak suka. Masalah orang-orang melihat kita, memang kenapa? Biarkan saja, mungkin mereka iri karena tidak ada yang menjaganya." ucap Syahid, Ita menghembuskan nafasnya pelan.


"Terus aku masuk kelas, kamu akan menungguku bee?" tanya Ita, Syahid mengangguk. Membuat Ita membulatkan kedua bola matanya, karena tebakan ia benar.


"Tapi, apa itu tidak mengapa. Aku berasa jadi anak TK, kalo kamu menunggu depan kelas ku. Nanti pasti banyak wanita yang memperhatikanmu dan pasti ada yang nekat mendekatimu." protes Ita, menunjukkan kecemburuannya. Baru kali ini Ita bersikap seperti ini, selama mereka berhubungan. Mungkin karena di SMA, Ita mengenal semuanya. Berbeda dengan saat ini, selain Ita tidak mengenal para mahasiswi di sini. Di sini juga para gadis berpakaian modis, berbeda dengan di SMA yang memakai seragam yang sama. Syahid terkekeh dan mengusap sayang kepala Ita.


"Kenapa tertawa, kamu senang karena banyak yang menyukaimu?" tanya Ita judes, dengan menatap Syahid tajam. Bukan takut, justru Syahid merasa lucu.


"Mau sebanyak apapun perempuan yang mendekatiku, aku tidak akan pernah berpaling darimu. Di mataku, hanya ada kamu dan aku hanya mau kamu. Bukankah kamu tau, para pria Zandra tidak akan pernah mengkhianati pasangannya." jawab Syahid, Ita terdiam dan menghembuskan nafasnya pelan. Tanpa mereka sadari, perilaku mereka menjadi tontonan teman sekelasnya.


Ekspresi Syahid yang lembut pada Ita, tentu saja membuat para gadis histeris.


"Kamu benar, mungkin aku terlalu takut. Aku merasa insecure dengan diriku sendiri, bila melihat cara berpakaian para mahasiswi di sini." ucap Ita lirih


"Apa kamu tidak menyadari, bila banyak pria yang menatapmu penuh damba. Mereka menyukaimu, walau kamu berpenampilan sederhana, namun kecantikan alamimu mengalahkan para wanita itu. Kamu paham sayang? Jadi jangan merasa minder, jadilah diri sendiri. Karena aku mencintaimu yang seperti ini" jawab Syahid, Ita menatap Syahid dan mengangguk tersenyum.


"Udah belum perpisahan romantisnya? 5 menit lagi dosen masuk, kalian malah ngejogrog depan kelas. Heran" ucap Dena yang hendak masuk, dengan menatap malas pada pasangan di depannya.


"Eh... hehehe, maaf atuh sayangku. Ya udah, aku masuk ya. Awas kamu bee, jangan nakal" ucap Ita, ia pun menarik tangan Dena untuk masuk ke dalam kelas. Syahid menggelengkan kepalanya, ia tak percaya bila caloin istrinya bisa posesif juga. Syahid memilih duduk di taman yang ada berada tidak jauh dengan kelas Ita, sehingga ia bisa melihat Ita keluar dari kelas.


...****************...


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...


Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ