
Setelah shalat, mereka lebih memilih makan di kaki lima yang kini masih ramai dekat tanah lapang yang di pasang bedeng. Sedangkan Mei-Mei memilih untuk berkeliling area tersebut...
"Di sini aja, ada banyak pilihan juga." ajak Ita
"Setuja, membantu melariskan jualannya. Ga kalah enak ko sama di kafe, kuya ah." ucap Dena setuju
Twin Prince dan Twin Princess hanya mengiyakan ajakan tersebut, lagipula terlihat bersih tempatnya dan tentu saja wangi dari makanannya menggoda perut mereka.
Mereka pun memilih tempat duduk yang cukup untuk mereka berenam, berjajar roda dengan beraneka ragam makanan. Dan ada 1 pelayan yang mendekati mereka, lalu memberikan 3 lembar menu dan 1 lembar kertas pesanan pada mereka.
"Jangan lupa kasih nama ya kak." ucap pelayan tersebut, ia pun pergi setelah mendapat jawaban dari Kira.
"Mau makan apa nih?" tanya Kira
"Nasi goreng pedes manis, minumnya teh wedang jahe" Ita
"Mi goreng pedes, minumnya teh tawar anget" Maya
"Jangan terlalu pedes, bilangin bunda" tegur Kira
"Iya iya, yang sedeng aja" keluh Maya
"Burcang ijo, roti tawarnya yang banyak ya sama wedang jahe." Dena dengan mengecapkan mulutnya
"Nasi goreng sea food ga pedes, minumnya mineral." Syahid
"Nasi goreng cikur, minumnya wedang jahe" Sahin
"Akuuuu... nasi tutug oncom komplit, minumnya teh tawar anget." Kira pun menulis pesanan-pesanan tersebut, lalu memanggil pelayan tadi dan memberikan lembar pesanan tersebut.
"Itu cewek pantang menyerah dong" ucap Dena seraya menaruh dagunya di meja dan menatap ke depannya.
Ita dan Maya yang duduk berhadapan dengan Dena, memutar sedikit tubuhnya untuk melihat.
Gadis itu pun langsung berpura-pura membaca kertas menu.
"Ishh... itu cewek ga cape apa?" ucap Maya sembari memutar malas bola matanya.
"Datangin jangan?" tanya Kira
"Ga usahlah, ga penting juga. Dia juga ga bikin ulah kan?" jawab Ita
Tak lama datang Mei-Mei, dan duduk di atas meja yang masih kosong.
'Kalian belum selesai makannya?' tanyanya
"Belumlah, baru juga di kasiin pesenannya. Emang kenapa?" jawab Kira, lalu bertanya balik
'Ya udah makan aja dulu, nanti ceritanya.' jawab Mei-Mei, ia pun langsung menghilang lagi
"Dih, ga jelas kak Mei mah." celetuk Maya
"Kalian ngomong sama siapa?" tanya Dena bingung, perasaan ga ada yang nanya
"Oh.. iya ya, tapi kamu percaya kan adanya makhluk tak kasat mata?" tanya Maya, Dena mengangguk.
Mau gimana ga percaya, lah wong dia udah lihat sendiri waktu di gunung. Mana bukan cuma satu, sepasar. hihi
"Ya udah nanti aja di jelasinnya" ucap Maya lagi, Dena hanya mengangguk
Makanan mereka pun datang, mereka makan dengan tenang dan lahap. Efek lapar dam tela makan sepertinya...
Karena besok hari Minggu, mereka pun menggunakan kesempatan untuk nongkrong. Ini merupakan kesempatan langka, yang di berikan oleh keluarganya.
"Udah setengah delapan, gimana? Mau balik? Belum shalat Isa lagi" tanya Sahin
"Tadi kak Mei mau ngomong apa?" tanya Maya, seraya mengusap perutnya kekenyangan.
"Panggil coba" titah Sahin
Kira menutup mata dan memanggil Mei-Mei.
'Udah beres?' tanya Mei-Mei, yang tiba-tiba muncul
"Tunggu, di sini cuma gue yang kaya orang bego." ucap Dena menyela
"Ahhh... benar benar, Maya memegang tangan Dena dannn
"WHAT?!" kedua bola mata Dena membulat
"Wihhh... ada hantu sipit." celetuk Dena, yang langsung mendapatkan getukan di kepalanya dari Sahin
"Sakit ihh... bilangin babang Miftah" ucap Dena seraya mengusap kepalanya
"Lahh.. suka dalam diam aja bangga, ngomong dong jangan diem aja. Do tikung orang, tau rasa lo. " ejek Sahin
"Bodo, gini-gini juga gue lagi mempersiapkan hati. Biar kalo semisal di tolak, ga sakit-sakit amat." ucap Dena kesal
"Udah ah, jadi gimana kak?" tanya Ita
'Tadi aku berkeliling lapangan kosong ini, di sebelah sana ada seorang pria yang nampak kaya orang ling lung. Ia seperti mencari sesuatu, dan matanya juga terus menelisik ke semua area. Di tangannya juga membawa tas bayi, terlihat jelas di wajahnya antara bingung, cemas dan takut.' jawab Mei-Mei
"Sebelah mana?" tanya Maya
'Belakang lapangan ini, sebrang sana' jawab Mei-Mei seraya menunjuk ke arah lain
"Sebelum kita ke sana, gue risih banget ma tu cewek. Kak Mei, bisa ga buat ia menyingkirkan dirinya dari sekitaran kita?" pinta Kira seraya menggerakkan dagunya.
'Cewek mana?' Mei-Mei pun berbalik dan melihat bila perempuan yang di bioskop masih mengikuti adik-adiknya.
'Idih.. itu cewek ga takut masuk anying gitu? Eh, angin maksdunya.' ucap Mei-Mei, terlalu banyak mendengar obrolan orang. Mei-Mei pun jadi banyak mendapatkan kosakata baru.
"Ishhh... itu mulut kak" tegur Ita
'Sori sori... gampang itu mah, kalian keluar aja duluan. Aku akan menahannya di sini, dan akan beraksinya pas jauh dari orang-orang' perintah Mei-Mei, yang lain pun menyetujui hal tersebut.
Syahid pun bangun terakhir dan membayar makanannya pada sang pelayan tadi, lalu ia menyusul yang lainnya. Saat gadis itu, hendak bangun untuk mendekati Syahid. Kakinya tidak bisa di gerakkan, sehingga ia pun kehilangan kesempatan tersebut.
"Ishh, ini kaki ngapa lagi sih." gerutunya, ia memang merasa merinding. Namun, karena rasa inginnya mendekati Syahid. Sehingga membuatnya, tidak berpikiran yang aneh-aneh. Dan ternyata di kolong kursinya, ada Mei-Mei yang sedang memegangi kaki gadis itu. Mei-Mei melepaskan kaki tersebut, saat Syahid sudah pergi menyusul yang lainnya.
"S*al, ketinggalan kan gue jadinya." gadis itu membayar pesanannya dan ikut keluar dari perkumpulan roda-roda tersebut.
Mei-Mei yang mendengar gadis itu mengumpat pun, semakin merasa jengah.
'Kayanya ni anak ga takut setan' ucap Mei-Mei
Ia pun melayang mengikuti gadis itu, sekarang ia mensejajarkan dirinya dengan si gadis.
Mei-Mei pun menurunkan tubuhnya, untuk memegang pergelangan kaki gadis itu. Sehingga membuat gadis itu terjatuh, namun ia menahan tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak terjerembab.
"Aduh" teriaknya, namun ke enam orang itu, hanya diam menyaksikan hal tersebut dari jauh.
"Aduuhh.. tangan dan lututku." keluhnya seraya meringis, ia mendudukkan bokongnya di tanah.
Lalu gadis itu pun meniupi telapak tangan dan lututnya, ia membersihkan luka dengan mengusapnya pelan. Mei-Mei merubah dirinya, menjadi sosok yang menakutkan dan menampakkan dirinya di depan gadis itu.
Gadis itu yang merasa ada yang berdiri di hadapannya pun, melihat ke depan. Di mulai dari melihat dari bawah, ada kaki dengan menggunakan sepatu berwarna merah tidak menapak pada tanah.
GLEK
Dengan perlahan, gadis itu mengangkat kepalanya untuk melihat ke atas. Saat sudah sampai ke wajah Mei-Mei, gadis itu membelalakkan matanya.
"KYAAAAAA..... HANTUUUUUU" teriaknya seraya berdiri dengan susah payah dan langsung berbalik lari.
"HAHAHAHAHA...." tawa mereka berenam pun pecah, saat melihat gadis itu tersandung dan jatuh ke samping. Tepatnya di atas tumpukan sampah, dan gadis itu semakin berteriak karena tak terima.
'Mei-Mei di lawan... hahaha' ia pun mengembalikan sosoknya dan melayang menghampiri ke enam orang yang sedang menunggunya.
"Kak Mei, kereenn" ucap Kira yang masih tertawa
'Iyalah, Mei-Mei gitu loh. ya udah yuk!!'
...****************...
...Happy Reading allπππ...