Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Pemakaman



"Apa yang kalian katakan, LUCKY SUDAH TIADA" teriak Bastian, nafasnya terlihat naik turun.


"Ya, tapi arwahnya ada di sini. Ia belum tenang, karena kalian yang belum meng ikhlaskan kepergiannya." jawab Syahid


Bastian pun terdiam, ia mengangkat lengannya untuk menutupi kedua matanya yang masih meneteskan air mata.


"Lalu, aku harus bagaimana? Rasanya sungguh berat melepas kepergian adikku, seandainya aku tidak mengajaknya keluar malam itu. Ia pasti masih ada di sini, berkumpul bersama kami. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana hari-hariku tanpanya. Kami sudah terbiasa berdua, apapun kami lakukan bersama. Apa Tuhan tidak bisa mengembalikan adikku? Aku akan memberikan apapun, aku tidak akan iri bila ibu lebih menyayangi, asal dia kembali bersama kami. hiks... aku merindukannya, sungguh. Aku sangat merindukan kebersamaan kami." tangisan Bastian kembali pecah, sesak rasanya. Ia berharap ini semua adalah mimpi, namun saat bangun tadi. Ternyata ini semua adalah nyata, adiknya tidak akan bisa bersamanya lagi.


Sang ibu pun langsung memeluk tubuh Bastian.


"Bu, aku merindukannya bu. Kukira ini hanya mimpi, tapi ternyata Tuhan tidak ingin mengembalikannya." ucap Bastian tergugu


"Maafkan aku bu, maafkan aku. Ini semua salahku, kenapa bukan aku saja yang pergi bu." ibu Bastian menggelengkan kepalanya


"Allah punya alasan lain nak, Allah lebih menyayanginya daripada kita. Berhentilah menyalahkan diri sendiri, ini semua sudah kehendakNya." ucap sang ibu menenangkan sang putra


"Apa karena wanita yang mirip ibu itu yang menjemputnya, dia adik yang ibu ceritakan telah tiada kan bu? Dia... dia... dia ibu kandung Lucky kan bu?"


DEG


Ibu Bastian langsung melepas pelukannya, ia memundurkan langkahnya ke belakang. Untuk melihat wajah sang putra, tatapan mata Bastian serius.


"A apa kamu tau?" tanya sang ibu, Bastian merubah posisinya menjadi duduk dan mengangguk pelan.


"Se sejak kapan kamu mengetahuinya, nak?" tanya sang ibu lagi


"Sudah sangat lama bu, sejak Bas berusia 9 tahun. Bas tidak sengaja mendengar pembicaraan ibu dan ayah saat itu, niat Bas pulang lebih dulu karena tidak enak badan saat kelas 3 SD. Tetapi, Bas mendengar semuanya. Ibu takut Lucky akan menjauhi kita, bila ia tau bahwa dia bukanlah anak kandung ibu." jawab Bastian kembali meneteskan air matanya


"Lalu, apa kamu tidak membenci Lucky karena ibu lebih perhatian padanya?" tanya sang ibu, Bastian menggelengkan kepalanya


"Sebelum Bastian tau, bila Lucky bukanlah adik Bas. Bastian sempat merasakan iri, dan sering bertanya-tanya. Kenapa ibu lebih menyayanginya? Kenapa ibu lebih memperhatikannya? Namun, setelah aku tau. Aku pun paham, ibu lebih menyayanginya karena kedua orang tuanya telah tiada. Ibu berusaha kuat untuk tak melukai hatinya, karena takut Lucky pergi menjauh. Aku pun merasakan hal yang sama, aku tak ingin ia pergi menjauhiku. Aku pun pura-pura tidak tau apapun, dia adikku. Lucky tetap adikku, tak peduli kita tidak di lahir kan dari rahim yang sama. Aku menyayanginya bu, sangat." jawab Bastian


Tangisan ibu dan Lucky pun pecah, sungguh mereka tak percaya. Bastian bisa berbesar hati menerima Lucky, walaupun ia sudah tau kebenarannya. Di sini yang menangis paling keras adalah Lucky, walau ibu dan Bastian tidak bisa mendengar tangisannya. Kini Lucky sedang duduk bersimpuh di atas lantai, ia tak menyangka Bastian se sayang itu padanya. Tak pernah sekalipun, Lucky melihat tatapan iri dan benci karena telah merebut perhatian sang ibu.


Justru, yang ia rasakan adalah rasa sayang seorang kakak padanya. Bastian selalu mengalah, ia pun tak pernah menegur dirinya menggunakan nada suara yang keras.


Ita dan ketiga wanita lainnya, sudah banjir air mata. Se sayang ini Bastian pada Lucky, padahal mereka hanya sepupu.


"Jangan menangis bu, sakit Bastian mendengarnya." ucap Bastian sesenggukan


"Terima kasih nak, terima kasih karena kamu sudah menyayangi dan selalu mengalah pada Lucky. Ibu sangat menyayangimu sayang, maafkan ibu apabila ibu sudah menyakiti perasaanmu. Maafkan ibu bila seandainya ibu lebih banyak memberikan perhatian pada Bastian, tapi kasih sayang ibu sama untuk kalian. Ibu menyayangi kalian berdua, ibu mencintai kalian berdua karena kalian adalah putra ibu." ucap Berlian sang ibu, ia kembali melangkah mendekati Bastia dan memeluknya dengan erat.


Sedewasa inikah putranya? Ia mampu menyimpan rahasia Lucky selama ini, dan ia juga bisa melapangkan hatinya menerima Lucky.


tok tok


Mereka menghentikan tangisannya dan menghapus air mata mereka, Ita pun membuka pintu.


"Silahkan masuk" ucap Ita pada sang dokter


"Maaf mengganggu waktu kalian, namun saya memberitahukan bila jenazah sudah bisa di bawa ke rumah duka." ucap sang dokter


Bastian dan sang ibu kembali meneteskan air matanya, Syahid dan Sahin pun mengajukan diri untuk mengurusnya. Dokter meminta mereka untuk ikut dengannya dan mengurus administrasi.


"Assalamu'alaikum" salam mereka sopan


"Wa'alaikum salam" jawab mereka semua, teman-teman Bastian merasa heran dengan Ita dan yang lainnya seperti habis menangis.


"Bas, gimana kabarmu?" tanya Rio


"Alhamdulillah, aku baik Yo." jawabnya dengan suara serak, namun mencoba untuk tersenyum.


"Alhamdulillah" ucap mereka serentak


"Lalu, bagaimana kondisi Lucky? Apa ada kemajuan dengan kondisinya? Apa ia sudah bangun dari koma?" tanya Xelo dengan polosnya


Ia dan yang lain di buat terkejut, karena melihat ibu Bastian kembali meneteskan air matanya.


"Ma maaf, bila pertanyaan saya salah." ucap Xelo tergagap


"Tidak apa-apa nak, ibu hanya masih belum bisa menerima kepergian anak ibu Lucky." jawab Berlian


DEG


Serentak, semua teman sekelas terdiam, mereka terkejut bukan main.


"Apa bu? Apa maksud ibu dengan kepergian Lucky?" tanya Dika


"Lucky sudah tiada, dia meninggalkan kita untuk selama-lamanya beberapa jam yang lalu." jawab Dena dengan suara bergetar


"INNALILLAHI WA INNALILLAHI RAJIUN" ucap mereka serentak


Para pria meneteskan air matanya, tanpa terasa. Sedangkan para wanita, langsung menangis. Karena mereka mempunyai kenangan mereka masing-masing bersama Lucky, rasanya tak percaya bila teman sekelas mereka telah tiada. Anak yang paling ceria, anak pecicilan, anak yang sellau tersenyum.


Mereka semua menundukkan kepala mereka, berita duka ini serasa memukul telak hati mereka.


Hari ini, ruangan ini terisi dengan isak tangis semua orang yang kehilangan sosok Lucky. Teman yang mereka kasihi, teman yang mereka sayangi. Kini harus pergi meninggalkan mereka untuk selamanya, usia seseorang tidak ada yang tau.


.


.


Pihak keluarga, kerabat dan semua teman sekelas Lucky, kini sudah berkumpul di rumah Bastian. Jenazah sudah ada di rumah, pihak keluarga sepakat untuk memakamkan Lucky hari ini. Jenazah sudah di mandikan dan di shalat kan, isak tangis mengiringi langkah pembawa keranda jenazah Lucky sampai ke pemakaman.


Semua berjalan lancar, semua tetangga mengucapkan bela sungkawa. Mereka juga terkejut dan tak menyangka, bila Lucky adalah salah satu korban dari orang yang telah membakar rusun yang tengah ramai di beritakan.


Satu per satu, pelayat berpamitan. Kini di rumah hanya ada kedua orang tua Bastian, Bastian yang memaksa keluar dari rumah sakit dan double twin, Ita, Dena dan kekasih twin princess..


"Saya rasa, ini merupakan waktu untuk kalian bertemu dengan Lucky untuk terakhir kalinya.....


...****************...


Kayanya masih menangis bombay ya kalian, maafkan. Aku juga yang nulisnya nangis๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


...Happy Reading all๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...