
"Haishh... aku malah semakin terpojok, padahal aku sudah bilang bila bukan aku yang sudah menabraknya. Aku ada di tempat kejadian, karena berniat menolong perempuan itu. Tapi orang tuanya, terus meminta pertanggung jawaban dariku. Menjengkelkan!!! Aku bisa saja menyelesaikan semuanya dengan membayar sesuai dengan yang mereka minta, tapi masalahnya ini bukan kesalahanku. Bukannya berterima kasih, malah minta ganti rugi. " jawan Zefran menghembuskan nafas dengan kasar, karena saking kesalnya.
"Memang kejadian sebenarnya bagaimana kak?" tanya Syahid kepo
"Kemarin itu, aku baru pulang membeli kue titipan bunda. Tiba-tiba, ada mobil yang melaju dengan kencang menyalip motorku. Bila di lihat dari cara dia mengemudi, pengendara itu seolah memang menargetkan perempuan itu. Sehingga membuat gadis itu tertabrak dan terpelanting cukup jauh, dari tempatnya berdiri." jawab Zefran
"Bagaimana kakak yakin, kalau pengendara mobil itu memang sengaja ingin menabrak perempuan itu?" tanya Sahin
"Menurutmu bagaimana bila di jalan itu, sudah jelas cukup sepi. Lalu ia bisa mengindari aku yang berkendara di depannya, tetapi malah sengaja mengarahkan lajunya ke arah gadis tersebut. Logikanya, kalau memang tidak sengaja. Seharusnya, aku juga ikut ia libas sekaligus. Karena jarak antara mobil itu, aku dan perempuan itu cukup jauh. Maksudku ada jarak untuk menghindar, kalaupun misalnya si pengendara itu hilang kendali. Kalau di bilang rem blong, itu juga tidak mungkin. Karena saat setelah ia menabrak perempuan itu, ia sempat menghentikan mobilnya. Namun, tak lama ia langsung kembali melajukan mobilnya dengan kencang. Aku tidak mungkin mengejar pelaku, karena kondisi perempuan itu juga memprihatinkan. Makanya aku berhenti dengan niat menolong, lalu menghubungi ambulance." jawab Zefran panjang lebar
"Kakak kan bisa memanggil orang-orang sekitar situ yang menjadi saksi, pasti mereka juga melihat bukan?" tanya Maya, menolehkan kepalanya ke belakang. Karena ia dan yang lainnya juga, ikut mendengarkan cerita Zefran.
"Bagaimana aku meminta tolong, sedangkan jalanan itu bisa di bilang cukup sepi. Malahan sepi kayanya, karena jalanan itu memang jarang di lalui para pengendara. " jawab Zefran mend*sah pelan
"Apa kaka lihat plat nomer mobil itu?" tanya Ita, Zefran mengangguk
"Kakak ingat?" tanya Syahid, Zefran terlihat berpikir lalu menggeleng.
Membuat Syahid dan Sahin menghela nafasnya, namun tak lama. Mereka langsung menepuk pundak Kira, sehingga apa yang mereka lakukan mengejutkan Kira.
"Astaghfirullah, kalian berdua bisa nggak ga usah ngagetin kaya gitu." ucap Kira, seraya mengusap dadanya
"Sorry.." ucap twin prince
"Loh, kalian kembar?" tanya Zefran yang baru menyadari bila Kira dan Maya mirip, sehingga membuat mereka yang ada di sana memutar malas kedua bola matanya.
'Dari tadi kemana aja?' Kira
'Itu mata di taro dimana?' Dira
'Kayanya dari tadi jalan, sambil merem' Dena
'Ketutupan jin matanya' Sahin
Sedangkan Ita hanya menggelengkan kepalanya, sembari tersenyum.
"Lupakan, jadi gimana?Apa kalian bisa menolongku? Aku memang punya usaha dalam bidang kuliner, tapi bila untuk meminta ijin melihat CCtv di jalanan itu takkan mudah." tanya Zefran
"Aku akan pikirkan solusinya kak." jawab Sahin
.
"Pesen apa?" tanya Ita, semua orang sudah duduk di salah satu meja yang tersedia dengan bangku panjang..
"Masih pagi juga, cemilan aja teh" jawab Kira
"Iya juga ya" ucap Dena
'Kenapa aku bisa lupa kalo tadi udah sarapan?' lanjutnya dalam hati
"Kenapa?" tanya Sahin
"Nggak, cuma ini perut ko amnesia ya." jawab Dena, membuat mereka bingung
"Otak lo kali Dena, yang bermasalah. Mana ada perut amnesia, cacingan iya." ucap Maya kesal, aja-aja ada nih anak.
"Ih anjirrr... bisa jadi atulah. Soalnya kok, gue ngerasa masih lapar. Padahal udah sarapan di rumah loh." jawab Dena memeluk tubuhnya sendiri, karena mendengar kata cacingan
"Fix... kremian lo mah Den" celetuk Rio, yang dengan cepatnya terobati itu hati. Dena langsung melempar kotak tisu, yang ada di atas meja.
BLETAK
"Emang bajigur lo" ucap Dena kesal, kremian? kalo kasmaran, baru iya.
"Duh, merdu sekali itu bunyi" ucap Kira tertawa, saat mendengar suara tisu beradu dengan kening Rio.
"Bagaikan suara alarm di pagi hari." lanjut Rio kesal, seraya mengelus keningnya yang sakit. Sahin tentu saja langsung menegur Dena.
"Refleks itu mah yang" jawab Dena kesal
'Apa bedanya coba, cacingan sama kremian? Malah kena tampol..' gerutu Rio dalam hati
"Dih, mana ada. Yang bener mah Bandrek" celetuk Maya
"Wis karep mu lah" ucap Ita kesal, semenjak Dena bergabung. Bahasa mereka memang amburadul, namun itu yang meramaikan suasana.
"Kak Zef, nanti pulangnya lewat selatan kan?" tanya Maya dengan wajah serius
"Kenapa harus kesana?" tanya Zefran bingung
"Soalnya aku sulit untuk meng Utara kan isi hatiku padamu." jawab Maya, ia langsung menutup wajahnya menggunakan kertas menu.
"Anjiiiiirrrrr.... Basi woooyyyy!! hahahaha" tawa Rio dan yang lainnya pecah
"Seorang Maya ngegembel dong, paraaahhhh." ucap Kira yang ikut tertawa
"Kan semalem gue searching di gulu-gulu" ucap Maya manyun
"Dih, ga pantes lo." ucap Dena, ia menyentil kening Maya.
"Awww... sshh, sakit ogeb" gerutu Maya, ia mengusap keningnya. Zefran benar-benar terhibur berkumpul dengan mereka, selama ini ia hanya kerja kerja dan kerja. Restoran milik ayahnya memang tidaklah besar, namun memiliki cabang di beberapa kota. Tentu membuatnya harus survey langsung ke tiap cabang, untuk mengecek kinerja karyawan ataupun pemasukan dan pengeluaran.
"Kak, aku gak sedih kok kalo besok hari Senin." ucap Maya lagi, otaknya benar-benar sudah terkontaminasi virus cinta.
'Masih lanjut' Syahid
'Si Maya sekalinya jatuh cinta, otaknya langsung geser' Sahin
'Lagian besok kan hari Rabu, untung gue ga jadi sukanya. Rada-rada nih Maya..' Rio, yang langsung dapet pelototan dari twin prince
GLEK
"Mang yang bikin kamu sedih apa?" tanya Zefran penasaran
"Aseeekkk... aku kamu dong, yang bikin aku sedih itu kalau aku ga ketemu sama kakak." jawab Maya, seraya menunjukkan finger love pada Zefran
"Anjaaaayyy.... " teriak Dena, Sahin langsung menatapnya. Dena refleks melipat bibirnya kedalam, terdiam seribu bahasa.
"Satu lagi kak... Kakak tau nggak, kalo aku itu seperti mentega dan kakak seperti wajan panas." ucap Maya
"Ko bisa?" tanya Zefran yang malah senang meladeni Maya, di gombalin gadis lucu. Kiwww
"Soalnya pas liat muka kakak, aku langsung meleleh" jawab Maya, dia yang gombal tapi dia sendiri yang malu.
"Ga beres ini mah" ucap Sahin
"Lapor... lapor sama ibu negara. Biar langsung di Sah in, KUA bertindak." ucap Ita tertawa, ia tak menyangka sisi lain Maya segesrek ini.
.
Di kantor polisi
Rudi benar-benar menyerahkan dirinya, ia mengakui semua perbuatannya pada polisi. Rudi pun di kenakan hukuman selama 12 tahun penjara.
"Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun." itu isi dari Pasal 285 KUHP, kalau pasal pidana lainnya aku belum baca sampe beres. Terus aku juga belum begitu paham dengan keringanan hukuman untuk tersangka yang menyerahkan dirinya sendiri. Ayo, yang tau boleh di bantu. prok prok prok
๐คฃ
Hati orang tua mana yang tidak akan tergores, melihat buah hatinya harus tidur di balik jeruji. Namun, mereka juga tidak mau bila
harus membela perbuatan putranya yang jelas-jelas salah.
"Kamu baik-baik di sini ya, nanti ibu sering-sering nengokin kamu ke sini." ucap Romlah di sela isakan tangisnya.
"Ayah memang kecewa dengan apa yang sudah kamu lakukan, tetapi ayah juga bangga karena kamu sudah mau mengakui dan mempertanggung jawabkan perbuatanmu kak." ucap Budi, kecewanya memang sangatlah besar pada sang anak.
...****************...
...Happy Reading all๐๐...