
Lia terdiam, ia menundukkan kepalanya. Bingung hendak menjawab apa?
"Akuuu... apa kamu yakin? Aku tidak sama dengan gadis-gadis lainnya, akuuu... terkadang aku bisa kapan saja kambuh. Bas, masih banyak wanita yang lebih baik dariku. Dan kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih waras dan sehat, tidak seperti aku ya.."
"Aku maunya kamu Li, hanya kamu. Kalo kamu bilang kamu tidak waras, itu artinya aku yang lebih tidak waras. Karena aku hanya mau dengan kamu, tidak dengan yang lain." potong Bastian, kini mereka berdua tengah duduk di kursi panjang yang tersedia di arena permainan tersebut.
Teman-teman dekat, akhirnya tau apa yang terjadi pada Lia. Namun, tak membuat Bastian untuk mundur mendapatkan hatinya. Apapun yang sudah terjadi pada Lia, tak membuatnya menjauhi Lia. Justru ia berharap, bahwa dirinya merupakan salah satu alasan Lia untuk sembuh.
"Tapi Bas, apa kata orang tuamu dan juga orang lain nantinya?" tanya Lia yang masih bersikeras, untuk merubah keputusan Bastian yang ingin berhubungan dengannya. Bukan ia tak suka, ia bahagia ada pria yang mau dengannya. Di tengah kondisi mentalnya masih belum sembuh sepenuhnya, ia hanya tidak mau bila Bastian sampai mendapatkan omongan tidak mengenakan. karena berhubungan dengan dirinya, wanita depresi.
"Apa yang harus kamu dengarkan dari orang lain Li, ini hidup kita. Kenapa kita harus mendengarkan apa kata orang, apa mereka selama ini yang membiayai hidup kita? Apa mereka yang memberi kita makan, minum? Bukan Li, aku tidak peduli dengan omongan orang lain. Bila seandainya kelak, ke depannya ada yang tau mengenai kamu. Aku tidak pergi meninggalkan kamu, biarkan mereka terus menggonggong. Nanti juga bila mereka lelah, mereka akan berhenti sendiri." jawab Bastian, sedikit demi sedikit Bastian mengikis jarak di antara mereka.
Saat Lia menyadari bila jarak mereka terlalu dekat, ia pun segera memundurkan tubuhnya. Namun Bastian segera menahannya, dengan menggenggam kedua tangannya.
DEG
Tubuhnya langsung merasakan merinding seketika, Bastian merasakan bila tubuh Lia mulai bergetar. Perlahan bastian melepaskan pegangannya, namun Lia langsung menahannya.
"Bantu aku, aku ingin sembuh. Bila kamu tidak keberatan dengan apa yang aku derita kini, tolong dampingi aku Bas. Buat aku merasa nyaman berada di dekatmu, buat aku merasa tenang saat bersamamu. Bisakah?" ucap Lia dengan mata berkaca-kaca, ia berusaha menghilangkan rasa takutnya pada lelaki kepada Bastian.
Bastian yang mendengarnya langsung tersenyum sumringah, pernyataannya di terima. Lia tidak menolaknya, apakah ia bermimpi?
"Kamu serius? Aku boleh ada di sampingmu?" tanya Bastian, kini ia balik menggenggam tangan Lia.
Lia mengangguk, air mata Lia pun menetes. Bastian mengangkat tangannya hendak menghapus air mata, refleks Lia memundurkan wajahnya. Tangan Bastian pun menggantung, Lia merasa tak enak langsung menundukkan kepalanya lagi.
"Maaf" ucap Lia pelan
"Tidak apa-apa, pelan-pelan... aku akan berusaha untuk membuatmu agar tidak takut lagi padaku, bolehkan?" jawab Bastia seraya bertanya, Lia mengangkat wajahnya dan menatap Bastian. Tak lama, ia pun mengangguk dan tersenyum.
Tanpa mereka sadari, Ajeng dan para gadis tengah memperhatikan mereka.
"Berhasil juga si Basoka" celetuk Ajeng
"Kebiasaan lu mah, kalo udah ganti nama orang." ucap Maya
"Emosian ihhh... ya udah yuk kita balik ke food court, sing penting wis adem." ucap Dena, mereka menganggukkan kepala nya
BUGH
"Aww... kalo jalan liat-liat dong, masa badan segede gini ga keliatan." gerutu Ajeng, ia kesal karena bahunya tertabrak. Untung tidak sampai jatuh, kalo sampe jatoh, bukan cuma sakit fisik. Bakalan malu di waktu yang tidak bisa di tentukan, bisa-bisa puasa ke mall dia. wkwkwk
"Sorry, lo ga papa kan?" tanya yang menabrak
"Lo?!" ucap Ajeng seraya menunjuk
"Lo bukannya senior, yang tergabung dalam kelompok tralala trilili waktu itu kan?" tanya Dena
Dania yang mendengarnya, ingin sekali tertawa. Ada-ada saja juniornya ini, yang ada kelompok sesat. Ups, tapi dia sudah mereka sudah bukan anggota lagi sekarang.
"Kenalin gue Reksa, dan kita ga ada hubungan sama dua orang itu."
"Gue Dania"
"Gue Soraya"
"Gue Regatha"
"Kenalkan saya upin dan ini adik saya ipin, apin, pipin..."
PLETAK
"Awww... ssshhh sakit b*ge" ucap Ajeng seraya mengusap kepalanya, yang di getok oleh Ica
"Jangan sembarangan ganti nama orang lo, udah bikin bubur merah putih ini nama." ucap Ica
Dania dan yang lainnya sudah tidak bisa menahan tawa mereka lagi, tawa mereka pun pecah.
"Maafin gayung love kak, dia emang suka asal nyablak. Kenalin gue Dena..." lalu Dena memperkenalkan teman-temannya
"Kalian mau kemana kak?" tanya Ita, ia memang tidak bisa mendengar isi hati keempat senior nya. Namun ia bisa merasakan aura baik, dari diri mereka berempat.
"Kita memang nyari kalian, kami takut bila dua orang itu menjalankan rencananya dan menyakiti kamu." ceplos Soraya
Ita dan yang lainnya tersenyum, mereka yakin bila para senior yang ada di depannya ini memang tidak ada niat buruk.
"Kami baik-bak saja kak, terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku." jawab Ita
"Dan kami juga ingin meminta maaf, atas perlakuan tidak pantas kami saat itu." ucap Regatha
"Memang kalian melakukan apa? Bukankah biang rusuhnya cuma 1 ya, cewek yang namanya Helli guk guk guk itu." celetuk Ajeng
"Ajjeeeng" panggil Ita dengan menekan suaranya, untuk memperingatkan Ajeng agar tak asal bicara.
"Ya emang salahnya di mana teh, kelakuannya emang kaya Anj*ng. Malah Anj*ng juga kalah ma dia mah." jawab Ajeng cemberut, Maya dan Kira sudah terkikik geli. Ia setuju ucapan Ajeng yang ini, gue suka gaya lo!!!
Sedangkan Reksa, sejak tadi ia tidak mau melepaskan pandangannya dari Ajeng. LUCU, KONYOL, CANTIK, CEPLAS CEPLOS ia menyukainya.
"EHEM" Dania berdehem menyadarkan Reksa
"Ah.. kalo kalian sudah baik-baik saja, kami pamit ya" ucap Reksa, yang tidak mau ketauan semburat merah di wajahnya.
"Ok kak, hati-hati ya" ucap Maya, ia menyadari kemana arah tatapan seniornya itu. Namun yang di tatap, sepertinya tidak sadar.
.
.
Waktu pun berlalu, 2 minggu sudah dari penangkapan Helena dan juga Damian. Orang tua mereka merasa sangat malu, dengan apa yang sudah di lakukan oleh anak-anaknya. Bahkan, mereka juga di kirimi vidio tak senonoh Helena dan Damian. Bukan hanya dengan Damian saja, tetapi dengan beberapa pria berbeda.
Merekalah memohon kepada keluarga Zandra, untuk melepaskan anak-anaknya. Mereka berjanji akan memberikan mereka hukuman dan akan membawanya jauh dari negara ini.
"Aku akan melepaskannya, tapi kalian harus membuat surat pernyataan hitam di atas putih. Kalian harus berjanji, bila putra dan putri kalian tidak akan pernah kembali ke negara ini. Bila kalian tidak menepatinya, maka jangan salahkan aku usaha yang kalian rintis bangkrut saat itu juga." ucap Rendra dengan suara dinginnya, ke empat orang itu mengangguk dengan cepat.
Selama 2 minggu mereka mencari putra dan putrinya, setelah dapat pesan berupa teks, foto dan vidio dari salah satu anak buah Zandra. Mereka kalang kabut bukan main, kenapa anak-anaknya bisa berurusan dengan keluarga no.1 di sini. Di pesan itulah, mereka tau bila anak-anaknya di tahan dan di minta untuk menemui keluarga Zandra.
...****************...
...Happy Reading all๐๐๐...
Kuys, tetap semangat melewati hari. Dan semangat juga buat kasih vote, gift, komen dan like nya๐ฅฐ๐ฅฐ