
Semua orang terdiam dan mengalihkan perhatiannya pada Ita, mereka menatap Ita bingung. Apa, tadi Ita bilang menggunakan kemampuannya?
"Apa maksud teteh?" tanya Kira
Ita menghembuskan nafasnya pelan...
"Di lembar entah ke berapa? Nurma menuliskan, bahwa entah mulai dari kapan. Ia bisa melepaskan roh dari raganya, walau tidak bsia sering. Tapi, ia melakukannya beberapa kali." jawab Ita
Semua orang terkejut, terutama Bumi.
'Bagaimana bisa? Kakaknya mempunyai kemampuan seperti itu?' Tunggu... tapi bila di ingat-ingat lagi, saat dimana Rima masih kecil dulu. Rima pernah hilang, dan ternyata ia di temukan di sumur yang sudah tidak ada airnya. Dan orang pertama yang mengetahuinya adalah kakaknya, tadinya Bumi memang merasa aneh. Pasalnya saat itu, kakaknya keluar dari kamar dan mengatakan bila adiknya terjatuh ke dalam sumur. Perasaan anehnya, ia tepis. Ia berpikiran positif, mungkin kakaknya mendengar tangisan Rima. Tapi, bila di pikir-pikir lagi. Jarak sumur ke kamar kakaknya itukan sangat jauh, jadi apa mungkin?
"Kalau begitu kita tidak bisa membuang waktu, kita minta bantuan paman Yanto." ucap Syahid, sebenarnya ia cukup bingung dengan kemampuan sang kekasih. Tapi saat ini sedang genting, nanti akan di bicarakan lagi.
"Kita ke kantor polisi sekarang, kita awasi di depan dan meminta paman Yanto untuk menemui kita di luar.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Bumi
"Sebaiknya kamu di rumah saja, bukankah ibumu memintamu untuk menjaga adikmu?"jawab Maya
Bumi pun terdiam dan mengangguk lesu, ingin rasanya ikut. Ia penasaran pria yang sudah membawa dan menyekap kakaknya, lebih tepatnya ia ingin sekali memberikan pelajaran pada pria itu. Apalagi tadi ia dengar Ita mengatakan, bila kondisi kakaknya benar-benar.... bisa di katakan kritis.
.
.
'Asaalamu'alaikum Hid, kenapa? Ada kasus lagikah?' salam Yanto, seraya bertanya
"Wa'alaikum salam, iya paman. Paman, apa benar di kantor polisi tempat paman bertugas minggu ini. Ada yang bernama Sanjaya?" tanya Syahid
'Sanjaya? Sebentar... ' Tampaknya Yanto mengecek data petugas di laptopnya
'Iya benar, menurut data... dia ada di bagian SPKT (SENTRA PLEAYANAN KEPOLISIAN TERPADU). Ada apa dengannya?'
"Paman....." Syahid menceritakan semuanya, Yanto yang memang sudah tau kemampuan keluarga Zandra langsung percaya.
'Paman baru masuk ke kantor ini, jadi paman belum tau seluk beluk kantor ini dan juga bagaimana sikap dan sifat para petugas. Mungkin karena ini, paman ditempatkan di sini. Karena menurut alasan dari pusat, bila ada oknum yang membuat beberapa orang komplain dengan cara kerjanya.'
"Iya paman, kami sedang berada di jalan. Temui kami nanti, saat kami telah sampai di depan kantor polisi." ucap Syahid
'Baiklah, kalau begitu kabari paman bila kalian sudah ada di sini.' panggilan itu pun terputus
Di kantor polisi Yanto mulai membuka semua tentang Sanjaya, dari datanya, dari segi pendidikan, hasil tes saat penerimaan dan kinerjanya. Dan setelah di selidiki, ternyata oknum tersebut masuk karena orang dalam. Padahal hasil tes, GAGAL. Ada beberapa alasan yang menjadi alasannya tidak bisa di terima, salah satunya... ternyata Sanjaya merupakan residivis.
"Benar-benar tidak bisa di biarkan, bagaimana bisa ini terjadi di kantor ini? Aku akan segera membereskannya, bagi si Deni yang penting duit sih (Deni yang memasukkan Sanjaya, dengan sejumlah uang yang tidak sedikit)" Yanto menghembuskan nafasnya kasar
Untung orang dalamnya masih di bawah Yanto jabatannya, sehingga mudah bagi Yanto untuk memberikannya teguran dan mungkin akan adanya pemutusan kerja secara sepihak. Baik bagi yang memasukkan oknum tersebut, baik dengan oknumnya sendiri.
'Paman kami sudah ada di depan, apa paman bisa kemari? Kita akan membicarakan rencananya di luar' pesan masuk dari Syahid pada ponsel milik Yanto
.
.
"Jadi apa rencanamu?" tanya Yanto
"Jam pulang orang itu sebentar lagi bukan?" tanya Syahid balik, Yanto mengangguk seraya melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, sangat jelas terlihat wajah-wajah lelah di dalma kendaraan itu. Bukan hanya 1 kendaraan, ada 3 kendaraan beroda 4. Milik Sahin, Agatha dan Zef.
"Bila kita langsung melabraknya, sudah di pastikan ia akan mengelak paman. Karena dari itu, Syahid pikir kita akan mengikuti dirinya saat pulang. Kita bisa tau dimana gadis bernama Nurma di sekap, aku yakin dia akan pulang ke rumah penyekapan tersebut." lanjut Syahid
Yanto mengangguk setuju, kalo di pikir. Ia juga tidak akan bisa main pecat si Sanjaya, tanpa bukti yang menguatkan. Tapi bukti mengenai Deni yang menerim uang suap, sudah ia pegang.
"Kalau begitu, paman akan ikut dengan membawa beberapa anak buah paman di belakang. Kalian hati-hati, jangan sampai ia menyadari bila sedang di ikuti. Ternyata ia merupakan residivis penyekapan para gadis, ia seperti memeiliki kelainan. Padahal ia sudah memiliki istri dan juga 1 putra, namun kelainan ini sudah seperti mendarah daging. Jangan bergerak terlebih dahulu, sampai paman memberikan intruksi. Paman takutnya, ia akan melukai salah satu dari kalian." jawab Yanto, Syahid mengangguk
Setelah menunggu selama 1 jam, Yanto memberi kode bila pria yang bernama Sanjaya keluar dari kantor. Syahid dan yang lain langsung bersiap, mereka ssegera menyalakan mobil mereka masing-masing. Begitu juga dengan Yanto dan anak buahnya, tentu saja anak buah Yanto yang biasa ikut dengannya.
"Itu tuh, di naik motor" ucap Ita, seraya menunjuk pada pria yang tengah berjalan mendekati motornya.
"Ok, kita tunggu sampai dia keluar dan cukup jauh." jawab Sahin
Mereka menjalankan mobil mereka semua, mengikuti pria tersebut. Jalanan yang sudah cukup lengang, memudahkan mereka mengikuti pria itu.
"Loh? Mau kemana kita?" tanya Dena, pasalnya kini mereka keluar dari jalan besar.
Semakin masuk ke dalam pelosok yang cukup dari kota, seperti akan ke pinggiran kota.
Tak berapa lama, pria itu berhenti di depan sebuah rumah yang memiliki banyak pintu. Atau lebih tepatnya, sebuah kontrakan. Pria itu memarkirkan motornya di depan salah satu kamar. Ia pun bergegas masuk ke dalam dan segera menutup pintunya.
Mereka semua turun dari mobil, dan terus memperhatikan sekitar. Cukup padat dengan beberapa rumah dan juga terlihat ada beberapa turbin ventilator di atas atap beberapa gedung, yang di sinyalir itu adalag pabrik. Membangun sebuah kontrakan di tempat seperti ini memang cukup menguntungkan, karena pasti banyak pegawai pabrik yang menyewa.
"Bagaimana paman? Apa kita akan langsung masuk?" tanya Sahin
"Tunggu, kita harus pelan-pelan. D, tolong lihat ke dalam dan buka kunci perlahan, bila keadaannya memnag terlihat aman." jawab Yanto, seraya memerintah salah satu anak buahnya.
"Siap ndan" jawab D
"Biar aku saja" sela Sahin
...****************...
Tadinya mau double kemaren, tapi malah ketiduran🤣🤣
Jangan lupa senggolannya😘😘😘
...Happy Reading all💞💞💞...