Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Permohonan Maaf Rudi



Hari berganti, namun Lia masih betah dengan tidurnya. Mau tak mau, Axel mesti ijin dari kampus untuk membantu sang ibu menjaga sang adik. Karena Chris juga masih harus di rawat, dokter masih mengecek kemajuan kondisinya.


Axel yang sedang duduk di sofa ruang tunggu yang ada di ruang ICU, di kejutkan dengan kedatangan Romlah, Budi dan tentunya Rudi yang duduk di atas kursi roda.


Axel langsung mengeraskan rahangnya, ia pun mengeratkan kepalan tangannya. Tak peduli dengan ponsel di tangan kanannya, mengalami keretakan pada LCD nya.


"Berani sekali kamu menampakkan wajahmu padaku, apa pukulan kemarin masih kurang?" tanya Axel geram


Melihat kemarahan Axel, Rudi langsung menundukkan kepalanya. Ia tau kesalahannya tidak akan mudah di maafkan, karena obsesinya pada Lia. Membuatnya gelap mata, dan melakukan hal yang tidak seharusnya.


"Maaf" ucap Rudi pelan, namun masih terdengar


"Cih, maaf? Kamu bilang maaf, aku tanya padamu. Bila hal ini terjadi pada adik bungsumu, apa yang akan kamu lakukan? Apa semudah itu, kamu akan memaafkan b*jingan yang sudah memberikan trauma yang akan ia rasakan SEUMUR HIDUPNYA?" Axel berteriak di akhir kalimat


BRAK


Romlah terkejut sampai menutup mata dan kedua telinganya, karena Axel membanting ponsel yang ia pegang. Terlihat dada Axel yang naik turun, akibat dari amarahnya yang tak terbendung.


"Apa salahku padamu? Apa salah keluargaku pada keluarga om dan tante? Sampai adikku yang harus jadi korban kebe*jatan putra tante, lihat itu. LIHAT!!! SAMPAI SEKARANG ADIKKU MASIH BELUM SADARKAN DIRI, KARENA IA MELAKUKAN AKSI B*NUH DIRI UNTUK KEDUA KALINYA!!!" Romlah menggelengkan kepalanya, sedangkan Budi merasa terpukul dengan apa yang sudah di lakukan putranya.


"Karena siapa adikku ada di sana? KARENA PUTRAMU TANTE, KARENA PUTRAMU OM!"


Sungguh, demi Tuhan. Axel tak ingin seperti ini sebenarnya, meninggikan nada suara di hadapan orang tua. Kedua orang tuanya, tak pernah sekalipun mengajarkan keburukan. Ibunya yang selalu berbicara dengan lemah lembut, ayahnya yang sangat menjunjung tinggi budi pekerti, kesopanan, tata krama.


Namun, hatinya yang sakit telah membutakan dirinya dengan semua itu. Kini, di hadapannya. Sedang ada orang yang sudah menjadi penyebab sang adik terbaring lemah, di atas brankar rumah sakit.


BRUGH


Rudi berlutut di hadapan Axel, ia menangis. Ia tak menyangka bila perbuatannya, sudah membuat gadis yang di cintainya seperti itu.


"Maaf, maafkan aku Sel. Aku berdosa, aku benar-benar menyesal. Aku khilaf, aku... aku... aku janji akan mempertanggungjawabkan kesalahanku, aku akan menyerahkan diriku ke kantor polisi. Kamu bisa memegang kata-kataku, aku takkan melarikan diri Sel." ucap Rudi di sela tangisannya, namun Axel serasa enggan untuk menatap wajah Rudi.


Ia mengalihkan arah tubuhnya ke samping, ia menengadahkan kepalanya ke atas untuk menahan laju air matanya. Sahabat yang ia percayai, sahabat yang tumbuh besar bersama Menggoreskan luka sangat dalam pada hatinya, melalui adik kesayangannya.


"Axel, tante... tante tau, bila kesalahan putra tante tidak bisa di maafkan. Namun, tante dan om benar-benar memohon ampun. Tante dan om sendiri yang akan mengantar Rudi ke kantor polisi, untuk menyerahkan dirinya." ucap Romlah di sela isak tangisannya, namun Axel tetap bergeming


"Tolong sampaikan maaf kami sekeluarga, pada kedua orang tuamu. Terutama pada Lia, di sini ia yang paling tersakiti. Maaf!!!" lanjut Budi menundukkan punggungnya


Mereka pun berlalu pergi, karena Axel tak memberikan jawaban sama sekali. Mereka tidak merasa tersinggung sama sekali, karena di sini memang mereka yang bersalah.


Sepeninggal mereka pergi, tubuh Axel luruh ke lantai dengan posisi duduk dengan kedua lututnya tertekuk di hadapan tubuhnya. Air matanya kembali mengalir, kedua sikutnya ia sandarkan di kedua lututnya dan kedua telapak tangannya ia gunakan untuk menutup wajahnya. Terdengar tangisan yang begitu pilu, tangisan seorang kakak untuk adiknya. Axel terus memukuli dadanya, berharap rasa sesak yang ia rasakan berkurang.


Sedangkan di luar ruangan, ada seorang dokter, perawat, twin prince, twin princess, Ita, Dena, Dira dan Rio. Mereka tak berani masuk, karena tak ingin membuat Axel malu dengan keadaannya. Bahkan Perawat dan juga para gadis, sudah ikut meneteskan air matanya.


"Saya akan kembali 30 menit lagi, kalau begitu saya permisi." ucap sang dokter undur diri dan di ikuti perawat tersebut, mereka menganggukkan kepala untuk jawabannya.


"Apa sebaiknya kita ke kantin saja terlebih dahulu?" tanya Dena berbisik pada Maya.


"Oke, yuk!" jawabnya Maya


"Kemana kalian?" tanya Sahin


"Kami mau ke kantin, yang." jawab Dena


Saat di perjalanan akan ke kantin, Sahin berpapasan dengan pria yang motornya ia pinjam kemarin.


"Kak" sapa Sahin sedikit mengangguk


"Ah, tuan muda." ucap pria itu


"Ck, aku kan sudah bilang jangan panggil tuan muda padaku." ucap Sahin kesal, membuat pria itu terkekeh


"Ok ok, sorry! Kalian mau kemana?" tanya pria itu


"Kita mau ke kantin kak Zef, kakak mau ikut?" jawab Maya, ia langsung mendapatkan sikutan dari Syahid.


"Apa sih Syahid, ga suka banget liat gue seneng." gerutu Maya, yups... cewek es itu. Langsung tertarik pada Zefran, saat kemarin Sahin mengajaknya untuk bertemu Zefran. Untuk mengembalikan kunci dan mengucapkan terima kasih, Maya yang matanya bersitobrok dengan mata Zefran. Langsung merasakan detak jantung yang tak biasa pada dirinya, ia sempat bingung sampai Sahin membisikkan sesuatu padanya.


'Kamu jatuh cinta pada pandangan pertama' bisiknya


DEG


'Jadi, seperti ini rasanya menyukai seseorang.' gumamnya dalam hati, Sahin hanya tersenyum melihat wajah Maya yang berubah merah.


"Boleh, apa kalian tidak keberatan bila aku ikut bergabung?" tanya Zefran


"Tidak, tentu saja tidak." jawab Maya cepat dengan menggelengkan kepalanya


Membuat Ita, Kira, Dena dan Dira menahan tawa mereka dan menundukkan kepalanya serentak. Di antara mereka ada yang memasang wajah patah hati...


'Hahhh, layu sebelum berkembang.' ucapnya dalam hati, seraya menghembuskan nafasnya.


'Maaf, kamu belum beruntung. Keluarga Zandra tidak akan mudah di goyahkan, bila sudah melabuhkan hatinya pada seseorang. Only one, for a lifetime.' bisik Sahin, seraya menepuk bahu Rio pelan.


Rio menganggukkan kepalanya, namun segera tersadar.


"Ehh..." Rio langsung menatap Sahin dan Syahid, melihat mereka berdua mengangguk. Sepersekian detik, wajah Rio langsung memerah.


'S*al, apa mereka bisa mendengar isi hati gue?' tanyanya dalam hati, twin prince lagi-lagi mengangguk. Rio membulatkan kedua bola matanya, ia langsung berjalan cepat terlebih dahulu ke kantin. Sehingga membuat Syahid dan Sahin tertawa, karena melihat tingkah ketua kelasnya yang biasanya terlihat bijak menjadi seperti itu.


"Ada apa?" tanya Ita heran


"Tidak ada, yuk!" jawab Syahid


Para gadis berjalan di depan, sedangkan para lelaki berjalan di belakang.


"Bagaimana masalahnya kak? Beres?" tanya Sahin membuka pembicaraan, mereka berjalan berjajar ke samping dengan Zefran yang ada di antara Syahid dan Sahin.


...****************...


...Happy Reading allπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


...